hyyy. sudah lama tidak menyapamu,
denger suara kamu, ataupun hal tentangmu hehehe.
apakah kamu udah selupa itu ya sama aku🥹.
apakah gak ada lagi ruang untuk aku
walaupun hanya sekedar merindukanku ?
ataupun sedikit saja terlintas namaku disudut
hati kamu yang paliiing dalam, amat sangat dalam.
Hari ini aku kembali menulis. Entah kamu liat atau tidak, tapi jariku seperti tahu, ada yang masih ingin disampaikan, meski bibirku sudah terlalu lelah untuk mengucapkan apa-apa. Aku mulai terbiasa tidak mendengar suaramu. Mulai terbiasa dengan kepergianmu. Tapi tidak, terbiasa bukan berarti ikhlas.
Terbiasa hanya berarti...
aku sudah tidak kaget lagi kalau kamu
memang sudah tidak di sini.
Lucu, ya? Dulu aku selalu ingin kamu tahu rindu ini sebesar apa. Tapi sekarang, aku hanya ingin rindu ini tidak menyakitiku terlalu dalam.Aku tidak sedang berharap kamu kembali.
Walaupun aku masih ingin lagi medengar kabarmu.
Aku masih belajar berdamai dengan bagian dari diriku yang terus mengingatmu,
meski tahu kamu tak lagi mengingatku😊
Ada saat-saat aku ingin marah. Bukan karena kamu pergi, tapi karena aku membiarkanmu pergi dengan begitu banyak rasa yang belum sempat aku sampaikan. Dan aku benci diriku karena masih menyimpan semuanya... rapat-rapat. Rapih.
Aku ingin mengatakan ini adalah sebuah
kemenangan diriku yang telah menepati janji
untuk selalu mencintaimu, membiarkan hatiku
jatuh begitu dalam untukmu.
Tapi, disatu sisi aku merasa kalah,
aku gagal membuatmu menepati janji.
Maaf aku masih menyimpan harapanku yang mustahil ini. Aku berharap kamu masih merindukanku, masih mengingat nama yang dulu selalu kau sebut, walaupun ingatanmu sekevil itu tentangku. aku ingin kamu tahu, bahwa ada seseorang di suatu tempat, yang pernah mencintaimu sedalam ini. Yang sampai saat ini, masih belum benar-benar selesai. Tapi perlahan sedang belajar untuk melepaskan, tanpa membenci.
tak lagi minta dibalaskan. la hanya ingin dimengerti, lalu dibiarkan pergi dengan tenang.
—Dariku yang masih dengan perasaan yang sama