Catatan April dalam sedekade.
10 tahun yang lalu, tulisanku dimulai di sini. Jerih-payah yang tergubah dalam setiap alinea perasaan, mengabarkan setiap arsiran makna di setiap derap langkah yang tertuju ke depan.
Namun, 10 tahun berlalu tentu menyisakan kabar yang rumpang bila hanya diwakili dua buah gambar. Mendewasa menjadi perkara yang lain lagi soalnya bila dibawa pada penerjemahan rasa; aku tentu sudah tidak muda, tak lagi berapi-api berunjuk rasa dalam belasan paragraf setiap hari seperti dulu kala. Kini, aku adalah lelaki awal tiga puluh yang mendekam di balik tembok tinggi kota, dan kadang diberi kesempatan untuk melongok bagian kecil lain dari dunia yang luasnya tak terkira.
Hidup menjadi realistis dan aku termegap-megap pada pilihan takdirku yang kian taktis. Aku bahkan terheran-heran, kenapa tulisanku dulu kok bisa begitu puitis? Ribuan tulisan, puluhan ribu pengikut, pada akhirnya lenyap bersama debu-debu kiasan masa lalu. Indah memang saat itu bila merunut waktu, bersama teman-teman yang kini telah bersimpangan jalan dan hidup dengan takdirnya yang terbuka lebar.
Tapi aku berkesempatan lagi, bercengkrama sekian menit di pengujung malam, di bulan April yang rahayu, memanggilku pada suratan takdir di masa lalu. Salah satu bibit unggul dalam memoriku adalah berani memulainya, 10 tahun yang lalu itu. Bertemu dengan pembuka garis takdir berupa arah dan warna, membuka setiap peluang berganda pengalaman yang bisa dikatakan luar biasa, meski yang pernah bertemu akan berpisah pula pada akhirnya.
Belum lenyap kiranya rumah pikir bernama Tumblr ini? Luar biasa. Aku pikir aku sendiri yang merajamnya ke dalam debu ingatan, tak lagi berkelindan dengannya bertahun lamanya. Kias-kias puitis sudah tak lagi menjamah liang logikaku, meski bekas-bekasnya masih bisa kugali dan kutiup bersama rindu, sambil kembali mengingat saat itu.
10 tahun lalu, dimulai sejak 2015. Satu dekade, takdir berparade.
Terima kasih, semoga sehat selalu!

















