Barusan pas cek IG ada pertanyaan kurang lebihnya,
Tips dong bang buat jadi pendengar yg baik, kabarnya abang tu jadi (tempat) kebanyakan orang bercerita
Wahai kisanak, jika sekedar menjadi pendengar. Ada dua pilihan yang bisa diambil. Yang pertama, menganggap diri anda dalam puncak ketampanan/kecantikan saat anda diam. Atau, yang kedua, khawatir orang banyak mengetahui bodohnya anda saat anda bersuara.
Kalau saya? Ya saya mah karena emang pengen aja. Sebagai orang yang mau diapain juga (ngerasa) ganteng dan ga ambil pusing sama opini publik, jadi dua hal itu ga berlaku.
Yang merasa saya seorang pendengar yang baik atau bisa jadi tempat cerita mungkin bisa bantu jawab kah? Bisi ada yg kelewat
Soal jadi pendengar yang baik versi saya itu panjang banget sih kalau dijelasin sejelas-jelasnya. Oh ya, izin bilingual ya, mau latian nulis in english biar bisa jadi ekspat indo di luar negeri ehehe..
Pertama, ada garis tegas antara hear dan listen. A big bold line, there is no in between. Being a listener is an emotionally draining job, more so for the empath-type person. While it is always interesting to listen to others, sometimes you will find the same problem from different people and can't help but to shove "your ultimate solution". Don't. We need to know our position either as solution-giver or simply a listener. Ceuk Tulus mah jangan paksakan genggamanmu. Kalau memang belum siap, jangan paksain.
Prinsip "Tulus tanpa modus" yang saya pegang itu menurut saya jadi alasan utama kenapa ada yang mau bercerita ke saya. Kalau nanya "apa kabar?" ya emang beneran mau tau, kalau bilang "moga lekas sembuh" ya beneran doa biar dia lekas sembuh. Intinya yang orang anggep basa-basi itu sesuatu yang saya seriusin.
Terakhir, menjaga kepercayaan tersebut. Banyak keadaan di mana saya akhirnya malah jadi 'korban' karena "tau-tapi-gabisa-cerita". Panjang lah ini mah, mungkin nanti saya ceritain ehehe...
Segitu dulu aja ya, monggo kalau mau nambahin, nanya atau malah ngasih testimoninya