Tes Substansi LPDP Luar Negeri 2017
Aku mau berbagi nih soal pengalamanku dalam tes substansi LPDP di Jakarta 1 yang kesemua ujiannya dilaksanakan dalam satu hari. Wuih, dari pagi sampe sore beneran. Satu kata : menarik !
Langsung aja nih, jadi mengenai ujiannya, ada beberapa:
1. Essay on the Spot. Ada dua topik yang sama-sama filosofis tentang Indonesia, dan aku akhirnya memilih topik pertama yakni bagaimana menjaga Keutuhan NKRI. Mengingat dari writing IELTS, aku menulis dengan skema Introduction-Problems-Solutions. Simpel kok.
2. Leaderless Group Discussion. Agak zonk nih karena sebelum tes, selama 15 menit kelompok LGD kami berkumpul dan atur strategi untuk siapa yang bicara duluan, bagaimana mekanisme bicaranya, dan sebagainya. Eh pas pelaksanaan, yang ngomong duluan malah orang lain. Diskusi pun saut-sautan, ga urut dan ga rapi. Di sini yang jadi tantangan soal bagaimana aku bisa menyampaikan pendapat dengan baik yakni dengan angkat tangan, dan membatasi diri dengan bicara hanya dua kali. Btw temanya soal Academic Cheatting. Soal cara bicara sih sederhana sebenernya, kayak diawali dari kenalan, apresiasi pendapat orang, lalu sampaikan pendapat dengan efektif dengan skema problems-solutions dengan batasan 1-2 menit bicara. Selanjutnya, soal cara menyimak, pastikan ga asik sendiri buat nulis. Saya sih dalam menyusun ide bikin mindmap, lalu menulis nama tiap peserta beserta ide2 inti mereka, dan menatap mereka dengan penuh perhatian *cieee* tiap siapa yang bicara!
3. Wawancara. Masa ini antara deg-deg an dan enggak, karena waktu tunggunya cukup lama, sekitar 4,5 jam antara tes terakhir dengan tes wawancara ini. Nah, soal konten wawancara ini menarik dan aku mau berbagi dengan lumayan detail soal daftar pertanyaan dan jawabanku. Sebelumnya, soal bagaimana aku menyiapkan ini tuh lebih serius daripada ujian yang lain (bahkan gw ga latihan nulis essay samsek dong:(. Sehari pun bisa latian wawancara lima kali, nyiapin FAQ sampai 100++ soal dan jawaban full english, nemu hot document dan lain lain. OK lanjut. Jadi wawancaranya campur, indo dan inggris. 30% English, 70% Indo. Yang English tentang studi aja sih sama perkenalan di awal. Tapi, ini kutulis semua di bahasa indo aja ya. Karena ada tiga pewawancara, kutulis X Y Z, dan aku kutulis A yak, Okay? *kurang lebih kontennya seperti di bawah ini
X: Coba kenalkan tentang diri kamu, keluarga kamu, dan tujuan kamu studi.
A: Nama saya Angga Fauzan, saya lulus dari DKV ITB di tahun 2016 dan kini mendaftarkan diri di Design and Digital Media, Edinburgh University. Saya berasal dari Boyolali, Jawa Tengah. Keluarga saya terdiri dari Ayah yang bekerja sebagai pengrajin, Ibu yang bekerja sebagai penjual gorengan, dan adik perempuan yang kini SMP. Saya punya sedikit cerita tentang pendidikan saya. Sejak lulus SD, orangtua saya mendorong saya agar mendaftar di sekolah yang dekat namun saya enggan, akhirnya saya nekat bersekolah di SMP favorit di kota saya. Setelah lulus, orangtua saya meminta saya untuk tak perlu melanjutkan sekolah. Tapi saya menjelaskan bahwa pendidikan amat penting. Akhirnya saya mendaftar sendiri di saat pendaftar lain datang bersama keluarga dan teman. Saya pun diterima, dan mendapatkan 14 piagam kejuaraan seperti desain poster, pidato, mading, dan sebagainya…
X: Maaf, boleh tolong bicaranya diperlambat sedikit?
A: Okay, pak. Hehe. Usai lulus SMA, orangtua saya kembali melarang saya untuk melanjutkan studi karena berkuliah apalagi di ITB sangat mahal. Terlebih lagi, saya adalah siswa pertama yang memilih ITB dari SMA N 3 Boyolali. Namun saya tetap ingin kuliah, dan meskipun di percobaan pertama masuk ITB saya gagal, saya tidak menyerah dan mencoba lagi hingga berhasil dengan beasiswa Bidikmisi. Di ITB, saya bergabung di beberapa organisasi, saya pernah menjadi ketua Pemilu Raya KM-ITB dan membangun Boyolali Bergerak bersama kawan-kawan saya ketika saya di tingkat empat. Terakhir, kami membuat sebuah TPA di Boyolali, kami membuka donasi dan mendapat 10 juta dalam dua hari pertama. Setelah lulus, saya bekerja di Qlue Smartcity sebagai Brand Strategist. Qlue sendiri adalah startup yang mengembangkan platform smartcity di Indonesia, salahsatunya di DKI Jakarta.
X: Apakah kamu membawa portfolio kamu?
A: Ya, Pak. Saya membawa tiga dokumen. Pertama, adalah dokumentasi aktivitas saya, kedua adalah portfolio karya saya, dan yang ketiga adalah dokumen pendukung yang menunjukkan data-data bahwa kampus tujuan saya adalah pilihan yang tepat seperti Silabus, APBN, LoA,Edinburgh, Email, dan sebagainya.
X: (membuka portfolio karya). Ini buatan kamu?
A: Ya, Pak. sebagian ada yang karya bersama, namun yang itu karya saya.
X: Sejak kapan kamu suka visual art?
A: Sejak kecil saya suka menggambar Pak, dan ketika saya SMA, saya ngajarin adik saya nggambar bareng, Kemudian dia ikut sebuah kompetisi nasional dan mendapat juara dua. Kami berdua memang sama-sama suka visual art.
X: Kamu suka ikut lomba nggambar ya?
A: Iya, pak. Dari SD saya ikut lomba menggambar namun masih kalah. namun saya nggak berhenti buat suka ngegambar. awalnya, kedua orangtua saya melarang saya untuk menggambar karena boros untuk membeli peralatannya seperti krayon dan lainnya. Untuk itu, saya biasa mengumpulkan uang saku untuk membeli perlengkapan menggambar. Akhirnya, saya dan adik saya bisa memenangkan berbagai kompetisi berkat hobi menggambar kami. sejak saat itulah kami diperbolehkan untuk terus menggambar.
X: Ketika kuliah kamu suka ikut lomba juga?
A: Ya, Pak. Saya pernah memenangkan photographic competition yang diadakan oleh PPI Jepang dan mendapatkan juara 3. Selain itu, saya juga mengontribusikan kemampuan saya di bidang desain di beberapa organisasi seperti menjadi kepala divisi kreatif di Aku Masuk ITB 2014.
X: Jadi kamu lulus di tahun 2016? Apa yang kamu lakukan setelah lulus?
A: Ya, pak. Jadi, sebelum wisuda, ada jangka waktu 2 bulan. Saya mengambil kesempatan magang di kemenristekdikti selam tiga bulan, kemudian bekerja di Badan Ekonomi Kreatif hingga akhir 2016. Lantas, bekerja di Qlue Smartcity hingga sekarang.
X: Lalu kenapa kamu ingin melanjutkan studi di jenjang yang lebih tinggi?
A: Jadi, begini pak. Presiden kita menargetkan di tahun 2019, Indonesia bisa mendatangkan 20 Juta Wisatawan Asing. Kemudian, Menteri Pariwisata Indonesia mengatakan bahwa Pariwisata akan jadi tulang punggung ekonomi baru Indonesia di masa depan. Selain itu, berdasarkan peraturan pemerintah tentang otonomi daerah, dijelaskan bahwa tiap daerah di Indonesia harus bisa mandiri di ekonomi, salahsatunya lewat pengoptimalan pariwisata lokal. Di sini, saya melihat potensi pariwisata Indonesia. Selain itu, saya juga ingin melanjutkan Tugas Akhir saya di ITB mengenai tourism yakni Travel Journal of Bandung. Untuk itu, saya ingin meningkatkan skill saya di bidang tourism Branding. Oleh karena itu, saya melihat kesempatan untuk diri saya berkontribusi di bidang ini di LAPI ITB yang merupakan partner strategis dari Kementrian Pariwisata RI. Saya sudah ngobrol dengan beberapa kawan saya di sana, dan bahkan dengan Pak Menetrinya sendiri saat acara Reuni Alumni ITB bahwa pariwisata memang punya peran dan potensi besar, serta LAPI ITB adalah partner strategis dari Kemenpar. Nah, untuk bergabung di LAPI ITB, saya harus mendapatkan Master degree. Sehingga, hal ini yang membuat saya memutuskan untuk melanjutkan studi S2 dan saya memilih Design & Digital Media Edinburgh University karena dua alasan. Pertama adalah kualitas universitasnya, peringkat 20 terbaik dunia di tahun 2016, dan di subject art & humanitiesnya di peringkat 19 terbaik dunia. Kedua, Kota Edinburgh sendiri mampu mendatangkan 4,5 juta wisatawan per tahun. Indonesia sendiri sebagai sebuah negara dengan banyak kota di tahun ini baru menargetkan 16 juta. Jadi, jika kita bisa mendapatkan strategi dan insight dari Edinburgh lalu diterapkan di Indonesia melalui LAPI ITB, saya bisa membantu mengembangkan pawirisata Indonesia di masa depan.
X: (liat-liat berkas di form pendaftaran saya di laptopnya) Hm.. jadi kedua orangtua kamu nggak sekolah ya?
A: Ya, Pak. Tadi pagi saya pun menelpon ibu saya dan beliau sangat mendukung dan yakin insyallah saya bisa.
Y: Angga tadi menunjukkan di dokumentasi kegiatannya bahwa kegiatan kamu sangat banyak, prestasi kegiatannya sangat banyak. Pasti ada satu titik keberhasilan kamu yang besar, nah bagaimana cara kamu mencapai tiitk keberhasilan itu?
A: Saya mau cerita Bu saat saya menjadi ketua First Movement ITB 2012. Jadi ini merupakan suatu kepanitiaan yang dibentuk oleh mahasiswa baru ITB 2012, saya menjadi salahsatu ketua kelompok. Tiap ketua kelompok di OSKM dikumpulkan, dan ditanya siapa 10 orang yang merasa paling bertanggungjawab terhadap Indonesia, saya angkat tangan, dan akhirnya terkumpullah 10 orang ini. Saya pun dipilih jadi ketua. Nah disinilah masalahnya. Saya sebagai anak baru dari desa yang tak paham banyak, kemudian di sisi lain, uang saku dari orangtua untuk satu semester saat itu sekitar 700 ribu. Jadi saya tak pernah dapat uang bulanan dari ortu, paling 400 500 700 ribu untuk satu semester dan bergantung banyak dengan bidikmisi. Nah, saat itu uang bidikmisi belum turun. Jadi saya harus benar-benar menghemat uang makan saya. Seringkali malam saya lapar banget namun nggak bisa jajan karena kalau saya makan malam ini, besok saya nggak makan. makannya harus dihemat sebaik mungkin. Ditambah lagi, tugas di TPB FSRD sangat mahal dan banyak, saya sering begadang untuk mengerjakannya. Belum lagi, adanya kaderisasi FSRD hingga malam. Bagi saya, beberapa hal ini susah saya kendalikan semuanya untuk membagi waktu, uang, dan sebagainya. Jujur, saya pernah meninggalkan kepanitiaan tersebut selama beberapa minggu karena saya berpikir bahwa saya gabisa. teman-teman pun pada nyariin, mulai nggak respek, dan ketika ngumpul pun suka pada ngobrol sendiri. di sinilah titik terbawah saya ketika saya berpikir bahwa saya nggak bisa jadi pemimpin. sehabis itu, presiden KM-ITB saat itu mengajak saya ngobrol, namanya Anjar Dimara Sakti. saat itulah saya menemukan mentor pertama saya hingga saat ini. Beliau mengajarkan banyak hal, beliau percaya bahwa saya bisa menjalani ini, membantu memberi solusi untuk menyelesaikan a dulu baru kemudian b c d. Akhirnya, kepanitiaan pun selesai, saya mendapatkan IPK cumlaude pertama saya yang membuat orangtua saya awalnya kaget karena berpikir “3,6 kok seneng banget?” karena mereka awalnya memahami bahwa nilai itu 1-10. Berikutnya, dari saya yang berpikir bahwa saya nggak bisa jadi pemimpin, beberapa tahun kemudian saya menjadi ketua Pemilu Raya di kampus. dan saya bahkan memberanikan diri untuk mencalonkan diri menjadi presiden BEM. disinilah saya merasa cukup berkembang jauh dibanding saya sewaktu di tingkat satu.
A: kalah hehe. Namun nggak masalah. karena saat saya ingin mencalonkan pun ka Anjar bilang, ini bukan soal menang atau kalah, namun ini soal bagaimana saya memberanikan diri, membangun tim, berbagi gagasan ke temen-temen.
Y: Ya, benar. Sebenarnya, apa yang kamu rasakan ketika kamu gagal tadi?
A: jujur awalnya saya merasa sendiri. Namun, akhirnya saya sadar sih bahwa saya punya Tuhan, saya punya orangtua, saya juga punya ka Anjar sebagai mentor saya. yang berikutnya, saya berpikir bahwa Tuhan nggak mungkin ngasih beban di luar kemampuan kita sih Bu. bahwa sebenernya Tuhan nggak memberikan masalah, tidak ingin menjatuhkan kita, namun peluang untuk menguatkan kita. hal ini pula yang akan tetap saya pegang ketika andaikan nanti diterima kuliah di Edinburgh, ketika menghadapi masalah, saya akan selalu berpikir bahwa Tuhan nggak akan memberikan masalah di luar kemampuan saya.
Y: yang saya lihat, kamu adalah tipe orang yang setiap menghadapi masalah selalu membutuhkan bantuan orang lain, nggak sendirian. soalnya ada tipe orang yang ketika ada masalah, dia kerjain sendiri, diambil sendiri.
A: Iya, soalnya kalau saya pegang sendiri, nanti bakal pusing sendiri Bu. makannya, saya biasa cerita ke teman, minta bantuan, bagi-bagi tugas dan sebagainya. dan ini bagi saya penting.
Y: Ketika kamu mempimpin, misalnya di Pemilu Raya tadi, kamu kan punya tim dengan berbagai karakter. Nah, bagaimana kamu memanajemen orang-orang ini?
A: boleh saya menggunakan contoh pengalaman saya yang lain Bu? Jadi, ketika saya menjadi koordinator Acara di National Leadership Camp, yakni kegiatan 5 hari penyambutan bagi awardee baru angkatan 8 Rumah Kepemimpinan yang berjumlah sekitar 250 orang dari berbagai kota di Indonesia. Nah, tim saya pun tersebar di berbagai kota. walhasil, kami mengandalkan google hangout, whatsapp untuk menjalankan kegiatan. kadangkala juga kami main, seperti ke lembang, bandung sambil rapat. Nah, di sini saya berusaha menggunakan pendekatan yang humanis, nggak melulu bahas proker, targetan, timeline dan sebagainya. namun saling ngucapin ulangtahun, curhat, dan sebagainya. menurut saya, hal ini penting. Kak Anjar pun pernah bilang bahwa pengetahuan teknis sejago apapun bakal kalah dengan pendekatan interpersonal. terlebih, untuk kegiatan volunteer seperti ini, kedekatan antar anggota tim sangat penting. kedua, sebenernya saya tipe stalker. Saya selalu berusaha mencari tau siapa tim saya, saya bukain medsosnya, kalau perlu bertanya ke temannya soal bagaimana sih dia, bagaimana pengalaman dia di kampus dan sebagainya. di akhir, alhasil kepanitiaan kami cukup sukses. kami bisa mengundang tokoh-tokoh besar seperti Sudirman Said, Anies, Sandi, Pak Yoyok, Zacky Bukalapak dan lainnya. Dan 250 orang ini pun membentuk komunitas-komunitas kecil di tiap regionalnya, ada yang bidang pencegahan anti korupsi, pendidikan, lingkungan dan sebagainya.
Y: Tadi pas kamu pertama masuk, Ibu kira kamu anak SMP (batin gue, duh buu). Nah, kamu pernah nggak digituin? tanggapan kamu bagaimana?
A: hahaha cukup sering Bu. misal ketika saya mencalonkan diri menjadi presiden BEM, banyak teman-teman yang nanya ke tim saya, itu beneran 21 tahun? Kemudian temen saya bilang, orangnya emang kecil, tapi idenya besar. hehe. Kemudian sebenarnya ketika di ultah saya terakhir, saya membuat survey tentang pandangan orang-orang kepada saya, kesalahan yang pernah saya buat, kelebihan saya, apa yang perlu ditingkatkan, kontribusi yang bisa saya perbuat dan sebagainya. ada juga yang bilang bahwa “mas angga, makannya diperbanyak ya biar lebih gede.”
X: usai kamu kuliah S2, kamu mau bekerja di mana?
A: Saya mau di LAPI ITB, karena LAPI ITB adalah partner strategis dari Kementrian Pariwisata. saya membawa dokumen yang menunjukkan berbagai lelang dan kerjasama antara LAPI ITB dan Kemenpar. Di struktur LAPI ITB pun ada divisi di bidang pengembangan Pariwisata Indonesia.
X: Kamu punya kenalan orang di LAPI ITB?
A: Ya, pak. karena sebenarnya orang-orang di LAPI ITB adalah dosen ITB sendiri.
X: Jadi kamu juga ingin jadi dosen?
A: Ya karena anggota LAPI ITB umumnya adalah dosen ITB. Namun sepertinya akan ada pembagian fokus, seperti 70% untuk LAPI ITB dan 30% untuk ngajar di ITB.
X: Kamu yakin diterima di LAPI ITB?
A: Ya, Pak. jadi, semasa kuliah saya sudah menulis beberapa paper tentang pengembangan kota kreatif dan dipresentasikan di UNS, Universitas Negeri Malang, Universitas Bakrie. Dan tugas akhir saya pun merancang desain tentang tourism, yakni Travel Journal of Bandung. Saya juga terus mengembangkan kemampuan desain saya. Jadi, saya menyiapkan semuanya.
X: Plan B kamu apa andai nggak keterima di LAPI ITB?
A: Saya nggak akan keluar dari sektor pariwisata, Pak. kemungkinan jika tidak di LAPI ITB, ya Kementrian Pariwisata itu sendiri. Di reunian alumni ITB yang diadakan di gedung Kemenpar kemarin pun, saya berbicara dengan beberapa teman di kemenpar, dan mereka menyarankan untuk bekerja di LAPI ITB, atau di Kemenpar.
Z: Angga, kamu ketika kecil pernah sakit?
A: Alhamdulillah enggak Pak. saya ga pernah masuk rumah sakit, sampai operasi. masuk angin pun jarang. saya selalu menjaga badan saya agar tetap fit. saya suka berjalan jauh. sejak SMP dan SMA, dengan sekitar 3 0kilometer bolak balik naik bus kemudian saya masih harus jalan kaki lagi. saat ini pun lokasi kos saya sekitar 1 kilometer dan hal ini membantu saya untuk tetap berjalan kaki dan menjaga fisik agar tetap sehat.
Z: nah sebenarnya ini untuk mengetahui nanti ketika kamu diterima kuliah di luar negeri nanti, kamu akan tetap sehat. Hmm dari perjuanganmu sejauh ini, sebenarnya apa sih yang ingin kamu capai selama hidup?
A: Jadi begini pak, selama kuliah saya punya beberapa mentor. Salahsatunya saya dapatkan ketika saya di Keluarga Remaja Islam masjid Salman ITB. saat itu, mentor saya mengajarkan mengenai tujuan hidup yang awalnya saya pun bingung. Dia meminta saya buka Al-qur’an surat al-ankabut ayat 51 kalau nggak salah yang menyatakan bahwa jika kita berpegang teguh pada Ridha Allah maka sejatinya kita berpegang pada tali yang kokoh. Mentor saya juga memberikan ilustrasi, misal kita punya tiga anak. Pertama, menurut kepada kita karena takut kita marahi, kedua karena menginginkan hadiah, ketiga karena murni mencintai kita. Pilih yang mana? tentu yang ketiga. nah, begitupula dengan hidup. ada yang menuruti perintah Tuhan karena takut masuk neraka, karena ingin surga, dan karena memang murni mencintai dan mengejar ridha Allah. Jadi, tujuan hidup saya adalah mencapai ridha Allah, yang dibagi menjadi tiga, hubungan kita ke Allah, ke sesama manusia, dan ke lingkungan. Tiga hal ini kan masih luas, kemudian saya lihat ke diri saya. apa yang bisa saya berikan untuk mencapai ridha Allah? nah, saya suka visual art, sampai kuliah pun diberikan jalan di DKV ITB dengan tugas akhir tentang tourism. belum lagi, Indonesia pun potensinya banyak, yang bisa diajak kerjasama pun banyak. nah, di sini saya memahami bahwa mungkin mengembangkan pariwisata di Indonesia adalah bentuk saya mencari ridha Allah.
Z: *muji muji katanya secara konseptual bagus, secara pelaksanaan konkret, bilang juga bahwa LAPI ITB proyeknya pun emang banyak, bla bla*
X: Okay, terus biaya di Edinburgh ini berapa?
A: jadi, untuk biaya kuliahnya sekitar 350 juta, jika ditotal dengan living cost sekitar 700-800 juta. Ini lebih murah daripada beberapa kampus di Asia sekalipun. misal, kampus desain terbaik di Jepang, Keio University pun bisa sampai 2,5 M, dan jurusannya yakni Media Design tidak sesuai dengan fokus saya. lantas, kalau di Korea, saya harus nambah satu tahun untuk belajar bahasa korea. Dan di Edinburgh ini termasuk yang paling murah diantara beberapa kota-kota lain di eropa. Ditambah lagi, dengan peluang kontribusi yang besar jika bisa memahami strategi pariwisata di Edinburgh yang bisa mendatangkan 4,5 juta wisatawan lalu diterapkan di Indonesia melalui LAPI ITB dan dikerjain bareng-bareng kementrian, bekraf dan sebagainya. Indonesia saja tahun ini baru ditargetin 16 juta, padahal potensinya gede banget. jadi kita bisa dapet study case dari best practice di Edinburh ini.
X: Sudah dapat kontak dengan orang di sana?
A: ya, sudah pak. saya sudah mengontak professornya, menjelaskan fokus studi saya, dan mereka bilang support. saya ada print out emailnya juga.
X: kalau alumni ITB yang di sana?
A: Ya, ada pak. saya juga sudah ngobrol dengan senior saya yang diterima di sana namun beda jurusan, bahkan saya latihan lpdp pun juga sama dia.
A: wawancara. Jadi, satu hari saya bisa latihan dengan lima orang berbeda. misal, hari minggu kemarin saya latihan dengan lima orang, kemarin malam pun latihan. Ya saya merasa, ini kesempatan sudah di depan mata. maka saya harus berusaha sebaik mungkin. latihan dengan sesama awardee, sesama teman.
X, Y, Z : *muji-muji karena tampil apa adanya, rapi, bla bla*. Anda orang prefeksionis?
A: Emm saya sedikit prefeksionis. Misal, ketika ngerjain tugas saya berusaha agar nggak molor, timeline nya jelas, dan nggak deadliner. mungkin kelemahannya agak nunda waktu makan dikit, tapi saya selalu memastikan bahwa saya makan tiga kali sehari dan tidur enam jam sehari.
Z: hmm. ya kita sudah mendapatkan banyak hal, keputusan bukan di tangan kami, namun kami hanya bisa memberikan ke pusat untuk sebagai evaluasi, bla bla. Kamu harus membiasakan diri di kemampuan menulis academic writing, dan logat inggris skotlandia mumpung punya waktu sebelum berangkat seandainya diterima. *muji muji kepinteran ala ala padahal mah…*
A: Saya lupa bu, hehe. terakhir tes pas tingkat satu.
X, Y, Z: *menyudahi interview*
A: *minta izin beberes tumpukan dokumen sambil dengerin pujian ala ala dari interviewer, kemudian salaman satu-satu sambil bilang makasih dan salam*
BERES JUGA YEY ! Nah, usai interview yang asik dan ramah itu, aku kembali mengingatkan diri tentang peristiwa perang yang dialami rasul. Bahwa sejatinya, yang membuat Rasul memenangkan perang bukanlah jumlah pasukan maupun kelengkapan amunisi. lebih dari itu, Tuhan adalah penentu segalanya. Untuk itu, tugas selanjutnya bagi manusia ala ala seperti saya ini ialah berdoa karena saya percaya bahwa doa memiliki kekuatan di luar logika.
Master Candidate, Design and Digital Media, Edinburgh University