Bela Negara dan Caci Maki Kepada Negara Lain? Kita Belum Dewasa
Saya rasa akhir-akhir ini Indonesia sedang cukup meradang dengan apa yang dilihat dan dirasakan pada ajang SEA Games tahun ini. Mulai dari bendera yang dicetak terbalik oleh pihak Malaysia (dan tentunya mereka telah meminta maaf secara resmi), lalu beberapa pertandingan yang katanya dicurangi (soalnya, saya kurang paham benar bagaimana peraturan dan penliaian dalam cabang-cabang olahraga tersebut, serta hanya menonton beberapa yang menurut saya menarik, dan karena saya kurang suka dengan sepakbola, jadi saya tidak menonton sepak bola).
Seperti post saya sebelumnya, soal betapa mudahnya Netizen Indonesia mengeluarkan kata-kata kotor, dan membash seseorang, demikian juga yang terjadi. Makian, hinaan kepada Malaysia bisa tiap hari saya lihat di berbagai media social, apalagi jika Malaysia terindikasi melakukan kecurangan, pasti kolom komentar sangat ramai, dengan tentu saja dilengkapi dengan sebagian besar kata-kata penghinaan.
Beberapa orang coba mendinginkan, dengan menegur teman-teman senegara kita, untuk lebih menjaga perkataan, tetapi cukup sering saya baca dalih dari mereka adalah ini bentuk bela negara. Apakah anda terima negara anda diinjak-injak dan sebagainya. Oh, sesungguhnya apa arti bela negara, sampai kita seperti itu. Entah, menurut saya bukan tampak membela negara, tapi menunjukkan bahwa kita belum dewasa, dan terkesan kekanak-kanakan, norak, kampungan dan have no attitude. Yes, for me it’s only make Indonesia looks more worse.
Sepertinya, ada yang salah dengan pemahaman bela negara sebagian besar netizen. Bela Negara dan Nasionalisme bukan seberapa hebat kita bisa memaki-maki bangsa lain, sehingga tampak tidak menghormati. Sampai-sampai meneriakkan Ganyang, Perang, dan hal-hal bodoh lainnya. Ini bukan zaman penjajahan. Indonesia negara yang merdeka, Malaysia juga. Kemarahan kita tidak perlu disalurkan dengan hal-hal bodoh lainnya.
Kita meradang sedemikian rupa ketika mendapati bendera kita dicetak terbalik (sehingga Polandia berada di Asia dan Indonesia mungkin berada di Eropa :D ), dan meskipun Malaysia telah meminta maaf, kita tetap meradang, dan kata-kata kasar tetap ditunjukkan. Tapi, apakah kita telah berusaha sebaik mungkin bersikap sempurna ketika melihat Sang Saka Merah Putih berkibar, dan Indonesia Raya berkumandang? Kasus bendera dibakar dan bendera dipasang setengah tiang, bahkan tidak terlalu banyak yang nampak perduli, padahal pelakunya, sama-sama teman sewarga negara kita. Kalau di dalam kita belum mampu menghargai, menghormati Bendera dan Lagu Kebangsaan kita, maka saya rasa, kata-kata Nasionalis anda itu masih semu. Apalagi, Malaysia telah meminta maaf. Sebagai bangsa yang beradab, patutlah kita maafkan mereka. Kalaupun Malaysia sengaja, biarlah Tuhan yang membalas. Dan yang lebih pantas bertindak terkait ini adalah Pemerintah Indonesia, bukan netizen dengan kata-kata kasar, yang justru menurunkan martabat Indonesia.
Kita pantas marah ketika bendera kita diperlakukan sedemikian rupa, tetapi tidak dengan balas membalik bendera mereka, mengeluarkan kata-kata kotor dan sebagainya. Tunjukkan bagaimana kita sangat menghargai dan mencintai negara ini dengan menghormati, bendera Indonesia denganl lebih lagi, bukan dengan membalik bendera negara orang. Apa bedanya kita dengan mereka?
Terkait kasus kecurangan, saya sendiri merasa Malaysia melakukan beberapa kecurangan yang tentu saja merugikan negara kita, dan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Tetapi, memaki-maki Malaysia, tidak menunjukkan kita cinta negara. Bela negara bukan lewat seberapa hebat anda beradu kata sampai mengeluarkan elemen-elemen kebun binatang dalam debat anda. Jauh lebih penting mendukung atlit-atlit kita yang sedang berlaga, memberikan komentar positif dan semangat bagi mereka, daripada sibuk mengurusi kecurangan lewat sosial media, yang minim dampak. Biarlah para atlit dan pelatih yang turun tangan langsung melakukan protes, jika dirasa perlu. Biarlah Pemerintah yang mengurusinya.
Bela negara adalah ketika anda berusaha sebaik mungkin menunjukkan prestasi anda dan membawa harum nama Indonesia. Kita bela harkat dan martabat bangsa ini lewat prestasi dan menjaga perkataan kita di social media. Apalah gunanya memaki-maki bangsa lain, tanpa kita berusaha menunjukkan prestasi terbaik kita sehingga nama Indonesia menjadi harum? Kita bisa dengan mudahnya berbicara untuk ganyang, perang dan sebagainya. Tapi, apakah kalian benar-benar siap berdiri di garda terdepan membela Indonesia? Merelakan nyawa demi Indonesia, dan membuang kepentingan Suku, Ras, Agama demi Indonesia? Kalau kita masih mempermasalahkan hal-hal tersebut, saya masih belum yakin anda dapat melakukannya ketika anda benar-benar diminta untuk membela negara.
Bela Negara itu adalah aksi nyata kita membela harkat dan martabat Indonesia melalui hal-hal baik dan prestasi, bukan dengan kata-kata kasar merendahkan dan menghina bangsa lain.
Mari, bagi netizen untuk kembali belajar menahan amarah, dan menyalurkannya ke hal yang lebih baik. Tunjukkan bahwa Indonesia tidak bisa diremehkan lewat prestasi kita. Tunjukkan bahwa kita beradab dengan kata-kata positif dan dukungan moral kita bagi atlet-atlet kita. Bukan dengan modal kuota internet dan memaki-maki negara lain, tanpa berusaha memberikan sumbangsih nyata bagi Indonesia.
Belajar menghormati Sang Saka Merah Putih dan bersikap sempurna dan menghayati Indonesia Raya, sebelum protes berlebihan akan perlakuan negara lain kepada bendera kita. Dan jangan balas perbuatan mereka dengan cara yang sama. Jangan ganggu kekhidmatan negara lain ketika lagu kebangsaan mereka dikumandangkan. Jauh lebih penting untuk berkarya nyata bagi Indonesia, demi menunjukkan rasa Nasionalisme ktia.
Nasionalisme terlebih dahulu kita lihat lewat bagaimana cara kita bersikap ketika Sang Saka Merah Putih berkibar dan Indonesia Raya berkumandang. Bukan baru meradang ketika bendera dibalik, padahal selama upacara tidak pernah berusaha bersikap sempurna dan menghayati makna bendera dan lagu kebangsaan.
Dan terakhir, selamat bagi para atlet yang telah berjuang semaksimal mungkin bagi Bangsa Indonesia, baik yang telah berhasil meraih medali, yang telah berjuang semaksimal mungkin demi harkat dan martabat bangsa, serta bagi mereka yang akan mengibarkan Merah Putih dan mengumandangkan Indonesia Raya di podium tertinggi. Teruslah bersemangat apapun yang terjadi, karena lewat pundak kalian, nama Indonesia akan diharumkan di ajang olahraga tertinggi di Asia Tenggara. Maju terus, dan pantang menyerah. Semoga Tuhan selalu menyertai kalian dalam perjuangan kalian membela bangsa ini. Jayalah Indonesia