Dear Sisters,
Pernahkah mengalami dimana kita sudah merasa banyak beribadah, membasahi lisan kita dengan dzikir kepada Allah, namun hati ini tetap merasa resah, dan solusi untuk masalah hidup tetap tak kunjung datang?
Seringkali kita juga melihat, banyak orang yang tidak pernah meninggalkan wirid hariannya, tapi akhlaknya tetap tercela. Karena dzikir yang dilantunkan hanya sampai pada lisannya saja, tidak menghidupkan hatinya. Karena hanya dilakukan sebagai rutinitas keseharian, ataupun kebiasaan turun temurun, tanpa bisa mengerti dan mendalami makna apa yang ia baca.
Perbedaan hidup dan mati hati manusia adalah pada kemampuan berdzikir. Orang yang tinggi kedudukannya di sisi Allah adalah orang yang selalu memuji Allah dengan bertasbih, “(Yaitu) orang yang mengingat Allah, sambil berdiri, duduk atau berbaring.” QS. Ali-Imran: 191.
Seluruh makhluk Allah tidak henti-hentinya bertasbih. Malaikat, gunung-gunung, bahkan seluruh alam semesta pun senantiasa bertasbih. “Mereka (malaikat-malaikat) bertasbih tiada henti-hentinya malam dan siang.” QS. Al-Anbiya: 20.
Imam Ghazali menjelaskan, bahwa dzikir mengharuskan adanya rasa suka dan cinta kepada Allah ta’ala. Lalu bagaimana caranya agar bisa membangun rasa?
Bagi fitrah manusia, pertama kali rasa suka terbangun bila kita bisa merasakan ada banyak kebaikan padanya, lalu cinta dan pengabdian akan tumbuh sebagai ungkapan rasa terima kasih atas semua kebaikannya.
Dalam musnad Imam Ahmad, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada satu hari pun yang berlalu melainkan laut meminta izin kepada Rabbnya untuk menenggelamkan bani Adam. Para malaikat juga meminta izin kepada Allah untuk segera menangani dan mematikan mereka. Sementara Allah berfirman, “Biarkanlah hamba-Ku. Aku lebih tahu tentang dirinya ketika Aku menciptakannya dari tanah. Andaikan ia hamba kalian, maka urusannya terserah kalian. Karena ia hamba-Ku, maka ia berasal dari-Ku dan urusannya terserah kepada-Ku.”
Maka “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.” QS. Ar-Ra’d: 28, karena “Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” QS. Al-Hajj: 46.
Bertasbih tidak akan terlihat efeknya, bila hati tidak dipenuhi rasa cinta dan ketulusan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
“Dan (ingatlah kisah) Zun Nun (Yunus) ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka ia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, ‘Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.’ Maka Kami kabulkan doanya dan Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” QS. Al-Anbiya: 87-88.
Allah menyebut kondisi Nabi Yunus as. dengan ‘fiy zhulumaat’, yang artinya dalam kegelapan-kegelapan. Karena ada tiga kegelapan yang dialami Nabi Yunus, yaitu gelap malam, gelap dalam laut, dan gelap dalam perut ikan. Seandainya Nabi Yunus tidak menyesal dan bertasbih kepada Allah, dia akan berada dalam perut ikan selamanya.
Kekuatan bertasbih juga ditunjukkan pada kejadian isra’ mi’raj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang mampu berpindah tempat dalam waktu singkat. Juga seorang sholih yang bisa mengalahkan kekuatan jin untuk bisa memindahkan kerajaan Ratu Bilqis ke hadapan Nabi Sulaiman sebelum mata berkedip. (QS. An-Naml: 40).
Maka perhatikanlah bagaimana Allah membela manusia, meski manusia sangat suka melakukan perbuatan dosa, Allah selalu mendahulukan maaf-Nya ketimbang azab-Nya. Maka sewajarnya bila kita menunjukkan rasa syukur dengan bertasbih memuji asma-Nya. Bahkan ketika bertasbih dengan tulus pun, Allah makin menumpahkan nikmat-Nya kepada hamba-Nya.
“Ini termasuk karunia Rabb-ku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Rabb-ku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” QS. An-Naml: 40.
Frasa: Perempuan, Ilmu, dan Rasa















