Sudah tahun ke-dua. Sudah tahun ke-dua aku membekap mulutku rapat-rapat mengucapkan kata itu. Selamat hari lahirmu. Walau sudah telat dua hari yang lalu, aku tetap ingin mengucapkannya lewat cerita ini.
Sejujurnya, aku sudah tidak tahu bagaimana perasaanku saat ini untukmu. Jika dibilang rindu, iya. Jika dibilang benci, mungkin iya. Jika dibilang sayang, aku tak tahu. Sudah hampir satu tahun hariku diisi oleh pria lain, tapi seakan bayangmu masih menggantung dipikiranku. Entah untuk apa.
Jika dulu aku bisa tiap malam memikirkanmu sampai menangis, sekarang tidak. Sama sekali tidak. Aku hanya seringkali memikirkanmu ketika kamu muncul di media sosial. Tapi aku tak pernah mau lagi mengirimi pesan, semenjak akhirnya kamu menjatuhkan pilihan hatimu. Dulu.
Dan hingga akhirnya sekarang kamu berpisah dengan kekasihmu, yang entah kenapa sangat kubenci. Mungkin aku membencinya karena merasa dia telah merebutmu dariku. Padahal, memilikimu pun aku tidak.a
Maaf. Maaf karena entah kenapa ada sebuncah rasa bahagia yang muncul ketika kamu berpisah dengannya. Tapi tenanglah, aku tak ada niat sedikitpun untuk datang lagi padamu. Sudah cukup. Semua tentang kita sudah cukup. Sudah kukunci rapat-rapat agar tak ada yang dapat membukanya kembali. Karena lelahku dulu rasanya tak pernah berujung mengharapkanmu. Sampai akhirnya aku hanya menelan pahit.
Aku pun tahu jika kamu sudah tahu bahwa sekarang aku sudah memiliki seseorang, dan aku tahu kamu tak akan datang lagi seperti dulu. Aku yang selalu menerima kedatanganmu sudah mati sayang, jangan berharap ia akan hidup lagi.
Entah kenapa masih ada degup menggebu tiapku mengingatmu. Aku merindumu, tetapi tak sesering dulu.
Baiklah kembali lagi, di tahun ke-dua ini sebenarnya aku susah payah membekap mulutku. Ada hati kecilku yang ingin sekadar memberikan selamat secara langsung untukmu. Tapi rasanya aku menjadi jahat jika mengucap kata itu jika masih ada degupku untukmu.
Tunggulah, mungkin di tahun ke-tiga ketika sudah benar-benar hilang degupku untukmu aku berjanji akan mengucap kata selamat dan berdoa untuk hidupmu.
Sayang, selamat hari lahir. Selamat berulang tahun. Maaf, jika telat 2 hari. Semoga kamu bahagia. Semoga senyum selalu terpancar di wajahmu. Semoga kepedihan yang ada dalam hidupmu membuat kamu menjadi semakin baik dan semakin kuat. Semoga masa depanmu cerah. Semoga di akhirat nanti kita bertemu di tempat terbaik. Semoga kita tetap bisa berteman baik tanpa menyimpan rasa.
Semoga ucapan selamat dan doa yang terbungkam di tahun ke-dua ini terkabul.
Sang pria mabuk yang memabukkan ku, dulu.