Ujian Akhir
Hai Fadhlan!
Sahabat terbaikku sepanjang masa. Apakabar? Sudah nulis apa saja minggu ini? Sudah membaca buku apa aja sebulan terakhir? Ujianmu bagaimana?
Aku ada cerita soal ujian semester kemarin. Boleh kan, teman kecilmu ini bercerita panjang kali lebar kali tinggi sama dengan volume lewat surat ini?
Boleh, ya? Hehe.
Dhlan, dengerin! *heboh*
Alhamdulillah atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, minggu kemarin sahabat kecilmu ini baru saja menyelesaikan Ujian Akhir Semester dengan keadaan lancar dan mumet sekaligus dalam satu waktu. Momen yang paling aku tunggu: mencari waktu untuk mengejar ketertinggalan sejak pertemuan awal perkuliahan. Rasanya sudah ketinggalan sangat jauh sekali dengan teman-teman lain. Sedih.
Karena aku merasa telah menganiaya waktu dan akhirnya menyesal. Padahal masih banyak yang perlu aku kerjakan. Padahal masih banyak tanggung jawab-tanggung jawab yang belum aku penuhi. Parah banget, memang. Aku nggak serajin, seantusias dan sekontinyu kamu dalam hal perkuliahan, Dhlan. Masih butuh banyak sekali motivasi. Semangatin dong, Dhlan!
Okay lupakan, sekarang simak baik-baik ceritaku.
Menjelang H-3 ujian kemarin, aku telah memilih buat mempersiapkan materi uji yang aku kumpulkan dari teman-teman. Tentu ada pelajaran yang aku sangat siap menghadapinya, ada pula pelajaran yang sama sekali aku nggak siap menghadapinya—karena sengaja untuk nggak mempersiapkan diri. Dengan membiarkan tubuh digerogoti kemalasan dan keluhan-keluhan. Aku bahkan memilih untuk membaca novel terbaru karya penulis best seller Indonesia yang malah membuat imajinasiku merayap kemana-mana. Bagaimana dong, Dhlan? Habisnya mumpung dipinjemin bukunya sama tetangga kamar sebelah, yasudah, dibaca saja sampai habis—dalam keadaan sedang Ujian Akhir sekalipun. Kamu tau sendirilah sejak dulu aku suka membaca novel. Lucunya, yang punya buku malah belum baca sama sekali. Kalau kamu punya stok buku fiksi baru, pintuku masih terbuka lebar buat menerima paketan dari kamu loh, Dhlan. Hahaha.
Kebetulan aku menulis surat ini sehabis piket harian asrama (anyway, Fadhlan sudah pindah kost juga apa masih di asrama kampus?). Nah, tadi entah kenapa otak lagi bersih terus tiba-tiba kepikiran sesuatu. Tentang ujian kemarin. Mungkin karena sangking ngerinya semester ini kali, ya. Jadi kepikiran terus-menerus. Beda sama kamu, semua semester juga sama saja. Ah, otakmu terbuat dari apa sih, Dhlan?
Jadi begini, Dhlan. Kalau seandainya kemarin aku mempersiapkan matang-matang materi-materi ujian dari setiap mata kuliah yang ada, seperti misalnya: melakukan semua hal yang dosen perintahkan tanpa berkata tapi, mendengarkan dengan baik materi-materi yang disampaikan dari setiap pertemuan, mencatat hal-hal yang sekiranya penting untuk dicatat, mengerjakan tugas-tugas dengan baik, rajin masuk dan juga belajar dengan tekun ketika masuk masa-masa ujian itu.
Pertanyaannya adalah, kalau seandainya aku melaksanakan hal-hal diatas dengan baik, terus datang masa-masa ujian, kira-kira menurut kamu aku merasa tenang atau grusa-grusu kalau mengerjakan, Dhlan? Kira-kira aku santai atau terburu-buru?
Pasti santai dan tenang, kan, Dhlan, ya?
Beda kalau aku jarang mendengarkan dosen waktu menyampaikan materi, aku nggak mencatat hal-hal penting yang dijelasin dosen, aku suka bolos, pun aku nggak mempersiapkan materi ujian dengan baik ketika masa ujian datang. Pasti waktu mengerjakannya aku grusa-grusu, nggak karuan, pinginnya cepet selesai aja. Nggak bisa santai dan tenang. Ya kan, Dhlan?
Sebetulnya ini nggak cuma ketika ujian saja sih, kalau semisal ada kuis mendadak gitu. Seandainya jauh-jauh hari aku sudah mempersiapkan materi dengan baik, maka tenang dan tentramlah aku waktu mengerjakannya.
Sama, Dhlan. Sama kayak kita waktu mendapat ujian dari Allah. Kalau kita menyiapkan diri dengan baik. Seperti banyak-banyak menambah ilmu agama. Banyak-banyak belajar akhlak. Membersihkan hati dari semua sifat buruk. Rajin-rajin mengunjungi Allah disepertiga malam. Rajin-rajin membaca Qur’an. Rajin ikut kajian-kajian rutin. Rajin mendatangi majelis-majelis ilmu. Maka, ketika sudah datang ujian dari Allah kapanpun, mengerjakannya mungkin akan dengan tenang mengerjakan ujiannya. Nggak grusa-grusu. Santai. Pasti. Dan tetap berkualitas.
Beda kalau kita sebelum-sebelumnya nggak pernah mempersiapkan materi ujiannya dengan baik. Ya kalau kita nggak pernah mempersiapkan materi ujian terus tiba-tiba datang ujian dari Allah? Semacam mahasiswa yang tiba-tiba ada kuis dari dosen tapi malamnya nggak belajar. Bagaimana coba, Dhlan? Mesti mengerjakannya grusa-grusu, pingin cepat selesai aja gitu, kan?
Paham maksudku?
Padahal mah, ujian dari Allah itu sudah pasti. Enggak mungkin enggak. Harusnya kan kita juga harus sudah pasti juga menyiapkan materinya. Kalau enggak begitu pasti kelimpungan.
Berarti, ya, Dhlan. Kalau kita sedang diuji sama Allah, kita menyalahkan Allah gara-gara katanya enggak kuat memikul beban ujian, kayaknya kita yang perlu muhasabah. Ngaca baik-baik. Memperhatikan setiap jengkal wajah. Apakah kita sudah menyiapkan materi ujian dengan baik selama ini? Apakah kita rajin baca Qur’an? Apakah kita rajin bertamu disepertiga malam kepadaNya? Apakah kita rajin mendatangi majelis-majelis ilmu?
Dhlan, cukup segitu dulu saja ocehanku kali ini. Terimakasih sudah dengan sabar menyimak. Hahaha. Kamu jaga diri dan jaga kesehatan baik-baik, ya.
Sehabis ujian, liburan ini kamu mau kemana ngomong-ngomong? Kalau kamu pulang dan aku juga pulang, kita main ke curug sama-sama mau nggak? Sama teman-teman lain juga.
The same Dira.
Sahabat kecilmu yang suka meracau.












