Ku sebut dia perempuan pagi. Lahir lebih cepat dari matahari terbit. Hidup sebelum kokok ayam bersahutan. Sebelum adzan subuh berkumandang. Kau tahu? Dia adalah perempuan segala dunia dan isinya.
Dia mengangkat beban sebelum mata-mata manusia terbangun. Dia mengangkat doa setinggi-tingginya hingga bergetar singgasana Tuhan di langit sana.
Ku sebut dia perempuan pagi. Perempuan yang menyiapkan segala kehidupan sebelum matahari bersinar terang. Melalui tangan dinginnya lahir berbagai macam kasih sayang. Mulai dari makanan yang nikmat dan usapan yang lembut pada wajah. Melalui mata tajamnya lahir berbagai macam cerita. Seandainya mata bisa berbicara, maka seluruh pembicaraan itu adalah sebuah kejujuran tentang cinta yang tak terbantahkan.
Ku panggil dia perempuan pagi. Perempuan yang mungkin sangat lelah tapi dia (katanya) bahagia. Sekalipun waktu dan tenaganya terkuras oleh rasa cinta. Sebuah wujud rasa yang terungkapkan dalam bersihnya rumah, sedapnya sarapan, lembutnya sentuhan. Sebuah cinta yang terungkap dalam doa-doa sunyi. Tidak kami tahu tahu tapi bisa dirasakan betapa dahsyat doanya turut memudahkan langkah ini.
Ku namai dia perempuan pagi. Perempuan yang setiap hari kupanggil ‘Ummi’.
Mencintai tulisan itu unik. Kita tidak tahu rupa,fisik, keseharian penulis yang sebenarnya. Namun kita mengetahui isi hatinya, pemikirannya, bahkan dunia yang sedang dia ciptakan melalui tulisannya. Mungkin dari sinilah para introvert, penggila buku, penggemar kesunyian saling bertemu.
"Daridulu, laki-laki itu pengelana anakku. Dia adalah pengembara yang selalu berjalan kesana kemari. Singgah sebentar untuk menikmati suasana tempat ia singgah, mencari minum, atau beristirahat. Selebihnya dia akan melanjutkan perjalanan. Dan yang bisa memutuskan perjalanan itu hanya satu : pernikahan. Kitalah yang memutuskan perjalanan mereka, membuat mereka menetap pada satu tempat dan menikmati kehidupan bersama-sama. Sebelum ada ikatan pernikahan, laki-laki akan tetap menjadi pengembara meskipun mulutnya bicara ingin tinggal menetap. Kau harus hati-hati, jangan sampai menjadi tempat persinggahan"
Tulisan : Rasa Cenderung, Tenteram, Kasih, dan Sayang
Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (Ar Rum : 21)
Kembali dengan diskusi saya bersama teman baik yang dulu juga membahas masalah bagaimana kita memilih pasangan hidup sementara kita adalah orang-orang yang tidak pacaran. Saya pernah menuliskannya di tulisan dengan judul Dengan Siapa. Silakan baca dulu tulisan tersebut ( klik di sini ) sebelum meneruskan tulisan ini.
Kami bukanlah ahli agama, tapi kami percaya bahwa Quran adalah kitab yang benar. Apapun yang disampaikan disana kami imani dengan semaksimal mungkin. Meski kadang kami bertanya-tanya bahkan seringkali menyangkal.
Membahas mengenai pasangan hidup memang menyenangkan di usia seperti ini. Karena agama ini mengatur segala hal dari bangun tidur hingga bangun negara, maka proses-proses tentang mencari pasangan hidup pun tak akan luput dari aturan-Nya. Diskusi malam ini via line cukup menyenangkan. Pemahaman baru pun masuk. Kami tidak pernah mendengarkan ceramah seperti ini sebelumnya, Mungkin saja Allah memberikan pemahamannya bagi orang-orang yang benar-benar mencari, dan kami mencari, dan inilah yang kami dapatkan.
Ditengah gempuran budaya barat dan pemahaman dalam masyarakat yang mewajarkan hubungan sebelum pernikahan yang tidak halal. Kami berusaha bertahan dan mencari argumentasi terbaik untuk mengajak sebanyak mungkin orang kembali kepada pemahaman agama yang lurus. Salah satu godaan terbesar memang syahwat. Kecenderungan lawan jenis dan ini sangat rawan di usia pra-nikah. Jika tidak dibentengi dengan pemahaman yang kuat dan fundamental. Seorang yang nampak alim, berkopiah sarung kemana-mana, hafalannya segudang, jilbabnya lebar kemana-mana, dan sejenisnya bisa terjerumus.
Dari Quran Surat Ar Rum ayat 21. Kami terpesona dengan apa yang Allah sampaikan. Meski kami seringkali melihatnya di lembar undangan walimah. Atau membacanya berulang kali. Baru sekali ini kami paham sesuatu makna yang sangat dalam dari satu ayat tersebut.
Allah menciptakan kita dan pasangan kita dari jenis yang sama, sama-sama manusia. Ternyata apa yang saya sampaikan ditulisan sebelumnya tertulis di sini dan itu ternyata jauh lebih dari cukup.
Perhatikan urutan dalam ayat tersebut.
1. Cenderung
2. Merasa tenteram
3. Kasih
4. Sayang
Bahkan dengan rasa cenderung pun kita sudah bisa menjawab pencarian kita dalam mencari pasangan hidup. Kita menyukai seseorang dalam sekali bertemu. Itu bisa saja terjadi dan bisa dilanjutkan dalam proses selanjutnya (taaruf). Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah. Jika rasa cenderung saja sudah menjawab apakah orang itu atau bukan. Jadi jika sudah sampai merasa tenteram (tenang) itu sudah lebih dari cukup.
Bahkan ada kisah, seseorang yang melamar seorang perempuan hanya karena laki-laki itu membaca tulisan di blognya. Atau bertemu sekali di pengajian. Berpapasan sekali di lorong sekolah. Bahkan beberapa orang hanya melihat fotonya saja ketika ditunjukan oleh murabbinya. Banyak cerita yang membuat kami tertegun dan takjub. Bagaimana bisa. Bukan tentang proses bertemunya mereka. Tapi bagaimana bisa mereka begitu percaya dan mempercayakan hidupnya kepada-Nya dan memilih cara-Nya untuk mencari pasangan hidupnya. Keyakinan yang bahkan sampai saat ini masih pasang surut pada kami.
Kasih sayang baru ada setelah akad nikah. Ketika kecenderungan terjawab dan rasa tenteram telah hidup. Pada ayat tersebut penulisan cenderung dan tenteram itu tidak menjadi satu dengan kasih dan sayang. Coba perhatikan. Kata Kasih bisa masuk dalam kelompok kata kerja (verb). Setelah meng-kasih maka timbullah sayang. Sebenarnya saat belum halal bisa saja kita kasih ke orang itu dan bisa juga timbul sayang setelah kasih itu. Tapi, bagimana nilai kasih dan sayangnya? Berkahkah? Apakah yang sebenarnya kita cari dari hidup? Keberkahan atau sesuatu selain itu?
Ar Rum ayat 21 menjawab semuanya dengan jelas. Bahwa proses perasaan itu dari mulai cenderung – tenteram – kasih – sayang adalah proses yang akan dilalui oleh hati kita. Ketika mencari pasangan hidup di usia ini dan dengan keyakinan yang seyakin-yakinnya pada apa yang telah Allah halalkan dan haramkan. Maka, kami percaya bahwa rasa cenderung itu cukup untuk memulai. Memulai memperkenalkan diri kepadanya dan keluarganya, memulai seluruh proses keseriusan itu, tidak sekedar bermain-main.
Allah yang menyuruh kita menikah, maka Dia pasti menjamin segala hal berkaitan dengan hal itu. Proses, Jodoh, Rejeki, semuanya telah Dia jamin. Tinggal bagaimana kita beriman kepada-Nya dan pada apa yang menjadi perintah-Nya. Maka orang-orang yang meragukan-Nya pun, termasuk meragukan aturan-Nya akan selalu diselimuti rasa ragu-ragu. Ragu-ragu apakah proses itu menjamin mendekatnya jodoh. Ragu-ragu apakah dia bisa menemukan jodohnya melalui proses-Nya itu. Atau ketika dia telah keluar dari apa yang Dia berikan, dia akan diselimuti keraguan yang tidak ada habisnya. Tentang apakah orang yang jadi kekasihnya saat ini adalah orang yang tepat. Tentang materi yang tak kunjung cukup. Tentang keluarga yang tak kunjung saling kenal. Tentang terlalu lamanya berkasih-kasihan tapi tidak jelas kemana tujuan.
Semakin kita menjauh dari-Nya maka kita akan semakin hidup dalam keraguan. Kami memilih percaya dan mempercayakan hidup ini kepada-Nya. Dan kepercayaan kami, kami yakini akan digantikan dengan hal yang sebaik-baiknya. Yaitu rasa tenteram dalam menjalani hidup ini.
Aku akan duduk melihatmu dari jauh sambil mendoakanmu selama aku tidak bisa melakukan apapun saat ini. Bahkan untuk sekedar bertanya apa kamu sudah makan atau apa kamu baik-baik saja. Sekalipun kesempatan itu ada, aku merasa tidak semua kesempatan mesti diambil.
Aku akan duduk memperhatikanmu dari jauh-jauh sambil mendoakanmu. Sekalipun tangan dan kaki ini begitu ingin bergerak menolongmu ketika kamu tersandung dan jatuh. Aku tahu kamu bisa berdiri sendiri meski harus duduk sebentar untuk merasakan rasa sakit itu.
Aku akan berdiri dan memandangmu dari jauh sambil mendoakanmu. Aku akan memastikanmu baik-baik saja, setidaknya aku tahu apa kamu bahagia atau bersedih hari ini. Sebab aku tidak bisa berada di dekatmu saat ini. Tuhan tidak menyukainya. Bahkan ketika aku bersembunyi-sembunyi seperti ini pun aku masih merasa takut bahwa Dia cemburu karena aku menduakan-Nya.
Lalu aku bersimpuh, menanyakan pada diri sendiri mengapa aku takut untuk melangkah lebih jauh. Aku tahu aku menginginkan berada di sana, berada di dekatmu saat suka dan duka. Orang yang akan menolongmu pertama kali saat jatuh, menjadi orang pertama yang akan menemuimu di pagi hari untuk menanyakanmu, apa kabar tidur malam tadi, nyenyakkah? Menjadi orang yang akan selalu berada di dekatmu dan menggandeng tanganmu saat kemana-kemana. Membuatkanmu sarapan pagi, atau secangkir kopi dimalam hari.
Aku bertanya mengapa aku takut untuk melangkah lebih jauh. Aku terlalu takut pada kenyataan bahwa aku memang penakut. Aku ingin bertanya kepada Tuhan mengapa aku begitu takut. Apakah Tuhan cemburu karena aku lebih mencintai makhluk-Nya daripada dirinya sendiri. Aku takut Dia marah padaku dan mencabut keberanian itu dari dalam diriku, menggantinya dengan rasa takut dan khawatir.
Banyak hal di dunia ini yang memerlukan sebab pertama untuk memulai. Dalam bahasa lain, harus ada awal untuk segala sesuatu. Bahkan untuk urusan perasaan.
Ketika kamu merasa tertarik kepada seseorang atau sesuatu. Akan selalu muncul alasan pertama mengapa kamu menjadi tertarik. Setiap orang itu memiliki daya tariknya masing-masing. Entah karena sifat, fisik, atau apapun yang timbul dari dirinya.
Bisa jadi seseorang tertarik kepada orang lain karena kecantikannya/ketampanannya. Apa ini salah? Tentu saja tidak. Seperti yang saya katakan diawal, bahwa ada sebab pertama untuk memulai. Ketertarikan itu dimulai dengan sebab fisik. Ada pula yang disebabkan oleh sifatnya, entah karena dia baik, ramah, dll. Ada pula sebab harta, pada mobilnya yang keren atau motornya yang sporty. Ada.
Ada pula yang tertarik kepada seseorang melalui karyanya, pada hasil pekerjaan yang dia hasilkan. Berupa gambar, tulisan, foto, apapun itu.
Hal yang paling penting disadari adalah, semua itu belumlah cukup untuk menjadi alasan untuk mengatakan bahwa seseorang jatuh cinta kepada orang itu. Karena hanya sebagian kecil hidupnya saja yang dia tertarik. Pada pola pikirnya yang tertuang pada karyanya. Pada hartanya yang tertuang pada kendaraaanya. Pada fisiknya yang tertuang pada kecantikan/ketampanannya.
Namun, bisa jadi sebab pertama itu akan mengantarkan seseorang untuk mengetahui lebih jauh tentang keseluruhan hidupnya. Sehingga pada akhirnya dia bisa mencintai seluruh hidupnya.
Ketika kamu merasa jatuh cinta kepada sesuatu hal dari orang itu, misal kepada karyanya. Kamu tertarik mula-mula pada sebagian kecil saja dari hidupnya. Bukan tidak mungkin bahwa itu akan mengantarkanmu mengenal kehidupannya secara lebih utuh. Berawal dari jatuh cinta kepada karyanya kemudian mencintai seluruh kehidupannya. Segala hal ini menjadi mungkin dan bukanlah sebuah alasan yang konyol.
Hal menariknya adalah, sebab pertama ini bisa menjadi tolok ukur. Sejauh mana pemahaman seseorang terhadap perasaannya. Apakah terukur oleh paras, terukur oleh materi, terukur oleh kecerdasan, dll. Darimanapun kamu mau memulainya, memulai untuk tertarik kepada seseorang. Perhatikanlah permulaan itu. Apakah dia adalah sebuah permulaan yang baik?
Jika saya dimintai pendapat, bagaimana bila memulainya dari kecantikan (karena saya laki-laki). Maka pada akhirnya, saya akan tertarik pada sesuatu yang lebih cantik dari apa yang saya temui saat ini. Seperti itu seterusnya. Dan saya merasa, memulai sebuah perasaan dengan tolok ukur kecantikan bukanlah jalan yang akan saya pilih.
Maka, coba perhatikan diri masing-masing. Ketika saat ini merasa tertarik kepada seseorang. Sebab pertama apakah yang menjadi alasan. Dan jalan pertama mana yang kamu pilih. Bijaksanalah dalam mengambil jalan ini.
Aku selalu berdoa "Jika memang dia jodohku, baik untuk agamaku, duniaku dan akhiratku maka dekatkanlah. Jika bukan jauhkanlah". Kenyataannya dia memang semakin jauh. Dari situ aku bisa mengambil kesimpulan bahwa aku dan dia memang tidak jodoh atau belum jodoh. Kalau bukan sekarang mungkin nanti. Bisa saja Tuhan sedang memberikan jarak untuk kita agar saling memperbaiki diri dan memantaskan diri :)
Hati-hati Duhai Hati! @finaakabaraceva - Tumblr Blog | Tumgag