Prolog #1: Harber-Bosch, Karlsruhe
Tak terasa kini sudah di pertengahan tahun, ini adalah tahun yang membingungkan menurutku. Setelah lebaran tahun ini banyak yang membuatku berpikir akan beberapa hal, bukan nya ditanya kapan nikah atau semacam nya, tapi tingkah laku beberapa keluarga yang saling pamerkan harta. dan ditengah kerumunan itu ada satu pertanyaan dari seorang keponakan yang bertanya tentang catatan buatanku tentang fisika nuklir lima tahun silam.
UI atau Universitas Indonesia adalah impian saya sejak pertengahan 2009, sejak SMP pun saya memang menginginkan menimba ilmu disana tapi belum terfikirkan untuk terjun di dunia per-fisika-an apalagi per-nuklir-an. kasus perang dunia adalah alasan yang kuat membuat saya ingin masuk fakultas ilmu politik sebelum nya, tapi karna semakin banyak referensi artikel yang saya baca di bangku SMK pertengahan 2011 membuat saya mengenal sosok Fritz Harber seorang ilmuwan asal breslau jerman (tapi sekarang jadi polandia karna kekalahan jerman di ww2)
Fritz Harber bersama temuan nya yang terkenal bernama Harber Bosch aksi kolaborasi kimia dengan Carl Bosch yang dipuji Hitler kala itu adalah satu satunya buku yang saya cari di umur yang masih labil labil nya, terlebih setelah lulus SMK dan memulai untuk bekerja saya coba peruntungan di dunia per-kopi-an.
Lulus SMK di tahun 2013 tidak membuat saya langsung memutuskan untuk kuliah, dengan modal pengetahuan yang seadanya saya mencoba kerja di perusahaan retail food and beverages atau modern nya Kedai Kopi, karna saya pikir kopi memiliki aksi dan reaksi yang bisa dipahami dengan siklus fisika, yang membuat saya semakin jatuh cinta dengan kedua nya.
Di pertengahan 2015 saya memutuskan untuk daftar ke Universitas Indonesia jalur SBMPTN, kala itu masih bimbang antara Fakultas Ilmu Politik atau Fisika Nuklir yang akan saya ambil, dengan tidak banyak berfikir panjang saya beranikan diri untuk ambil Fisika Nuklir di Universitas Indonesia. berbarengan dengan pekerjaan saya sebagai Barista di Kedai Kopi, saya memang membiasakan me-multitasking-kan diri.
Bulan November di tahun 2015 adalah waktu dimana kekalahan pertama saya, seperti layaknya orang biasa, mengidamkan dan berkhayal apa yang akan dilakukan jika diterima di kampus ternama membuat saya terlalu berharap dan itu mengajarkan saya bahwa berharap terhadap sesuatu yang berlebih seperti berhubungan seks tanpa menggunakan pengaman, nikmat namun beresiko.
di bulan itupun saya menerima kenyataan bahwa saya tidak lolos masuk Universitas Indonesia via SBMPTN, kembali ke kedai kopi dan memulai pekerjaan yang saya sukai kala itu. hal lucu yang selalu saya ingat dari Patrick Star di salah satu episode Spongebob dia pernah bilang "Hidup memang tidak mudah, Jadi. Biasakanlah dirimu!".
Academy of Fine Arts atau Menguasai Dunia
Hari hari yang di landa gelisah membuat saya lebih produktif mengenal sesuatu yang baru, berkeliling kedai kopi tempat teman, mencoba rasa baru dari setiap jenis bir, berkenalan dengan wanita di acara musik dan yang terakhir mendatangi museum. ya museum, mengagumi beberapa visual karya orang orang mati memiliki kesenangan tersendiri, Museum of Modern Arts atau MoMA adalah museum impian yang menjadi destinasi utama yang harus saya kunjungi sebelum saya mati, melihat karya seni buatan Dante dari film Inferno, dan bermimpi menyentuh patung patung buatan Michael Angelo, beberapa derer kebiasaan yang membulatkan tekad saya untuk masuk lajur Seni, dari Harber-Bosch ke Academy of Fine Arts, Vienna, kini petualangan saya baru akan dimulai.