THE VALUE OF FREEDOM
Akhir Juni 2022, mentor nonfiksi 30 DWC Rezky Firmansyah lewat status WhatsApp nya bertanya; momen apa yang paling membuat kamu bersyukur?
Rasanya ingin berteriak lantang "Free Financial Issue". Tapi belum bisa, karena sejujurnya saya belum sepenuhnya berada di fase itu. Masih ada beberapa kewajiban yang harus diselesaikan. Lalu saya menjawab dengan hal lain.
Mau jawab ah, momen yang paling buat bersyukur pas bisa gunting 3 credit card tahun lalu, dan dapet surat pelunasan KTA (Kredit Tanpa Agunan) tahun ini. Bismillah konteksnya bukan pamer, tapi bisa terbebas dari hutang, bener2 buat bersyukur banget.
Begitulah kira-kira pesan yang saya kirim lewat whatsapp.
Banyak orang bersorak bahagia ketika pengajuan kartu kreditnya disetujui. Limit lima juta, sepuluh juta, dua puluh juta bahkan lebih. Seolah rejeki nomplok yang datang dari langit. Komitmen awalnya, hanya akan memakai jika membutuhkan. Lalu berujung terus dan terus sampai pada batas limit akhir yang tersedia. Apalagi saat ini banyak layanan gesek tunai dengan bunga yang lebih ringan.
Tagihan menumpuk, endingnya, setiap bulan hanya mampu membayar minimal payment 10% dari seluruh total tagihan. Begitu seterusnya. Bulan demi bulan, tahun demi tahun.
Aku melihayt beberapa anak muda, dengan bangga pamer limit kepada kolega dan rekan kerja. Gesek sana sini dengan dalih dapet discount tambahan belanja di merchant MAP, restaurant, dan travelling...! Oh no, sungguh hidup yang hedonist dan berjiwa sosialita.
Well, sedikit memalukan. I've been on that phase, indeed it was not easy to survive. Ketika sudah terjatuh barulah ingat akan ajaran islam tentang betapa kejamnya RIBA. Aku perlu waktu tiga tahun untuk benar-benar lepas dari jeratan hutang yang membuat sulit untuk bernapas. Lepas apapun alasan dibalik penggunaan dana, tetap tak akan berkah jika menggunakan uang RIBA.
Itu kenapa, saat aku berhasil menggunting 3 kartu kredit tahun lalu dan pelunasan KTA tahun ini adalah momen yang paling aku syukuri. Rasanya, ini adalah kebebasan yang aku tunggu-tunggu. Bebas bernapas dan tidur tanpa rasa khawatir.
Tentang Riba. Saat ini Teknologi berkembang sangat pesat. Segala proses pinjam meminjam jauh lebih mudah. Aplikasi online menawarkan option pay later dengan iming-iming keuntungan menggiurkan apabila berhasil mengajak orang lain untuk gabung. Banyak orang terperdaya.
Temanku, dalam waktu tiga bulan terjerat hutang sebesar tiga ratus dua puluh juta. Berawal dari mengenal pinjaman online di sebuah applikasi. Hanya dengan mengisi identitas seperti KTP, KK, Slip Gaji, serta foto selfie. Walla... lima menit kemudian pinjaman masuk ke dalam rekening.
Katakan pinjaman dua juta rupiah. Dana yang masuk ke dalam rekening adalah satu juta tujuh ratus ribu rupiah. Sementara tenor dua minggu pengembalian, nominalnya adalah dua juta tiga ratus rupiah. Hitunglah, dalam waktu dua minggu bunga yang kita bayarkan sebesar lima ratus ribu rupiah.
Siapa yang mampu bertahan? Apalagi jika hidup hanya mengandalkan upah tidak tetap, yang untuk kebutuhan sehari-hari aja sulit. Saat gagal bayar meski baru satu hari, depcol sudah menyebar foto kita ke semua contact handphone. Mulai dari kalimat untuk bantu mengingatkan, dampai berujung pada kata "DICARI MALING".
Sehingga pilihannya adalah menutup riba dengan riba yang lain. Hutang menggunung, tak ada lubang yang bisa digali lagi. Nama baik hancur berkeping. Di sanalah kebebasan untuk hidup pun sirna. Semua seakan berat. Belum lagi stigma masyarakat, teman, kerabat yang cenderung menghakimi.
Temanku, memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri. Meninggalkan kedua anaknya. Temanku yang lain, dikeluarkan dari perusahaan dengan tidak hormat.
Tragis memang, tapi ayo kita belajar.
The Value of Freedom tidak lagi bercerita tentang perang melawan penjajah atau sikap kita melawan kapitalisme. Jangan berpikir jauh kesana deh sebelum kita bisa memaknai value kebebasan untuk diri kita sendiri. Kita loh kita, coba tunjuk diri sendiri.
Saya menulis ini untuk reminder kediri saya, bagus jika orang lain bisa mememetik.
Jika belum pernah ada di fase ini, jangan memulai. JANGAN PERNAH. Catat dalam memory pakai huruf besar bertinta merah. Hidup tanpa hutang adalah KEBEBASAN.
Jika saat ini tengah berjuang untuk bebas. Jangn putus asa, terus berusaha untuk keluar, ikhtiar dan doa. Ada kalimat yang di ucapkan oleh ustadz Adi Hidayat di salah satu ceramah.
"Manusia kadang lupa, fokusnya adalah minta dikasih jalan untuk bayar hutang, dapet uang dari pinjaman. Uang... Uang... Uang... Kita lupa, yang paling penting, tobat dulu... Minta ampun sebanyak-banyaknya sama Allah."
Taubat nasuha, penyesalan, dan minta ampunan. Dari sanalah Allah akan membuka pintu rejeki dari pintu yang tak disangka-sangka. Mudah kok bagi Allah untuk membebaskan kita dari jeratan Riba. Asal kita fokus taubat, perbaiki diri, dan usaha.
Untuk yang sudah terbebas, hutangnya sudah lunas. Yok, jangan masuk lagi ke lobang yang sama. Saya berdoa, siapapun yang baca tulisan ini, dilancarkan rejekinya oleh Allah SWT.











