Belajar Sarapan
“Ibuuuu, Dace punya poro ada sakit (Ibu, perut Dace sakit)” Teriak Tia, gadis kecil bersuara melengking, sambil mengarahkan pandangan khawatirnya. Sementara Dace meringkuk di kolong meja memegang erat perut di balik seragam merah putih lusuhnya.
Menyaksikan ini, aku, si guru baru dua minggu, kalang kabut tak tahu harus berbuat apa. Anak-anak lain berlarian ke arah Dace, mengerubutinya. Memasang muka-muka penasaran semi khawatir, seolah berkata “Dace, ose (kamu) kenapa?”
Kudekati Dace yang masih di kolong meja. Sambil mengelus kepalanya, kutanya apa yang ia rasakan. Katanya, perutnya perih, seperti ditusuk-tusuk jarum.
“Ose seng sarapan kah (Kamu tidak sarapan kah)?” tanyaku yang lalu dijawab Dace dengan anggukan spontan.
“Kalau seng (tidak) sarapan jadi sakit perut, to? masih ingat ibu bilang apa kemarin? Mens sana in corpore sano, kalau badannya sehat jiwanya kuat. Kalau badannya sehat, belajar jadi gampang to? Kalau belajarnya gampang, anak-anak jadi juaranya ibu fina!” Jelasku panjang lebar pada anak-anak. Mereka mengangguk-angguk kecil, seolah paham betul apa yang kukatakan.
“Berarti mulai besok harus apa?”
“Sarapaaaaann” anak-anak ikut menjawab kompak.
Tepat ketika anak-anak menyelesaikan kata “aaaan” yang panjang, cacing-cacing di perutku berontak. Ah iya, aku lupa. Si guru yang baru saja menjelaskan pentingnya sarapan, ternyata tak melaksanakan. “Hah, bisamu ngomong saja bu guru!”
Pulang dari kota, ranselku penuh dengan aneka macam keperluan harian. Yang tak mungkin ketinggalan adalah 5 renceng energen rasa jagung kesukaan. Di pulauku ini, jangankan toko atau warung sembako lengkap, air bersih dan listrik saja masih langka. Mau tak mau, kebutuhan sembako semacam ini harus kubeli dari kota atau mengandalkan titipan ketika ada kapal sandar di dermaga.
Hari itu aku mengajak anak-anak kelasku sarapan bersama dengan energen yang kubeli dari kota, sembari menjelaskan pentingnya sarapan. Hmm, kalau yang terakhir ini sih sambil mengingatkan diri sendiri pentingnya sarapan. Juga, menebus rasa bersalah ketika terakhir kali aku menasehati tanpa melaksanakan.
Gelas dan sendok sudah disiapkan, pun air panas sudah tersedia berkat dukungan orang tua siswa. Anak-anak mulai memegang gelas, sendok dan energen masing-masing. Sebelum mulai sarapan, kuminta mereka menyebutkan manfaat sarapan sebelum jam 9.
“Beta biar sehat sampai besar, Ibu” jawab Cale
“Sumber energi, ibu. Biar bisa kuat main bola” Delon tak mau kalah
“Ose (kamu) main terus. Kalau beta, biar bisa tangkap pelajaran, Ibu” Timpal Aldi
“Ibu punya anak murid memang paling pintar e. Sarapan memang penting untk menjaga kesehatan, ingat Dace sakit perut karena tidak sarapan to? Lalu, untuk sumber energi dan untuk meningkatkan kemampuan otak. Biar ose semua mengerti kalau ibu jelaskan pelajaran. Paham?”
“Pahaaaaam”
“Ibuu, mulai bikin akang (ini) sudah” kata Marlex menunjuk energen di meja, seolah tak sabar.
“Serbuuuuu” tawa anak-anak pun berderai di udara.
Ini pengalaman pertama anak-anak sarapan bersama. Pun pengalaman pertama merasakan energen. “Enak e” kata mereka kompak.
Hari itu, kami tak hanya sarapan bersama yang mengenyangkan. Tapi kami juga belajar banyak hal tentang sarapan yang ternyata menyenangkan.










