Ekspedisi Merapi: Ada-ada Saja
Berdiri kokoh setinggi 2913 mdpl dengan kaki-kakinya berada daerah D.I Yogyakarta hingga Jawa Tengah, ialah Gunung Merapi. Gunung yang kehilangan Puncak Garudanya karena erupsi tahun 2010 menjadi tujuan ekspedisi kali ini.
Kamis, 2 April 2015 baāda maghrib, ke 26 (atau 27) orang semestinya sudah menampakkan batang hidungnya di markas Maladica. Akhirnya, rombongan bedhol desa ekspedisi baru berangkat menuju base camp Selo sekitar jam 8 malam karena Radiyan masih ada tanggung jawab sebagai Presiden BEM FK yang harus dilaksanakan. Berbekal keahlian menyetir alap-alap ala Fast Furious dan doa dari para penumpangnya yang ketar-ketir karena speedo meter menyentuh angka 180km/jam, sampailah saya dan teman-teman di pasar dengan land mark tulisan New Selo-nya jam 23.30. Registrasi beres, cek segala macem oke, tiba-tiba HP Prika berdering...
āApa mas? Ketinggalan? Kok bisa?ā
āDi mana? Hah. Salatiga?ā
Usut punya usut, tas kecil Prika yang berisi segala kartu dan uang jatuh diĀ Salatiga selama perjalanan. Yha.
Tim Tangguh pembawa dome start pertama disusul Tim Selanjutnya. 15 menit kemudian, Tim Hore--termasuk saya di dalamnya--berangkat juga. Apa yang paling susah ketika seseorang ingin mencapai sesuatu yang besar? Memulainya... *bayangkan saya ngomong dengan latar belakang daun-daun berguguran biar dramatis*. Memulai pendakian tengah malam dengan kondisi 8 jam sebelumnya baru keluar kelar kuliah, bahkan ada yang baru kelar sidang proposal, bukan hal mudah. Tantangan terbesar saya terutama ketahanan kardiorespirasi yang agak tidak bersahabat. Napas pendek-pendek, deg-degan parah, rongga dada pun mulai panas semuka-muka. Dasar suka kurang tahu diri, tahu bakal kaya gitu masih aja jarang olah raga. Di tengah sesi istirahat, tiba-tiba Radi nyusruk ke tepi jurang dalam hitungan detik. Semua mengulurkan tangan dengan sigap untuk menarik Radi yang tinggal kelihatan kakinya saja kembali ke atas. Carrier Radi hasil pinjaman ke Wida sudah menggelinding lebih dalam.
āUdah udah, jangan diambil, biarin aja tas nya.ā Radi pasrah.
āKunci mobil, hape, dompet ada di tas kecil ini kok. Biarin aja deh tasnyaā
Rofat selaku penanggung jawab ekspedisi tak hilang akal. Menggunakan seutas tali pramuka yang diikat ke pohon dan dibantu Nizar, Rofat turun perlahan ke bawah dan berhasil mengambil carrier Radi.
Radi cengar-cengir, āAku uda mikir carrier enem ratus ribu, sleeping bag dua ratus, heheheā
Kelanjutan perjalanan dini hari itu diisi dengan celoteh-celoteh seru pengusir kantuk, curi-curi tidur di tengah istirahat, dan celetuk-celetuk kata-kata penyemangat. Derai tawa mengalir disela keluh kesah kelelahan, terkadang saling ejek buka-bukaan aib jadi senjata ampuh ketika kaki yang terayun dan pundak yang memikul carrier sudah semakin berat. Trek pendakian seolah tidak punya rasa iba--semua adalah tanjakan tanpa jeda. Trek paling menyiksa adalah antara pos I dan pos II. Gerimis dan kabut menjadi teman perjalanan hingga akhirnya subuh menjelang dan kami pun sholat. Bayang-bayang mi rebus hangat dan kesempatan tidur di tenda memaksa saya terus berjalan hingga Pasar Bubrah, camp terakhir sebelum mendaki menuju puncak.
Sekitar jam 6 pagi, semua tiba di Pasar Bubrah lalu sibuk sarapan, foto-foto, dan tidur barang sejam dua jam sebelum akhirnya summit attack dimulai sekitar jam 9. Merapi memang bukan sembarang gunung. Untuk sampai di puncak, trek yang harus dilewati 1/3 pertama adalah pasir padat, 1/3 kedua adalah pasir yang punya rumus ā3 langkah naik, 2 langkah merosot lagiā, dan 1/3 terakhir adalah batu-batuan terjal yang curam. Berkat kesabaran Peggy dengan sugesti-sugesti penyemangatnya, sampailah saya di puncak. Walaupun kabut tebal menutupi kawahnya, tidak mengurangi rasa bangga, terharu plus bersyukur saya bisa sejauh ini, hehehe
Perjalanan ke atas memang luar biasa, tapi perjalanan turun adalah masalah lain. Salah melangkah berarti bahaya untuk diri sendiri dan orang lain. Hujan deras membuat trek Merapi makin licin dan udara makin menusuk. Peserta ekspedisi mulai terpisah-pisah dan tersisalah saya dengan lutut yang kurang oke, Gendis yang mulai hipoglikemi dan kedinginan hebat di gazebo,Ā Prika yang mulai halusinasi, serta Rofat satu-satunya laki-laki di kelompok ini. Walaupun sempat bikin panik karena ada miskomunikasi dan estimasi waktu tiba yang sangat molor, jam 22.30 semua clear sampai di base camp kembali.
Terima kasih kalian, bisa bikin saya melangkah sejauh melebihi yang bisa saya bayangkan
Iya, Merapi seada-ada saja itu. Semelekat itu di kepala dan hati saya, hahaha
Kangen ngobrol-ngobrolnya di jalan
Kangen umpel-umpelan di tenda sambil masak telor instan kebanggaan Marwan
Kangen ngetawain dan diketawain waktu tiba-tiba kram induksi Gita-Radi-Nizar-Marwan
Kangen sand skiing waktu turun dari puncak, lebih tepat dibilang kepleset-pleset sebenernya
Kangen ākeajaibanā temen-temen seperjalanan, keramahan, dan kebaikan pendaki lain yang baru kenal
.....kapok juga sih he he he