ANAK SMP YANG TAKUT ALLAH
Sore itu. Selepas sholat ashar, kami memang selalu rutin membaca dzikir petang. Al Ma'tsurat.
Ketika semua santri membaca dengan lantang doa-doa. Tetiba seorang anak menunjuk-nunjuk salah seorang temannya dan mengatakan "Ustadz, ini Gifta sakit!"
Ku hampiri dan ku perhatikan ternyata anak itu sedang menangis.
Penasaran, langsung aku tanya. "Gifta kenapa? Sakit??" Dia hanya menggelang sambil tetap menangis.
Lalu ku tanya kembali. "Kenapa Nak? Kenapa menangis??" Mendengar pertanyaan itu tangis nya malah semakin menjadi.
Segera ku jauhkan dari halaqoh. Ku ajak ia ke pelataran masjid. Sambil tersungkur ia terus menangis.
"Gifta, kamu kenapa Nak?"
"Kamu sakit?" Dia menggeleng.
"Kamu ingat orangtua?" tanya ku lagi.
“Bukan Ustadz..” Dia masih menggeleng.
"Lalu kamu kenapa?" Tanyaku semakin penasaran.
Sambil terisak-isak dia pun menjawab.
"Gif..gif...giftaa.. Inget sama kekuasaan Allah Ustadz..."
Mendengar jawaban itu tiba-tiba saja hatiku bergetar. Merinding. Mendadak kehabisan kata-kata.
Hanya bisa mengusap-usap pundaknya sambil kemudian memeluk anak ini.
Sambil ku coba tenangkan suasana.
“Sayang, menangislah. Kita memang perlu untuk mengingat Kekuasaan Allah. Hari ini kamu di berikan usia, bisa merasakan kenikmatan hidup, itu semua tak mungkin terjadi tanpa Kuasa Allah. Bersyukurlah sayang..”
Kemudian ku rangkul dan ku bantu ia berdiri.
“Sekarang kamu ambil wudhu dan kita kembali ke halaqoh. Kita lanjutkan baca Al Ma’tsurat nya ya..” Ia pun akhirnya mengangguk dan bergegas berwudhu.
Masya Allah. Aku merasa tertampar dengan kejadian ini. Anak yang baru keluar dari Sekolah Dasar. Tapi di dalam hatinya tengah tertanam iman yang luar biasa. Memang benar. Ada banyak hal-hal kecil, sederhana, yang luput dan sering kita lupakan sehingga kita enggan untuk bersyukur. Padahal sesungguhnya hal itu adalah anugerah Allah untuk kita yang tak mungkin bisa kita bayar dengan apapun.
Bernafas, melihat, berkata, bergerak. Kuasa Allah.
Seandainya Allah cabut salah satu kenikmatan itu. Sekarang. Tentu kita akan meminta Allah untuk mengembalikannya kembali.
Maka selagi masih terus Allah berikan kenikmatan. Bersyukurlah.
Dari seorang santri yang masih kecil aku belajar.
Bogor, Bina Insan Boarding School- 2019














