Entah untuk Apa
Aku sedang gemar menabung keluh. Aku hanya senang menyimpannya dan tidak kubagikan, kecuali padaNya. Mengalami beberapa hal yang tidak mengenakkan, membuat diri enggan melontar keluh. Selalu muncul sesal, seperti hati kecil yang berkata, Mengapa aku bercerita pada 'mereka'? Memang mereka peduli?
Menerima tanggapan yang tidak diharapkan seperti dibandingkan lalu dijatuhkan, membuat diri menjaga jarak, pada siapa pun manusia di sekitar (kecuali keluarga, sebab keluarga adalah tempat kita kembali pulang, bukan?). Jarak membentang begitu lebarnya, setiap hari, setiap jam, bahkan setiap kedipan mata. Tenang, aku menikmatinya, jarak.
Rasa tak percaya dan kecewa tumbuh begitu suburnya akhir-akhir ini. Tanpa komando, manusia sekitar memupuk kedua rasa itu lewat tatap dan lisannya. Tatap sinis dan lisan yang mengungkap bahwa yang kualami belum seberapa adalah pupuk yang sangat menyuburkan rasa itu.
Alhasil, mereka berhasil memupuk jarak, rasa tak percaya, dan kecewa di waktu yang sama. Mereka memang petani yang handal.
Mereka handal dalam mengecewakan, tak mampu diharap.
00.31 WIB
Yogyakarta, 12 Maret 2020










