http://livingthewhimsical-life.tumblr.com/post/54258386645/graduation
Claire Keane
Phantogram Three
Fieri Frames

Jar Jar Binks Fan Club

No title available

No title available
$LAYYYTER

Discoholic 🪩
TMBGareOK. The Official They Might Be Giants tumblr
Cookie Run:Kingdom Official!
The Bright Sessions

PR's Tumblrdome

blake kathryn
Cosmic Funnies
untitled
Cosimo Galluzzi
almost home
🪼
noise dept.

shark vs the universe
seen from Saudi Arabia

seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from Portugal

seen from United States
seen from China
seen from Türkiye
seen from United States

seen from Mongolia
seen from Palestinian Territories

seen from Brazil
seen from Philippines

seen from Mongolia
seen from Mexico

seen from United States

seen from Malaysia
seen from Nepal

seen from Türkiye
seen from Bangladesh
@fogedaxo-blog
http://livingthewhimsical-life.tumblr.com/post/54258386645/graduation
Teringat masa-masa saat aku melangkahkan kaki untuk kali ketiga
Aku sering melawan dengan penuh berontak pada langkahan ketiga ini
Aku sering menendang batu-batu besar dengan sengaja hingga terluka
Aku sangat berontak pada masa putih-biru
Tapi seberontak-berontaknya aku, ia tetap lukiskan semua itu
Goresan senyumnya tak pernah pergi
Kerap kali aku merasa ada tangis yang tak mau lagi jadi tawa
Dan tawa yang selalu berujung pada tangis
Tentang sebuah sendinya yang teramat ngilu
Saat melihat ketenanganmu diracun begitu,
Lidahku tegang,
Tapi justru kau telan lebih banyak
Tapi ia selalu hadir saat mentari berkata
Dan ombak menatap
Ia selalu bilang, "Aku memintamu untuk bermimpi. Maka bermimpilah. Bermimpilah dengan seluruh daya yang masih tersisa. Jika ada burung yang terbang tinggi menembus awan, dari bawah aku melihat dan berteriak 'terus terbang tinggi, gapai citamu!'"
Dan seketika aku luluh dibuatnya
Cintanya datang dengan setulus hati
Dan sepenuh hati sepenuh jiwa
Dan kalau saja hidup tidak berevolusi
Kalau saja sebuah momen dapat selamanya menjadi fosil tanpa terganggu,
Kalau saja kekuatan kosmik mampu stagnan di satu titik, maka...
Tanpa ragu aku akan memilih satu detik bersamanya untuk diabadikan. Cukup satu.
Lalu, dengan apa harus kulukiskan segala rasa terima kasihku padanya?
Mungkin hanya seuntai kata yang dapat mewakili sejuta perasaan
Dan sejuta cinta kupersembahkan untukmu, guru.
- Nafasya Ramadhini Maura
3 tahun yang rasanya sangat sebentar telah berlalu, namun senangnya aku bisa melalui tahun-tahun itu dengan kalian. Beruntungnya aku bisa bertemu kalian semua, beruntungnya aku bisa melalui tahun-tahun itu bersama kalian, beruntungnya aku bisa menjadi bagian dari FOGEDAXO. Bukan aku saja, kalian semua juga pasti merasa beruntung!
Kita adalah manusia-manusia paling beruntung yang pernah ada!
Kebanggaanku, kasih sayangku, dan kecintaanku. Dengan tulus kuberikan padamu, FOGEDAXO.
- H.M
No pic = hoax
Hadi Makarim, kata-kata default tiap ada orang bawa berita.
Flashback: Absurd
Kanda: "Mupid Belo mulu-_-"
Nizam: "Naksir kali"
Flashback: Ambar jadi imam
*mau sujud*
Ambar: "Samiallahuliman hamidah"
(????)
Flashback: Pertengkaran Terakhir Yola vs. Arya
Yola: "Gue bunuh lu!"
Arya: "Gue bunuh balik!"
(-__- hah?)
FALLON ALICE MURRAY PENJAHIT, 23 (Farah Anindya Maharani) Face Claim: Allison Harvard
Prof. Patrick John Harding (Ben Barnes/Fadhlan H Patria) Sarah Evangeline Harding (Victoria Justice/C Sarah R) Iris Alessandra Katyaluna Harding (Suri Cruise) Lauren Hannah Harding (Lauren Hanna Lunde)
1 part 2
“Selamat datang.” Lee Jae-Kyung sedang berdiri di belakang meja resepsionis ketika aku sampai di bed-and-breakfast. Dia seorang perempuan Korea berumur sekitar lima puluh tahunan, dan dia adalah salah satu perempuan paling baik dan ramah yang pernah kutahu. Wajah Koreanya sangat ramah, hangat dan halus, tubuhnya mungil, kulitnya putih dan wajahnya cantik. Aku merasa canggung berdiri di dekatnya, dengan tubuh tinggi tegap khas orang Kaukasia dan garis rahang keras. Jae-Kyung adalah wanita paling baik, tulus dan hangat yang pernah kutemui. “Selamat siang, Mrs. Lee. Apa kau masih ingat aku?” Aku menyapa sambil menurunkan koper. Seketika wajah Jae-Kyung berubah cerah. “James! Ya ampun, sudah lama sekali! Masuklah, apa kau butuh bantuan dengan kopermu?” Aku menggeleng cepat sambil menenteng koperku yang ringan ke dalam. “Tidak apa-apa, Mrs. Lee, aku tidak membawa banyak barang. Apa ada kamar yang kosong?” Jae-Kyung langsung dengan sigap mengambil sebuah kunci kamar. “Selalu ada, James, selalu ada. Duduklah dulu—nanti kuambilkan teh.” Aku menolak tehnya dengan halus karena alasan kesopanan—tahu kan, penolakan basa-basi tak berguna yang malah membuat tuan rumahmu semakin berkeras—tetapi semakin aku menolak, semakin bersemangat Jae-Kyung menjamuku. Kami memang sudah berteman baik sejak pertama kali aku datang ke sini—aku menyenangi kepribadiannya dan dia juga menyenangiku. Jae-Kyung menyuruh seorang petugas dapur untuk membawakanku teh dan pound cake—aku mau minum teh hanya jika Jae-Kyung ikut minum teh bersamaku. Beberapa menit kemudian, kami sudah duduk nyaman di salah satu meja makan penginapan yang sepi sambil menghirup teh. “Jadi,” Jae-Kyung memulai percakapan, “bagaimana kabarmu? Diana sering ke sini untuk main dengan Sunny, tapi dia tidak banyak bercerita tentangmu.” Aku tersenyum sambil menghirup teh yang disediakan. “Aku baik-baik saja. Aku ke sini untuk liburan dan untuk menjenguk Diana, mumpung dia juga sedang libur. Bagaimana kabarmu dan Sunny, Mrs. Lee?” Jae-Kyung mengiris pound cake dengan hati-hati sebelum menjawab pertanyaanku. “Oh, seperti biasa. Sepi, Faulkner selalu sepi. Tapi aku dan Sunny menyukainya—kau tahu sendiri kami membuka penginapan ini bukan untuk uang. Kami menyukai Faulkner yang tenang, dan mungkin kadang-kadang beberapa tamu—tapi biasanya segalanya tenang.” Aku masih menatap irisan pound cake yang tadi diiris Jae-Kyung. Hebat dia. Irisannya rapi, benar-benar rapi—tidak ada sedikit pun remah yang keluar. Aku tidak tahu apakah pisaunya memang kelewat tajam atau ini memang tergantung iman. “Mrs. Lee, di mana Sunny? Aku belum melihatnya.” Choi Sun-Kyu, atau Sunny, adalah cucu perempuan Jae-Kyung satu-satunya yang ikut tinggal bersama Jae-Kyung sambil mengurus penginapan. Terakhir kali aku ke Faulkner, umurnya masih enam belas tahun. Sunny gadis Korea yang cantik, baik dan manis—cerewet, tapi cerewetnya cerewet yang menyenangkan. Setiap kali aku mendengar Sunny menyerocos, aku rasanya jadi ingin tertawa. Aku tahu Diana sangat dekat dengan Sunny dan Sunny menganggap Diana seperti kakaknya sendiri. Semua orang di kota itu sangat menyenangi Sunny—tak ada yang memanggilnya Sun-Kyu, semua orang memanggilnya Sunny. Nama panggilan itu memang sesuai dengan tabiatnya, sunny—cerah ceria. Hanya Jae-Kyung yang masih memanggilnya Sun-Kyu sesekali. Jae-Kyung menepukkan tangannya ke dahi. “Astaga, aku lupa sama sekali. Tunggu sebentar, akan kupanggilkan dia.” Sebelum aku bisa mencegahnya, Jae-Kyung sudah keburu berjalan ke arah tangga dan memanggil Sunny sambil mengatakan sesuatu dalam bahasa Korea. Tak lama kemudian, Sunny menjawab nyaring dalam bahasa Korea dan langsung berlari menuruni tangga. “James!” serunya senang dan langsung berlari menghampiriku. Sunny mengenakan seragam sekolah tarinya—sepertinya dia tadi sudah mau pergi ke tempat les menarinya tapi tidak jadi karena aku datang. “Sunny-ya[1], kau mau pergi les menari?” Sunny mengangguk cepat. “Aku sudah cukup baik sekarang. Dua bulan lalu kelas tariku pergi dengan Miss Chant—itu nama guru menariku—ke London lalu kami ikut pementasan di sana, oh ya ampun, itu keren sekali, coba kau bisa lihat. James, kau tinggal di London, kan? London bagian mana?” Aku menahan tawa. Dia lucu sekali jika menyerocos. “East End.” “Kami tampil di Royal Albert Hall. Itu keren sekali. London ternyata sangat lua-a-a-s—dibandingkan dengan Faulkner, London seperti laut dan Faulkner seperti bak mandi. Royal Albert Hall benar-benar mewah dan bagus, kami semua mengenakan baju buatan pria ini, entah namanya siapa, aku lupa...Gareth, kurasa Gareth, tapi aku lupa marganya.” “..Gareth Pugh?” “Oh, ya, ya, Gareth Pugh—James, kau pintar sekali. Pokoknya kami semua didandani sebelum tampil tapi Miss Chant-lah yang paling cantik. Gareth berulang-ulang mengatakan kami semua cantik dan semoga berhasil, lalu kami tampil. Panggungnya benar-benar luar biasa dan aku agak ketakutan—aku hampir lupa semua gerakannya!—tapi Miss Chant menenangkan kami dan mengatakan hasilnya pasti luar biasa. Lalu pemain piano di ujung panggung mulai memainkan lagunya, lagu Tchaikovsky, dan ketika aku melakukan allégro kupikir aku akan jatuh! Tapi ternyata aku berhasil tidak jatuh. Miss Chant tidak gemetar sedikit pun saat melakukan pirouette, lalu tariannya selesai dan semua orang BERDIRI dan bertepuk tangan—dan di bangku terdepan aku melihat Adele dan dia juga bertepuk tangan! Lalu—“ Jae-Kyung sedang menatap cucu perempuannya dengan wajah datar dan Sunny langsung berhenti berbicara. Aku meledak tertawa. “Tidak apa-apa, Mrs. Lee! Aku senang mendengarkan cerita Sunny, cerita-cerita Sunny selalu sangat menarik. Aku yakin itu sangat menyenangkan—kuharap aku juga bisa menontonmu tampil, Sunny-ya. Kau tahun ini tujuh belas tahun kan? Berarti akan lulus SMA tahun ini?” Jae-Kyung dan Sunny mengangguk ceria. “Sunny akan melanjutkan belajar tari,” ujar Jae-Kyung. “Di Moskow,” tambah Sunny. Aku tersenyum dan mengecek arlojiku. “Semoga berhasil, Sunny-ya. Mrs. Lee, terima kasih banyak atas teh dan kuenya. Enak sekali. Aku akan jalan-jalan melihat-lihat Faulkner—tahun lalu aku belum sempat berjalan-jalan. Sekali lagi, terima kasih banyak.” Aku menundukkan kepala sedikit untuk menunjukkan rasa terima kasih, dan setelah meletakkan barang-barangku, aku pergi ke luar penginapan.
. . .
Lee Jae-Kyung mengawasi pintu sampai wanita Korea itu yakin tamunya sudah benar-benar pergi sebelum ia menoleh ke arah cucu perempuannya. “Sun-Kyu?” panggilnya. “Ya, halmeoni[2]?” Sunny menjawab pelan. “Pergilah ke kelas menari dan beritahu semuanya si detektif itu kembali lagi.”
. . .
Aku tak tahu aku mau ke mana, jadi aku memutuskan untuk naik taksi ke Glenmont. Aku terlalu malas untuk pergi ke pusat kota Faulkner. Nanti saja, dengan Diana. Jika aku pergi ke Glenmont sekarang, nanti sore aku tinggal pergi ke asrama dan menjermput Diana. Lagipula, satu-satunya perpustakaan yang ada di Faulkner hanya ada di Glenmont. Dari luar, Glenmont cukup impresif. Bangunannya kentara sekali bangunan tua—mungkin dari zaman Anne, tapi sudah direnovasi dan diperkokoh tanpa mengubah rancangan asli kompleks bangunan itu. Beberapa jendela di tingkap teratas dihiasi kaca patri, ada lapangan dan tempat parkir, semuanya adalah perpaduan dari masa lalu dan masa kini. Memang indah. Satpam di depan membiarkanku masuk. Kompleks bangunannya cukup sepi, namun masih terlihat beberapa orang berlalu-lalang dalam diam. Ketika aku menghampiri pintu perpustakaan besar yang terbuat dari kayu mahoni, barulah terdengar suara ribut orang bercakap-cakap. Aku mengerutkan dahi. Berdasarkan pengalamanku semasa kuliah, siapapun yang berani bercakap-cakap agak keras saja di dalam perpustakaan pasti akan langsung didamprat oleh petugas perpustakaan. Bukan tidak mungkin Principia hasil karya Isaac Newton akan langsung melayang ke kepala mahasiswa kurang beruntung itu. Kudorong pintu perpustakaan dan aku masuk. Dengan sekali lihat saja aku langsung tahu bahwa mereka bukanlah mahasiswa. Hanya ada enam orang di perpustakaan itu, tiga lelaki dan tiga perempuan, semuanya duduk berselang-seling mengelilingi sebuah meja bundar yang besar. Ketika aku masuk, mereka semua terdiam dengan kaget dan langsung memandangku, namun seketika wajah mereka berubah rileks. “Halo,” sapa pria yang agak lebih tua sambil melambaikan tangannya, “silahkan duduk. Siapa namamu?” Seorang laki-laki lain dan seorang perempuan menarik kursi untukku dan tersenyum. Secara refleks, aku tersenyum balik. “James,” jawabku. “James Rozaine.” Mereka kembali menyuruhku duduk dan aku menurut. “Kami pikir kau mahasiswa,” ucap seorang perempuan sambil tertawa, dan yang lain mengikuti. “Kutebak kau bukan mahasiswa?” Aku menggeleng. “Bukan. Tapi adikku kuliah di sini.” Pria tertua mengangkat alis. “Yang mana adik anda, Mr. Rozaine?” “Diana Amberley. Dia adik tiri saya.” Jawabanku direspons dengan banyak seruan senang dari seluruh penjuru meja. “Diana Amberley—jurusan Kedokteran, bukan? Murid Dokter Malcolm?” tanya seorang pria. Aku mengangguk. Seorang perempuan mengangguk antusias. “Adik anda cerdas, Mr. Rozaine. Aku sudah bertemu dengannya beberapa kali.” Mereka kemudian berpandangan dan pria tertua mulai berbicara. “Kami suka berkumpul di sini dan berdiskusi seru tentang berbagai hal ketika tidak ada orang. Terutama karena sekarang para mahasiswa sedang tidak ada, kami dapat dengan leluasa menggunakan perpustakaan karena petugas perpustakaannya sendiri pun anggota kami.” Ia menunjuk salah satu perempuan, perempuan itu melambai dan semua orang tertawa. Pria tertua itu melanjutkan. “Perpustakaan tempat yang sempurna karena kami bisa langsung membuktikan pendapat kami melalui buku-buku yang tersedia. Oh, ngomong-ngomong, Mr. Rozaine—“ Pria itu tiba-tiba menjabat tanganku. “Saya Profesor Alfred von Ryan, Kepala Departemen Ilmu Sejarah. Senang bertemu denganmu. Nona yang di sana itu penjaga perpustakaan—“ Perempuan yang tadi melambaikan tangan tersenyum cerah. “Avannah Todd.” ucapnya. “Lalu ada Kepala Departemen Sastra Prancis dan Jepang—“ Seorang perempuan cantik bermata cokelat tersenyum. “Profesor Agatha Toretto.” “Dosen pengajar simbologi dan juga bawahan saya—“ Laki-laki berwajah datar yang duduk di sebelah Profesor Toretto menoleh dan berkata, “Profesor Patrick Harding.” “Kepala Departemen Sastra Inggris—“ Perempuan di sebelah Profesor Harding tersenyum. “Profesor Esther Beadle.” “Dan juga dosen Sastra Jerman kami.” Pria di sebelahku tersenyum kecil. “Profesor Robert Hayden.” Profesor von Ryan menghela napas panjang. “Sayangnya tidak semua bisa hadir hari ini. Contohnya dosen adik anda, Dokter Malcolm—dia ada pasien hari ini.” Profesor von Ryan memberikan kesan menyenangkan. Usianya mungkin sekitar akhir tiga puluhan atau awal empat puluhan. Dia pria cerdas dengan gaya busana konservatif dan sorot mata cerdas dan jenaka. Tubuhnya cukup tinggi, kurus, kulitnya cokelat terbakar matahari, dan ia terlihat lebih berpengalaman dari mereka semua. Tangannya memegang sebuah buku tebal bertema Perang Dunia Kedua, dan ada sesuatu tentang wajahnya yang akan membuatmu merasa bahwa kamu sedang bertatapan dengan seseorang dari masa lalu. Di sebelah kanannya ada si petugas perpustakaan, Avannah Todd—perempuan berkacamata, dengan wajah hangat dan menyenangkan, tubuh tinggi, kulit cokelat, dan kelihatan santai. Ketika tertawa, suara tawanya membuat orang lain ingin tertawa juga. Dia tidak terlihat seperti tipikal petugas perpustakaan kebanyakan, dan tidak terlihat terganggu dengan berisiknya percakapan mereka, walaupun lensa kacamatanya yang tebal menunjukkan bahwa dia menyukai buku. Di sebelah Miss Todd ada Profesor Harding yang mengajar simbologi—namanya cocok dengannya nyaris secara harfiah. Hard—keras—benar-benar cocok dengan wajahnya yang datar dan tanpa ekspresi. Dia dan Profesor von Ryan seumuran dan sepertinya teman baik—mereka berdua sering melontarkan lelucon yang hanya dimengerti oleh mereka berdua. Di sebelahnya ada Profesor Beadle, perempuan cantik dengan aksen Cornwall yang sudah agak tua. Dari semuanya, dialah yang tertua, umurnya mungkin sekitar lima puluhan, dinilai dari rambutnya yang mulai berwarna abu-abu. Tatapan matanya tenang dan dia agak pendiam, namun ketika ia bicara kata-katanya cerdas. Aku sudah sering mendengar tentang Profesor Beadle—bahkan ketika aku di London, tulisan-tulisannya sering muncul di majalah ilmiah dan dari yang kudengar di London, wanita ini punya minat yang sangat besar pada kesusastraan. Ada rumor bahwa dia akan bekerjasama dengan Bloomsberg untuk menerbitkan kembali karya-karya sastra klasik yang sudah mulai dilupakan. Aku tidak begitu menyukai buku, tapi aku tidak punya masalah dengan orang yang menyukainya. Lalu ada Profesor Toretto, wanita cantik berwajah Prancis dan bermata cokelat. Tidak sulit untuk menyimpulkan bahwa wanita ini pasti orang Prancis, karena aksen Prancis masih sangat terdengar setiap kali dia bicara. Namun bahasa Jepangnya juga sangat bagus, dan kadang ketika ia bicara, kata-katanya tercampur dengan bahasa Prancis atau Jepang, namun lebih sering Prancis. Menurut cerita Diana, Profesor Toretto tidak pernah lama berada di Faulkner—pekerjaan sampingannya sebagai penerjemah kadang-kadang mengharuskannya untuk bepergian selama beberapa waktu, biasanya ke Prancis atau Jepang. Dan di sebelah kananku ada Profesor Hayden yang mengajar Sastra Jerman. Dari mereka semua, dialah yang paling pendiam. Sejak tadi ia tidak banyak bicara, kebanyakan hanya menanggapi pendapat dari yang lain, ikut tertawa dan memberikan respons-respons pendek. Kulitnya agak pucat, dia masih muda, matanya jernih dan hitam-putihnya kontras. “Jadi, Mr. Rozaine,” Profesor von Ryan memulai kembali diskusi yang tadi sempat terputus karena kedatanganku dengan mengarahkan pertanyaan kepadaku, “apa kira-kira pendapatmu tentang kontroversi kematian Hitler?” Aku sudah mau menjawab ketika yang lain mengerang. Miss Todd menggelengkan kepalanya ke arahku. “Mr. Rozaine, jangan jawab dia. Satu kata saja tentang Hitler akan membuatnya menyerocos tentang sejarah terjadinya Perang Dunia Kedua sampai tahun depan. Kami dari tadi sudah berusaha meyakinkannya bahwa Hitler memang sudah mati. Sejauh ini, dia sangat keras kepala.” Aku meledak tertawa bersama yang lain. “Sudahlah, tutup saja diskusi soal Hitler ini. Kita bicarakan hal lain yang tidak ada hubungannya dengan sejarah.” Profesor Toretto mengusulkan sambil tersenyum. Profesor Harding mengangkat tangan. “Simbol-simbol Freemasonry?” Profesor Beadle tertawa. “Tidak. KAU yang akan menyerocos kalau kita mulai bicara tentang simbol.” Dalam hati aku mengucap syukur karena aku tidak tahu apa-apa tentang simbol. Profesor Hayden mencondongkan badannya ke depan dan berkata penuh harap, “Bisakah kita membicarakannya dalam bahasa Jerman?” Teman-temannya kecuali Profesor von Ryan, mengerang lagi. “Ya Tuhan, Robert, kapan kira-kira kau akan sadar bahwa kau dan Alfred adalah satu-satunya yang bagus dalam bahasa Jerman?” Kembali aku mengucap syukur karena bahasa Jermanku sama bagusnya dengan seekor bebek. Mereka bertukar ide dan aku mendengarkan dengan geli sampai wajah tenang Profesor Toretto menatapku penuh minat. “Mr. Rozaine, jurusan apa yang kauambil ketika kuliah?” Aku agak kaget tiba-tiba disodori pertanyaan seperti itu, maka aku tergagap sedikit sebelum menjawab. “Kriminologi.” Semua orang langsung menoleh ke arahku. “Menarik sekali,” komentar Profesor von Ryan, “apa kau bekerja di bidang yang berkaitan dengan kriminalitas sekarang?” Aku mengangguk. “Ya. Saya detektif di The Met, di London, tapi sekarang sedang liburan.” Tidak ada gunanya menyembunyikan bahwa aku bekerja untuk The Met. Setelah Diana kelepasan bicara di stasiun kereta tadi, kurasa dalam waktu beberapa hari saja seluruh kota akan segera tahu bahwa James Rozaine, kakak tiri Diana Amberley, adalah seorang detektif dari The Met. Di kota kecil seperti ini, berita cepat menyebar. Aku melihat mereka satu per satu, dan entah kenapa, mendadak suasana berubah tegang. Miss Todd tertawa gugup untuk memecah keheningan, lalu bertanya, “Kasus apa yang biasanya anda kerjakan, Mr. Rozaine?” Aku berpikir sebentar sebelum menjawab, “Pembunuhan. Saya detektif dari bagian pembunuhan—tapi kadang-kadang saya menangani kasus penculikan, penggelapan, penyelundupan, dan pencurian juga.” Ruangan tiba-tiba hening. Aku cepat-cepat menambahkan, “Tapi sungguh, saya datang ke sini hanya untuk liburan.” Mereka semua langsung cepat-cepat mengangguk dan tersenyum ramah, lalu pembicaraan beralih ke sejarah Perang Saudara Amerika, yang memicu perdebatan seru tentang siapakah yang lebih pantas menang, Union atau Konfederasi. Aku membiarkan diriku ikut terlibat dalam diskusi menyenangkan dengan orang-orang cerdas itu, walaupun dalam hati menyesali keputusanku membiarkan mereka tahu tentang pekerjaanku. Berlibur itu susah kalau kau bekerja untuk The Met.
. . .
[1] Panggilan akrab dalam bahasa Korea.
[2] Nenek.
DOMINIC ALEKSANDR TORETTO & RAYMOND LUKAS TORETTO
Anak dari Boris Aleksei Toretto (Syahid) & Agatha Henriette Toretto (Bunga)
Face Claim: Liam Aiken & Max Charles
DR. DANIEL ZACHARY MALCOLM DOKTER AHLI TULANG, 26
(Malik Hakim)
Face Claim: Brendon Urie
EVA SOPHIA VON RYAN & JOSEPH GUSTAV VON RYAN
Anak dari Alfred Rudolf von Ryan (Afif Derian) dan Molly Genevieve von Ryan (Nafasya Ramadini Maura)
Face Claim: Alli Michelle Simpson & Cody Robert Simpson
Dih, males!
Ambar, 15, gue sih manggilnya Diana.
Flashback: Kemnas
*Bu Mira sama Ambar pergi bareng-bareng*
*Bu Mira balik sendirian*
Nisah: "Loh, bu, Ambarnya mana?"
Bu Mira: "AAAMBAR??? (gaselo) Bukannya tadi sama kakak Lifi?"
Lifi: *merasa dipanggil* "APA BU???"
(Jadi, Ambar dimana-_-)
DR. HELENA DIVYAPATI MONTGOMERY WILDLIFE RESEARCHER UNTUK WWF, 33
(Annisa Kusuma Wardani)
Face Claim: Camilla Belle
1 part 1
1.
All around me are familiar faces, worn out places worn out faces. Bright and early for the daily races, going nowhere, going nowhere.
Lima tahun lalu. Aku mengejapkan mata beberapa kali, berusaha menyesuaikan mataku dengan cahaya yang memenuhi kompartemen kereta. Aku yakin aku tanpa sengaja sudah tertidur di tengah perjalanan, karena ketika kereta berderak berhenti aku terbangun dengan kaget. Pria di depanku hanya melirikku sedikit sebelum kembali berkutat dengan koper hijaunya. Dia bisa dibilang tertutup warna hijau—mulai dari koper, jaket, jam tangan, bahkan frame kacamatanya juga berwarna hijau.Aku mengulurkan tangan meraih jaketku yang terjatuh sambil bertanya, “Kita sudah di mana?” Lelaki itu membenarkan letak kacamatanya dan menjawab, “Morlea.” Aku menoleh ke luar jendela dan sadar bahwa dia benar. Papan tanda Stasiun Caved Landing berdiri tepat di luar jendelaku—sedikit tidak terawat tetapi masih dalam keadaan baik, seperti terakhir kali aku ke sini, mengantar adik tiriku setahun lalu. Aku harus berhenti di Morlea karena Faulkner tidak punya stasiun kereta sendiri. Aku harus berhenti di Morlea, baru naik taksi ke Faulkner. Pria di depanku akhirnya berhasil mengatur koper hijaunya dan barang-barang bawaannya yang lain—termasuk sebuah pot yang cukup besar dan berisi pohon yang cukup tinggi, sepertinya pohon birch. Barang bawaanku sendiri tidak begitu banyak—hanya koper kecil berisi pakaian dan sebuah tas berisi laptop. Faulkner bukan tempat yang membuatmu merasa perlu membawa banyak barang. Faulkner lebih seperti sebuah pelarian—kota kecil tenang di pinggir pantai karang di utara Cornwall, tempat semua orang mengenal satu sama lain dan waktu seolah berhenti. Satu-satunya yang menonjol tentang Faulkner hanyalah kenyataan bahwa letaknya dekat dengan The Glenmont University—salah satu universitas terbaik di Inggris. Glenmont ada di Morlea—kota yang jauh lebih besar dari Faulkner, tapi banyak murid dan staf universitas yang tinggal di Faulkner. Kurasa itulah alasan mengapa adik tiriku Diana memilih untuk tinggal di Faulkner dan kuliah di Glenmont. Aku baru dua kali ke sini, tetapi aku cukup menyukainya dan aku tidak keberatan Diana pindah ke sini. Faulkner terlihat cukup aman. Pria berkoper hijau itu membuka pintu kompartemen kereta dan keluar dengan terburu-buru tanpa menutup pintu, dia rupanya juga turun di sini. Kuikuti dia turun dari kereta dan kututup pintu dengan cepat, mataku memindai stasiun mencari Diana. “James!” Adik tiriku berteriak senang sambil berlari-lari kecil menyambutku. Perempuan cantik sembilan belas tahun itu menabrakku dengan gembira dan tersenyum lebar. “Keretamu terlambat.” Aku baru mau membuka mulut dan menyumpahi ketidakprofesionalan kereta Inggris zaman sekarang ketika pria berkacamata dan berkoper hijau itu muncul di belakang Diana sambil membawa-bawa pohon birch, kentara sekali kerepotan. Dia membuka mulut untuk mengatakan sesuatu pada Diana, tapi tidak jadi ketika melihatku. Suasana mendadak canggung. Diana mengangkat alisnya dan berinisiatif memulai percakapan. “James, ini Andy, temanku. Andy Magwitch—mahasiswa jurusan tata kota dan, eh...maniak lingkungan hidup.” Diana menyeringai lebar ke arah temannya yang melotot tak rela. “Andy, ini kakak tiriku, James—dia detektif di The Met.” Wajah Andy berubah ngeri. “Aku sedang liburan,” tambahku cepat sambil menjabat tangan Andy, dalam hati bersumpah akan mendamprat Diana setelah ini. Aku tidak mau orang-orang berpikir aku membawa-bawa pistol atau apa. Aku hanya ingin liburan saja—tanpa kasus pembunuhan, tanpa tumpukan tugas, tanpa begadang menyelesaikan kasus. Hanya liburan saja beberapa minggu. Gumpalan-gumpalan tanah mulai berjatuhan dari pot yang dibawa Andy dan beberapa kotak yang diikatkan ke koper hijaunya mulai berjatuhan. Frustrasi, Andy meraup kotak-kotak yang jatuh dengan satu tangan dan mengikatnya kembali sekenanya—pot pohon birch-nya dipeluk dengan satu tangan dan tanah langsung berjatuhan mengotori jaket hijaunya. Dia mendongak dengan putus asa dan memaksakan sebuah senyum kaku sambil berujar, “Di, kurasa aku harus pulang dan, eh...mengatur semua barang ini.” Dia mengangguk padaku dan tersenyum. “Senang bertemu denganmu, James.” Aku mengangguk balik dan memungut sebuah kotak yang jatuh. “Senang bertemu denganmu juga, Andy.” Kentara sekali lega, Andy pontang-panting memanggil taksi. Aku menoleh kepada Diana dan mengangkat alisku. “Temanmu aneh.” Diana tertawa pelan sambil membawa jaketku. “Oh, semua orang dari Faulkner aneh. Tapi aku cukup suka tinggal di sana. Dan kau,” Diana meninju bahuku pelan sambil tertawa, “berani-beraninya tidak mengunjungiku selama setahun penuh.” Aku mengangkat bahu dan ikut tertawa. “Aku meneleponmu waktu kau ulang tahun. Oh, dan Mum titip salam.” Sebenarnya, jika dipikir-pikir, aku memang agak keterlaluan. Bahkan panggilan telepon pada hari ulang tahun itu tidak lebih dari satu menit. Aku ingat aku nyaris lupa Diana ulang tahun dan baru ingat pada pukul sepuluh malam—ponselku tewas dan aku terpaksa memakai telepon umum di tengah salah satu musim dingin London yang paling tidak berperikemanusiaan. Aku biasanya lumayan bisa menyesuaikan diri dengan cuaca musim dingin, namun entah kenapa musim dingin itu dingin sekali. Aku sudah sangat menggigil karena jaketku yang tipis , kelaparan dan masih banyak tugas menumpuk, jadi yang bisa kukatakan hanyalah ‘selamat ulang tahun’ dan ‘astaga, maafkan aku, tapi ini dingin sekali, aku tidak kuat, bye’. Diana adalah adik tiriku. Orangtuaku bercerai ketika umurku lima tahun, lalu pada tahun berikutnya, ibuku menikah lagi dan Diana lahir ketika umurku delapan tahun. Ayahku masih membiarkanku mengunjungi ibuku dan adik tiriku—lalu entah bagaimana, aku dan Diana menjadi sangat dekat. Seolah-olah aku bukan kakak tirinya sama sekali—seolah-olah kami benar-benar bersaudara kandung dan bukan saudara tiri sama sekali. Diana tertawa. “Kau menggigil seperti orang sekarat di telepon. Sedingin itukah London? Aku butuh waktu tiga puluh detik untuk mengerti bahwa kau sedang mengucapkan selamat ulang tahun. Oh, ngomong-ngomong, kau mau menginap di mana?” Aku tersenyum sambil melambaikan tangan memanggil taksi. “Bersyukurlah kau diberkahi sinar matahari di sini. Aku menginap di tempat yang sama seperti setahun lalu. Penginapan kecil milik wanita Korea itu—apa namanya? Oh iya, Jae-Kyung’s Bed and Breakfast. Tenang saja, nanti sore aku mampir ke asramamu.” Diana berdiri canggung. “Jadi sekarang aku pulang saja?” Aku mengangguk sambil memasuki taksi. “Ya. Pulang dan bersenang-senanglah dengan teman-temanmu, atau belajar. Aku mau keliling kota dulu—nanti sore kujemput di tempatmu, kita minum teh sama-sama.” Diana tersenyum riang dan melambai pergi, sementara taksiku berangkat ke Jae-Kyung’s Bed and Breakfast.
. . .