Selamat malam, aku
Sudahkah bahagia?
Fai_Ryy
Show & Tell
art blog(derogatory)

titsay
🩵 avery cochrane 🩵
almost home
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

ellievsbear
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
noise dept.
Mike Driver
Game of Thrones Daily

No title available

tannertan36
d e v o n
No title available
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

❣ Chile in a Photography ❣
𓃗

Game Changer & Make Some Noise
seen from United Kingdom

seen from Austria
seen from Germany

seen from Malaysia
seen from Israel

seen from Türkiye

seen from Türkiye

seen from Japan

seen from Bulgaria
seen from Serbia

seen from Singapore

seen from Türkiye

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Denmark

seen from United Kingdom

seen from Germany

seen from Australia

seen from Germany
@geligimalam-blog
Selamat malam, aku
Sudahkah bahagia?
Jika aku bisa
Ku akan kembali
Ku akan merubah
Takdir cinta yang kupilih
Bahkan, meski ingin, kita tak bisa mengubah apa-apa.
Ada yang tak bisa diubah. Kau, aku, dan setumpuk perasaan di masa lalu.
Biarkan saja.
Nanti akan menghilang dengan sendirinya.
Aku pernah pergi. Aku pernah berlari. Tapi rindu selalu menarikku kembali.
Aku mencintaimu. Dan aku menderita karenanya. Tapi tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja selama kau ada.
Terkadang, aku heran dengan diriku sendiri. Bisa-bisanya bermain dengan rindu, padahal tak bisa menahannya tetap di sini.
Padahal dia cuma bilang "hai"
Aku malah ikut pulang.
~~~ Malu-maluin aja...
Ada yang rusak di sini. Seonggok daging bertulang lengkap sedang tertawa. Kadang tersenyum malu. Lain waktu nampak terombang ambing cemburu.
Mengapa begitu?
Setelah ratusan purnama tak pernah berkencan dengan rindu, kau harusnya tau bahwa luka tak akan menghilang secepat itu.
Ada yang rusak di sini. Ada yang rusak di sini.
Ada yang tak pernah bisa kembali. Ada yang tak perlu diulang lagi. Menolehlah sesekali, lalu pergi. Lagi. Dan lagi. Hanya untuk mengingat; bahagia itu pernah ada.
Saat kau merasa tak sanggup berlari
Maka diam saja.
Istirahat dulu.
Melupakan tak semudah jatuh cinta.
Bahkan ketika kau selalu mati saat berusaha membunuh rindu berkali-kali.
Sejak pagi, rindu-rindu berjatuhan. Tak menyisakan jeda untuk langkahku menjauh dari rumah. Pekerjaan memanggil tak henti, namun kau semakin menggemericik di kepalaku, membuat genangan-genangan di ingatan. Ah...
Menulis Itu Susah!
Banyak yang berpikir bahwa menulis itu susah. Salah satunya adalah aku. Untuk memulai menulis beberapa kata terasa begitu sulit. Terkadang aku hanya duduk termangu memandangi lembar aplikasi menulis di laptop yang masih belum tersentuh satu huruf pun. Mengikuti berbagai kelas menulis atau bergabung dengan beberapa komunitas literasi tak juga membuatku rajin menulis. Bertahun-tahun dilalui dengan banyak aktivitas sambil sesekali mengamati komunitas yang diikuti, namun tak juga tangan dan otakku bekerja sama dalam membuat sebuah tulisan.
“Kamu butuh bacaan baru!” teriak isi kepalaku suatu waktu. Jadi, sesekali aku pergi ke toko buku. Mengamati tumpukan buku adalah kesukaanku, terutama buku-buku komik, novel, atau kumpulan cerpen dan puisi. Kadang aku mencari buku-buku yang sudah dibuka di toko itu, lalu mengintip isinya. Kalau kantong sedang bersahabat, aku akan menambah koleksi buku yang menumpuk di dalam keranjang cucian. Namun terkadang aku hanya berjalan lurus ke barisan alat tulis, lalu berbalik ke parkiran setelah membayar beberapa pena yang sengaja kuraih tanpa menoleh lagi ke deretan buku-buku yang masih terbungkus plastik dan berbau wangi itu.
Salah seorang seniorku pernah menertawakanku, “mau jadi penulis?” cibirnya waktu itu. “Wong baca buku saja masih bisa dihitung jari!” Dan aku hanya bisa nyengir, memamerkan deretan gigi tidak rata milikku sambil memasang wajah tanpa dosa. Tentu saja untuk menjadi penulis hebat harus rajin membaca. Membaca apa saja. Tidak hanya buku yang disukai, tetapi buku yang tak disukai pula. Misalnya membaca sejarah yang akan memberikan banyak pengetahuan baru, kosakata baru, dan pengalaman baru. Masalahnya adalah, menambah koleksi bacaan tak juga menambah semangat dan kemampuan menulisku. Bagaimana tidak, buku yang kubeli belakangan ini tampak menumpuk dengan cantik di dalam tempat yang tak seharusnya dengan kondisi yang masih terbungkus plastik, lengkap dengan label harganya! Keren, kan?
Adakalanya komunitas yang kuikuti berdiskusi mengenai beberapa materi kepenulisan yang beberapa diantaranya baru kuketahui. Terkadang mereka bercerita dengan asik tentang banyak lomba menulis di media online. Keriangan itu selalu menular padaku. Ide-ide bermunculan. Biasanya aku akan segera merangkumnya di aplikasi catatan pada hp kesayangan. Kadang aku membayangkan alur cerita yang akan ditulis sambil memperhatikan sepasang muda mudi yang begitu mesra dan bahagia menguasai jalan raya dengan kecepatan luar biasa. (hmm... if you know what i mean. Hahayy!) Ya, ide selalu bermunculan ketika aku sedang bercengkerama dengan kendaraan roda dua tercinta. Lalu ide-ide cemerlang itu menghilang seseketika saat tiba di rumah. Bah!
Sayangnya, kesenangan seperti itu hanya berlangsung sesaat saja. Pekerjaan dan keluarga akan langsung menjadi kambing hitam, padahal coretan anakku di dinding kamar mungkin sudah terbahak-bahak mengetahui alasan klasik yang selalu kuagung-agungkan. Tentu saja aku bangga dengan dalih terbaik itu, karena sesungguhnya tak ada alibi terbaik selain kelucuan anak-anak ketika mereka dengan begitu bahagianya mengacak-acak dapur atau isi lemari sementara mainan yang berhamburan belum juga selesai dirapikan. Atau ketika tiba-tiba saja seluruh tulisan yang sudah satu halaman penuh berubah menjadi huruf tak beraturan; buah karya si kecil yang sedang serius menekan tombol keyboard saat aku beranjak sebentar untuk minum. Woaah!
Beberapa kali aku berniat untuk mengikuti lomba menulis di media-media online, baik itu menulis puisi maupun cerpen. Namun pada akhirnya semua keinginan itu hanya menjadi sebuah angin lalu. Aku sering melupakannya. Sengaja melupakan tepatnya. Memilih untuk tidak melanjutkan tulisanku dengan alasan waktu dan dalih terbaik andalan; sibuk dengan urusan keluarga. Dalam hati aku berjanji untuk mengikuti lomba menulis lainnya di waktu berbeda. Itu pun kalau sempat. Kalaupun aku memilih untuk tetap ikut, aku akan menulisnya tepat beberapa jam sebelum tenggat waktu yang telah ditentukan. Ya, aku adalah penulis deadline terbaik, walaupun bukan penulis terbaik. He he he...
Ketika aku sedang asik berdebat dengan otakku mengenai tulisan yang tak pernah dilanjutkan setelah menuliskan judul atau kalimat pertama, aku memilih untuk mengikuti sebuah pelatihan literasi untuk guru yang diadakan di kotaku oleh salah satu komunitas literasi. Katanya, pelatihan ini gratis untuk para guru yang ingin menambah ilmu dalam bidang literasi. Tertarik? Tentu saja! Sudah gratis, diwisuda pula. Yeaayyy! Tentu saja karena aku suka menulis, walaupun belum ada bukti nyata yang mendukung pernyataan itu. Beberapa blog yang kubesarkan saja sudah penuh dengan sarang laba-laba! Bibit-bibit malas yang sudah tertanam sejak lama ternyata telah tumbuh subur dan mengakar dengan kuat sehingga tidak juga menambah semangat dalam menyelesaikan banyak tulisan yang telah aku sia-siakan.
Sebenarnya, jauh sebelum aku mengikuti pelatihan literasi bersama para guru hebat yang diadakan oleh komunitas itu, aku juga tahu bahwa semua kelucuan di rumah adalah alasan yang dibuat-buat untuk mendukung kemalasanku. Jauh sebelum salah seorang narasumber berkata bahwa menulis itu mudah, aku sudah tahu kalau semua dalih yang kuutarakan tersebut merupakan sebuah bentuk konspirasi hati dan otak untuk mendukung alasan yang sudah kuciptakan sedemikian rupa. Aku sering berkaca dan menunjuk sesosok wajah pemalas di cermin tepat di depanku.
Apa mau dikata, kepalaku sungguh batu! Kekeuh dengan pendapatnya yang sesat. “Menulis itu susah!” teriaknya. “Para penulis hebat di luar sana sudah pasti bukan manusia!” Duh!
Batu
kata-kata berjatuhan dari udara
sempoyongan
tak satupun sampai ke gendang telingaku
berdetik-detik kemudian matamu mengusirku,
-- jangan kembali!
katanya
tapi aku masih bergeming
meski lidahmu terus meruncing
aku terlanjur betah nginap
di kepalamu
Pangkalpinang, 2018
Tiba-tiba Mimpi Biru itu Menghitam
sebuah pertanyaan selalu saja singgah
di kepalaku yang sederhana
otakmu,
karam di mana?
di saat badai menghantam kita dengan senang
kau bergegas memeluk ombak dan menghilang
Cih!
Pangkalpinang, 2018
Aku Telah Bersembunyi dengan Baik
Katamu, api memercik kepalaku
Kau turut terbakar
Pun mereka semua; orang-orang di sekelilingku
.
.
Katamu, dadaku terlalu asik mengusir gigil
Bukan karena dingin yang menelusup di sela-sela ruas tulang punggungku kau menghilang
Hanya saja, hening terlalu sepi
.
.
Katamu, waktu sudah berjalan terlalu lambat
Langkahnya berderak dan berkarat
Perih yang mesti kita pangkas semakin berkerak
Tak ada lagi jejak yang buat terbahak
.
.
Nampaknya
Aku bersembunyi terlalu jauh
Kau tak bisa menemukanku
.
.
.
Pangkalpinang, 20092017
.
cc: @kelaspuisi
Pesta telah usai... Tapi konfliknya gak selesai-selesai.
Ugh!
Kau pernah menjentikkan jari Sambil berkata: Hupla! Sedetik kemudian matamu mulai tertawa dan bercerita Memamerkan segala yang tertata di buku usang Ini berat, Tuan! Dadamu tak lagi lapang Bahuku tak lagi selesa Kita sudah tak bisa berbagi Apa-apa Sebab waktu tak akan pernah bisa Kembali Pangkalpinang, 21072017