Kalau dibilang melewati batas memang iya, itu yang terjadi pada teman sekelasku Satria. Anak sipir Nusakambangan yang terkenal sombongnya. Sengak sikapnya merupakan rawit terpedas yang pernah kurasa selama aku menjadi siswa. Ucapannya selalu melewati batas santun yang telah dibuat oleh bu Ajeng wali kelasku saat ini. Lisannya terlalu mudah mengucap kasar dalam kesempatan apapun. Tanpa peduli dan pikir panjang tangannya ikut berbicara menampar atau memukul kawannya, aku yang jadi target utamanya. Parahnya lagi kelakuannya dijadikan tauladan bagi teman sekelas kami, terutama siswa laki-laki.
Bagian yang paling takku suka dari tingkahnya saat dia merendahkan teman-temanku. Aku yakin dan sepakat dengan kesopanan yang aku junjung dia memang keterlaluan. Teman-temanku adalah anak manis yang berasal dari keluarga utuh tanpa celah untuk dihina. Menghina mereka sama saja dia merendahkan kesempurnaan ciptaan Tuhan.
Lain halnya dengan diriku yang memang sudah terlahir memikul malang. Aku bertemu Ibuku tidak pasti kapan waktunya seminggu, sebulan, terkadang setahun pun belum tentu berjumpa. Caraku bertemu ibu adalah membayangkan wajahnya saat mendekapku lalu aku giring ke dalam mimpiku. Aku ingat benar waktu itu aku masih kelas 3 SD. Aku menangis sejadi-jadinya saat kalah bergundu dengan teman sebayaku. Saat itulah ibuku mendekapku lalu mengusap lembut kepalaku. Itu juga saat terakhir aku melihatnya sebelum ibu dipanggil oleh Yang Maha Kuasa.
Aku adalah siswa paling bingung dalam pelajaran mengarang. Terutama jika diberi tugas membuat cerita mengenai ayah dan ibuku. Aku pusing setengah mati bagian mana yang harus kupamerkan pada mereka. Seperti hari ini misalnya, aku diberi tugas semacam itu dengan waktu yang singkat.
“Silakan buat sebuah karangan yang menceritakan bapak dan ibu kalian!” sambut bu Ajeng membuka materi.
“Apa saja tentang ayah saya boleh Bu?” dari barisan ujung belakang Satria menanggapi.
“Tentu saja,” jawab bu Ajeng.
“Bu, kalau tidak punya bapak dan ibu gimana dong?” cecar Satria dibarengi gelak tawa teman sekelasku.
“Tulis saja nama ibu kantin sebagai bentuk penghormatan!” Rizal menambahkan, suasana kelas semakin tak terkendali. Mereka tertawa hingga wajahnya merah, menandakan bahagia luar biasa.
“Jangan banyak omong! Kerjakan saja urusanmu Satria, menghakimi orang itu bukan kewajiban siswa!” jawab bu guru menyapu kegaduhan.
Menertawakan hidupku adalah pekerjaan menyenangkan bagi mereka. Begitulah hidupku, semua pergunjingan mereka tentang ayah dan ibuku tidak dapat disalahkan. Sebelum ibu meninggal, ayah masuk penjara karena mencuri. Polisi bilang ayah berkomplot dengan teman penjudinya. Jadi tidak salah jika anak pencuri sepertiku jadi bahan ejekan anak-anak lainnya.
Jika tulisanku nanti bercerita tentang ayah, tentunya dua lusin buku tidak cukup untuk mendata dosanya. Sejak pertama ibuku meninggal aku belum pernah sekali pun mengubah pendapatku bahwa ayahku adalah pembunuh ibu. Ibuku meninggal terkena serangan jantung tepat satu hari sebelum dia berangkat umrah dengan uang ayah. Uang yang ternyata merupakan hasil mencuri perhiasan di toko ujung pasar. Setelah kejadian itu, aku tidak tahu keberadaan ayahku.
“Ibu menyarankan kalian membayar UN lusa anak-anak, hari Jumat tepatnya. Silakan bicarakan pada orang tua kalian.” Suara Bu Guru memecah lamunanku.
“Bu, ada toleransi ga buat tukang cari besi bekas?” sahut Satria mengimami ejekan.
“Toleransi waktu sih boleh, tapi nanti dapat soal ujian cuma separo halaman. Lembar jawabnya pun pake daun bungkus tempe.” ucap Nanda menyambar ejekan Satria.
“Setidaknya kunci mulut kalian sebelum selesai mengerjakan! Untuk Ahmad ibu guru beri toleransi hingga hari Senin.” jawab bu guru mencoba menenangkanku.
Kurasa masalah ini lebih rumit daripada membuat karangan tentang ayah. Sebenarnya jawaban ibu guru sama sekali tidak membuat tenang hatiku, justru menambah kusut masalah yang kuhadapi. Jawaban itu artinya aku harus mencari uang ujian di kali bacin beberapa hari ke depan sampai kewajibanku terpenuhi.
Bel istirahat berbunyi menandakan aku harus segera mengumpulkan tugas dari bu Ajeng. Kali ini aku berdamai dengan perasaanku sendiri. Kutulis kisah aku dan ayah yang lebih banyak ku karang dari pada ku rasakan. Rasa kasihanku jauh lebih kuat daripada benciku padanya. Sebagai bayarannya aku menulis kalimat Ayahku Komplotan Pencuri.
Siang ini rutinitasku setelah sekolah berjalan seperti biasa. Pertama aku harus bekerja di pencucian motor milik pak Haji. Aku biasa bekerja di sana dari pulang sekolah sampai pukul tiga sore. Sebenarnya aku kurang yakin pak Haji benar-benar membutuhkan tenaga-ku. Upah mencuciku lebih banyak dari yang lain, itu yang membuatku yakin Pak Haji iba kepadaku.
Walau aku miskin aku tak mau dikasihani siapapun! Jadi aku bekerja dua kali lebih giat dan rajin dari siapapun. Ketika aku melihat Pak Haji membuang sampah dan mengepel lantai, aku akan sigap merebut pekerjaannya, walaupun aku tidak dibayar untuk itu.
Setelah itu aku akan bergegas menuju tempat dinasku, mengaduk-aduk kali bacin untuk mencari besi bekas, tanpa modal apapun selain sandal tipis dan nekat. Sering kali kutemukan pecahan kaca yang menancap pada telapak kakiku. Sesekali paku yang kucari juga menyapaku dengan cara yang sama seperti kaca. Tapi kubiarkan saja, aku hanya tersenyum karena paku, kaca, besi dan bacin kali adalah teman sejati anak miskin sepertiku. Begitu lah caraku memenuhi kebutuhan sekolah selama ini, bedanya kini aku harus lembur sampai malam demi UN minggu depan.
Aku bukan tipe manusia pasrah yang ingin menghabiskan masa tua di dalam penjara kebodohan. Aku adalah manusia lupa, aku sudah lama melupakan bagaimana caranya menyerah. Semangatku tak boleh redup menjalani hidup, demi membuktikan aku bukan orang seperti ayahku.
Adzan Isya memanggilku untuk kembali ke gubukku. Langkah lelahku, pakaian kumalku, serta peluh busukku sedikit terhibur dengan penghasilanku hari ini. Setidaknya lima puluh ribu dan lima kilo besi bekas kukantongi kini. Esok aku masih punya muka menatap bu Ajeng, Setidaknya aku mampu menyicil uang ujian yang dihargai Rp. 300.000,00. Langkahku layu, kupandangi bilik rumahku yang cahayanya paling redup di antara barisan lainnya. Kulihat lelaki paruh baya duduk di serambi rumahku. Ayah kah?
“Ahmad bagaimana kabarmu?” tanya lelaki paruh baya.
Aku mencoba menerkanya, karena tidak terlihat jelas.
“Mad mendekatlah kemari!” timpanya mengacaukan senyap.
Kini aku sadar, ini bukan mimpi buruk seperti bayanganku. Itu bukan ayahku karena ayah tidak selembut itu saat menyapaku.
“Pak Sipir ayah Satria? Oh maafkan saya pak, saya pikir…..” Aku belum sempat menyelesaikan kalimatku.
“Kau pikir aku ayahmu? Bukan nak tapi kalau kau mau, kau bisa menganggapku begitu. Tidak usah sungkan.” jawab pak sipir lirih.
“Tidak pak, saya tidak pantas bersikap begitu.” jawabku minder.
“Hari ini saya sengaja menemuimu untuk menyampaikan wasiat ayahmu nak. Dia meninggal seminggu yang lalu di Lapas Nusakambangan. Ini wasiatnya untukmu.” pak sipir menjelaskan sambil mengeluarkan amplop putih dari saku celananya. Kemudian dia melangkah meninggalkanku sebelum aku sempat berterimakasih.
Aku tak merasa heran jika pak sipir menyampaikan pesan ayah padaku. Ayahku dan pak sipir adalah teman sepermainan sejak kecil. Mereka akrab hanya berbeda nasib. Pak sipir penegak keadilan sedang ayahku Narto penghancur keadilan yang berusaha diegakkan.
Amplop itu sama sekali tidak istimewa bagiku. Tidak ada apapun di dalamnya selain uang Rp. 300.000,00 serta selembar kertas bertuliskan ‘Maafkan ayah nak!’ wasiat seperti ini tidak kuharapkan. Kalau diizinkan memaafkan sejujurnya aku merindukan raga ayah, tapi tidak dengan sifat malingnya yang membuatku kecewa. Pak sipir pamit pulang dengan nada terburu-buru. Dia berjalan menjauh, semakin lama bayangan pak sipir semakin tidak terlihat kemudian menghilang bersama ingatanku tentang ayah.
Lima ratus meter dari rumah Ahmad terdapat pos ronda sunyi. Di sana terlihat pak sipir duduk bersandar dengan posisi kurang nyaman, menutupi sesuatu. Tak lama dia mengeluarkan rokok dari sakunya. Akan tetapi gerakkan tangannya kalah cepat dengan kesedihan yang datang air matanya yang menetes berbisik lirih:
“Aku menyesal sekali Narto, kenpa kau harus mati dengan cara begini? Kenapa kau tidak membiarkan aku menyampaikan kebenaran pada Ahmad? Biarkan dia tahu ayahnya sudah menebus dosa orang lain. Setidaknya biarkan darah dagingmu tahu bahwa ayahnya bukan seorang pencuri!”