Kesemuan Semata
Garis semu yang sangat indah terlihat, tidak mudah untuk digapai entah apa alasannya. Mungkin karena aku terlalu nyata untuk menggapai garis-garis abstrak. Usaha sebesar apapun yang diberikan dan diusahakan hanyalah sia-sia semata karena penghalang yang begitu besar dan tegas menghalangi. Dengan indahnya garis semu itu membentuk perspektif yang sulit untuk dibayangkan sekalipun.
Sepertinya garis itu hanyalah gambaran indah yang tidak pantas untuk digapai. Hanya pemandangan indah yang menghiasi mata dan menyejukan pikiran. Semakin aku tersadar bahwa hanya takdir lah yang akan mengubah semuanya. Usaha besar manusia hanya akan menjadi pemuas semata tanpa dapat diharapkan hasil lebih dari usaha tersebut. Di sisi lain tidak sedikit makhluk-makhluk nyata yang memperebutkan dan berpikiran picik untuk "mencuri" garis semu nan indah. Tanpa memikirkan perasaan lainnya mereka saling berebut dan menghalalkan segala cara.
Aku tidak dapat berbuat apa-apa, karena aku tau bahwa aku hanyalah salah satu dari mahkluk nyata yang tidak memiliki bekal pengalaman yang banyak. Akupun bukan seorang yang dapat merangkai kata-kata menjadi sebuah kalimat indah ataupun merangkai kalimat menjadi paragraf yang menggoda. Namun, aku tau aku memiliki Tuhan yang akan selalu mendampingi dan menuntunku.
Semakin sering aku melihat ataupun membayangkan garis semu yang menawan maka rasa sakit yang menusuk hati semakin besar terasa. Sangat jelas terbayang "kekalahan" yang mungkin aku terima. Tetapi aku mencoba untuk menjadi makhluk nyata yang tidak egois. Aku berjanji pada keabstrakan jiwa bahwa aku akan tersenyum bahagia walau apapun yang terjadi karena dengan begitu aku akan merasa tenang untuk melepaskan semua.











