Sekarang ini memang lagi berasa keren banget ya ketika masih muda bisa menjadi pendiri sebuah startup, memasukan jabatan chief x atau Founder x di kartu namanya dan dapet suntikan dana dari pemodal ventura.
Kalimat itu mungkin jadi salah satu alasan umum kenapa anak muda jaman sekarang berani membangun startupnya di usia yang sangat muda, bahkan tidak sedikit juga yang belum punya pengalam kerja. Karena adanya kemungkinan untuk membangun usaha tanpa keluar uang & menjadi miliarder dengan waktu yang relatif singkat!
Walapun pada realitanya tidak semudah itu untuk mendapatkan dana dari pemodal ventura, alhasil banyak yang berhenti ditengah jalan karena pertumbuhan usahanya kurang bagus ditambah dengan modal yang terbatas.
Hal tersebut pun pernah saya alami, saya sempat membuat beberapa startup saat masih duduk di bangku SMA dan tidak bertahan lama karena seperti alasan diatas. Tapi niat saya untuk terus mencoba membuat startup yang sukses belum juga hilang, bahkan saya membuat keputusan untuk memilih langsung membangun startup dari pada kuliah setelah selesai menamatkan bangku SMA. Walaupun saat ini bisa saya katakan bahwa itu adalah keputusan yang cukup nekat atau mungkin ceroboh. Karena setelah 9 bulan berjalan, startup tersebut saya ditutup.
Tapi alhamdulilah saya tidak menyesali keputusan tersebut, kekecewaan pasti ada bahkan sempat mengurung diri.
Karena berbeda dari startup yang saya kembangkan ketika masih sekolah dulu, startup itu sempat memiliki kantor, menggaji orang yang berpengalaman dan bertemu langsung dengan pelanggan.
Dan ketika di evaluasi, saya banyak sekali belajar tentang hal baru. Mulai dari cara mencari partner, membentuk tim, membuat produk yang baik, mengatur keuangan sampai jadi tenaga penjual. Saya juga dituntut untuk bisa bicara didepan banyak orang, cukup menantang karena saya sebelumnya cenderung introvert.
Dari hal-hal tersebut saya pikir, pembelajaran tersebut mungkin tidak akan saya dapatkan di tahun pertama kuliah. Saat itu saya juga setuju dengan kepanjangan dari CEO yaitu Chief Everything Officer. Apalagi dengan modal yang sangat terbatas.
Saat tulisan ini dibuat, saya sedang mengerjakan proyek IT untuk sebuah pemerintahan, mengisi kekosongan, dan menutupi biaya sehari-hari juga keuntungannya akan dipakai untuk bisa membangun startup kembali.
Berselang 3 bulan sejak startup terakhir saya berhenti beroperasi dan ketika saya sedang terlibat dalam sebuah proyek ada 2 kawan lama yang mengajak saya untuk membangun startup, idenya tidak berbeda jauh, terlebih target konsumennya yang sama, hanya saya lebih mengerucut dari startup saya sebelumnya. Akhirnya kami sepakat bergabung & cukup melakukan pivot saja. Walaupun itu adalah pivot terbesar yang pernah saya lakukan, karena banyak sekali elemen yang akan berubah, khususnya di internal. Kami juga sepakat untuk memulainya di kota yang berbeda.
(Foto: Bersama Vice President Go-Jek saat menghadiri acara SeedStarsWorld Jakarta 2016 di Conclave).
Saya ingat sebuah pernyataan dari Bapak Ahok, bahwa alasan dia beralih dari pengusaha menjadi politisi itu karena ketika seorang politisi berhasil mendapat posisi penting, seperti halnya sekarang beliau menjabat sebagai gubernur, beliau dapat memberikan manfaat yang jauh lebih besar daripada dulu ketika iya menjadi pengusaha. Beliau mengibaratkan saat perusahaannya mendapat 1 milyar, mungkin hanya ribuan orang yang bisa dia bantu. Tapi ketika sekarang memimpin Jakarta, jutaan orang yang bisa dia bantu.
Tapi menurut saya pengusaha juga bisa melakukan itu, terutama ketika startupnya berhasil. Karena jika Kita lihat saja beberapa startup besar di Indonesia dengan waktu yang relatif cepat, mereka dapat membantu banyak sekali orang. Contohnya Go-Jek yang telah memiliki 250ribu lebih mitra ojek ataupun Tokopedia yang telah memiliki 800ribu lebih pedagang atau kalau di ranah dunianya ada Facebook yang layanannya digunakan 1,5miliar lebih. Kelebihan startup dibandingkan dengan bisnis lainnya adalah kemampuannya untuk menjangkau pasar yang seluas-luasnya karena produk atau jasanya yang dapat dinikmati banyak orang sekaligus dan pendistribusiannya juga yang instan.
Walaupun saya sadar, untuk mencapai hal tersebut perjalanannya akan sangat panjang, membangun startup sama halnya dengan lari marathon, terlebih saya belum memiliki pengalaman untuk bisa menggalang dana dari para pemodal ventura, dan saya juga bukan berasal dari keluarga mapan.
Tetap akan saya teruskan, karena selain passion dengan bisnis berbasiskan internet, juga ingin menciptakan sebuah solusi yang manfaatnya bisa dirasakan oleh orang banyak. Karena menjadi bermanfaat untuk masyarakat luas jauh lebih menarik daripada menjadi kaya yang bermanfaat untuk dirinya sendiri.
Hal itulah yang membuat saya merasa tidak ingin keluar dari jalur ini, tujuan saya untuk bisa menjadi bermanfaat dan hidup sejahtera sepertinya bisa saya dapatkan ketika startup saya sukses. Itulah mengapa saya berpikir bahwa startup adalah panggilan saya.