"Thank you for giving me a feeling that I have never felt before."

seen from Germany
seen from Türkiye
seen from United States
seen from China

seen from Martinique

seen from Martinique
seen from China

seen from Singapore

seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Germany

seen from Germany
seen from United States
seen from South Korea
seen from United States

seen from Canada
seen from Australia
seen from Türkiye
seen from Singapore
"Thank you for giving me a feeling that I have never felt before."
Kau ceritakan tentang langit dan bulan keliatan retak dari bumi seperti piring pecah yang dipeluk malam.
Mereka bercerita tentang rindu, tapi telingamu sudah penuh omong kosong cinta.
Dunia ini terlalu banyak bicara, sedangkan sunyi adalah bahasa terakhir yang kau dan aku masih sulit untuk pahami.
Completa la frase: “Si tuviera que empezar desde cero otra vez, esta vez NO haría ________”.
001.
bicaralah pada gemericik air yang kau kacaukan dengan lnagkahmu,
"aku mencintainya, namun sudikah ia mendengar ku?"
katakan pula pada angin, tentang hasrat yang kau miliki tanpa kemampuan menamai.
Bakaheuni, 12 Maret 1996
—menulis surat cinta, 17.39 pm.
Semua orang boleh keras kepala, kecuali aku. Semua orang boleh egois, kecuali aku. Semua orang boleh marah, kecuali aku. Padahal aku juga manusia, apakah kamu lupa?
- Sastrasa
Rasa dalam Kata
Saya selalu terpesona dengan kata. Rangkaian huruf yang perlu dirangkai dengan sedemikian rupa agar menjadi sebuah pesan. Kemudian perlu juga dimaknai seperti sedang memecah sandi.
Pernahkah Anda berpikir seperti ini: kata-kata sebetulnya adalah deretan kode rahasia. Beruntunglah kita yang sejak kecil diajari untuk memahami pola-pola sandi tersebut. Kita yang bisa membaca sebetulnya merupakan encoder dan decoder pesan-pesan rahasia. Apa yang kita baca dalam keseharian sebetulnya merupakan kesepakatan sekelompok manusia dalam memahami lambang-lambang acak. Keren, kan?
Mempelajari bahasa lain sama saja dengan mengetahui lebih banyak sandi rahasia. Pemahaman ini membuat kita memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengerti informasi mendalam tentang hal-hal lain di dunia. Tentu pengetahuan terdalam tentang budaya lain hanya bisa kita dapatkan melalui sandi yang digunakan oleh masyarakat tersebut. Jika direnungkan seperti ini, bukankah kemampuan literasi terlihat sungguh berharga?
Hidup di dunia serba teknologi seperti sekarang membuat kita sering terlena. Merasa segala sesuatu bisa digantikan oleh pesan visual dan audiovisual. Padahal, salah satu dasar yang penting adalah bagaimana kita harus menjadi pemecah sandi literasi.
Ah, mungkin saya terlampau tradisional. Mungkin kaum muda akan berpikir, untuk apa memahami sesuatu yang usang? Tapi saya masih yakin bahwa sesuatu yang lambat dan membutuhkan proses akan menempa dengan lebih baik ketimbang sesuatu yang disodorkan secara instan di depan hidung kita.
Tahukah Anda mengapa menulis itu hal yang sulit? Karena sejatinya menulis adalah memampatkan konsep yang begitu luas, liar, dan tak terbatas ke dalam kata-kata, kalimat, paragraf. Ribuan hal yang ingin kita sampaikan harus diterjemahkan dalam pilihan kata. Tak heran, orang bilang kata adalah senjata. Jika senjata kita tak lengkap, bagaimana bisa kita berperang melalui tulisan?
Sebagai pembaca, kita juga merupakan orang-orang hebat. Kita adalah orang yang mau berusaha untuk mendapatkan kesenangan. Kok bisa? Foto dan video bisa secara langsung menunjukkan suatu hal. Tulisan? Kita yang harus menerjemahkan dan mengimajinasikan sendiri. Apalagi kalian yang membaca tulisan fiksi, benak selalu dilatih untuk berkelana dengan berbagai perspektif. Terkadang bahkan sudut pandang dari benda mati atau makhluk aneh dari dunia fantasi. Hebat, bukan? Percayalah, Anda sudah cukup langka di dunia :)
Orang boleh bilang, manusia berbeda dengan spesies lain karena punya hati nurani atau kecerdasan tinggi. Tidak juga. Menurut saya, makhluk hidup lain juga punya kasih sayang dan intelektualitas yang luar biasa. Namun, siapa yang menulis syair tentang patahnya hati? Siapa yang berkisah tentang petualangan musafir di padang gurun? Siapa yang mencatat ajaran agama dalam kitab-kitab? Saya belum pernah tahu ada tikus, gurita, sapi, atau elang menulis. Hanya manusia saja yang memiliki budaya literasi.
Sepenting itulah budaya menulis. Budaya yang memampukan manusia mewariskan hal-hal terpenting di seluruh dunia. Pengetahuan, teknologi, budaya, bahasa, apapun itu. Semua tersimpan rapi dalam sandi literasi.
Terlebih dari fakta yang bersifat eksak, saya percaya dalam kata juga tersimpan rasa yang tak bisa ditakar. Kadang, jumlahnya tak terhingga. Apalagi bila diutarakan oleh mereka yang hemat bicara.
"Jangan pulang malam-malam."
"Jangan lupa istirahat cukup."
"Mau dimasakkan apa?"
Sesuatu yang begitu sederhana, tetapi menyingkap isi hati terdalam. Saya yakin Anda juga bisa merasakan cinta yang terselip di balik kata-kata itu.
Perkataan adalah wujud buah pikiran, ide, emosi, dan segala hal yang ada. Kata-kata menyimpan beribu makna mendalam. Memang tak selalu diterima dan dipahami dengan baik. Namun, akan selamanya ada; menunggu pemecah sandi yang cakap dan cermat untuk mengungkap rahasianya.
Dear Sisters,
Suatu hari Umar bin Khattab memarahi seorang lelaki yang ingin menceraikan istrinya dengan alasan sudah tidak cinta lagi. “Celaka engkau! Apakah rumah tangga hanya dibangun atas dasar cinta? Lalu dimanakah perawatan yang harus engkau lakukan? Dimana janji yang telah engkau ucapkan?”
Siapa yang tidak takut dengan seorang Umar, karakternya yang keras dipakainya untuk melibas kebathilan. Bahkan setan pun lari bila melihatnya. Tapi untuk urusan keluarga, beliau mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang bersabda, “Aku adalah orang yang paling baik terhadap keluargaku.”
Umar terbiasa dengan kemarahan istrinya kepadanya, dan Umar tidak pernah membalas istrinya. “Bagaimana aku bisa marah kepada istriku, karena dialah yang mencuci bajuku, dialah yang memasak roti dan makananku, ia juga yang mengasuh anak-anakku, padahal semua itu bukanlah kewajibannya. Karena istriku, aku merasa tentram (untuk tidak berbuat dosa). Maka hendaknya engkau mampu menahan diri karena yakinlah kemarahan istri itu hanya sebentar.”
“Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” QS. An-Nisa: 19.
Kecintaan terhadap sesuatu tidak hanya sekedar rasa, yang bisa mati karena kecewa, bisa mendendam karena marah, bisa membalas bila disakiti. Kecintaan seorang muslim adalah tentang memberi maaf dan menyemai kebaikan, untuk memanen hasilnya di akhirat kelak.
Cinta terhadap diri, bukan hanya bicara tubuh, bagaimana sibuk mempercantik diri. Semestinya kita ingat bahwa tubuh ini milik Tuhanmu. Maka harus dijaga sesuai dengan keinginan Allah, agar tubuh ini tidak mengundang maksiat, dan terus terjaga harga dirinya hingga ke liang lahad.
Cinta kepada orang lain, bukan bicara bagaimana harus memiliki sepenuhnya. Tapi bagaimana bisa membangun rasa empati, ada ketika dibutuhkan, memberi tanpa diminta, meluruskan bila salah.
Cinta kepada kebendaan, bukan bicara bagaimana bisa menumpuk kekayaan dan menjaganya biar tidak pernah habis. Tapi bagaimana kekayaan itu diperoleh secara halal, dapat membantu orang lain yang kesulitan ekonomi, sehingga keberkahannya naik ke langit sebagai penambah catatan amal kebaikan, dan Allah membalas berlipat ganda dalam bentuk rizki yang dia kehendaki. Tak melulu dalam bentuk materi (uang), tapi bisa berupa kesehatan, keluarga yang bahagia, lingkungan tetangga yang baik, ketenangan dalam hidup.
Cinta dengan ruang dan waktu, bukan bicara dejavu, sehingga tidak mau keluar dari masa lalu. Tapi menjadikan masa lalu sebagai pelajaran kehidupan, meneruskan kebaikan bila ada, meninggalkan masa kelam jauh di belakang. Karena kita hidup bukan untuk masa lalu, tapi untuk masa depan.
Maka cinta bukanlah bercerita tentang “aku”, tapi cinta bercerita tentang dalam membangun peradaban. Cinta adalah sebagaimana bisa banyak memberi, sedikit menerima.
Kondisi akan terus berubah, kita tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi harus siap untuk segala kondisi. Kesiapan hanya bisa dilakukan bila ada kekuatan besar yang disiapkan. Kekuatan itu bernama iman. Pun ketika ditinggalkan teman, iman pasti menemani kita dalam kesendirian.
Frasa: Perempuan, Ilmu, dan Rasa
For Halloween I wanted to dress up Frasa and Skels as other characters and honestly they work so well as Gomez and Morticia,,,, 🦇🦇🦇