A note for a friend (that I may never see her again).
Pertama-tama, aku menulis ini sebagai bentuk menjaga kesehatan mental dan pengakuan atas sisi fragile yang kupunya: aku orang yang sangat nostalgic - dan tentu saja punya banyak kelemahan. Aku adalah orang yang bisa tiba-tiba buka grup Facebook sekolah dan nyariin satu per satu kabar kawanku bagaimana, lalu kadang nangis karena kangen mereka. Begitulah kurang lebih konteksnya.
Untuk itu, di tulisan ini aku tidak ada pikiran atau maksud untuk mengubah masa lalu. Melainkan hanya berfungsi untuk melatih diriku memahami apa yang sedang aku rasakan, agar tidak denial dan terjebak pada sikap sok kuat. It is what it is. Mau judge aku dari tulisan ini ya terserah, mau coba memahami ya bersyukur. It's me anyway.
Maka, anggap aja kamu sedang membaca tulisan seorang tua yang meracau membahas masa lalunya. Berulang-ulang. Siap?
Jadi ini semua bermula sejak 2012, saat aku bertemu dengan seseorang yang jadi salah satu core memory aku hingga saat ini. Sosok ini sangat powerful. Saking kuatnya emosi saat itu, aku sejak awal sudah berpikir untuk tidak berani mendekatinya. Siapa aku? Anak bidikmisi dari kampung yang gak bisa dan gak punya apa-apa. Masa depan tak jelas. Hanya punya ambisi untuk mengubah nasib, jauh-jauh merantau dari desa lereng gunung. Sayangnya, selain rasa canggung dan sungkan yang begitu kuat, aku juga seringkali tak bisa mengendalikan diri. Beberapa kawan juga menebar gosip yang tidak mengenakkan. Alhasil? Aku harus jujur satu hal: aku sama sekali tidak mengenal dia sebagai manusia seutuhnya. Aku cuma tau identitas dasarnya. Terakhir bertemu? 2016. Saat dia meminta bantuan untuk tugas kuliahnya (dan itu satu-satunya momen aku ngobrol lama dengannya seumur hidup, satu jam!). Serta saat aku wisuda. Itu pun cuma sekilas, karena dia mengunjungi banyak orang.
Hingga akhirnya aku lulus, dan merantau ke Jakarta. Satu hal yang dipikiran Angga pada usia 20th awal itu adalah: I gotta move on. I would not be able to get her either. Tapi sayangnya, proses ini memang tak mudah. Bahkan jika boleh jujur, masa lalu seringkali masih terlintas (Angga si nostalgic, okay?). Selain itu, satu hal yang sangat kupegang pada saat itu adalah: siapapun yang kemudian aku suka, aku harus mengenalnya sebagai manusia. Di sini aku tidak punya egoisme bahwa aku harus memiliki siapapun (toh aku tak ingin juga!). Melainkan, pun jadi bersama atau tidak, aku harus tetap berteman dengannya. Sampai kapanpun.
Punya satu orang di masa lalu yang bahkan sampai bisa membentuk core memori, namun kamu bahkan tidak mengenalnya sama sekali itu sangat menyedihkan! Apalagi tidak ada komunikasi apapun setelahnya. Drop dead. Cut loss.
Maka dari itu, aku tak ingin mengulanginya lagi!
Hingga akhirnya, Angga yang masih bau kaos kaki itu pun menjalani hidupnya dengan baik. Aku tidak aktif mencari siapapun. Ya sudah, mengalir saja. Nah, namun justru dari aliran ini, aku mulai menyadari ada satu hal yang berbahaya akan datang! Emosi yang senada di tahun 2012 mungkin kembali lagi!
Itu kisaran 2016. Awal mulanya jujur aku tak ingat. Karena kebetulan aku juga sudah beberapa tahun mengenalnya. Jadi, ketimbang seperti gunung yang mendadak meletus, aku akan mengibaratkannya seperti rerumputan yang perlahan tumbuh menjalar. Tiba-tiba sudah ada dimana-mana.
Kalau aku harus dipaksa mengingat 'apa yang jadi pemantik awal', mungkin ini diawali dari rasa kagum. Sebagai orang yang ambisius, aku kagum sama orang-orang yang pintar. Sesuatu yang menurutku bahkan sulit kucapai.
Sedikit mundur, semasa kuliah di Bandung aku ingin sekali jadi mahasiswa berprestasi di kampusku. itebek. sayangnya, metode pemilihan di jurusanku itu berdasarkan ipk. jujur aku menangis kala itu, tidak bisa mendaftar meskipun aku punya beberapa piagam kejuaraan. ya sudah. Namun inti ceritanya bukan itu. Melainkan, aku jadi terpantik kagum dengan seorang kawan yang jadi mahasiswi berprestasi di kampusnya. "That's cool!" batinku. Awalnya cuma sampai situ, tapi aku mulai notice kehadirannya.
Kemudian, kami pernah ikut sebuah event. Seru sekali! Kami berkelompok keliling kota, menapaki tempat-tempat bagus! Lantas, geng kecil ini pun jadi kelompok yang menemani masa-masa aku sendirian kala merantau di Jakarta. Aku ingat masa di mana hampir setiap malam hingga larut, grup kami cukup berisik. Bahas banyak hal, kadang gelut-gelutan juga. Dinamis pokoknya. Aku juga merasa punya beberapa kesamaan seperti kegemaran membaca buku! Ternyata bacaan dia banyak sekali dan beragam! Sebagai orang yang kutu buku sejak SMP, menemukan sahabat baru yang punya hobi senada itu sungguh menyenangkan. It's pure happiness!
Di sinilah percikan-percikan tadi mulai muncul. The Tan Hua flower bloomed. Jujur aku gak bisa pin point 1 hal yang membuat aku punya emosi ini. It's just so scattered all over the place, idk either but I can feel it. It's just there! Sebagai orang yang doyan baca dan cari2 informasi, sudah jadi konsekuensi logis aku mencari tau sebanyak mungkin soal dia. Baik lewat percakapan langsung maupun segala informasi yang ada di internet. Namun, aku sangat bersyukur bisa banyak mengobrol langsung dengan dia sih daripada cuma baca-baca blog atau ngedengerin project-nya dia di net. Ya karena aku merasa bisa lebih mengenal dia sebagai manusia dengan segala impian dan pemikirannya. Hal yang gak bisa aku lakukan di momen 2012 lalu.
Sampailah Angga ini langsung merancang peta baru dari mimpinya. Tipikal usia 20an awal mulai kerja lah, standar. Mau kerja sebagai apa? Berapa lama? Kapan mau s2? Nanti akan hidup sama siapa? Dsb dll dkk. Aku suka sekali bikin timeline kehidupan sejak SMP, btw.
Nah, dulu di kisaran tahun 2016-2017, Angga yang masih freshgrad dan bergaji kecil ini punya tujuan: aku mau kerja dulu, lalu S2, kemudian kerja lagi dan nikah sama dia. That's my plan. Jadi, ya kalau aku apply beasiswa & kampus untuk 2018, beres di 2019, most likely gonna be married in 2020. Semua sudah terencana di pikiranku (meskipun aku belum bertanya ataupun melakukan riset apapun dari sisi dia hahaa egois sekali kau Angga!).
Sampai akhirnya, beberapa kejadian membuatku bimbang. Jujur.
Mari kita mulai ceritanya dari persiapan beasiswa dan kuliah. FYI, dia juga berencana S2 dengan beasiswa yang sama denganku. Nah, awalnya, dia bilang mau kuliah di Australia. Sedih sih, karena aku kan maunya ke UK/Europe. Apakah bakal ga ketemu lama ya? Apakah akan ada hal yang terjadi selama di sana?
Namun aku bersyukur, dia ternyata akhirnya memutuskan belajar di benua yang sama denganku (aku gamau go into detail, let's keep her privacy! Jangan dicari juga ya, let's give her respect ~). Kita pun beberapa kali diskusi soal persiapan beasiswa, essay, latihan wawancara, dan seterusnya. Sampai akhirnya.?!
Sampai akhirnya aku tau rencana pasca-studi dia adalah kembali mengajar di kampusnya. Tidak di Jakarta, tentunya. Karena dosennya mengajak, katanya.
Ini agar tidak ada salah sangka, aku sangat mengakui bahwa aku punya sisi egois, mau dituruti, mau didengar. Namun, menurutku rencana dan impian seseorang itu sakral. Aku gak mau menjepit sayapnya. Sementar aku? Rencanaku adalah kerja sekian tahun di Jakarta, membangun skill, network dan capital, lalu kembali ke kampung halaman. Jadi, jujur ini adalah titik balik pertama dimana aku mulai melangkah mundur.
Ada sahabat yang tanya, kenapa gak kamu bahas aja? kenapa ga dikompromikan?
Jawabanku: aku pun akan sedih jika ada seseorang yang mengajakku berkompromi soal apa yang aku rencanakan dan impikan. suka tidak suka, akan ada perubahan kan? Nah, aku gak mau merubahnya. That's one.
Kedua, kebetulan kami mulai kuliah di tahun yang sama. Namun, di sinilah sisi kebingunganku: apakah kalau aku ngajak ngobrol, akan terkesan terlalu pushy? Kan aku gak mau kejadian 2012 itu terulang lagi. Jujur ya di sini aku seringkali bingung dan mungkin kalah sama sikap kepengecutanku. But my defense: ya aku gak mau terlalu ganggu dan agresif. Maka, beberapa hal yang coba kulakukan adalah menawarkan bantuan2 kecil di momen yang sekiranya natural.
Misal, kami pernah ketemu ngumpul sama kawan-kawan dari jauh. Dia mendadak mau ke coffee shop sendiri, padahal di luar hujan. Kutawari diriku menemani, soalnya ini kota baru batinku. Biar gak ngilang aja sendirian, murni. Dia menolak. Mungkin dia sedang ingin sendiri. Dia juga pernah tiba2 dini hari gelap memutuskan ingin pulang sendiri naik kereta. Aku menawarkan bantuan untuk menemaninya ke stasiun, karena masih sangat gulita. Dia enggan. Ya mungkin dia sedang ingin sendiri. (Atau dia emang nolak akunya haha. tapi siapapun yang nawarin, dia nolak sih). Dan kejadian serupa gak cuma sekali dua kali kejadian. Sehingga aku melihat pattern bahwa ya dia emang orangnya begitu.
Dibilang cold, ya enggak cold amat. Dibilang independen, ya mungkin lebih pas ya. Anaknya emang suka ngebolang sendirian. Tapi gimana ya jelasinnya. Ini pandanganku sebagai temannya dia sejak lama. Mungkin dia memang nyaman sendirian begitu *ini persepsi yang ada di pikiranku hingga kini. Dan aku menghormatinya. Dia tidak salah sama sekali dengan menjadi dirinya kan? Sepakat.
Hanya saja, aku sebagai orang yang punya rencana 2018-2019-2020 tadi, merasa perlu reassurance atau signal juga dari sisi dia. THe clock was ticking. Karena kembali lagi, aku khawatir jika aku 'maju', terus dia menolak dan akward, jadi sungkan sebagai teman. Atau bahkan, justru karena teman, dia ga enak untuk menolak. Buyar deh pertemanan. So I just needed a sign. Even the simplest, slightest and simple one. Natural, right?
Tapi aku tak kunjung dapat sih. Entah juga mungkin aku kurang berusaha. Sampai ada di titik dimana aku mulai menyerah. Ya sudah, aku gak mau memaksakan kehendakku atau mengganggunya terlalu jauh.
Sampai akhirnya, secara kebetulan sekali, once in a million chance, aku sepesawat sama dia kala pulang ke Indonesia! (note: di masa-masa ini, aku sudah mulai dekat dengan orang lain yang malah menyatakan perasaannya ke aku duluan. so, I respect her. she knows this story too, lol!). Nah, di masa itu, jujur jadi kayak final decision moment untuk aku menambah keyakinan dari 90% ke 100% bahwa emang di begitu orangnya. Karena kami sempat transit cukup lama di sebuah kota dan keliling juga.
Don't get me wrong. Aku ga mencari kesalahan atau sisi redflag seseorang. Bahkan mungkin, ini lemahnya ada di sisiku sebenarnya. Aku menyadari bahwa aku butuh mendapat A B C. Sesuatu yang sejak masa itu kurasa kurang bisa kudapatkan dari dia. Misal, aku butuh pertanda bahwa ini adalah kondisi dua arah. Bukan aku yang sibuk sendiri. Kedua, aku orangnya suka dengan afeksi dan keakraban yang hangat, yang casual, bukan yang jalan dan mandiri sendiri-sendiri (I'm just a cat that needs frequent pat-pats, sorry). Nah, daripada aku memaksakan dan dia jadi merasa harus merubah jati dirinya, aku enggan. Lebih baik tidak.
Long story short, beberapa bulan lalu kami bertemu. Aku kembali bertanya soal rencana hidupnya, dan dibilangnya dia sedang nyaman2nya dengan hidupnya yang sendiri itu. Tapi berapa lama selang waktu, tanpa tedeng aling-aling, tanpa peringatan BMKG, dia mengumumkan menikah!
As her friend, I am sooo happy! Aku jujur merasa khawatir kalau one day dia merasa sendirian (meskipun aku sangat paham dia bisa mandiri dan content dengan kesendiriannya. cuma, karena aku emang anaknya gabisa yang sendirian banget, jadi aku memandang pakai perspektifku hehe). Tapi jujur, ada masa-masa di mana seolah memori baik di masa lalu kembali dijebloskan ke otakku. Kayak, "nih inget gak pas begini?" Heuu.
Jadi ada hari di mana aku nangis beneran sendirian. Apalagi most likely dia akan pergi jauh setelah menikah. yang mana, probability untuk bertemu akan menipis ke titik zero. aku menulis ini pun karena semalem aku mimpi lagi main sama dia, duduk di pesawat bareng, entah kemana, ngobrol aja ngalir. terus dia ilang. bangsat lah, klise banget wk. Tapi ya aku mencoba respect (sekali lagi, respect!) dengan decision dia dan happy dengan apapun keputusan yang dia ambil.
My plan back then may have failed, but our friendship didn’t. Satu hal yang aku syukuri adalah, aku sempat bisa mengenalnya sebagai manusia. Beda dengan kejadian di 2012 kala itu.
I proudly say she’s my close friend. I know her as a person. We talk, walk, trip, study, and so much more! I truly admire and respect her as a wholesome human being. She’s truly in my top 10 most beloved friends ever.
Sekali lagi, sebagai Angga si nostalgic, yang kupikirkan adalah, aku nanti kalu umur 60 atau 70, masih bisa komunikasi ama dia gak yah? dia ada di mana yah? masih hidup engga yah? happy gak dia? *karena jangankan ke dia, aku ke temen SD SMP SMA-ku aja mikir begitu!
You were the fire I never dared to touch.
Your presence lingers in the silence.
Here I stand, writing to a ghost of the present.
May the winds carry this whisper to wherever you are.
Promise you won’t let me fade. *Terimakasih sudah membaca! Saatnya buatku kembali mendengar Pretender ~













