buk pak, aku pikir dulu aku hanya anak perempuan manja yang gabisa apa-apa. tapi di umurku yang sudah 29 tahun ini, aku menyadari aku sekuat itu ya pak, buk.
terima kasih ya pak, buk. sudah membekali aku kesabaran, kekuatan dan kemandirian.
buk, pak. ikut suami merantau itu nggak mudah loh pak ternyata. jauh dari bapak sama ibuk ternyata menyadarkanku bahwa satu2nya yang bisa dijadikan sumber kekuatan itu ya Allah. bukan apa-apa, bukan siapa-siapa.
pak, buk. malam ini aku demam, gemetar, mual. aku sampai lupa kapan terakhir kali beneran sakit. karena biasanya memang sejak menjadi ibu tuh, aku sudah pasrah sama tubuhku. mau sakit gimanapun, aku seperti ada cadangan kekuatan iron man. yagimana ya pak, buk? ada tiga jiwa suci yang harus aku dan suami urusin.
tapi malam ini… rasanya keinget bapak ibuk terus. dari kemarin2 malah. tadi sore aja aku sengaja video call ibuk cuma buat ngadu kalau aku sakit. nggak kuat kalau nggak cerita. biasanya kuat, tapi kali ini rasanya pengen bersimpuh aja meluk ibuk yaaAllah. menye banget😭
“buk… aku sakit.” kataku.
aku sudah planning jangan sampai nangis. tapi kok ya tenggorokan tercekat juga, nggak kuat, air2 itu menganak sungai dari pelupuk mataku pak. tapi tentu saja aku memalingkan muka dari video call di hape bersama ibuk.
pak buk, ternyata dewasa itu seberat ini. berat sekali. ujung2nya semua perasaan harus kita sendiri yang menanggung, bukan orang lain. pada akhirnya, yang bisa diandalkan cuma Allah. bahkan diri sendiri pun ga bisa diandalkan.
pak, buk. rasanya pengen peluk bapak sama ibuk sekarang. tapi kok ya ga mungkin banget kalau sekarang.
pak buk, cuma mau bilang makasih sudah mendidik aku untuk menjadi kuat dan sabar di manapun aku berada. meski di ujung dunia sekali pun.
pak buk, aku akan meminta ke Allah, aku bersedia menjadi saksi. bahwa bapak ibuk nantinya masuk surga. karena sudah menanamkan kesabaran, kemandirian, ketangguhan dan kekuatan kepada anak2nya sebagai bekal hidup di dunia. sampai sekarang.















