MELIUK Di Kencong bersama Swayanaka dan Pelangi Budaya
Assalamuaalaikum wr wb.....
Pagi itu Minggu 30 Desember 2018, kami tim Swayanaka Regional Jember terdiri dari saya, Wahyu, fathoni, menembus dinginnya Jember ingin menuju ke suatu kota kecamatan di ujung jember yang seminggu terakhir tengah padat pemberitaannya karena mendapat musibah berupa Banjir akibat jebolnya sebuah tanggul di salah satu desa di di kecamatan Kencong. Kami tidak sendiri karena kami ditemani oleh tim dari teman teman Pelangi Budaya yang terdiri dari Mas Habibiel, Mas Alfan, Mas Fiki, Andre, dan Firman. Menurut perjanjian awal, kita berkumpul di depan masjid Roudhotul Muchlisin pukul 06.00 pagi. Tapi karena pagi itu gerimis, dan waktu Indonesia jember yang molor akhirnya kita baru berkumpul sekitarjam 08.00. Barulah kita menembus Jember dan menuju ke arah Balung. Destinasi pertama kita adalah Pasar Balung. Saya tidak perempuan sendiri karena di sana sedang menunggu teman kami Solik (sebut saja Unyil) dan Novi yang datang jauh-jauh dari Ambulu. Unyil dan Novi ini adalah teman teman dari Swayanaka. Pukul 08.40 kami tiba di daerah pasar untuk mendiskusikan apa yang dibutuhkan saudara saudara di Kencong. Menurut informasi yang diterima kebutuhan pokok yang paling mendasaradalah Popok, Pembalut wanita, alat tulis, dan kebutuhan kebutuhan lainnya. Akhirnya kami memutuskan untuk membeli semua itu di sebuah pasar modern di sekitar Balung. Kami dibagi menjadi beberapa kelompok, ada yang membeli popok, pembalut makanan kecil, alat tulis, buku tulis, dan lain lain.
Saat itu jember lumayan teduh, dan benar karena konstruksi jalan yang meliuk-liuk, dan kami datang rombongan, kami baru sampai di lokasi sekitar pukul 10.15 WIB. Disana kami disambut oleh Mas Muji dari BNPB. Di posko yang terletak di sebuah SDN 03 Kraton terdapat pos pos untuk kesehatan, dapur umum dan lain-lain. Setelah ngobro-ngobrol dengan Mas Muji dan mengisi daftar hadir kami akhirnya meluncur ke lokasi bencana. Kawan yang akan melakukan trauma healing kali ini bertambah, ada Endah yang datang dari Lumajang yang sudah menunggu sekian jam karena kami yang terlambat datang .*hehehehe.
Hujan deras melanda jember sejak Sabtu (22-Desember-2018) sampai Minggu(23 Desember 2018) dini hari. Hujan terjadi merata di Kabupaten jember, termasuk aliran sungai di Tanggul-Kencong yang memanjang mulai dari kecamatan Sumberbaru, Tanggul, sampai kencong. Menurut data yang kami peroleh Banjir di Kencong melanda empat desa dan mengakibatkan lebih dari 500 rumah terendam air di Desa Kraton, Kencong, dan Paseban, serta lebih dari 300 Ha areal persawahan di Desa Kraton, Kencong, dan Wonorejo, Kecamatan Kencong. Tangkis yang jebol sepanjang 60 meter, dan dinding tangkis setinggi 7,2 meter. Akibatnya, arus sungai tersebut berbelok ke areal persawahan dan permukiman warga.
Saat kami tiba di lokasi, air sudah surut, yang tersisa adalah lumpu-lumpur yang masih menggenangi pelataran rumah. Masih ada beberapa sawah yang tergenang, dan sekarang menjadi objek mancing beberapa warga. Sepanjang perjalanan yang kita lalui kita melihat orang-orang lalu alang, memberikan bantuan atau sekedar melihat lokasi. Umumnya mereka sudah kembali ke rumah masing masing dan mulai membersihkan rumah-rumah, menjemur kasur, kursi, mengepel. Terlihat sisa-sisa lumpur di pelataran rumah dan beberapa anak-anak yang berlarian kecil di pemukiman. Terlihat juga beberapa tenda yang masih berdiri diatas tangkis, dan beberapa hewan ternak. Umumnya mereka yang masih di tenda adalah yang rumah-rumahnya hancur akibat banjir.
(Keadaan tangkis yang jebol)
Kami disana disambut oleh Ketua RW setempat. Beberapa hal didiskusikan dan ternyata kami dibagi menjadi dua tim. Satu tim membantu packing sembako, dan satu lagi bermain bersama anak-anak. Penduduk disini mayoritas berbahasa Jawa. Alhamdulillah saya bisa berkomunikasi mudah kalau jawa-jawa an kayak gini. Hehehehehe. Saya dan beberapa teman lain membantu packing sembako dan membagikan ke warga keliling dukuh. Menurut informasi ada sekitar 45 KK yang akan kami bagikan sembako. Tidak hanya sembako tapi ada beberapa alat kebersihan seperti pel, timba, gayung, dan sapu. Namun sayang jumlah barang kebersihan tidak sesuai jumlah KK. Alhasil dengan segala daya upaya barang bantuan yang diberikan warga harus saling meminjam untuk memenuhi kebutuhannya. Namun, rasanya ini tidak menjadi masalah karena dengan begitu solidaritas antara warga akan terbangun kembali setelah bencana.
(Bersama ketua RW packing sembako)
Ada yang lucu ketika saya membantu membagikan alat kebersihan. Ada yang tanya “lho ini sampeyan yang ngrajin mbak?” Saya Cuma senyum-senyum. “Mboten bu, saya Cuma bantu membagi”. Dalam hati saya senyum senyum saya dikira yang membuat sapu sama alat pel ini. Hehehe.
Menurut rencana, tim trauma healing kami akan menampilkan pantomim dari kakak-kakak pelangi budaya dan dongeng dari teman-teman swayanaka. Kak habibi sebagai artis senior dari pelangi budaya telah berdandan sedemikian rupa sehingga anak-anak memanggil dan menyeru “Om Badut”. Namun, karena konteks acara disini mengharuskan tim terbagi menjadi dua, dan karena jumlah anak tidak banyak, jadilah kami hanya bermain gasing, menyanyi, main tebak-tebak an atau sekedar kenalan.
Sampai pukul 13.30 kami akhirnya pindah titik. Sebelum itu, kami mengisi perut dekat SDN 03 Kraton. Sembari menunggu teman-teman mengisi perut, saya, Endah, Unyil, Novi melipir mendekat ke posko Kesehatan di SDN 03 Kraton. Kami berkenalan dengan Mbak Weni. Perawat puskesmas cakru yang bertugas di sana. Mbak Weni sangat ramah dan baik. Banyak seputar kesehatan yang kami gali. Kata Mbak Weni obat-obata disini cenderung sudah banyak dan bahkan sudah dikatakan membludak. Penyakit-penyakit disini juga cenderung penyakit infeksi seperti diare, gatal-gatal. Penyakit degeneratif seperti Hipertensi, Diabetes Melitus juga ada dan mereka umumnya datang ke posko untuk meminta obat. Piket di posko kesehatan ini dibagi menjadi tiga shift. Dibawahi oleh upt puskesmas cakru, pengelolaan kesehatan disini sudah cukup baik. Sempat ada satu orang yang terkena Thypoid fever dan menjalani rawat inap di fasilitas kesehatan lebih lanjut.
Setelah kenyang, perut terisi, kami akhirnya berangkat mencari titik lanjutan. Titik kali ini berjarak sekitar 1 km. Kedatangan kami disambut cukup ramai, mayoritas mereka adalah ibu-ibu dan anak-anak kecil usia 4-18 tahun. “ini hari pertama tidur di rumah, kemarin dipengungsian.” Begitu ujar ibu separuh baya yang sempat berbincang dengan kami.
Kak Alfan sebagai pengisi utama pun mulai menarik perhatian, Om Badut yang diperankan oleh kak habibi mulai menyita mata-mata yang datang dari penjuru. Kami semua larut dalam canda, dan peragakan pantomim yang sangat apik dilakoni. Tak juga itu beberapa teknik ala-ala sulap dari kak Andre, Kak Firman, kak Fiki cukup membuat kami dan warga menjadi bernyawa lagi. Kalau kata ibu-ibu disini listrik belum nyala, dan bilang “ Matur nuwun mbak-mbak samamas-masnya telah datang, kami butuh hiburan”
Kami tim dari swayanaka sebenarnya ingin mendongeng bagi anak-anak, namun karena buku tertinggal di kost teman kami, akhirnya Novi dan Endah yang dibantu dengan panduan musik melakukan dengan baik menjadi instruktur “terkewer-kewer” yang sanggup merenggakan otot otot kami.
Waktu pun menunjukkan pukul 15.45 WIB saatnya saya teman-teman kembali ke rutinitas karena besok mulai hari Senin. Sebelum pulang, kami mampir ke posko. Disana kami disambut Mas Muji. Setelah berfoto-foto akhirnya kami pamit dan pulang ke Jember pukul 16.10. Hujan mewarnai saat kami pulang namun hal itu tidak menyurutkan laju motor kami dan akhirnya kami sampai kost atau rumah selepas magrib dalam keadaan sehat wal-afiat.