Ilusi Prestasi: Kegagalan Guru Berlogika
Setiap siswa memiliki tujuan pribadi dalam menempuh pendidikannya. Beberapa diantaranya sudah paham konsep mendapatkan ilmu untuk mencapai hakikatnya sebagai manusia yang merdeka. Sebagian lagi masih bingung untuk menentukan esensi tujuan mereka belajar. Mereka akan mengikuti sistem yang disediakan lembaga-lembaga pendidikan. Melihat fenomena yang terjadi, guru memiliki peran penting dalam memberi pengertian bahwa hakikat pendidikan adalah menuntun mereka untuk mencapai kemerdekaan yang setinggi-tingginya itulah prinsip merdeka belajar.
Memotivasi murid untuk rajin belajar sekaligus menciptakan iklim belajar yang berpihak pada murid bukan untuk kesuksesan murid semata, melainkan lebih penting lagi, sebagai sarana untuk upgrade pemikiran. Dengan begitu, diharapkan menaikan derajat pendidikan kita. Maka, penting bagi guru untuk peka terhadap fenomena kontraproduktif dengan iklim belajar yang dimaksud.
Sebagai guru ada situasi yang mengganggu bagi saya, bagaimana iklim belajar yang berpihak pada siswa dapat tercapai jika guru memiliki persepsi yang keliru? Sesederhana memiliki pemikiran bangga hanya pada prestasi tertentu atau memberi petak-petak untuk prestasi, semacam prestasi biasa saja, istimewa, atau prestisius.
Seperti momen di bulan April ini, seluruh sekolah tingkat atas ramai membuat flayer selamat dan sukses atas kelulusan masuk universitas jalur prestasi untuk beberapa murid. Artinya kesuksesan dan keselamatan milik siswa tertentu. Asumsinya, SNBP mentereng bagi lembaga dan orang tua, ironinya guru tahu darimana perolehan status eligible tersebut. Bahkan barangkali setiap guru punya tekanan sendiri dengan predikat kepatutannya.
Lantas apa tolok ukur guru dalam melabeli prestasi? Adakah kita sebagai guru fanatik pada prestasi masuk PTN, dan merasa berjasa atas itu? Atau karena jalur seleksi prestasi lebih "menjual", sehingga memajang wajah belasan murid cukup mewakili ratusan lainnya? Padahal, seluruh murid sama-sama membayar biaya pendidikan. Mengabaikan wajah murid lain hanya akan menghina martabat kognitif murid. Inilah bentuk kegagalan berlogika yang nyata dalam dunia pendidikan.
Saya menjadi teringat hadis riwayat Bukhari Muslim
ولَكِنَّهَا عَلَى قَدْرِ نَفَقَتِكِ أَوْ نَصَبِكِ
"Akan tetapi, ganjaran (sebuah amalan) itu berdasarkan ukuran nafkahmu atau keletihanmu." (HR. Bukhari no. 1787 dan Muslim no. 1211)
Singkatnya, ganjaran untuk perkara mubah diukur dari besarnya pengorbanan tenaga, pikiran, waktu, biaya. Maka, siswa yang lulus melalui jalur tes tulis, ujian kedinasan, atau universitas swasta berpotensi mendapat ganjaran lebih besar daripada jalur prestasi karena proses dan perjuangan yang lebih berat.
Ingatlah pendidikan adalah investasi di pemikiran manusia bukan pada prestise semata, ilusi prestasi seharusnya tidak menghasut kita abai pada murid. Hindari membanggakan prestasi tertentu, padahal yang dimaksud adalah menjual. Guru harus berpikir jernih, setiap anak mesti mendapat apresiasi sama. Karena tanpa prestasi prestisius pun, setiap anak layak menjadi kebanggaan bagi guru dan orang tuanya.