At Bakmi Jawa asli Gunung Kidul
Ape cerite kite malem ini? 👿 – at Bakmi Jawa asli Gunung Kidul with Ezra and Yoga – See on Path.

No title available
Not today Justin
styofa doing anything
No title available
Alisa U Zemlji Chuda
I'd rather be in outer space 🛸
Sade Olutola
wallacepolsom
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

tannertan36
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

Janaina Medeiros
DEAR READER

titsay
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
Sweet Seals For You, Always
Mike Driver
Monterey Bay Aquarium
seen from Türkiye

seen from Germany
seen from United States
seen from Netherlands

seen from Iraq
seen from Argentina

seen from United States

seen from Türkiye

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Türkiye
seen from United Kingdom

seen from United States
@fajarrodhani
At Bakmi Jawa asli Gunung Kidul
Ape cerite kite malem ini? 👿 – at Bakmi Jawa asli Gunung Kidul with Ezra and Yoga – See on Path.
Listening to Hallelujah by Alexandra Burke
Halleluu....jaaahhh 👼👼 – Preview it on Path.
Selamat Datang Tahun Baru
Sekadar ingin merangkai kembali ingatan-ingatan yang berserak selama tahun 2015. Kiranya banyak euforia dan keberhasilan telah aku capai di tahun ini. Namun, tak jarang kesedihan dan kegagalan yang juga hadir di tahun yang sama. Refleksi menurutku harus dilakukan terlebih dahulu sebelum mengeluarkan resolusi. Dan pengalaman satu tahun belakangan di sini didudukan sebagai kritik untuk melangkah ke depan. Peristiwa tentang kegagalan setahun belakangan tak boleh hanya lalu lalang dan terhapus dari ingatan. Malahan, ini sebagai catatan agar tak terulang. Soal keberhasilan yang sudah-sudah perlu ditingkatkan. Mengingat capaian yang sudah diraih belum mendekati kesempurnaan. Tahun depan tantangan tidak semakin ringan. Tanggung jawab yang dibebankan tidak mudah. Setidaknya kewajiban untuk mengubah pola hidup dan perilaku harus segera ditapaki mulai Januari nanti. Target-target tetaplah disimpan dalam hati. Biar usaha yang akan memberi bukti. Selamat Tahun Baru 2016
Sewaktu saya masih dalam masa kanak-kanak, sering kali bapak saya atau bapak-bapak di sekitar rumah bercerita tentang pengalaman mereka semasa muda. Konten ceritanya didominasi tentang dia/mereka pernah nge-trip kemana-mana dg modal dengkul atau sepedahan a la tour de france (zaman itu motor/mobil jumlahnya terbatas dan hanya dimiliki orang-orang banyak duit). Mereka mengemas alur ceritanya dg romantik sehingga menimbulkan decak kagum pendengarnya. Mungkin mereka bercerita demikian kepada anak-anak merupakan hobi, tetapi sebenarnya tidak juga. Kegiatan bercerita ini merupakan pengulangan yang dulu dilakukan simbah saya kepada bapak saya. Bahkan ceritanya lebih epik, bukan simbah sudah nge-trip sana-sini tapi pernah melawan kolonialisme dan imperialisme bangsa asing. Namun, sayang sekali simbah, bapak, tetangga saya dan kebanyakan orang Indonesia tidak biasa menuliskan cerita epos kepahlawanan mereka masing-masing, kemudian dikitabkan. Kedepannya, saya yg melanjutkan tradisi ini dg anak saya sbg pendengar sekaligus pembacanya. "Nak, bapakmu dulu waktu masih muda pernah lo modal sepotong roti, 1 bungkus kremesan mie instan, dan air 2 liter mendaki gunung yg tingginya 3000 meter". #vsco #livefolk
Melacur kepada makhluk yang tidak kasat mata sebenarnya merupakan pilihan yang irrasional dalam pandangan banyak orang. Bangsa lelembut biasanya kita imajinasikan sosok yang buruk rupa. Nah, apa enaknya coba adu kelamin dengan mereka? Akan tetapi kita tidak pernah menyelidiki lebih dalam alasan mengapa para perempuan itu mau 'menggoyang' genderuwo itu. Ada alasan yang cukup rasional sebenarnya. Sebagai contoh kalau perempuan tadi "eheum-eheum" dengan seorang pejabat bisa jadi dia akan berhadapan dg sang istri kalau ketahuan. Selain itu, kalau 'burung' pejabat sering dibuat jajan dan terjangkit virus. Dan yang sering heboh di media, uang selingkuhan para pejabat berasal dari suap-suap tidak jelas. Kalau ini terendus KPK bisa-bisa si perempuan tadi ikut keciduk juga. Nah, resiko-resiko yang berat ini tidak akan terjadi bilamana si perempuan tsb berhubungan intim dengan bukan manusia (dedemit). – View on Path.
Watching The Girl Who Leapt Through Time (Toki wo kakeru shojo)
Orang dengan kemampuan rata-rata kek saya ini sering menyelesaikan masalah dg menimbulkan masalah lain. Saat berjuang menghadapi masalah, saya dan kebanyakan manusia pada umumnya tak jarang ingin menghindar saja. Atau melamun "andaikan waktu bisa diputar balik" ke masa sebelum masalah datang. Dgn membawa kunci jawaban atas masalah yg sedang dihadapi ini, barang tentu masalah itu selesai dengan rapi. Tapi, apa iya? Mungkin masalah saya bisa dirampungkan, tapi bukan berarti dgn memutar waktu tidak akan membuat masalah baru untuk orang lain misalnya. Mbulet memang, tapi begitulah ceritanya. – View on Path.
Filter foto yang ada pada aplikasi-aplikasi ponsel pintar sekarang ini, sesungguhnya mempermudah kamu untuk membohongi dirimu sendiri. Bahkan tak jarang mengecoh orang lain akan ketampanan/kecantikan artificial yang kau tampakan. #Instagood #Instaselfie #Instadaily #soksokan #keminter #keblinger #friendship
Pulau Elok Itu Bernama Langok
Siang tadi, saya iseng-iseng coba menengok desa tempat saya KKN, Desa Mubur. Bukan dengan datang langsung ke sana, melainkan saya mencari tahu kabar terbaru via dunia maya. Alhasil, saya temukan situs desamubur.com. Nah, dengan rasa tidak sabaran saya langsung mengklik link yang tersedia. Namun, sayang beribu sayang website desa tercinta ini sudah tidak bisa dikunjungi dengan kata lain sudah kadaluarsa.
Website desamubur.com adalah salah satu hasil jerih payah tim kami selama kuliah kerja nyata. Sedikit berkisah, setahun lalu saya tergabung di dalam tim KKN_PPM UGM unit KPR-04 yang mengusung tema pengembangan wisata bahari. Salah satu programnya adalah pembuatan website desa sebagai sarana penunjang sektor pariwisata khususnya desa Mubur dan Kabupaten Anambas pada umumnya. Website tersebut dibuat dengan tujuan utama memberi informasi kepada khalayak mengenai destinasi wisata yang ada di desa Mubur dan sekitarnya.
Memang saya akui waktu itu, kondisi sosial di sana tidak memungkinkan untuk mengembangkan website desa. Sedikit gambaran, pengelolaan website diserahkan ke perangkat desa yang mana hanya ada dua orang saja yang mampu mengoperasionalkan perangkat komputer. Mereka adalah Kepala Desa Pak Aryadi dan sekertarisnya Pak Asdi. Pengelolaan website desa yang baru dibuat waktu itu dipasrahkan kepada Pak Asdi. Sebenarnya Pak Asdi tidak terlalu banyak software yang dia kuasai. Hanya saja dia yang sering mengurusi urusan tulis menulis atau surat menyurat di kantor desa. Pada saat teman-teman memberi pelatihan kepadanya, dia tampak tidak fokus dan sekedar meng-iya-kan apa yang diajarkan teman saya tanpa benar-benar memahami. Bisa ditebak, website desa ini tidak berumur panjang.
Sebetulnya ada beberapa destinasi wisata di desa Mubur yang membuat anda ngiler akan keelokannya. Beraneka destinasi wisata tersebut sudah diulas oleh teman-teman dan sempat dimuat di situs desamubur.com. Nah berhubung websitenya sudah almarhum maka tumblr ini saya pergunakan untuk memuat informasi tentang tempat-tempat elok di Anambas—khususnya tempat-tempat yang pernah saya kunjungi selama di sana.
Pada kesempatan kali ini, saya akan mengulas tentang Pulau Langok. Pulau yang masuk ke dalam wilayah administrasi desa Mubur ini aksesnya terbilang mudah. Jika anda bermula dari kota Tarempa, anda bisa menyewa pompong (moda transportasi khas Kepulauan Riau) dengan kisaran harga 450 ribu rupiah sampai 600 ratus ribu rupiah tergantung ukuran. Kapasitas pompong kecil bisa muat 7-8 orang. Atau anda bisa menyewa speed boat yang harganya bisa 800 ribu atau dua kali lipat lebih mahal dari pompong. Kapasitas penumpang speed boat hampir sama dengan pompong kecil sekitar 7 orang. Kelebihan menggunakan speed boat adalah masalah kecepatan. Jika menggunakan pompong waktu tempuhnya bisa sampai satu seperempat jam kalau speed boat kira-kira hanya 25 menit dari kota Tarempa. Namun jika anda ingin menikmati pemandangan pulau-pulau saat perjalanan dan bonus suaranya yang khas, anda saya sarankan untuk memilih pompong.
Selain melalui kota Tarempa, perjalanan menuju ke pulau Langok juga bisa di akses memalui bandara Matak. Setelah tiba di bandara Matak anda bisa naik ojek menuju ke dermaga Matak Kecil. Ongkos ojek dari bandara Matak ke dermaga Matak Kecil sekitar 30 ribu rupiah. Setelah anda sampai ke dermaga Matak Kecil anda langsung sewa speed boat dengan kisaran harga 300 ribu rupiah. Di dermaga Matak Kecil jarang ada Pompong jadi naik speed boat yang paling memungkinkan. Waktu tempuh dari dermaga Matak Kecil ke Langok lebih singkat sekitar 10 menit.
Setibanya di sana, Anda disuguhkan lanskap pantai yang luar biasa. Pantai di pulau Langok terbilang unik jika anda membandingkannya dengan pantai-pantai di pesisir pulau Jawa. Pantai di pulau Langok bentuknya menjorok ke laut. Jernihnya air dan disertai gradasi warna laut di pinggir pantai membuat Anda akan berucap “sungguh indah maha karya Tuhan”. Di sekeliling pantai juga terdapat ikan-ikan kecil cantik sedang berusaha menggoda siapapun untuk berenang bersamanya.
Waktu yang pas untuk berkunjung ke Langok adalah saat sore hari hingga tenggelamnya matahari. Hal ini mengingat terik matahari yang tak bisa berkompromi dan penerangan saat malam hari di sana tidak memadai. Demi melengkapi waktu berbahagia Anda di sana, saya anjurkan membawa perlengkapan snorkeling serta kamera kedap air jika ada agar anda bisa merekam eksotika pemandangan bawah laut. Jika Anda bisa berenang namun punya pelampung harap dibawa saja. Pelampung ini sangat berguna ketika Anda ingin bersantai atau mengapung di atas laut sambil memandang ke atas awan. Namun, jika Anda hobi surfing sayang sekali di sana ombaknya tenang seperti kolam. Jangan sampai ketinggalan untuk membawa bekal makanan ringan mau pun berat karena di sana belum ada penjual. Yang terpenting jangan meninggalkan apa pun selain kenangan.
Setelah menyimak dan kemudian muncul hasrat untuk pergi ke Langok, ada yang perlu Anda catat sebelum berangkat. Pertama, dimana pun garis mula perjalanan atau moda transportasi yana akan digunakan, saya sarankan datang dengan rombongan. Tujuannya tidak lain tidak bukan demi menekan ongkos perjalanan. Yang kedua, anda juga harus memperhatikan kondisi iklim di Anambas. Hindari berkunjung akhir tahun, karena pada saat bulan Desember gelombang laut dan angin di sana sedang tak bersahabat. Waktu yang tepat menut warga setempat adalah periode bulan April dimana kondisi laut sangat tenang. Sekedar informasi kami berwisata ke Langok pada bulan Juli. Yang terakhir, jaga kesantunan dan berperilakulah yang sopan meskipun hanya liburan demi kebaikan Anda sendiri.
Demikian ulasannya saya tentang Pulau Langok. Tak ketinggalan saya lapirkan beberapa foto (hasil jepretan Ezra Argaputra) kami selama liburan di sana semoga bermanfaat.
Membaca Sejarah Musik Indonesia dan Membangun Diskursus Identitas dan Karakter Bangsa
Review Buku Nyanyian bangsa[i]
Judul Buku : Nyanyian Bangsa
Penulis : Irfan Rizki Darajat
Jumlah Halaman : xxviii + 132 hlm.
Penerbit : PolGov
Tahun Terbit : 2014
Andai kata ada bule sedang lapar dan ingin mengajak anda makan masakan Indonesia, mungkin referensi anda tidak jauh dari rendang, soto, atau gudeg kalau anda berada di Jogja. Pun, demikian ketika bule tersebut mengajak anda lagi untuk menemaninya beli baju khas Indonesia. Dengan tangkas, anda langsung bergegas membawanya ke gerai butik batik. Mungkin lain cerita ketika bule tersebut meminta menjawab pertanyaannya “please describe to me, what is about Indonesian music?”. Saya beryakinan bahwa jawaban yang terlontar dari mulut anda tentang musik Indonesia tak setegas ketika anda menyebutkan makanan atau pakaian a la Indonesia beserta ciri-cirinya.
Jika selanjutnya anda mengalami kegusaran pasca mendapat pertanyaan di atas, itu wajar. Anda tidak sendirian. Dalam buku Nyanyian Bangsa ini, sebagai penulis, Bung Irfan Darajat juga merasa penasaran dan tidak berhasil menjawab pertanyaan ihwal musik Indonesia itu seperti apa? (h.xv). Bahkan, saya rasa musik—yang menjadi objek pertanyaan ini—juga sukar mendefinisikan identitas ke-Indonesia-annya sendiri. Hal ini mengingat petualangan “musik Indonesia” dari rezim ke rezim pemerintahan membuatnya berubah “rupa” sesuai kehendak penguasa.
Sebelum menelisik buku ini lebih lanjut, perlu untuk didudukan terlebih dahulu teori yang melandasinya. Karena sejatinya buku ini merupakan transformasi dari bendelan skripsi penulis. Hal utama yang ingin diteliti dalam buku ini adalah wacana identitas dan karakter bangsa melalui musik. Wacana sendiri menurut Foucault adalah praktik kuasa yang membangun suatu bangunan pengetahuan ke dalam sistem bahasa (h. 9). Kekuasaan di sini tidak dilukiskan dalam wajah represif, namun bersifat produktif. Kekuasaan bekerja dalam alam bawah sadar kita dengan perantara wacana benar salah, normal-tidak normal yang terus menerus diproduksi. Dan medium wacana sendiri salah satunya melalui musik.
Dinamika Musik Indonesia: relatie musik dan politik
Sekitar medio tahun 1600-an, Bangsa Portugis mulai menapakan kakinya di bumi Malaka. Peristiwa ini juga menandai perkenalan antara kebudayaan Barat dengan orang pribumi. Proses perkenalan kesenian dan kebudayaan Barat ini terejawantahkan melalui lembaga fungsional pemerintahan kolonial maupun swasta: gereja, sekolah, barak militer, dan lain sebagainya. Akan tetapi, pada saat itu orang-orang pribumi hanya dijadikan budak musik oleh para penjajah (h.32). Mereka yang menjadi budak musik penjajah tidak bisa memainkan nadanya sendiri. Pemerintah kolonial Portugis mewajibkan para budak musik ini memainkan musik sesuai dengan selera kuping orang Portugis, nada-nada diatonis menggunakan instrument berdawai (h. 32).
Baru sekitar tahun 1940-an dimana Indonesia hampir mencapai pintu gerbang kemerdekaannya, para pejuang Indonesia berupaya memberikan cita rasa Indonesia pada musik-musik yang telah lama ada. Katakanlah, musik keroncong yang sebelumnya hanya berpedoman pada nada-nada kaum kolonial—nada-nada yang berpakem pada tangga nada do re mi fa sol la si do—dimodifikasi hingga memiliki tangga nadanya sendiri. Misalkan, para komposer lagu di Jawa waktu itu mulai menggunakan pola tangga nada pelog dan slendro (h.34).
Memasuki berakhirnya Perang Dunia ke-II, babakan musik Indonesia berada pada fase yang lebih seru. Radio sebagai medium komunikasi informasi saat itu menduduki posisi yang strategis. Selain menyampaikan pesan pemerintah kepada masyarakat, radio juga membuat penyanyi macam Perry Como, Bing Crosby, dan Elvis Presley meraih ketenarannya lewat radio. Dan musisi-musisi Barat itu lah yang mempengaruhi penyanyi-penyanyi Indonesia saat itu seperti Norma Sanger dan Bing Slamet (h.35).
Ekspansi musik asing ke Indonesia nyatanya tidak hadir sendirian. Ia tak luput memboncengi kebudayaannya juga. Barang tentu kaum muda Indonesia langsung menggandrungi produk budaya komprador ini mengingat spirit yang dibawa adalah kebebasan. Lantas implikasinya adalah para pemuda-pemudi waktu itu malah kembali memainkan dan meniru musik-musik asing. Melihat kaum muda Indonesia terlena oleh budaya asing, Paduka Jang Mulia Soekarno merasa gundah gulana karena di saat yang bersamaan revolusi belum usai. Musik asing ini menurut anggapan Bung Karno dapat melemahkan semangat revolusi. Menanggapi hal ini, Sukarno bertekad mempertahankan bangsanya di atas samudra subversi dan intervensi pihak kolonialis dan imperialis.
Pembangunan wacana identitas dan karakter bangsa dimulai dari sini. Sang Pemimpin Besar Revolusi Indonesia mulai menetapkan kategorisasi mana musik nekolim[ii] dan mana musik yang dianggapnya mencerminkan identitas dan karakter bangsa—meski pengkategorisasian ini masih ada kerancuan sehingga terkesan tidak jelas dan tidak tegas. Perlawanan Bung Besar terhadap musik asing semakin nyata. Pada tahun 1959, di atas podium perjuangan Bung Karno mengecam generasi muda yang mengonsumsi produk kebudayaan nekolim melalui pidato manifesto politiknya:
“Dan engkau, hei pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi…
…engkau jang menentang imprialisme politik; kenapa di kalangan engkau banjak jang tidak menentang imprialisme kebudajaan? Kenapa di kalangan engkau
banjak jang masih rock-‘n-roll-rock-‘n-rollan, dansi-dansian ala cha-chacha,
musik-musikan ala ngak-ngik-ngok, gila-gilaan, dan lain-lain sebagainja lagi?..[iii]”
Pemberedelan dan pelarangan musik ngak-ngik-ngok dilakukan pemerintah saat itu. Musisi seperti Koes plus yang menjadi simbol band musik ngak-ngik-ngok ikut dibui sebagai bentuk pendisiplinan. Pada masa ini industri musik melahirkan jenis musik yang bersifat kedaerahan dan berbau agitasi politik. Jadi, unsur estetika dalam musik kerap diabaikan. Namun anehnya, pada waktu musik-musik dari Eropa Timur diizinkan berkembang. Dan berkembangnya musik dari Eropa Timur ini tak lepas dari orientasi politik Sukarno yang lebih condong ke negara-negara komunis (h.37).
Pasca peristiwa Gestok tahun 1965, konstelasi perpolitikan Indonesia berubah. Keberhasilan kolaborasi antara Soeharto dan intelegen-intelegen Amerika Serikat mendongkel Sukarno dari singgahsana kekuasaan otomatis mengubah haluan Indonesia yang sebelumnya ke “kiri” menjadi pro Barat. Suharto berupaya memalingkan hati rakyat dari Sang Penyambung Lidah Rakyat dengan membangun rezim yang ia namakan Orde Baru. Harapannya dengan berdirinya Orde Baru bisa lebih baik di bidang apapun dibandingkan rezim sebelumnya. Jalinan ukhuwah wathaniyah antara rezim militer Suharto dengan Amerika mulai diperbaiki dengan masuknya investasi asing di sektor ekonomi. Begitu pula dalam hal kebudayaan, yang sebelumnya musik-musik dari Amerika dilarang sekarang dikasih jalan.
Soeharto menganggap dirinya sebagai “Bapak” dalam struktur keluarga dan mengaplikasikannya ke sistem pemerintahannya. Perwujudan kasih sayangnya sebagai seorang “Bapak” terlihat ketika mulai dibentuknya Badan Koordinasi Seni Komando Strategis Angkatan Darat Atau biasa disingkat BKS Kostrad. Badan yang legal secara institusional ini berusaha mewadahi artis-artis Indonesia yang karyanya sempat diberedel di era Sukarno. Badan ini juga menginisiasi panggung hiburan di kota-kota besar Indonesia (h.43). Para remaja saat itu juga dibebaskan kembali mengkonsumsi produk-produk kebudayaan Barat.
Belantika musik Indonesia pada era ’70-an mengalami perkembangan pesat. Genre musik pada masa ini menjadi lebih bervariatif. Legenda hidup dangdut, Rhoma Irama meraih kemahsyurannya pada masa ini. Pun demikian dengan penyanyi pop tunggal seperti Titiek Sandora. Namun, petualangan musik Indonesia tak pernah menemui jalan lurus di setiap rezimnya. Kekuasaan Suharto yang cenderung diktator justru melahirkan anti-kuasa. Penyanyi macam Iwan Fals menggencarkan kritikan melalui lirik dan lagu atas ketidakberesan kebijakan pemerintah. Barang tentu Pak Harto dengan watak aslinya berang sehingga melancarkan represi dan pelarangan terhadap musik Iwan Fals karena dianggap menggangu stabilitas nasional. Selain itu, Penyanyi Melankolis Betharia Sonata juga tak luput dari tekanan rezim. Melalui Menteri Penerangan waktu itu, Harmoko, melarang lagu “cengeng” mengudara di Radio dan TVRI (h.45). Dapat ditarik kesimpulan bahwa Suharto sendiri juga mengalami ketakutan yang sama seperti pendahulunya sehingga perlu adanya pendisiplinan pada musisi dan jenis musik yang tdak disukai mereka.
Membangun Diskursus Identitas dan Karakter Bangsa di Tengah Budaya Populer
Pada tahun 1998, rezim militerisme Suharto resmi terjungkal dari tampuk kekuasaan. Perjalanan musik Indonesia kemudian memasuki zaman edan. Mulai dari era B. J. Habibi sampai Jokowi sikapnya sama, tidak terlalu menggubris perihal musik. Mungkin hanya SBY yang memiliki talenta di bidang seni musik. Namun, tidak serta merta ia membakukan selera musiknya dalam sebuah Keppres sehingga harus dipatuhi dan ditiru oleh artis lokal maupun nasional.
Pasca Soeharto lengser, dalam buku ini mencatat mantan wartawan harian Kompas, seniman multi-talenta, penulis buku, Presiden Jancukers, Sudjiwo Tedjo yang berusaha membangun wacana identitas dan karakter bangsa melalui musik. Ia berusaha memerdekakan bangsanya dari keterjajahan musik asing (h.50). Ia merasa resah dan protes kepada film The Sounds of Music karena telah membangun dinding kuasa pengetahuan tentang tangga nada—tangga nada do re mi fa sol la si do selanjutnya menjadi standar dalam bermusik di seluruh dunia. “Kita hanya tahu tangga nada seperti do re mi fa sol la si do, padahal Jawa punya nada sendiri, Padang punya, beberapa daerah lain juga punya tangga nada sendiri. Kami orang asyik!”. Ini lah ungkapan Sudjiwo tedjo yang merasa musik Indonesia masih terjajah oleh musik penjajah (h.51).
Kerja-kerja seni dan propaganda yang dilakukan Sudjiwo Tedjo untuk membangun identitas dan karakter bangsa dalam musik hingga bisa diterima bangsanya sendiri nampaknya kurang membuahkan hasil yang gemilang. Pada kenyataannya justru musik yang dikembangkan Sudjiwo tedjo mengalami alienasi. Hal ini bisa dibuktikan ketika anda masuk ke toko kaset dan mendapati album-album Sudjiwo Tedjo berada pada kategorisasi musik tradisional nan terpinggirkan. Malah musik-musik Barat berada pada rak utama dan masuk dalam kategorisasi musik populer, terlaris, paling hits pokoknya (h.25).
Tidak adanya sinergitas antara pemerintah (rezim/negara), produser, media, dan musisi disinyalir menjadi penyebab mengapa pembangunan karakter bangsa melalui musik tidak berkesinambungan(h.52). Namun, andai kata permasalahan sinergitas ini terselesaikan dan mereka ingin bersatu padu membangun musik Indonesia. Tentu kita perlu merancang proyek raksasa tentang musik dan identitas Indonesia. Dan sebuah pertanyaan penulis ajukan untuk Anda. “Seperti apakah musik Indonesia yang kita ingin bawa?”. Apakah musik Indonesia kita wujudkan berupa boy band atau girl band yang sudah dibuktikan oleh bangsa Korea mampu menaklukkan dunia dan melawan hegemoni musik Barat? Kalau anda setuju, apa ya anda tega bangsa kita diwakilken oleh segerombolan pemuda-pemudi macam grup “cmesh” atau “anabelle” asal musik Indonesia mendunia? Atau kita orbitkan musik-musik Sudjiwo Tedjo, musik campursari, atau musik pop daerah, dan lain sebagainya yang memakai instrument musik khas Indonesia kepada dunia? Kalau usul yang ini disepakati, apa kalian yakin musik macam ini bisa mengusai dunia? Lha wong di dalam negeri aja teralienasi? Atau kita ajukan musik dangdut koplo sebagai ujung tombak musik nasional yang sudah menjadi lagu wajib di bus lintas pulau dan lintas propinsi? tetapi apa iya kita (yang ngakunya sebagai insane yang beriman dan bermoral) yakin ikhlas bangsa kita diwakilken oleh biduan-biduan yang tak tahu mana aksi panggung mana adegan mesum? Setelah membaca mohon segera minta petunjuk Illahi agar kemudian mendapat inspirasi.
End note:
[i] Tulisan ini pernah dimuat di bulletin Priboemi edisi ke-20, penulis mengarsipkan di sini untuk menyambut 51 tahun pidato Vivere Pericoloso.
[ii] Nekolim merupakan kepanjangan dari neo-kolonialisme dan Imperialisme. Paham ini merupakan wujud termutakhir dari pada penjajahan.
[iii] Soekarno, Penemuan Kembali Revolusi Kita: Manifesto Politik Bung Karno, Penerbitan Chusus Pemuda, Jakarta, 1959. Hal. 27.
No a World-Class Striker No Problem?
Hanya dalam hitungan hari, liga sepakbola termegah di dunia akan bergulir. Keriuhan para penonton di tribun stadion-stadion daratan Britania dan antusiasme fans layar kaca akan kembali terasa. Begitu juga aksi-aksi pemain kelas dunia macam Alexis Sanchez, Eden Hazard, dan Yaya Toure sebentar lagi akan memanjakan mata para pecinta sepakbola. FA sebagai asosiasi yang menaungi olahraga sepakbola Inggris nampak tak sabar memutar liga andalannya.
Minggu lalu, gong pembuka BPL sudah ditabuh dengan diawali laga FA Community Shield. Chelsea sebagai juara bertahan Barclays Premier League harus menghadapi Arsenal yang berstatus pemegang trofi kejuaraan piala FA. Ditilik dari jalannya pertandingan tersebut, kedua kubu secara tidak langsung menyampaikan sinyal bahwa mereka akan tetap menjadi petarung terkuat dalam perburuan berbagai gelar ajang domestik.
Pertandingan derby sekota tersebut pada akhirnya memunculkan Arsenal sebagai juara FA Community Shield. Kemudian berbagai pihak memprediksi bahwa Arsenal saat ini adalah kandidat paling kuat untuk merengkuh trofi BPL. Pemain nomor 10 Arsenal, Jack Wilshere, dengan rasa penuh percaya diri menyakini bahwa timnya yang akan keluar sebagai kampiun liga Inggris[i]. Meski saya seorang fans Arsenal tak lantas mengamini prediksi Wilshere atau media massa apalagi pengamat sepakbola karbitan.
Melalui tulisan ini, saya ingin mengupas sendiri tentang probabilitas Meriam London dalam merengkuh gelar juara. Nah, pertama kalau ditinjau dari kedalaman materi pemain, Arsenal cukup merata. Banyak pilihan untuk mengisi pos-pos dalam formasi 4-2-3-1 andalan Wenger saat ini. Musim lalu Arsenal tampak ngos-ngosan di paruh awal karena kurangnya stok pemain terutama di pos pertahanan. Permainan tim ini tampak pincang di lini belakang dan tanpa kehadiran gelandang bertahan yang tangguh. Belum adanya pelapis duet centre-back Mertesacker dan Koscielny menjadi problema utama pasca hengkangnya Thomas Vermaelen ke Barcelona. Ini membuat bek sayap seperti Nacho Monreal dan Mat Debuchy dipaksa bermain lebih ke tengah jika salah satu palang pintu utama tak ada di line-up. Selain itu, pertahanan The Gunners tampak sangat rapuh karena tidak adanya gelandang bertahan yang mampu menyeimbangkan antara lini belakang dan barisan penyerang. Kapten Arteta terlalu ‘sopan’ untuk kerasnya laga liga Inggris. Gelandang jangkarnya yang lain, Mathieu Flamini, malah justru kebalikannya. Dia terlalu ganas sehingga sering melakukan pelanggaran tidak penting berbuah kartu kuning. Hal ini semakin diperparah penampilan kipper utama, Wojciech Szcsesny, yang lebih banyak melakukan blunder daripada penyelamatan gemilang. Barang tentu selama bulan Agustus sampai Desember 2014 para gooner sering berlinang air mata seusai laga.
Untung saja, setelah natal Arsenal mulai menemukan solusi atas keroposnya barisan pertahanan. Badai cedera yang menghantam skuad utama memaksa Arsenal memanggil kembali Francis Coquelin dari masa peminjamannya di Charlton Athletic. Pergerakan lainnya juga Arsenal lakukan dengan merekrut bek potensial asal Brazil, Gabriel Paulista di jendela transfer musim dingin. Dan langkah solutif terakhir adalah keberanian Wenger mendepak Szcsesny sebagai kiper utama digantikan David Ospina. Semua kebijakan tersebut berbuah hasil cemerlang. Permaianan tim menjadi stabil sehingga tidak mengejutkan piala FA kembali berlabuh ke Emirates Stadium.
Tren positif sang meriam ternyata tidak luntur pasca libur musim panas. Di berbagai ajang pra musim yang diikuti, Arsenal sukses merengkuh treble winner. Ditambah, Arsenal merekrut amunisi baru yaitu legenda hidup Chelsea, Petr Cech. Loh buat apa? kan sudah ada Ospina yang jadi bintang di Copa America 2015. Iya, dulu saya juga berpikiran demikian. Mempunyai tiga kiper yang kualitasnya tidak terlalu jomplang akan mengganggu stabilitas tim. Namun, semua berubah setelah Szcsesny akhirnya ‘disekolahkan’ ke AS Roma. Otomatis kondisi Arsenal sama seperti Chelsea musim lalu, mempunyai dua kiper yang sama bagusnya dan kelas dunia semua. Mantabkan!?
Melihat faktor di atas jelas Arsenal sudah siap bertempur di medan perang. Namun, ada sesuatu yang mengganjal dan ini menjadi masalah yang belum ketemu jawabannya. Masalahnya adalah striker mana yang akan memikul tugas utama sebagai gol getter andalan. Jika menilik striker-striker klub juara BPL tiga tahun belakangan, mereka sangat buas. Musim 2013/2014 Manchester United punya Van Persie yang memerankan peran sebagai pendulang gol dan menjadi top skor liga. Musim berikutnya Manchester biru punya Kun Aguero yang beringas di kotak pinalti lawan. Musim kemarin, Chelsea menjadi kampiun dengan Diego Costa-nya. Nah, untuk musim ini Arsenal mau mengadalkan siapa? Walcott Atau Giroud? Menurut saya kedua jauh dari mumpuni untuk menjadi hulu ledak utama tim.
Dari sini saya melihat Arsenal masih belum pantas untuk mengakhiri puasa gelar BPL-nya sejak satu dekade lalu. Menaruh harapan di pundak Giroud sebagai ujung tombak serangan sama halnya mengharapkan balikan dengan mantan yang baru jadian dengan pacar barunya. Mengandalkan Walcott dan Welbeck juga setali tiga uang. Dan kegusaran akan hal ini juga dirasakan jajaran pelatih mau pun direksi Arsenal.
Ketika uang sudah tak menjadi halangan dan jendela transfer pemain masih menganga, berburu striker haus gol adalah wajib hukumnya. Ada tiga namanya yang sedang dikaitkan dengan tim gudang peluru. Pertama, juru gedor tim FC Hollywood, Robert Lewandowski, Arsenal sudah melakukan penawaran namun belum ada tanggapan[ii]. Selanjutnya, ada striker timnas Argentina, Gonzalo Higuain. Untuk kasus Higuain, pihak Napoli tampak begitu getol membentengi dengan banderol yang tidak wajar[iii]. Sehingga, Arsenal sedikit malas untuk memenuhi keinginan il Partinopei. Namun belakangan kabarnya, Higuain menolak memperpanjang masa baktinya di stadion San Paolo[iv]. Entah Arsenal sudah mengendusnya sebagai peluang atau belum. Yang terakhir adalah bomber El Real, Karim Benzema. Kasusnya hampir mirip dengan Higuain, Benitez menolak menjual Benzema[v]. Akan tetapi, menurut warta teranyar Real Madrid mulai melunak[vi].
Jika ditilik dari segi teknis ke depan, keduanya sama menjanjikan untuk menjadi striker berbahaya di BPL. Faktor saling mengenal dengan gaya bermain Mesut Ōzil adalah penyebabnya. Namun, jika lihat siapa yang paling mungkin merapat ke Ashburton Grove, Karim Benzema orangnya. Apapun itu, Arsenal sudah kehilangan rudal utamanya sepeninggal Van Persie yang hengkang dari Ibukota ke pinggiran kota Manchester. Maka penting sekali entah Benzema atau Higuain untuk segera diresmikan sebagai pemain Arsenal. Jika tidak dapat satu pun diantara keduanya atau nihil striker kelas wahid, alamat Arsenal harus puas gagal menyandang gelar juara.
End note:
[i] Diakses tanggal 6 Agustus 2015 pukul 18.49, http://www.arsenal.com/news/news-archive/20150730/jack-the-reason-we-re-more-dangerous.
[ii] Diakses tanggal 6 Agustus 2015 pukul 18.55, http://www.telegraph.co.uk/sport/football/teams/arsenal/11774948/Arsenal-transfer-news-and-rumours-Gunners-to-launch-35-million-bid-for-Bayern-Munichs-Robert-Lewandowski.html.
[iii] Diakses tanggal 6 Agustus 2015 pukul 19.01, http://www.independent.co.uk/sport/football/transfers/gonzalo-higuain-has-much-to-offer-napoli-despite-transfer-speculation-over-move-to-arsenal-or-manchester-united-10424265.html
[iv] Diakses tanggal 6 Agustus 2015 pukul 19.03, http://www.90min.com/posts/2424180-gonzalo-higuain-confirms-turning-down-napoli-contract-offer
[v] Diakses tanggal 6 Agustus 2015 pukul 19.06, http://prosoccertalk.nbcsports.com/2015/08/04/benitez-expects-bale-and-benzema-to-stay-at-the-bernabeu/
[vi] Diakses tanggal 6 Agustus 2015 pukul 19.09, http://www.express.co.uk/sport/football/596475/Arsenal-Transfer-News-Karim-Benzema-Real-Madrid-Deal-Graham-Hunter-Transfer-Gossip
Arsenal Butuh Siapa?
Geliat transfer musim panas sudah mulai terlihat memanas. Ya, klub-klub sepakbola yang mempunyai besar sejarah besar namun menjadi medioker belakangan ini terlihat menyibukan diri. Tim-tim seperti Liverpool, AC Milan, dan Inter harus segera ancang-ancang atau nyolong start duluan sebelum pemain bidikannya ditikung rival. Catatan kurang menyenangkan mereka musim lalu cukup dijadikan pelajaran. Dan saat ini lah waktu yang pas bagi mereka menambal lubang kegagalan.
Liverpool sejauh ini sudah mendapatkan beberapa pemain yang mereka butuhkan. Pemain seperti James Milner, Danny Ings, dan Joe Gomez sudah dipastikan berlabuh di Anfield musim depan. Meski menurut saya mereka akan buang-buang uang seperti tahun lalu. Kita bisa lihat dengan kasat mata bahwa pesepakbola yang direkrut Brendan Rodger adalah pemain-pemain kelas B. Padahal melihat kondisi Liverpool saat ini, mereka membeli satu pemain kelas dunia saja masih kurang untuk bersaing di zona empat besar, apalagi untuk jadi juara liga.
AC Milan dan Internazionale Milano, dua klub satu kota beda warna, musim kemarin bernasib sama. Mereka apes tak dapat tiket mentas di kompetisi antar klub tertinggi milik UEFA. Pada bulan Juni ini keduanya gencar berburu pemain baru. Malah baru-baru ini, La Beneamata berhasil menyalip Il Diavolo Rosso dalam perburuan Geofrey Kondogbia. Untuk kedua klub yang saling bermusuhan ini, saya do’akan sukses berburunya karena saya sudah bosan melihat Juventus yang angkat trofi lagi.
Beda nasib beda pula aktivitas. Beberapa klub yang merengkuh trofi musim lalu terlihat masih bersantai menyambut bulan Juli. Sebut saja Chelsea, Bayern Muenchen, dan PSG, mereka belum tampak ngoyo berburu pemain jelang dibukanya bursa transfer. Meski tak menutup kemungkinan mereka akan mengejutkan publik di akhir Agustus dengan memboyong beberapa nama tenar.
Baik pembaca yang budiman, sekarang persilahkan saya membahas Arsenal. Tim yang saya gandrungi sejak sepuluh tahun belakangan. Dan dalam kurun waktu sepuluh tahun tersebut, saya belum pernah menyaksikan Arsenal merajarai EPL. Agar Wenger bisa mewujudkan mimpi saya sebagai Gooner yang belum ke sampaian, maka pembelian pemain yang efektif wajib dilaksanakan.
Kebutuhan Lini Per Lini
Sekitar lima tahun belakangan ini, Wenger meninggalkan formasi 4-4-2 beralih ke 4-5-1. Formasi ini menurut saya cukup ideal hanya saja materi pemainnya yang belum ideal di skuad reguler. Oliver Giroud sebagai striker utama musim lalu di EPL sukses membukukan 14 gol. Namun, saya sepakat dengan Thierry Henry bahwa untuk menjadi juara memiliki striker seperti Giroud masih kurang. Hemat saya, Giroud kurang dalam hal kecepatan, Teknik olah bola, dan dribble. Jika menengok 3 tahun ke belakang para jawara EPL memiliki striker kelas dua dengan kemampuan lengkap. Baik Van Persie, Aguero, dan Diego Costa adalah syarat utama sebuah untuk menjadi juara.
Walcott yang tampil gemilang di Final FA Cup 2015 juga masih belum mumpuni. Dia memiliki kecepatan namun tak mahir dalam duel-duel udara. Hanya Welbeck striker yang dalam pandangan saya memiliki skill paling komplit. Hanya saja keberuntungan belum memihak kepadanya. Musim 2014/2015, Welbeck hanya menciptakan 8 gol di segala ajang. Sungguh masih jauh dari harapan.
Kabar terhangat, Arsenal menawar Aubameyang Seharga 28,7 juta poundsterling untuk memperkuat barisan penyerang. Kalau diperhatikan bisa saja ini sama saja buang-buang uang. Kalau menurut saya pribadi uang sebanyak itu dialihkan ke Ibrahimovich yang kabarnya ingin hengkang dari PSG, atau mungkin Higuain juga menjadi opsi ideal di lini depan. Bagaimana dengan Jackson Martinez? Saya kira dia belum teruji di 3 liga top dunia. Jadi saya mengatakan tidak untuknya.
Di lini tengah, komposisi materi juga ada lubang di sayap kanan. Chamberlain yang sempat menunjukan performa gemilang di awal musim namun jadi angin-anginan paska laga tandang ke Anfield. Aaron Ramsey yang akhir-akhir ini diplot di posisi sayap kanan untuk mengimbangi Sanchez di sayap kiri malah permainannya tampak wagu. Ramsey tak memiliki daya akselerasi yang tajam sebagai seorang sayap. Maka untuk mengisi pos tersebut saya merekomendasikan untuk menarik Shaqiri, Isco, atau Salah. Syukur-syukur kalau puma mau membantu Arsenal mendapatkan Marco Reus itu malah lebih mantab. Kalau sterling Bos? Dia terlalu mahal, udah tinggalin aja.
Di benteng pertahanan tidak ada masalah. Hanya untuk pos bek kanan yang terlalu ‘sesak’. Di sana ada Debuchy, Bellerin, Chambers, dan Jenkinson (kabarnya akan diperpanjangan masa peminjamannya di West Ham). Untuk perebutan posisi utama bek kanan, semoga mereka legowo dengan apa yang jadi keputusan Wenger.
Yang terakhir untuk pos penjaga gawang, sebenarnya Ospina di bawah mistar sudah cukup, tak ada kendala. Hanya saja kabar media belakangan ini, dia sudah menjalin pembicaraan dengan raksasaTurki, Fenerbahce. Dengan kata, kiper utama jatuh di tangan Petr Cech yang kemarin kabarnya sudah deal.
Okay, itu menurut pengamatan saya tentang siapa saja yang harus diangkut ke Emirates Musim panas ini. Terus Vidal gimna nasibnya sob? Berita yang berhembus, agennya nonton final FA Cup Arsenal vs Aston Villa, apakah ada pembicaraan tentang transfer doi? Komentar saya “Gabung kene keno, ora sido yo keno”. Sekian.
Perkembangan teknologi yang begitu deras telah mengantarkanmu ke dunia lain yang tak berujung. Teknologi memberi peluang kepadamu untuk menciptakan dirimu yang lain, yang berwujud biner dan pixel. Model: @mazpermadi (di Taman Budaya Yogyakarta)
Islam Abangan Bicara Toleransi
Sore ini tanggal sembilan belas Juni dua ribu lima belas, tempatnya di Sampoerna Corner, saya agak heran dengan tulisan om Darwis Tere Liye yang dibagikan oleh teman saya. Inti tulisan beliau tidak lain dan tidak bukan adalah menganjurkan para wirausahawan untuk tutupen warungmu dan tutupen diskotikmu sebulan wae. Beliau ndak mau ketinggalan nyemplung dalam perdebatan soal pernyataan pak Menteri Agama yang memperbolehkan tempat makan boleh buka saat bulan puasa. Perdebatan ini cukup ramai di lini masa media sosial dewasa ini, selain orang pada ngrumpi soal istilah Islam Nusantara. Berhubung saya terlanjur ikut komentar di postingan fesbuk kawan saya dan saya juga gatel terhadap dua isu tersebut. Akhirnya, saya memutuskan ikut nimbrung dengan nyumbang tulisan berdasarkan pengalaman saya sendiri.
Kira-kira kejadiannya satu tahun lalu, ketika saya sebagai Hamba Allah diwajibkan menjalankan puasa ramadhan dan saya sebagai mahasiswa UGM diharuskan melaksanakan KKN-PPM di Kabupaten Kepulauan Anambas. Ketika menjelang waktu subuhan, di bulan yang penuh barokah ini, disunnahkan bagi seorang muslim untuk santap sahur sebelum menjalankan salah satu rukun Islam. Berhubung acara santap sahur sendiri mengandung pahala, para pemuda Desa Mubur (tempat saya KKN-PPM) menunjukan bahwa mereka memiliki jiwa sosial yang tinggi. hal ini diwujudkan dengan usaha mereka membangunkan kami yang masih terlelap. Mereka tidak ingin para sahabat barunya ini tidak kebagian pahala di pagi hari meskipun cara yang mereka lakukan sungguh tidak bersahabat.
Setelah para perjaka desa yang menurut saya ‘bicik anet’ pergi dari pondokan, cobaan lain datang menghampiri. Ada peraturan tidak tertulis di tim kami yang mengharuskan makan sekertas minyak berdua. Hukum tidak tertulis ini semata-mata dilandaskan pada faktor hemat air karena waktu itu Anambas sedang kekeringan. Belum lagi, di atas kertas minyak tahadi, nasi kami hanya berkawan dengan tiga potong tempe dan beberapa helai kacang panjang sebagai sayuran. Oooh sungguh bulan Ramadhan kala itu adalah bulan perjuangan.
Sebenarnya ada cara yang bisa membuat saya mendapatkan makanan yang lebih manusiawi yaitu pura-pura menjadi minoritas. Di sub-unit kami ada satu orang yang berbeda, sebut saja namanya Ezra Argaputra―ini nama sebenarnya tanpa diinisialkan apalagi disamar-samarkan. Iya, diantara 13 orang di Tim Desa Mubur dia satu-satunya yang tergolong kaum Tafir (istilah Fanpage Anda Bertanya Habib Rizieq Menjawab untuk menyebut non-muslim) sendiri. Jika saya memutuskan tidak sahur bareng dan melanjutkan tidur (persis seperti yang Ezra lakukan) niscaya saya berhak untuk sarapan dengan lauk telur dadar atau diperbolehkan menggodok mie pagi hari. Namun, di dalam hati saya berbisik untuk tidak melakukannya.
Seusai bangun tidur saya agak lupa rincian cerita lanjutannya bagaimana. Seingatnya saya hari itu (entah kapan tanggalnya) Tim mengutus beberapa orang pergi ke Kota Tarempa. Kalau enggak salah agendanya ketemuan dengan dosen pendamping lapangan nyambi belanja keperluan mingguan atau hanya cari kebutuhan ini itu di pasar saja. Setelah letih mengelilingi pasar Tarempa, saya, Ezra, dan Hera memutuskan untuk singgah ke rumah makan padang. Rumah makan ini terlihat malu-malu kucing untuk menampakan ‘batang hidungnya’. Hal ini berbeda dengan minimart atau toko-toko yang menjual snack dan softdrink berkeringat yang menegaskan ‘eksistensinya’ di siang hari selama bulan suci. Kalau mau membatalkan puasa siang-siang sebenarnya gampang banget kan yak aksesnya? Gitu aja kok rame amat masalah warung makan boleh buka selama puasa? Padahal masih ada minimart yang jual maeman dan minuman seperti biasa.
Di dalam warung masakan Padang tahadi, hanya saya yang berusaha menahan nafsu makan dan minum karena Hera kebetulan saat itu sedang kedatangan bulan. Kami memilih warung padang dibanding warung-warung lain yang mayoritas menjajakan olahan hasil laut pun juga atas beberapa pertimbangan. Pertama, Ezra alergi seafood kecuali cumi-cumi dan sotong. Begitu juga Hera yang nggak doyan seafood tapi saya tak tahu dia alergi apa enggak. Kedua, berhubung saya sedang berpuasa dan tidak berkepentingan memilih menu makanan maka saya ngikut kehendak mayoritas.
Dus, cerita minoritas memilih untuk ngikut mayoritas pun berlanjut. Ketika panas terik sang surya sungguh kelewatan dan ditambah lagi saya dilanda kecapekan yang luar biasa haibat paska belanja di pasar tahadi. Belum lagi aroma rendang yang menendang hidung saya dan harumnya semerbaknya es teh di ruangan itu. Akhirnya, ibadah puasa saya harus berakhir dengan makan masakan padang bersama teman-teman. Oooooh sungguh indahnya nikmat kebersamaan di Bulan Ramadhan yang Engkau karuniai, Ya Tuhan.
Dialog imajiner Bung Besar : Gantungkanlah cita-cita mu setinggi langit nak dan bermimpilah setinggi langit… Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang. Bung Kecil : Wah saya bisa cuma nyenterin bintang Bung. Bung Besar : Kowe kok selo banget to ndes atawa kurang penggawean, mbok nyekripsi-nyekripsi kono. Bung Kecil : #&#*#/@*@* PS : maaf kalau saya belum bisa mengontrol chakra kyubi yang ada dalam tubuh ini. (di Pantai Siung Gunung Kidul)
Kesadaran Sosial
Entah angin malam macam apa yang sudah masuk ke pikiran saya di saat mata mulai terlelap. Tiba-tiba ada pikiran yang mengganggu sehingga saya sehingga ada tenaga buat bangkit dari ranjang menuju meja buat ngetik apa yang ada dikepala ini. Dan orang yang bernama Karl Marx ini yang membuat susah tidur.
Orang dengan brewok putih dan jidat mengkilap ini pernah bilang kalau “kesadaran individu itu ditentukan oleh kesadaran sosial bukan sebaliknya”. Jika dipikir dan direnungi sambil melihat realitas sekitar, pernyataan Marx tak sedikit pun meleset. Saya ambil contoh pertama di film Peekay—meskipun ceritanya fiksi tetapi film ini mengangkat realita sosial masyarakat India— yang sedap untuk diperbincangkan malam ini. Dalam film itu, Ayah Jaggu (yang diperankan oleh Parikshit Sahni) sudah menjadikan agama Hindu sebagai way of life. Memang tidak dihadirkan proses bagaimana ayah Jaggu ini menjadi penganut Hindu yang kaffah. Namun, kita bisa membayangkan dengan membandingkan dengan keadaan di sekitar kita. Orang bisa berpegang teguh pada satu agama tentu bermula dari pengaruh keluarga bukan kehendak sendiri. Dari kecil kita diajari nilai-nilai agama orang tua kita sampai remaja. Pada fase remaja ini peran orang tua sebagai pendidik agama agak berkurang dan digantikan teman sepermainan atau guru sekolah. Kalau kita gaulnya sama anak remaja masjid atau persekutuan do’a atau sebagainya pasti gaya hidup kita sedikit banyak terpengaruh. Dan dari pengaruh mereka maka akan timbul kecintaan mendalam dalam diri terhadap nilai-nilai agama.
Kembali ke Ayah Jaggu lagi, kecintaannya kepada agama Hindu tidak dapat diganggu gugat. Samapi pada suatu scene dimana PK (Aamir Khan) menjelaskan adanya bisnis terselubung pemuka agama yang menunggangi rasa takut para penguikutnya. Agar lebih menyakinkan lagi, PK berusaha melepas aksesoris-aksesoris di tangan Ayah Jaggu. Namun, Pak tua ini justru menampar PK. Respon dari ayah Jaggu ini bisa ditafsirkan bagaimana kesadaran seseorang tidak muncul dari dirinya sendiri. Kecintaan seseorang terhadap ideologi atau sesuatu sering kali menyumbat akal pikiran untuk menerima fakta-fakta obyektif.
Contoh lain yang ingin saya ambil adalah kasus 2 tahun yang lalu. Saya ambil kasus teman saya, Sebut saja Lalu Rahadian mantan ketua himpunan mahasiswa jurusan yang sekarang jadi wartawan. Dia sungguh mencintai tim sepak bola asal Italia yaitu Juventus. Sampai pada suatu ketika dia diejek adik tingkat dengan sebuah pertanyaan matematika “harusnya 28+1=29 kok jadi 31?”. Tapi temen saya yang berambut kriwul ini tetap ngeyel kalau 28 ditambah 1 itu 31. Padahal FIGC sudah ketok palu memutuskan gelar juara serie-A Juventus itu jumlahnya 28. Jadi kalau juara juara lagi jadi 29 gelar. Kurang dungu apa coba teman saya ini saking besar cintanya mengalahkan logika.
Sangat wajar memang kalau kesadaran individu seorang Lalu tidak tampak dari sikapnya yang demikian. Itu semua karena Lalu sudah dari kecil suka sama si Nyonya Tua. Berita-berita tentang tim berlambang kuda itu selalu diikuti. Tentu pengaruh media (Kesadaran sosial) turut membentuk kesadaraan individunya. Meski begitu, melihat kebebalan teman saya tadi, pasti Pak De Marx sedang tersenyum-senyum dari liang kubur.
Akhirnya kita (bisa) juara :')
Meski belum pernah menginap di dusun ini, tetapi ada rasa rindu untuk datang ke sana kembali. #Palah #Anambas #Panorama