Tema paling membuat semua orang bahagia, seneng, dan bayangannya mesti indah-indah. Setiap kita yang menjalani pasti berpikiran begitu. Termasuk aku, dulu tapi ya sekarang kadang masih. Eh...
Tapi sejatinya pernikahan itu perjalanan panjang, panjang banget. " Kalau kamu tidak menyiapkan mental dhohir bathin mengenai ini, bisa jadi kalau ada badai datang kamu gampang terombang ambing." Kata salah seorang teman yang sudah lebih dulu menikah.
Seketika kata-kata itu menyita pikiranku. Bahwa nyatanya menikah tidak hanya tentang bahagianya saja tapi justru banyak sedih dan perjuangannya. Bukan hanya euforia dari saat lamaran, akad, resepsi lengkap dengan swafoto, video dan acara selamat dari teman-teman sejawat. Belum lagi di bonusi bisa honeymoon berdua misalkan. Ini kalau dalam bayangan indahnya memang luar biasa tapi justru real dari kehidupan adalah setelah tinggal bersama pasangan.
"Mestinya harus terus kulakan sabar dan syukur. Neriman, nompo" Kata temanku lagi.
Ini yang masih sulit sekali kita terima, kita telaah maknanya dan kita lakukan dalam kehidupan nyata. Sebab menjalani memang tak semudah memberi kata-kata.
Setiap manusia pasti di berikan cobaan. Begitupun dalam kehidupan pernikahan. Menikah dengan orang yang mapan dan sudah dapat kerja misal, kita akan merasa bahwa nafkah kita bisa cukup. Tapi belum tentu kita bisa lolos dengan cobaan-cobaannya yang lain. Belum dari mertuanya atau kakak , adik dan tetangganya. Atau mungkin jika usaha dari si suami tiba-tiba diambil jatah suksesnya. Lalu, kita sebagai istri sudah siap belum? Mau bagaimana?
Pun, ketika kita menikah dengan seseorang yang biasa-biasa aja. Bisa dikatakan benar-benar berjuang dari bawah, dari nol. Sudahkah kita sanggup menerima lagi? Mau bagaimana?
Maka memang kuncinya adalah selalu sabar dan menerima. Sabar kalau kita memang sedang dihadapkan pada kondisi itu dan syukur terus agar kita tidak selalu melihat takaran kebahagiaan orang lain. Kita harus sadar dan sabar..
Sadar kalo kita harus sabar
Sadar kalo kita harus neriman
Sadar kalo diri sendiri harus menyiapkan mental lebih untuk selalu bersiap sedia jadi tempat pulang suami. Menyupport secara penuh dan selalu sedia menemani. Ini sulit. Tapi cobalah dari diri sendiri dulu. Tentang bagaiman bisa sellau menerima orang lain, menyabari orang lain.
Karena menikah itu tentang banyak hal, jangan terburu-buru. Jangan menikah karena iri melihat teman, atau karena umur sudah semakin tua (bukan berarti juga tanpa ikhtiar ya), hanya saja untuk pertimbangan diri. Jangan menikah karena di buru-buru kata orang. Agar tidak salah dalam memilih calon pasangan. Ambil sikap yang tepat. Menikahlah karena kamu memang merasa siap dan tepat untuk menikah. Sambil terus doa. Jika memang menikah membuat kehidupan kita dan agama kita lebih baik. Maka menikahlah.
Robbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrota a'yun waj'alna lil muttaqina imama..
Mudah-mudahan kita semua 'saget pinanggih jodoh ingkang bertanggung jawab, gemati, kiat agaminipun, saget di dereki ndunyo akhiratipun'. Amiiinnn 🤲🤲🤲