Komplotan Malam
Ini malam tahun baru. Transisi dari 2017 ke 2018. Aku nggak pulang kampung, sibuk ngerjain tugas pengganti ujian akhir semester. Banyak wacana perayaan transisi tahunan ini. Teman-teman beringin bakar-bakar ayam di habitat mereka, teman-teman lamaku ada di kampung halaman, wacana teman-teman prodi gagal, kami tak siap, bahkan bapakku yang jauh-jauh datang pesta sendiri dengan kawan-kawan lamanya. Jadilah malam tahun baruku di kos saja. Tidak hambar, karena para penghuni kos dan sekitarnya patungan buat pesta. Kami bakar apa saja di halaman, apa saja yang bisa terbeli.
Komplotan ini nggak hanya berisi dewasa tanggung pencari gelar sarjana, ada bapak-bapak penganggur dan pekerja serabutan juga. Ini realita yang baru kuhadapi. Bergaul dengan orang-orang yang tidak banyak ilmu tapi banyak pengalaman. Bicara mulai dari kerja jadi buruh sawit di antah berantah dengan segala mistisnya hingga pengalaman bebas dari candu alkohol.
Aku panggil dia Cak, ia mengaku pernah candu dengan minuman para pendosa ini. Tiada hari tanpa mabuk. Bahkan ia mengaku tidur berbantalkan botol whisky. Dan kerennya dia tobat karema istrinya segera melahirkan. Ia sadar tidak minum dari 2006 hingga malam ini ia menenggak segelas lagi cairan haram itu.
"Nggak mau banyak, takut kumat." Katanya nyengir.
Komplotan bapak-bapak paruh baya ini keras kepala, selalu merasa muda. Mereka nggak canggung bergaul dengan para dewasa tanggung nan sok pintar ini. Terutama Pakde, tetangga sebelah kosku yang kalau kalian perhatikan kumisnya niscaya kalian ingat pak raden, minimal kalian terbayang bangsawan Jawa era jajahan Belanda dulu.
"Pakde, kenapa kalo 'minum itu' harus dicampur coca-cola?" Tanyaku penasaran.
"Biar nggak panas." Katanya terkekeh. Aku geleng-geleng nyengir.
Malam 2017 masih panjang, jagung sudah sekarat, baik yang bakar ataupun yang rebus. Botol Whisky sudah bertambah lagi. Tercetuslah ide beli ayam. Kami lapar, harus makan yang berat. Istri pakde sekonyong-konyong bawa ayam yang sudah dibumbui, padahal Cak dan Mas Soleh, kamar sebelah, sudah jalan beli ayam.
Malam ini aku sadar sisi keras kehidupan, tidak semua muda menghabiskan hidup dengan jalan lurus, karena tidak semua jalan lurus itu mampu mengantarkan kita untuk bisa memaknai hidup. Kadang tersesat lebih membuat kita bijaksana, selama kita bisa putar haluan haha. Ya, itu rumit.
Mudahnya, lihat saja mereka, komplotan bapak-bapak tobat tadi. Mereka sesat saat muda, menjalani hidup yang lebih keras dari yang aku bisa bayangkan. Kerja, pecat, nganggur, putus-asa, bangkit, siklus itu berulang dalam hidup mereka. Jadi buruh, jual besi rongsok, nganggur, pemabuk, mereka lebih tahu. Kerennya mereka tetap bisa menikmati hidupnya. Bercerita lepas di bawah langit penuh warna-warni kembang api dengan musik dangdut oplosan dari kaset bajakan, tertawa renyah sambil menghisap tembakau berbatang-batang, ya mereka itu bisa-bisanya. Mungkin contoh konkritnya Pakde, yang memilih karaokean lagu dangdut ketimbang mikirin hidup.
















