KANGEN JOGJA
Izinkan saya bercerita tentang tanah ini, sedikit tentang kota ini, kota yang jalan- jalannya jadi saksi keringat dan darah para pejuang, yang tata kotanya disusun berdasarkan filosofi hakikat manusia dan penghambaannya kepada Rabb alam semesta, Allah SWT.
âJogja itu ngangeniâ begitu ketika setiap kawan kuliah saat bercerita tentang nostalgia semasa kuliah. Alasannya pun berbeda- beda, tak tentu. Ada yang bilang karena ramah orangnya, murah makanannya, malioboronya, sampai mahasiswinya (ini saya, kepada istri saya), alasan terakhir ini menurut dosen saya dulu tidak masuk akal, Karena kebanyakan yang kuliah di jogja adalah pendatang. Atau ada yang bilang susana Ramadhannya iya, ada kawan yang sampai hafal bahwa kalo Ramadhan dia bisa ngirit uang makan sampai 50%, Karena setiap hari buka puasa di masjid. âDi masjid kauman itu setiap hari Kamis bukanya gule, kalo di jogokariyan setiap hari senin yang gule, beda lagi kalo di masjid nurul ashri deresan malah kadang saya bisa bawa makan sahur sekalianâ Tabarakarrahmah, kenangan mengesankan ini juga pernah terungkap pada abad 19 oleh seorang ahli hukum dari Universitas Leiden Belanda yang mengunjungi jogja 3 tahun setelah perang jawa yang diprakarsai Pangeran Dipenogoro. âJogja, dalam masa kemuliaanya pastilah merupakan versaillesnya jawaâ. Waktu itu padahal bangunan yang tersisa hanya 1/10 aslinya, setelah perang.
Jogja itu ngangeni barang kali Karena tata kotanya memang disusun sesuai bagian terdalam dari diri kita, tentang prinsip dan hakikat hidup manusia. Ya, hakikat manusia yang bisa kita ringkas menjadi 3 prinsip. Poros Prinsip, dijiwai oleh âSangkan paraning dumadiâ yang secara harfiah artinya ingat akan asal dan tujuan hidup sebagai makhluk. Dalam pembangunan kota Yogyakarta, disusun sebuah poros lurus yang seakan meletakkan Keraton di pusat, Gunung Merapi di ujung utara, dan Parangkusumo di ujung selatan. Tetapi sejatinya batas kota tua Yogyakarta terletak di selatan kraton, panggung krapyak.
Panggung Krapyak yang mewakili Sangkan (asal kehidupan) dan di utara adalah Tugu gilig, tugu pal putih atau sekarang yang terkenal sebagai Tugu Jogja yang mewakili paran, tujuan hidup manusia. Panggung Krapyak berwujud bangunan persegi melambangkan sebuah rahim. Maka kampung di sebelah selatannya dinamakan mijen yakni tumbuhnya manusia sebagai Nutfah, Alaqah dan Mudghah, lalu malaikat meniupkan ruhnya serta menuliskan rizki, ajal, jodoh, serta apakah termasuk manusiayang beruntung atau celaka. Kampung di sebelah utara panggung dinamakan mijil yang artinya kelahiran. Berjalan ke utara kita akan menemukan gerbang yang dinamakan Plengkung Nirbaya di Gading. Kanan dan kirinya ditanami pohon asem dan tanjung. Ini penanda bagaimana membesarkan bayi harus mesem sebagai tanda syukur dan sungguh bayi itu amat sengsem (mempesona). Tanjung bermakna bayi itu harus di sanjung sembari menyanjung penciptanya Allah SWT. Suatu cara menumbuhkan potensinya untuk bekalnya dewasa.
Memasuki Alun-alun, kita akan menemui pohon asem, yang daun mudanya disebut sinom, Karena sipating nom- noman (sifatnya orang muda) yang mulai memperhatikan penampilan. Halaman berpasirnya menandakan bahwa ia siap ditulis berbagai hal. Ditengahnya ditanam pohon wok, sepasang beringin yang akarnya berjuntai. Yang satu berarti brewok (cambang dan jenggot), suatu tanda kedewasaan sekaligus sunnah nabi. Yang satu berarti rambut kemaluan, harus dikurung karena berarti aurat yang harus ditutup.
Disekitar alun- alun dahulu, ditanami pohon pakel, palem dan kweni. Pakel sebagai wakil Aqil yakni tidak hanya balik, tapi harus dewasa secara akal. Pelem artinya gelem (mau), bersedia melaksanakan tuntunan syariat dan kweni artinya wani, berani bertanggungjawab. Kita lompati dalam keraton, Karena tidak etis rasanya saya membahas rumah sultan, saya bukan seperti abdi dalem, mungkin lebih mirip pedagang kurma dan minyak wangi di kauman (ada kampung arab disana). Kita langsung lompat ke Alun-alun utara. Disekitarnya ditanami 64 beringin menandakan usia Rasulullah dalam qamariah dibulatkan ke atas. Disinilah nantinya sultan Hamengkubuwono IX berdiri diantara beringinnya dalam rangka melindungi ulama di dalam keraton dari belanda. Tangan beliau letakkan di dada kemudian dengan lantang ia berujar âtak akan kubiarkan kalian mengganggu negeriku, menyentuh kratonku, sampai kalian melangkahi mayatkuâ pada akhirnya pasukan militer belanda beserta tank- tanknya mundur Karena gentar dengan pribadi tangguh dan penuh wibawa.
Keluar ke arah utara terbentang lah Jalan Marga Mulya, yang berarti jalan kemuliaan. Di jalan kemuliaan ini dibentangkanlah aneka godaan dan ujian, aqidah dengan gereja kidul loji, Kekuasaan asing dengan kediaman residen di Gedung Agung, rasa takut dengan benteng Vredeburg milik Belanda, harta dengan Pasar Beringharjo, karir politik dengan Kepatihan Danurejan dan wanita dengan Pasar kembang. Sebagai penyambung Marga Mulya, jalannya Malih Obora atau sekarang terucap Malioboro, yang artinya jadilah kamu pelita (siraajan muniiran. Hingga lulus ke ujung sampailah ke Marga Utama, jalan keutamaan. Yang membentang antara rel hingga tugu.
Bila duduk-duduk di sitihinggil-nya, sultan Hamengkubuwono I dapat memandang lurus ke puncak tugu yang disebut beliau sebagai alif mutakalliman wahid. Disinilah tegaknya tauhid, dan diharapkan terucap Laa ilaaha illallah saat maut menjemput setiap insan. Inilah krapyak hingga tugu, Poros Tauhid kota ini yang perlu disusuri dalam memahami hakikat kehidupan. Â
Prinsip geometris dijiwai oleh âHamangku, Hamengku, Hamengkoniâ. Itu sebabnya pemimpin di Jogja disifati hamangku (berkhidmat melayani), hamengku (Melindungi dengan kasih sayang) dan Hamengkoni (bertanggung jawab). Â Yogyakarta berdiri disebuah bentang medan yang cukup datar. Di batasi dengan 3 sungai di barat dan 3 sungai di timur, yang menjamin ketersedian air, menjaga banjir dan pertahanan alami. Di utara tampak gagah Gunung Merapi yang menaburkan kesuburan disetiap letupan mesranya. Di selatan membentang Samudra Hindia dengan potensi besar namun kadang terbalut mesra bersama gempa karena letak patahan Eurasia tepat berada diatasnya, terbentengi potensi tsunaminya dengan perbukitan kapur arah Panggang hingga pajangan. Kratonnya diliputi tembok setebal 3 meter yang cukup untuk sultan dan kencananya keliling atau berpatroli disertai para pangeran. Di luar tembok keraton, kompleks prajurit melingkarinya sesuai gelar tradisional dari Patangpuluh hingga Mantrijero, ada taman sari beserta masjidnya. Disebutkan apabila kraton dalam keadaan terkepung maka arus air kali winongo dan kali code akan dibelokkan ke kraton hingga terendam melewati taman sari.
Prinsip Konfiguratif dijiwai oleh âCatur sagatra dan nyawiji, greget, sengguh, ora mingkuhâ. Dengan kraton sebagai lambang pemerintah, alun-alun sebagai lambang rakyat, Masjid Gede sebagai lambang agama, dan pasar sebagai lambang ekonomi, unsur- unsur ini lah yang disebut catur sagatra atau bermakna empat pilar kehidupan sebagai satu kesatuan. Pasar diletakkan agak jauh, menjadi penanda tidak bagusnya kong kalikong antar penguasa dan pengusaha. Jalan yang dilalui para pengusaha untuk bertemu sultan melewati alun-alun dimana rakyat mengawasi dan para ulama mencermati di masjid Gede. Selain Masjid Gede, empat masjid lain didirikan sultan sebagai patok negoro di keempat arah mata angin. Mlangi di barat laut, Dongkelan di barat daya, Babadan di tenggara dan Plosokuning di timur laut. Memasuki halaman masjid akan banyak dijumpai pohon sawo yang berjajar, dimaksudkan untuk mengingatkan âSawwu shufuufakum, luruskan shaf- shaf kalianâ. Memasuki masjid akan di jumpai ukiran wajik di pintunya. Wajiâa yaumaidzin bi Jahannam, yaumaidzin yatadzakkarul insanu wa anna lahudz dzikraa. Dan pada hari itu didatangkan Jahannam. Pada hari itu menjadi ingatlah manusia akan perbuatannya, tapi apalah guna mengingatnya di saat terlambat. QS. Al Fajr (89):23.
Keseluruhan, kesatuan kota ini menjadi penyelaras bagi keperibadian masyarakat yang diteladankan sang sultan; Nyawiji (menyatu); Greget (penuh semangat); Sengguh (yakin dan meyakinkan); dan Ora Mingkuh (berani bertanggung jawab). Selamat menikmati Jogja dan menyusurui hakekat kemanusian.











