I’ve got my first coass stage in pharmacy.
oiya sebelumnya ini tim koas saya: alif, rima, canay, runi.
sebelum masuk stase tentu kami sudah mencari banyak info dan operan dari kakak kakak sebelumnya yang sudah mnyicipi farmasi. banyak gosip yang beredar. farmasi inilah, farmasi itulah, tapi satu yang pasti: banyak yang ga lulus di farmasi. Berbekal info info yang sudah kami dapatkan, masuklah kami ke stase yang berada jauh di atas sana (tembalang). hari pertama dan sesi pertama ada sedikit pengarahan dari bu endang
“Kalian kalau tidak serius disini, lebih baik mengundurkan diri saja dari sekarang.”
“Saya sudah bisa melihat mana wajah wajah yang lulus dan yang engga.”
“di farmasi kita semua serius, jangan coba main-main disini.”
(dengan campur bahasa jawa dan tatapan yang macam lagu jaz - dari mata, dari mata jatuh ke hati~~~)
(kurang lebih begitu, dengan bbrp improvisasi karena udah lupa)
baru aja masuk dari liburan yang puanjang, eh ya langsung digas gini. saya sendiri langsung merasa underpressure (entah yang lain gimana, kayaknya sih juga :))), bukan karena tatapan dan nadanya yang membuai, tapi karena tekanan untuk lulusnya ituloh. maklum, takutnya kan nanti kalo ga lulus bakal telat lulus koasnya atau gimana gitu :(
seminggu pertama hari-hari kami dihiasi dengan bu endang bu endang dan bu endang, gak ding. minggu pertama itu isinya materi dan tugas-tugas buat latihan. nulis resep, dosis, bso, dan printilan printilannya menjadi teman setia kami. oh iya, kami (2012) bersama tiga kelompok lain (2011) sekloter di farmasi, kelak kami bersama-sama akan menjadi teman jatuh-bangun di farmasi.
satu lagi yang selalu menemani kami dari awal hingga akhir farmasi (bahkan hingga nanti kalo ga lulus ya ketemunya beliau lagi ), penguasa farmasi, the one and only: Bu Endang. entah kenapa, beliau punya aura tersendiri jika mengajar. semuanya jadi salah tingkah, nanya salah, jawab salah, diam pun juga salah.
Bu Endang: “saya bingung dengan kalian, kok dari dulu pertanyaannya koas gitu-gitu aja. gak berkembang.”
(padahal saya yakin yg lain juga bertanya-tanya hal yg saya tanyakan, eh terus hal yg saya tanyakan itu nnt dibahas dan diulang karena banyak yang ga ngerti :)) )
*pas diskusi habis presentasi*
Bu Endang: “ya baik, disini kita diskusi, tolong semuanya aktif dan mengajukan pertanyaan kepada grup presentan”
koass: *ga ada yang nanya*
Bu Endang: “kalau ga ada yang nanya, audiens ga dapet nilai saya coret nanti, begitu juga kelompok presentan, karena mereka berarti juga ga jawab pertanyaan.” (lah.....)
kehadirannya selalu dirindukan. saat bukan jadwal beliau mengajar kami selalu menghela napas lega. ada rasa yang tidak bisa dijelaskan.
semua berjalan begitu cepat. sampailah kami di masa ujian. ada lima ujian yang harus kami lalui di farmasi. jatuh-bangun-nyungsep-nungging-bangkit lagi sudah kami lalui berbagai ujian ini. kami dipaksa untuk putus asa, menerima takdir, dan pasrah pada keadaan.
“Soale nggateli ndesss” -D
“ini farmasi bener bener titik nadir, gapernah dinjek injek kayak gini sebelumnya” -H
“Aku mau pulang aja, mau fitness di Ngawi.” -D
begitulah kira-kira gambaran keputusasaan kami.
yah pada akhirnya susah atau mudah, lulus atau tidak, mau tidak mau akan kita lalui juga. begitu juga denga farmasi. walau kami tidak lulus semua dengan sempurna, kami akhirnya melaluinya juga. meski ngeselin, farmasi mengajarkan kami banyak hal. dadah farmasi