I'll never be able to afford. I mean, if you could forgive, then it's good for you. It's just not for everyone, for every situations.
Banyak sekali buku-buku self help, atau therapist yang mengulang-ulang mantra 'maafkanlah, maafkanlah' sebagai salah satu langkah memulihkan diri. Katanya, memaafkan bisa melepaskan ikatan-ikatan emosi negatif. Katanya, memaafkan bisa meringankan baggage untuk melangkah melanjutkan hidup. Katanya, memaafkan butuh waktu, bukan berarti ngga bisa.
Kalo gue merasa, oh udah nih udah gue maafin kok, udah kelar, tapi kemudian ketika ada trigger terus gue keinget masalahnya, terus tiba-tiba merasa sangat ngga nyaman, apakah itu namanya 'sudah memaafkan'?. Kayaknya sih ngga, ya.
Siang ini gue menemukan sebuah post menarik di twitter:
.. and I couldnt agree more.
I mean, terkhusus kasus-kasus yang lukanya udah irreversible damage, yang levelnya udah trauma, memaafkan adalah sebuah kemewahan luar biasa yang rasa-rasanya ngga akan mampu terbeli.
Terlepas dari si pemberi trauma itu melakukannya dengan sadar atau ngga, dengan sengaja atau ngga, dengan niat buruk atau ngga, lukanya udah terjadi. Traumanya udah mendarahdaging. Ngga ada waktu dan tempat buat memahami situasi dan kondisi si pemberi trauma sehingga bisa sampe memaafkan. Ngga ada. Ruangnya udah ngga ada. Ini udah bukan lagi tentang profil si pemberi trauma, bukan lagi mendefinisikan apa jenis tindakannya. Tapi tentang efek setelahnya, ujung ceritanya.
Setiap orang pastinya punya ambang batas masing-masing dalam menginterpretasi luka. Let's not do that mendang-mending. Trauma isn't a competition you could join anytime. Coping with a trauma is a lifelong battle. Trigger sesepele apapun bisa jadi batu besar yang bikin tigusruk. Bukan berarti hidupnya lantas ngga tenang dan penuh dendam, ngga. Kadang lo udah merasa settled dengan emosi lo, udah ngerapihin segala tai-tai sisaan badai yang udah lewat, udah dikelilingi support system yang mumpuni, udah secured lah pokoknya; tapi selalu ada satu-dua episode dalam hidup yang memicu lo untuk flashback ke momen itu. Dan rasa sakitnya masih sama. Rasa marahnya masih sama. Rasa takutnya masih sama. Seringkali, sama-nya tuh sampe identical, persis. Bukan sekedar familiar atau similar.
Just exactly like Amy Lee said in My Immortal: these wounds won't seem to heal, this pain is just too real, there's just too much that time cannot erase.
Ngga, waktu tuh ngga pernah bener-bener menghapus atau menghilangkan segala sesuatu. Yang ada, waktu bikin kita punya ruang dan kesempatan untuk memperbaiki, menangani satu demi satu sampe akhirnya selesai. Atau ya mentok akhirnya kita cuma terbiasa sama situasinya. Emosinya ya di situ-situ aja. Naik turun karena hidup berjalan dan kesibukan silih berganti, jadi terdistraksi.
Rasa marah, takut, sedih, dan badai emosi tidak nyaman lainnya itu sebuah keniscayaan yang akan berulang, entah apapun pemicunya. Untuk hal ini, rasanya mustahil untuk memaafkan. Lukanya mungkin udah kering, tapi nyerinya masih sama. Bukan berarti selama menanggung luka-luka itu di badan terus hidup jadi harus digentayangi masa lalu, ngga tenang, dan penuh dendam juga. Ngga. Ada jenis kedamaian lain yang bisa tercipta dengan segala luka tersebut. Kedamaian, tanpa harus memaksakan diri untuk memaafkan.
Kalo memang pada akhirnya nggabisa termaafkan, then let it be the way it is. Let the pain stay. Let the wound scarred. Let the anger come once in while to remind you that you USED TO be there, and you're no longer there today. That's a hell of a good news, isn't that?
Sejak kemarin kepala gue kembali sakit, tense. Udah minum analgetik berkala, berkurang sebentar, balik lagi. Susah tidur, tentu. Sekalinya tidur, mimpi aneh-aneh. Puncaknya tadi siang gue ketiduran, terus kembali mengalami si bangke nightmare-ception, alias udah ada adegan bangun ternyata masih mimpi dan masih buruk, gitu terus sampe akhirnya bangun beneran. Gue marah lagi. Rasa sakitnya datang lagi. Semuanya berkecamuk jadi satu lagi. Nangis lagi.
Siklus ini berulang, dengan skala yang berbeda-beda setiap kalinya.
Dulu, gue berusaha keras memutus siklusnya. Gue nggamau mengalaminya lagi sama sekali. Capek. But the more I try, the more baggage I bear. Malah tambah capek. Akhirnya gue sadar bahwa pilihannya; either I keep doing it, or just accept and live with it. Acceptance always sounds harder, of course. But life itself already about ups and downs, so to embrace the fact that I might going around the same cycle every now and then, is actually not that hard.
Gue bukan menolak memaafkan, tapi gue sadar penuh bahwa gue tidak akan pernah bisa memaafkan, sekeras apapun gue berusaha mencoba. Gue nggamau menghabiskan sisa usia dengan memaksakan diri melakukan sesuatu yang gue nggabisa. Gue percaya, gue bisa hidup lebih tenang tanpa memaafkan. I embrace the trauma. I celebrate the wound. But I'll never be able to forgive those who gave it to me. Gue juga ngga punya niat ngapa-ngapain si pemberi trauma. Ngga pengen nyumpahin macem-macem juga. Not because I dont want to be the same person like them, nor because I'm a good one. Simply because they took so much from me that I have less energy left to stand before them. So, whatever. Karma works better than any wishes.
Gue masih akan merasa marah, sakit, sesak, sedih, takut, berkeringat dingin sekujur tubuh, bermimpi beraneka keburukan dan kemalangan, sakit kepala, dan segala gejala tidak nyaman sebagai respon dari setiap trigger yang mengingatkan gue pada luka-luka masa lalu tersebut. Tapi bukan berarti potensi gejala tersebut menghalangi gue melanjutkan hidup. I might walk slower since my baggage is heavy.
But at least, I walk forward.
Eid mubarak, everyone ✨ forgive those who deserve 🙏