2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
No title available

oozey mess
No title available
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
Sweet Seals For You, Always
One Nice Bug Per Day
taylor price

titsay
TVSTRANGERTHINGS
No title available
Keni

Origami Around

Andulka

#extradirty
Peter Solarz
AnasAbdin
Sade Olutola

if i look back, i am lost
Cosimo Galluzzi
seen from United States

seen from Germany
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Germany
seen from Argentina

seen from Russia

seen from Uzbekistan

seen from Argentina

seen from Philippines
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
@fdpratiwi
Aku suka sekali susunan kata-kata, entah itu dalam bentuk tulisan atau rekaman. Bagiku, kata-kata ibarat mesin waktu yang bisa menyeret kita ke berbagai linimasa kehidupan. Seperti hari ini, aku menemukan rekaman perpisahan seorang teman, yang sekarang entah di mana keberadaannya.
Lucu ya, bagaimana hidup bisa membawa kita sejauh ini. Kita—yang dalam 5 tahun kehidupan saja sudah berubah bentuknya. Yang dulunya selalu berbagi cerita, kini bahkan tidak tahu kabarnya. Yang berkata, "semoga komunikasi kita nggak akan terputus", ternyata justru yang memutus komunikasi.
Tapi meskipun begitu, aku menghormati itu semua sebagai bentuk dari proses pendewasaan. Hidup mungkin terasa terlalu asing untuk sebagian orang, hingga satu-satunya jalan yang bisa dipilih adalah mengasingkan diri, menjauh dari segala keterasingan.
Apapun yang terjadi saat ini, aku mensyukuri setiap jalan cerita yang telah aku lalui. Setiap orang yang aku temui. Setiap momen yang aku jalani.
Dan semoga, seperti rekaman temanku, selalu ada kata-kata yang terus tersimpan sebagai memori—pengingat bahwa kita pernah menjalani hidup sebaik-baiknya dan mencintai sepenuh-penuhnya.
Aku suka sekali susunan kata-kata, entah itu dalam bentuk tulisan atau rekaman. Bagiku, kata-kata ibarat mesin waktu yang bisa menyeret kita ke berbagai linimasa kehidupan. Seperti hari ini, aku menemukan rekaman perpisahan seorang teman, yang sekarang entah di mana keberadaannya.
Lucu ya, bagaimana hidup bisa membawa kita sejauh ini. Kita—yang dalam 5 tahun kehidupan saja sudah berubah bentuknya. Yang dulunya selalu berbagi cerita, kini bahkan tidak tahu kabarnya. Yang berkata, "semoga komunikasi kita nggak akan terputus", ternyata justru yang memutus komunikasi.
Tapi meskipun begitu, aku menghormati itu semua sebagai bentuk dari proses pendewasaan. Hidup mungkin terasa terlalu asing untuk sebagian orang, hingga satu-satunya jalan yang bisa dipilih adalah mengasingkan diri, menjauh dari segala keterasingan.
Apapun yang terjadi saat ini, aku mensyukuri setiap jalan cerita yang telah aku lalui. Setiap orang yang aku temui. Setiap momen yang aku jalani.
Dan semoga, seperti rekaman temanku, selalu ada kata-kata yang terus tersimpan sebagai memori—pengingat bahwa kita pernah menjalani hidup sebaik-baiknya dan mencintai sepenuh-penuhnya.
2025 datang kepadaku seperti angan-angan yang ingin segera dikabulkan. Meletup seperti keajaiban nyawa baru yang hadir memenuhi seluruh rongga hatiku.
Tapi, tanpa ampun ia datang seperti racun yang menghisap habis darah di tubuhku. Habis. Tak bersisa. Melucuti seluruh kepercayaan diriku, menertawai seluruh keyakinanku, dan menghabisi harapan yang masih tersisa di dalam diriku.
2025 berfikir aku akan kalah, diam, dan mati. Padahal aku kembali lagi, dengan bentuk yang meskipun retak di sana sini— tapi tetap utuh dan lebih kuat dari yang sebelumnya.
Aku memilih bertransformasi. Melepaskan apa-apa yang memang ingin dilepaskan. Merelakan apa-apa yang harus diikhlaskan. Menemukan keindahan dibalik ketidaksempurnaan yang kini melekat dalam diri, seperti layaknya kintsugi.
Hingga perlahan, racun itu memilih pergi sendiri.
A untuk Anisa.
Aku masih mengingat hari itu— hari di mana kita berkenalan karena punya tempat tujuan yang sama. Kamar mandi. Pertemuan sederhana yang membawa pertemanan selamanya.
Aku masih mengingat saat-saat itu— saat di mana aku menangis tersedu-sedu dan selalu ada kamu disebelahku, diam, menemani, tanpa menghakimi.
Aku masih mengingat momen-momen itu— momen ketika aku mendatangimu saat kamu bersedih, tapi kamu tetap diam seribu bahasa. Dan seperti biasa, hanya makanan yang bisa membuat senyummu muncul lagi.
Aku masih mengingat kejadian itu— kejadian di mana setelah bertahun-tahun, kamu akhirnya mau memperlihatkan sedikit bagian rapuh dalam dirimu, yang jarang kamu bagikan kepada siapapun.
Aku masih mengingat semuanya dengan jelas, bagaimana dalam pertemanan yang biasa-biasa saja ini, kamu selalu membawa hal luar biasa— lewat diammu yang menenangkan, lewat telingamu yang selalu mendengarkan, lewat dengusanmu yang selalu bisa menyadarkan.
Anisa, aku akan selalu mengingat detik di mana setelah sekian lama hanya mendengarkanku bercerita, kamu akhirnya mau bercerita— menceritakan dia yang entah datangnya dari mana..
Dan di detik itu pula aku tau ini waktunya. Waktu aku harus melepaskanmu, bukan untuk membiarkanmu pergi, tapi untuk membiarkanmu menyambut teman yang baru— teman hidup.
Anisa, aku nggak pernah ragu, karena bersama dia aku melihat pancaran matamu. Dalam pertemuan kalian aku bisa merasakan kehangatan itu. Kehangatan yang akan selalu kalian butuhkan seumur hidup.
Jaga kehangatan itu seperti kalian akan terus menjaga satu sama lain, ya.
Tiba-tiba segala yang ada di sekitarku membesar, menjelma raksasa, kapan saja bersiap untuk melahapku hidup-hidup.
Aku seperti kurcaci kecil yang berlari kebingungan, tak ada lagi tempat untuk berpegangan. Kiri kanan seperti mainan. Mulutku dikunci tak bisa bicara.
Kepada siapa aku harus mengadu? Sepertinya rumput pun tak mau tau. Bahkan angin malam pun enggan untuk bersimpati.
Salahkah aku, menaifkan dunia?
Benar katanya jika kamu manusia
Benar ternyata, "Kamu akan iri. Kamu akan iri" Ya, kamu tetap bisa iri meskipun menyenangi apa yang kamu punyai saat ini. Meski doa-doamu terwujud jadi nyata saat ini. Meski hal-hal yang kamu dambakan ada di depan mata saat ini.
Karena itulah kamu manusia.
Kenapa terus berusaha dilawan? Toh, semua orang juga begitu.
Rumput tetangga selalu terasa lebih hijau, meskipun sebenarnya terasmu tak butuh rumput. Bau masakan tetangga selalu terasa lebih harum, padahal makanan dari ojek online yang kamu pesan tidak kalah nikmatnya.
Itulah kenapa kamu disebut manusia.
Tak apa sesekali menelan sifat manusiawimu sendiri.
Melahirkan membuatku sadar bahwa kematian begitu dekat, tapi Tuhan juga sungguh begitu dekat.
2024 berjalan diam-diam, namun tidak menghanyutkan
Awalnya, 2024 nampak akan berjalan seperti letupan popcorn dalam panci panas, atau seperti gemebyar kembang api di malam tahun baru.
Tapi ternyata 2024 hadir seperti sebuah keajaiban kecil yang menunggu di balik pintu— dengan sunyi dan tenang mengucapkan salam selamat datang pada jiwamu yang mulai kesepian.
2024 seperti lagu-lagu Monita Tahalea yang tidak pernah gagal menenangkan— menemanimu melewati hari-hari yang gelap dan melelahkan.
2024 seperti kamu yang tidak ingin keluar dari zona nyaman dan selalu mengulang-ulang mantra yang sama.
2024 seperti angin laut yang melegakan nafas Ayahmu yang lama tertahan menyesakkan.
...
Di 2024, impianmu terasa jauh— semakin jauh, tapi kamu tidak lagi meringis kesakitan karena percaya Tuhan selalu imbang, tidak pernah bimbang.
Begini begitu
"Udah dipack semua barangnya?"
Kalimat inilah yang selalu keluar dari mulutku sembari memandangimu menata satu persatu barang ke dalam backpack favoritmu.
Hari terakhir selalu berjalan cepat. Lebih cepat. Sangat cepat— sampai tak terasa sore berganti malam dan malam terburu-buru mengejar pagi.
"Yuk tidur"
Ajakmu sambil merentangkan tangan agar bisa merengkuh tubuh mungilku dalam pelukan. Ya, ini saatnya tidur karena besok pagi-pagi buta kita sudah harus berada di bandara.
Duhai rembulan, tahan dulu matahari datang, malamnya indah ku tak ingin cepat berakhir sudah
Tolong gemintang, senangi hati ini jangan pulang
Begitulah realita kita.
Kita memang pernah memohon begini begitu, tapi yang terjadi malah begini begitu.
Ternyata, Tuhan ingin mengabulkan doa kita bergiliran. Satu per satu. Ketika sudah menjadi satu, tapi ternyata raga belum bisa selalu bersatu.
Mungkin, semesta hanya ingin kita menunggu sedikit lebih lama untuk bisa selalu pulang ke atap yang sama.
Inspired by salpriadi's instagram post while listening to Maliq & d'essentials - Begini Begitu
Self love is not always easy. It can be challenging and not fun at the time, but your future self will thank you!
Chibird store | Positive pin club | Instagram
Katanya katanya
Katanya, kesedihan itu tidak boleh kamu tahan, juga tidak boleh kamu tekan karena pada waktunya nanti malah akan meluap dan memakan dirimu sendiri.
Tapi katanya juga, kesedihan tidak boleh kamu luapkan secara ugal-ugalan, nanti kamu dikuasai emosimu sendiri dan akan terjebak dalam kotak berisi kesedihan yang mengembang seperti adonan kue yang dipanggang.
Jadi, bagaimana aku harus memperlakukan kesedihanku?
Menganggapnya sebagai bola-bola yang berputar kesana kemari?
Melihatnya seperti butiran upil—yang meskipun menyebalkan tapi sudah menjadi bagian dari hidupmu?
Atau
Menjadikannya teman yang bisa kau ajak bercerita, bercanda, bahkan menangis bersama?
2023 berjalan berlari secepat kilat
2023 seperti kilat yang datangnya hanya sekejap— tapi sanggup menggetarkan hidupmu. Seperti kereta cepat Whoosh yang bisa memindahkan badanmu dari Jakarta ke Bandung hanya dalam 45 menit saja.
2023 seperti manusia kurang bersyukur—yang selalu meminta lebih dan lebih, tanpa mau menyadari banyak hal sudah bisa didapat.
Juga seperti rasa rindu yang terus mengular tanpa tahu dimana ujungnya.
Tapi, 2023 pun datang kepadamu seperti matahari musim semi, mencairkan ribuan ton salju dingin yang sudah lama tak mau pergi. Perlahan, membawa ketentraman.
...
Di 2023 kamu masih sama—menangis tersedu-sedu di lantai kamarmu, bertanya-tanya apakah masih ada yang lebih menyedihkan dari ini,
Tapi, kali ini ada seseorang yang menunggumu menyelesaikan tangismu... dan menyambutmu— dengan pelukan hangatnya.
Reflection on the first month
Disclaimer: Tulisan ini mengandung bahasa yang gado-gado.
"Hidup benar-benar aneh", batinku berkali-kali bulan ini.
Facing the new phase of life is indeed weird. Menikah still feels surreal. Kalo kata Nadin mah kereta ini melaju terlalu cepat. Bukan cepat yang menyebalkan, tapi lebih ke terlalu banyak perasaan baru yang harus dicerna sampe belum selesai ngunyah udah harus ditelan. As an introvert I am, kadang rasanya overwhelmed sama energi yang diberikan sekitar, ketemu orang-orang dan kebiasaan yang bener-bener baru.
Marriage is about adaptation. Can't agree more.
Sebulan ini sibuk memproses rasa yang nano-nano, sampe sekarang juga belum tertelan sempurna sih, sebenernya. Cepet banget seperti sekejap aja. Sampe nggak sempet memahami benar-benar apa yang sebenarnya terjadi.
The things you can see only when you slow down
Tapi dibalik semua rasa yang campur aduk ini, ternyata yang aku butuhkan hanyalah kehidupan yang lebih slow. Sehingga rasa bisa terproses dengan baik, pikiran bisa mencerna segala yang terjadi. Dan ternyata banyak hal yang aku syukuri dari sebulan ini.
Mulai dari acara yang berjalan lancar, bisa melihat tawa dan senyum teman-teman dan keluarga, sampai core of the core dari semua ini, menemukan partner hidup yang ternyata sangat relieving and calming. Nggak ada kata lain yang bisa menggambarkan perasaanku selain dua kata itu.
Reflection after married
Dan kenyataan bahwa sekarang hidupku bukan cuma tentang diriku sendiri, berkali-kali cukup menohok sih. Beberapa kali masih denial dan mempertanyakan ke diri sendiri, "ngapain sih aku?".
Tapi lama-lama sadar juga bahwa this is my new phase of life. Another road to cross. Masih banyak PR, masih banyak yang harus diubah. Tapi nggak apa-apa, pelan-pelan. Untungnya punya partner yang mau diajak bergerak pelan-pelan. How grateful I am.
Tetap sabar jalan pelan-pelan ya, Mas.
Pada Akhirnya
Pada akhirnya, kamu harus bangun lagi
Bangkit lagi
Sendiri lagi
Menggenggam tanganmu rapat
Memeluk dirimu erat
Grieving today
Grieving is when your day is all okay, then at the end of the day there's a random tiktok video played Wish U Were Here by Nick Deep, and you just bengong all alone.
Storage Space Running Out
Pagi ini, handphoneku berkali-kali mendapatkan notifikasi memori yang hampir penuh. Ini pertanda saatnya membersihkan sampah-sampah yang sudah tertimbun lama. Saat aku cek, aplikasi yang sudah terlalu banyak menyimpan memori adalah Whatsapp. Aku jadi ingat pekerjaanku terakhir memang banyak menggunakan whatsapp—dan belum aku bersihkan. Saking seringnya ada notifikasi whatsapp, aku sempat mengalami (sindrom) kepanikan setiap mendengar getaran notifikasi dari aplikasi itu—yang untungnya sudah tidak lagi.
Sebelum membersihkan sampah-sampah chat yang masih tertimbun, aku jadi ingin mengabadikan pengalaman selama setahun bekerja menjadi seorang HR Generalist.
Disclaimer: Aku adalah seorang introvert dengan background pendidikan Sains— bekerja di industri media.
Meski sadar betul kalau diri ini adalah seorang introvert, aku kira dengan bekal menyukai hubungan interpersonal akan cukup untuk mengurusi berbagai macam karyawan. Ternyata? O tentu salah besar.
Menghadapi bermacam-macam manusia dengan background yang jauh berbeda denganku ternyata super menghabiskan energi. Namanya juga manusia, ada yang nyambung asik diajak ngobrol bareng, ada yang dikasih tau nggak paham-paham, ada yang udah nggak paham ngotot pula, ada yang baik hati sukanya muji-muji, ada yang suka marah-marah, ada yang tiba-tiba curhat— ngomong-ngomong soal curhat jadi HR harus pintar bersilat lidah karena ada karyawan yang suka telfon cuma mau curhat tapi lama banget, yang mana kerjaanmu sendiri aja belum kelar, tapi harus mendengarkan curhat dengan baik dan nggak boleh ketus🤗
Satu hal yang aku sadari ketika baca chat-chat lama dengan berbagai karyawan adalah kemampuan problem solving yang meningkat pesat, karena dituntut untuk menyelesaikan keluhan karyawan— mendadak mengerti UU ketenagakerjaan, alur rumah sakit, BPJS, BPJS TK, dll lah pokoknya. Dan ternyata dulu aku sabar banget, ya.
Overwhelmed
Sering juga aku merasa overwhelmed— paling buruk adalah overwhelmed oleh berita duka. Salah satu tugasku dulu adalah menjadi penyebar informasi berita-berita (termasuk berita duka). Kebetulan, aku bekerja disana ketika lagi musim Covid. Dalam beberapa hari saja, bisa ada berkali-kali berita duka. Harus jadi orang pertama yang dikabarkan, menyampaikan bela sungkawa, dan menjadi penghubung antara perusahaan dan karyawan—belum lagi jika ada prosedur yang cukup merepotkan untuk mereka sebelum masuk kerja lagi—sungguh membuatku mual. Sempat sekali aku terbawa perasaan duka, jadi hari-hariku ikut sedih.
Tapiiiiii, aku juga menjadi orang pertama yang mendapat kabar-kabar gembira. Hatiku berkali-kali menghangat setiap mendapat pesan "Alhamdulillah mba Usi, anak saya sudah lahir pagi tadi🥺", "Alhamdulillah anak saya sudah ditangani di RS" atau bahkan mendengarkan cuitan bahagia karyawan yang akan resign di hari terakhirnya—bagaimana mereka bahagia karna mendapatkan pekerjaan yang lebih menjanjikan atau lebih sesuai passion atau lebih dekat dengan keluarga. Energi baik juga mudah menular.
Penebak Jitu
Salah satu hal unik kenapa aku diterima kerja sebagai HR padahal tidak ada background sama sekali (testimoni langsung dari bos) adalah ketika interview aku diminta menebak kepribadian bosku—dan kebetulan jawabanku tepat.
Hal ini berlanjut lagi ketika aku sering mengobrol basa-basi dengan rekan sekantor ketika makan siang dan aku iseng menebak dia anak nomor berapa di keluarganya dari sedikit cerita yang dia lontarkan– dan jawabannya benar. Hahaha. Akhirnya malah ada lagi yang minta ditebak dan jawabannya benar lagi.
Sampai karena kejadian itu ada rekan yang jadi sering minta pendapat mengenai dia yang ingin mendapat pekerjaan baru, juga minta pertimbangan mengenai offering yang dia terima. Aku sih senang-senang aja selama bisa membantu.
Tapi sebenarnya, HR itu bukan peramal. Kebetulan tebakan-tebakanku benar karna bermodal mengaitkan cerita dengan logika.
...
Terakhir, aku pernah sangat merasa relate dengan tulisan di bawah ini ketika menjadi HR. Memang terkadang, menjadi HR membuat kita menjadi faker— karena harus berpura-pura tenang untuk menenangkan, berpura-pura sangat paham situasi agar dipercaya, berpura-pura fit in dan sempurna, karna harus bisa menjadi someone that others can look up to.
Tapi, dari semua itu, menjadi HR adalah pengalaman yang sangat fun dan melegakan.