Membongkar Mekanika Retorik dalam "Sekumpulan Inventori yang Diciptakan untuk Mencintai Puisi"
Di dalam tubuh puisi yang tampaknya ingin tampil liris sekaligus penuh gugatan sosial, terdapat satu upaya estetika yang, walau cukup mengesankan di permukaan, menyimpan banyak ganjalan ketika dibedah lebih dalam: Sekumpulan Inventori yang Diciptakan untuk Mencintai Puisi mencoba membangun satu kosmos dari puisi-puisi eksperimentatif yang bergerak dari kata-kata ke ide, dari absurditas menuju tafsir sosial-politik. Namun dalam perjalanannya, puisi ini seolah menyalakan obor semantik yang besar namun gagal menjaganya agar tidak membakar dirinya sendiri.
Puisi ini dibuka dengan bagian Alat dan Bahan, yang seolah ingin menciptakan semacam daftar semi-fungsional atas perangkat yang digunakan dalam puisi: “Bukankah kau adalah kata-kata yang keluar dari penciptaan tangan manusia yang terelakan.” Frasa ini mencoba melontarkan pertanyaan ontologis, tetapi kemudian dilanjutkan dengan deskripsi-deskripsi yang meledak-ledak, dari “seribu kaki ujung gang komplek” hingga “kalkulator berita ekonomi makro.” Dalam usaha menyampaikan kekacauan urban dan krisis makna dalam kehidupan sehari-hari, puisi ini memilih jalan akumulasi diksi—dan di sinilah masalah pertama puisi ini tampak mencolok: akumulasi yang tidak terkontrol.
Alih-alih membangun intensitas, penumpukan diksi absurd dan metafora tak selesai malah meluruhkan energi puisi. Tidak ada tensi dramatik yang memuncak atau melandai; semua ledakan metafora berjalan lurus tanpa dinamisasi. Larik seperti “kau menginginkan puisi / menggelora dan menyiapkan teknologi bermesin dua kehausanmu akan hitung-hitungan” menimbulkan efek impresif di awal, tapi segera kehilangan bobot karena tidak dipertajam dalam konstelasi makna. Kata-kata terasa seperti dikutip dari laboratorium kimia dan surat kabar ekonomi, kemudian ditempel begitu saja di badan puisi.
Satu kelebihan dari bagian ini—dan dari keseluruhan puisi, sejujurnya—adalah keberaniannya menyilang-nyalangkan dunia yang berbeda: spiritualitas dan pasar, filsafat dan kelontong, Musa dan algoritma. Namun keberanian ini kehilangan arah karena puisi tidak menawarkan kendali. Penyair seolah membiarkan bahasanya menjalar ke segala arah tanpa batas struktur. Ini bukan keleluasaan, melainkan kelalaian.
Bagian Komposisi menawarkan sedikit intensifikasi tematik. Di sini kita menemukan larik seperti “sebuah puisi telah meledak dan membiarkan ia menjarah semua sajak di jendela tetangga.” Secara imajinatif, frasa ini menarik. Ia menyiratkan puisi sebagai entitas liar dan ganas, namun tetap berada dalam bingkai keseharian—kelontong, tas kresek, sayur mayur. Namun lagi-lagi, imaji-imaji itu diburu oleh ketergesaan. Larik seperti “bahkan sebuah tas kresek yang kau tentengkan pada / akhirnya menyerah oleh logam-logam uang” tampak cerdas, tetapi tak cukup ditopang oleh perkembangan naratif atau emosi yang stabil. Setiap larik seperti ingin melompat ke tesis besar, tetapi gagal membangun landasannya.
Dalam bagian Diproduksi Oleh, puisi mencoba masuk ke ranah teologis dan mitologis, dengan larik seperti “Bagaimana jika tuhan membuat adam dan hawa dari tanah goa yang gelap.” Sayangnya, pertanyaan ini tidak menuntun kita pada eksplorasi tafsir atau pengalaman spiritual tertentu. Ia hanya membuka pintu, lalu menutupnya kembali. Bahkan penambahan seperti “telah kau sangsikan penciptaan puisi berubah membatasi tembok untuk pergi ke sorga” justru menampilkan kecenderungan hiperbolik tanpa kepekaan retorik. Puisi bukan sekadar ledakan gagasan. Ia membutuhkan pengolahan. Dan di bagian ini, pengolahan itu tampak dilewatkan.
Puisi ini tampaknya ingin bersikap postmodern: memecah referensi, mencampur diksi tinggi dan rendah, memparodikan instruksi produk pabrik, sekaligus mendekonstruksi bahasa agama. Namun postmodernisme dalam puisi bukan hanya perkara gaya dan campuran simbol; ia harus membangun ironi yang halus, bukan hanya kebisingan semiotik.
Pada bagian Berat Bersih, narasi menjadi lebih filosofis. Penyair menyebut bait sebagai “kekasih sempoa,” menyelingkuhi “tabel algoritma,” lalu menjajakan tubuhnya kepada “buku-buku tua filsafat.” Ini adalah bagian yang memperlihatkan potensi penyair dalam mengolah idiom ekonomi dan filsafat menjadi sesuatu yang puitis. Namun lagi-lagi, kekayaan ini tertimpa oleh retorika yang tidak terkendali. Penumpukan metafora justru menciptakan kejenuhan. Frasa “kedua bola kota kini telah tiada” misalnya, berniat menyindir atau mengejutkan, tetapi karena ditempatkan tanpa elaborasi atau ritme yang pas, ia justru terdengar genit dan lelah.
Apakah penyair sedang mencoba menciptakan sistem visual atau sistem bunyi? Tidak keduanya. Dan ini problem mendasarnya: puisi ini terlalu percaya diri bahwa akumulasi diksi sudah cukup untuk membuatnya puitis. Padahal puisi butuh kerja laten: kesabaran. Ia tak bisa disulap menjadi “kasturi” hanya karena menyebutkan “kasturi.”
Bagian Baik Digunakan Sebelum memperlihatkan satu bentuk narasi yang mencoba lebih sinematik: “Kutemukan sebuah puisi yang prematur dari bilik kamera.” Ini pembuka yang menarik, karena mengajak kita masuk ke dalam momen yang lebih spesifik dan visual. Tapi sekali lagi, penyair seperti kehilangan kontrol setelah larik pembuka itu. Puisi segera terjerumus ke barisan frasa tak selesai dan asosiasi paksa: “pertanyaan-pertanyaan cadel,” “bantal-bantal wasir,” “pantulan cahaya yang merembes dari seberang laut merah.” Tidak ada satu pun yang ditambatkan pada ruang atau peristiwa yang stabil.
Di antara berbagai bagian, Baik Digunakan Sebelum adalah yang paling menjanjikan dari segi nada dan gestur naratif. Tetapi ia ditinggalkan begitu saja, seperti percobaan yang ditinggal sebelum matang. Dan ini bukan ironi yang terencana. Ini adalah kegagalan konsistensi.
Lalu tibalah kita di bagian Pre-Epilog, yang menyatakan: “Kita sungguh-sungguh menunggu puisi matang sempurna.” Frasa ini seolah menjadi semacam pengakuan atau sindiran terhadap seluruh puisi yang telah dibangun sebelumnya. Namun sayangnya, bagian ini tidak mengikat keseluruhan puisi. Ia hanya menjadi komentar lemah di akhir yang tidak memiliki dampak struktural atau emosional yang memadai. Harusnya bagian ini menyala, menutup dengan daya tumbuk, tetapi justru memudar dalam klise.
Mari kita bicara lebih teknis: puisi ini tidak memiliki ritme yang jelas. Irama dalam puisi bukan hanya soal pengulangan bunyi, tetapi tentang bagaimana intensitas diksi membentuk lengkung emosi. Dalam puisi ini, lengkung itu tidak ada. Ia tidak naik atau turun. Ia tidak mengalir atau pecah. Ia hanya menumpuk. Jika kita menganalogikan dengan musik, maka puisi ini seperti konser dengan puluhan alat musik dimainkan bersamaan tanpa komposer.
Penyair tampaknya sangat ingin menampilkan absurditas kontemporer: kegilaan ekonomi, keterasingan spiritual, dan kehancuran bahasa. Tapi semua ini dilakukan dengan cara yang terlalu percaya diri pada absurditas sebagai gaya, bukan sebagai metode. Tanpa penyaringan, absurditas hanya menjadi noise, bukan kritik. Penyair seolah membangun museum penuh artefak, tetapi tidak merancang tata letak dan pencahayaannya.
Lalu, bagaimana dengan kekuatannya? Tentu saja, tidak bisa disangkal, penyair memiliki daya eksplorasi diksi yang luas. Ia bisa menghubungkan kelontong dengan sorga, algoritma dengan sempoa, dan kitab baptis dengan bantal wasir. Imajinasi ini liar, dan dalam kondisi tertentu, bisa menjadi kekuatan yang luar biasa. Namun seperti harimau tanpa pelatih, kekuatan itu menjadi ancaman bagi puisinya sendiri. Ia menggigit dirinya sebelum mencapai kedalaman.
Selain itu, penyair juga memiliki keberanian untuk mengganggu struktur konvensional puisi. Ia tidak tunduk pada logika bait, tidak mematuhi metafora normatif, dan jelas tidak mencoba menyenangkan pembaca. Ini sebuah sikap estetik yang penting. Namun keberanian semacam itu baru berguna ketika disertai tanggung jawab estetik. Dalam puisi ini, keberanian itu terlalu cepat merasa cukup.
Satu ironi besar dalam puisi ini adalah bahwa ia menamai dirinya “inventori yang diciptakan untuk mencintai puisi,” namun justru terkesan mencederai puisi dengan cara memperlakukan bahasa sebagai benda pakai sekali. Puisi ini tidak mencintai bahasa. Ia memperkosanya. Ia mengerahkan bahasa sebagai alat histeria, bukan sebagai jalan penghayatan. Maka cinta yang dijanjikan oleh judulnya terasa hambar, bahkan palsu.
Barangkali penyair sedang mencoba membuat satire atas industri puisi. Maka digunakannya metafora produk: “alat dan bahan,” “komposisi,” “berat bersih,” “baik digunakan sebelum.” Tapi satire juga menuntut presisi. Tanpa kedisiplinan bentuk, satire bisa berakhir sebagai karikatur. Dan sayangnya, itulah yang terjadi di sini.
Kita bisa memahami kegelisahan yang ingin disampaikan penyair: bahwa hidup hari ini tak bisa dipahami dengan puisi konvensional. Bahwa puisi harus menjadi media bagi tumpukan makna yang tak terurai. Tapi pemahaman itu perlu teknik. Puisi bukan tempat menumpahkan seluruh isi kepala tanpa saringan. Justru karena dunia hari ini begitu kompleks, maka puisi harus menjadi alat penajam, bukan pencampur.
Dan itulah ironi lainnya dari puisi ini: ia ingin menjadi kritik sosial, tetapi terlalu terbenam dalam retorika personal. Ia ingin menjadi puisi yang membebaskan bahasa, tetapi justru mengurungnya dalam jeruji jargon. Ia ingin menjadi eksperimental, tetapi justru menjadi eksesif.
Mungkin inilah saatnya kita bertanya: apakah puisi ini sungguh-sungguh ingin mencintai puisi, atau hanya ingin menunjukkan bahwa ia tahu bagaimana caranya merusak puisi?
Dalam gelora metafora yang meletup-letup sepanjang puisi ini, kita menemukan satu hal yang paling mengganggu namun juga paling penting untuk ditanyakan: di mana letak jiwa puisinya? Apakah hanya dalam parade frasa ganjil dan istilah yang disengaja untuk tampak asing? Apakah dalam teknik menyilangkan idiom teologi dan idiom ekonomi? Atau justru dalam kesadaran bahwa puisi hari ini adalah simulakra dari puisi itu sendiri—dan karena itu ia harus rusak agar bisa dipahami?
Sayangnya, puisi ini tak benar-benar menjawabnya. Ia menyuguhkan banyak, tetapi menjelaskan sedikit. Ia merangsang tafsir, tetapi tak memberi arah bagi tafsir itu tumbuh. Dalam hal ini, penyair tampak terlalu sibuk dengan cara, hingga lupa pada apa.
Kekacauan sebagai estetika adalah strategi yang sah, tetapi kekacauan sebagai hasil dari kekuranghati-hatian adalah bentuk pembatalan terhadap kekuatan puisi itu sendiri. Banyak puisi besar lahir dari luka yang dalam, atau dari kritik yang tajam, namun tetap disampaikan dengan ketenangan bahasa yang menggugah. Dalam Sekumpulan Inventori..., luka dan kritik itu ada, tetapi dikubur di bawah puing-puing gaya yang tidak selesai dirancang. Ia tampak seperti puisi yang dikerjakan bukan untuk dibaca, melainkan untuk dipertontonkan.
Dan ketika puisi lebih memikirkan bagaimana ia dilihat ketimbang bagaimana ia dirasakan, maka kita sedang berhadapan dengan teks yang kehilangan kepercayaan pada pembacanya. Ini persoalan yang tak bisa dianggap kecil. Karena begitu penyair memutuskan untuk menciptakan jarak terlalu lebar—antara apa yang dia tahu dan apa yang dia tampilkan—maka yang tersisa dari puisinya hanyalah efek, bukan makna.
Jika puisi ini ingin menjadi laboratorium, maka ia gagal sebagai eksperimen yang transparan. Jika ia ingin menjadi refleksi sosial, maka ia gagal sebagai kaca yang jernih. Jika ia ingin menjadi satire, maka ia gagal sebagai kritik yang tajam. Dan jika ia ingin menjadi cinta, maka ia gagal sebagai puisi yang hidup.
Sebab cinta, dalam puisi, selalu membutuhkan jeda. Selalu membutuhkan ruang bagi pembaca untuk bernapas, bukan hanya melompat dari satu metafora ke metafora lain tanpa pijakan. Puisi ini tidak memberi ruang itu. Ia terus menjejalkan simbol. Ia tak tahu kapan harus diam. Ia lupa bahwa kesunyian sering kali lebih puitis dari sekadar kebisingan tanda.
Yang paling disayangkan adalah: penyairnya jelas punya potensi besar. Imajinasi liar, referensi luas, keberanian formal—itu semua modal yang tidak bisa dibeli. Tapi modal, tanpa arah, hanyalah amunisi yang tersesat. Puisi ini bisa menjadi lebih tajam, lebih menghantam, jika saja penyairnya lebih percaya pada kekuatan kata yang ditata, bukan hanya ditabrakkan.
Kita tahu, banyak puisi yang memang lahir dari kerumitan. Tapi kerumitan itu hanya akan punya daya jika ia diolah, bukan hanya dipertontonkan. Dalam puisi ini, kesan yang tertinggal bukanlah perenungan, tapi pameran. Bukan penghormatan pada bahasa, tapi eksploitasi terhadapnya.
Dan di sinilah letak ironi terakhirnya: bahwa sebuah puisi yang konon diciptakan untuk mencintai puisi, justru menolak memberi puisi itu sendiri kesempatan untuk bernapas sebagai puisi.
Kalau ada satu harapan, maka ia begini: semoga puisi berikutnya tidak lagi terperangkap dalam hasrat untuk mengesankan, melainkan dalam kesediaan untuk menyampaikan. Sebab ketika penyair tidak lagi takut untuk menjadi jernih, ia akan tahu bahwa puisi tidak harus rumit untuk menjadi dalam. Puisi hanya harus jujur. Dan kejujuran, seperti halnya cinta, tak pernah butuh banyak kata untuk menggerakkan segalanya.