Berikan Porsi yang Tepat Pada Simbol-Simbol Islam
Saya termasuk muslim yang tidak begitu hobi menggunakan simbol-simbol yang lekat dengan Islam.
Misalnya saja peci. Tentu setiap orang bisa punya alasan yang berbeda untuk mengenakan ataupun tidak mengenakan peci, dan saya menghormati itu.
Tetapi, bagi saya, peci memiliki dua fungsi:
1. Sebagai benda fungsional, yaitu untuk menutupi rambut yang mungkin acak-acakan, agar terlihat lebih sopan dan layakâterutama ketika shalat shubuh, di mana rambut kita sedang berada dalam kondisi paling tidak beraturan karena baru saja bangun dari tidur.
2. Sebagai benda simbolik, yaitu untuk (a) menciptakan experience pribadi bagi si pengguna bahwa âSaya sedang dalam mode bertakwa/super Islami/sholehâ; (b) juga sebagai alat identitas yang membuat si pengguna merasa nyaman ketika berinteraksi di dalam kelompok muslim (perasaan I belong to this group), atau merasa puas dengan menunjukkan identitas keislamannya di hadapan khalayak umum (look, I am a muslim!).
Saya masih mau menggunakan peci untuk memenuhi fungsi pertama, tetapi tidak untuk memenuhi fungsi kedua.
Masalah Dengan Simbolisme
Islam bisa mengubah dunia dan mencapai kejayaan karena mengamalkan konsep/substansi ajarannya.
Itu juga yang terjadi dengan Dunia Barat. Mereka menguasai dunia hari ini karena mengamalkan substansi. Bedanya, substansi mereka bukan berasal dari agama mereka, tetapi dari ilmu pengetahuan.
Namun, ketika para pemimpin Islam di era kekhalifahan menjadikan Islam hanya sebagai label/simbol semataâmereka bermewah-mewahan, berebut kekuasaan, di bawah bendera âkhilafahâ, maka yang terjadi adalah kemunduran hingga keruntuhan.
Jika demikian, perlukah kita meninggalkan simbolisme Islam?
Sama sekali tidak, sebab sebagian ajaran Islam pun berbicara tentang simbolisme. Misalnya, anjuran Nabi untuk memanjangkan janggut dan mencukur kumis, dengan maksud menyelisihi/membedakan diri dari kaum Yahudi saat itu.
Simbolisme menjadi masalah ketika energi kita begitu terfokus kepadanya, sementara kita membiarkan substansi ajaran Islam tergeletak seperti tak bertuan.
Ada masa saat saya masih duduk di bangku kuliah, saya dan sejumlah aktivis Islam di kampus begitu serius memelihara âbudaya Islamiâ dalam organisasi kami.
Rapat selalu di masjid, pakai hijab/pembatas, dibuka dengan tilawah, tak ketinggalan taushiyah, bahasa âane-enteâ, tepuk tangan diganti takbir.
Tetapi giliran kerja, performanya medioker. Kedisiplinan buruk. Kreativitas payah. Budaya permisif tinggi. Nilai tambah dari program-program minim. Kalau bikin acara, yang hadir ya orang-orang kita juga.
Tentu dua hal tersebutâbudaya organisasi dan performa kerja, sebenarnya tidak perlu tarik-menarik. Yang terbaik adalah yang menjaga budaya organisasi dan produktif mengelola program-program yang berdampak.
Hanya saja, kalau saya pikir-pikir sekarang, saat itu kami salah dalam memahami prioritas.
Kalau kita sebegitu seriusnya menjaga âritual-ritualâ simbolik, mestinya kita juga memberikan porsi keseriusan yang lebih besar untuk hal-hal yang bersifat substantif.
Mestinya, Islam yang kita pahami tidak hanya direalisasikan secara serius untuk urusan manajemen rapat, tetapi juga direfleksikan secara serius melalui dampak dari program-program yang kita kerjakan.
Membaca Qurâan Namun Diperangi Rasul
Saya teringat sebuah hadits, yang redaksi lengkapnya sebagai berikut:
âAkan muncul di akhir masa ini nanti sekelompok orang yang umurnya masih muda-muda dan lemah akalnya. Apa yang mereka ucapkan adalah perkataan manusia yang terbaik. Mereka suka membaca al-Qurâan, akan tetapi bacaan mereka tidak sampai melewati pangkal tenggorokan mereka. Mereka melesat dari agama seperti halnya anak panah yang melesat dari sasaran bidiknya. Apabila kalian menjumpai mereka maka bunuhlah mereka. Karena sesungguhnya dengan terbunuhnya mereka maka orang yang membunuhnya itu akan mendapat pahala di sisi Allah pada hari kiamat kelak.â
(HR. Bukhari dan Muslim dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahuâanhu, ini lafaz Muslim)
Konteks hadits itu, menurut sebagian âulama, membahas tentang kaum khawarij. Tetapi mari kita fokus melihat salah satu perilaku yang digambarkan dalam hadits tersebut.
âMereka suka membaca Al-Qurâan, akan tetapi bacaan mereka tidak sampai melewati pangkal tenggorokan merekaâ
Bagaimana bisa suatu kaum rajin membaca Al-Qurâan, tetapi diperangi oleh Rasulullah? Bisa, jika mereka membaca Al-Qurâan sebagai sebuah ritual belaka, sebagai sebuah tindakan âsimbolikâ semata.
Banyak sekali fenomena kekinian yang bisa kita letakkan dalam kacamata âsimbolik - substantifâ.
Misalnya, ada saudara-saudara muslim dari sebuah kelompokâlengkap dengan atribut peci dan baju koko putihnya, terlihat cukup sering mengadakan aksi yang keras nuansanya, bahkan terlibat vandalismeâsehingga kelompok ini dilabeli sejumlah media dan sebagian masyarakat sebagai kelompok intoleran.
Ada juga saudara-saudara muslim dari kelompok lainnya, mereka senang mengadakan pengajian bersama habib-habibnya di Ibu Kota. Sayangnya, sebelum dan sesudah pengajian, mereka juga punya âritualâ berkonvoi sepeda motor, dan biasanya terjadi di jam-jam pulang kerja, saat kemacetan sedang memuncak. Rata-rata mereka tidak menggunakan helm. Hanya peci âsaktiâ yang melindungi kepala, ditambah baju koko atau jaket majelis, juga sarung.
Saudara-saudara muslim dari kelompok yang lain konsisten menggemakan âtegakkan syariat Islam, tegakkan khilafahâ, namun tidak mau ambil peran saat ada pertarungan politik antara kandidat yang mewakili kepentingan ummat Islam dengan kandidat yang punya masalah dengan ummat Islam.
Khusus yang terakhir ini mungkin perlu saya utarakan lebih jelas maksud saya.
Logika Bodoh Saya tentang Khilafah
Khilafah adalah nama dari sebuah sistem yang tidak memiliki referensi baku, sebab Al-Quran maupun hadits tidak menjelaskan detail-detailnya, seperti mekanisme pemilihan khalifah atau struktur pemerintahannyaâmisalnya (mohon koreksi dan beritahu saya jika saya salah).
Jika demikian, maka manusialah yang berijtihad merumuskan sistem kekhilafahan (maka argumen âdemokrasi = sistem buatan manusia = sistem thaghutâ kurang baik, sebab khilafah pun dirumuskan detail sistemnya oleh manusia, meskipun secara prinsip dibangun dalam koridor Islam).
Bayangkan, khilafah berdiri sejak zaman Abu Bakar menjadi khalifah pertama di tahun 632 M, hingga kekhalifahan Turki Utsmani runtuh pada tahun 1924 M. 13 abad jaraknya!
Dalam waktu yang sangat lama itu, kompleksitas masalah yang ditangani dari waktu ke waktu pasti  mengalami perkembangan yang luar biasa, yang menuntut penyesuaian dan perubahan pada sistem kekhilafahan.
NKRI yang usianya baru 0,72 abad saja sudah mengalami sekian banyak penyesuaian dan perubahan dalam tata kelola negara.
Artinya, sekali lagi, pasti ada ijtihad manusia di dalamnya untuk menghadirkan suatu sistem yang bisa kompatibel dengan realitas yang dinamis, sambil tetap melandaskan diri pada sumber-sumber hukum Islam. Nah, inilah kurang lebih âsubstansiâ dari kekhilafahan, tanpa bermaksud oversimplifikasi.
Sementara itu, struktur pemerintahan, bahkan istilah âkhilafahâ itu sendiri, adalah metode dan âsimbolâ-nya, yang menurut saya mestinya bersifat fleksibel dan adaptif.
Saya bukan pembela dan pecinta demokrasi. Demokrasi punya kelemahan, disamping punya kelebihan, seperti halnya semua bentuk pemerintahanâtermasuk kekhilafahan.
Namun jika ternyata hari ini bentuk pemerintahan yang paling kompatibel dengan realitas adalah demokrasi (hadirnya transparansi, adanya check and balance, disepakati masyarakat secara masif, dll), maka yang lebih produktif menurut saya adalah membuat kepentingan-kepentingan ummat Islam terakomodasi di dalamnya (ini termasuk menyelaraskan hukum Islam dengan hukum negara).
Tulisan bodoh ini lahir secara spontan karena dinamika yang terjadi belakangan: ummat Islam seperti sedang dipojokkan. Dilabelisasi. Distigmatisasi. Diseret citranya sedemikian rupa, di rumah kita sendiri.
Ini sangat menyedihkan dan membuat saya geram, namun alih-alih âmenyatakan perangâ, saya rasa kita perlu mencurigai diri kita sendiri terlebih dahulu. Jangan-jangan, kita yang memulai?
Kita gemar memamerkan simbol-simbol Islam, namun seolah tak pernah diajarkan ajaran-ajaran inti Islam. Kita lantang mengatakan âSaya bersama Islamâ, namun malah membuat citra Islam tenggelam bersama buruknya akhlak kita.
Bagi saya pribadi, ini adalah lonceng untuk bekerja, membuktikan bahwa Islam dan ummat Islam bukanlah the bad guy.
Ini adalah babak untuk kita bekerja dengan cara yang keren dan cakep, berfokus untuk membumikan substansi Islam dan menempatkan simbolisme Islam sesuai porsinya masing-masing.
Sehingga, suatu hari kita tidak perlu berdebat dengan orang-orang demi meyakinkan mereka bahwa Islam adalah yang terbaik, karena mereka akan mengambil kesimpulan itu dengan sendirinya setelah mereka melihat-mendengar-merasakan Islam dari realitas yang mereka alami.
PS: Saya meminta maaf kepada siapapun yang merasa tersinggung dengan kata-kata saya, dan saya memohon ampun kepada Allah atas hal itu. Saya tidak bermaksud menyinggung perasaan siapapun, apalagi perasaan saudara sesama muslim. Mohon dibukakan pintu maaf dan ingatkan saya jika ada hal yang tidak pada tempatnya.