Kadang-kadang kalimat, "Aku minta maaf", adalah hal yang egois untuk dikatakan.
Kedengarannya aneh, bukan? Bagaimanapun juga, pertobatan adalah landasan dari perjalanan hidup orang Kristen, setuju? Sayangnya, saya yakin bahwa memang sangat mungkin untuk menyemburkan kalimat permintaan maaf yang terdengar rendah hati ini lebih untuk melindungi diri sendiri, daripada pertobatan sejati, yang bertujuan untuk rekonsiliasi yang sesungguhnya.
Dinamika dasar dari pertobatan palsu adalah seperti ini: Saya meminta maaf dengan tujuan untuk membuat orang yang "tersinggung" menjadi baik-baik saja terhadap saya, atau membuat saya merasa lebih baik tentang diri saya sendiri.
Alkitab mengajarkan kita untuk meminta pengampunan atas dosa-dosa kita, yang telah membuat rugi orang lain. Tetapi permintaan maaf yang mementingkan diri sendiri bertujuan untuk menangkis kekecewaan seseorang terhadap kita, atau untuk menenangkan ketidaknyamanan batin kita sendiri.
Tentu saja, saya tidak bermaksud seperti itu ketika saya mengatakan "Saya minta maaf!". Ketika saya menyebut permintaan maaf "palsu"ini, saya tidak menyadari bahwa permintaan maaf itu palsu,atau saya tahu bahwa saya sedang mementingkan diri sendiri. Tetapi begitu banyak dosa kita yang seperti itu-kita bahkan tidak tahu bahwa kita melakukannya. Namun, hanya karena kita tidak tahu bahwa kita melakukannya, bukan berarti hal itu tidak membahayakan.
Permintaan maaf yang mementingkan diri sendiri dapat merusak hubungan dengan berfungsi sebagai serangan pre-emptive relasional. Seorang teman meminta maaf sepanjang waktu untuk hal-hal yang tidak perlu diminta maaf; dia mencoba meredakan kritik yang mungkin muncul sebelum kritik itu sampai kepadanya. Setelah berkhotbah panjang lebar, seorang pendeta berkata "Maafkan saya tentang waktunya"; dia mencoba untuk menepis rasa takutnya bahwa jemaatnya akan merasa terganggu atau bahkan mungkin akan menyinggung tentang panjangnya khotbah yang dia sampaikan. Seorang suami mengatakan "maaf ya saya lelet"; dia mencoba untuk menjaga perasaan istrinya agar tidak menyalahkannya bahwa dia yang membuat seluruh keluarga terlambat keluar dari rumah di pagi hari.
Di lain waktu, permintaan maaf bukan untuk menghindari kritik, melainkan untuk mendapatkan pujian yang akan menenangkan kegelisahan internal si pemberi maaf. Jadi, seorang karyawan berkata, "Saya minta maaf jika ini tidak sesuai dengan yang Anda inginkan", saat mempresentasikan sebuah proyek kepada atasannya, meskipun ia telah menghabiskan banyak waktu untuk menyempurnakannya dengan cermat. Permintaan maaf tersebut mencoba untuk mendorong jawaban "tidak, tidak, ini bagus!" dari atasannya yang akan menenangkan kegelisahannya bahwa ia mungkin telah melewatkan sesuatu. [1]
Bagi saya, godaan terbesar untuk menawarkan permintaan maaf adalah ketika saya berada dalam suatu konflik. Saya tidak suka konflik, jadi saya mungkin berpikir "tidak, itu tidak adil, kamu salah" tetapi alih-alih memulai dialog yang jujur dan konstruktif mengenai kekhawatiran saya, saya tergoda untuk meminta maaf sebagai jalan keluar dari situasi tersebut. Jika saya merasa bahwa saya dapat mengakhiri konflik dengan permintaan maaf, saya mungkin akan menyalahkan pihak yang bersalah saat itu juga, namun secara diam-diam saya menyimpan keluhan.
Saya pertama kali menyadari bahwa permintaan maaf bisa menjadi masalah saat saya berada di lapangan basket. Saya adalah orang yang selalu mengatakan "Aduh maaf ya!" Namun, setelah mengalami permintaan maaf dari beberapa orang yang saya konseling, saya baru menyadari bahwa permintaan maaf mungkin tidak terlalu membantu seperti yang saya pikirkan. Sungguh hal ini membuka mata saya untuk mengalami dari sisi lain pengucapan permintaan maaf yang sering dan disampaikan dengan canggung:
"Maaf ya saya terlambat!"
"Aduh, maaf saya terlalu banyak bicara!"
"Maaf saya tidak mengerjakan tugas opsional yang kita bicarakan minggu lalu!"
"Maaf saya sangat menyebalkan ketika saya lelah!"
Pernyataan itu semua datang dari orang-orang yang saya senang ajak berbicara, jadi saya terkejut saat mengetahui bahwa permintaan maaf kecil-kecil ini mengganggu saya. Ketika saya melakukannya sendiri, saya berasumsi bahwa orang lain akan menghargainya. Namun, setelah saya menerimanya, ternyata permintaan maaf itu lebih menjengkelkan daripada menebus kesalahan mereka.
Pada akhirnya, jika seseorang meminta maaf untuk sesuatu yang sebenarnya tidak memerlukan permintaan maaf, itu hanya membuat segalanya menjadi canggung bagi orang yang menerimanya. Dan jika perilaku seseorang benar-benar menunjukkan pola yang bermasalah, "oh maafkan saya!" tidak akan membantu. Bagaimanapun juga, permintaan maaf adalah anugerah dari Tuhan yang memungkinkan kita untuk menganggap serius setiap kesalahan yang telah kita lakukan. Menggunakan kata-kata penyesalan untuk menghindari permasalahan yang sebenarnya dari diri kita adalah tindakan yang egois dan membalikkan tujuan baik Tuhan.
Untungnya, tidak ada kekurangan kita yang tidak dapat ditebus. Ketika Roh Kudus menginsafkan kita bahwa permintaan maaf kita lebih merupakan perisai untuk diri kita sendiri daripada usaha yang tulus untuk berdamai, Dia menuntun kita ke dalam sesuatu yang baik. Setelah Roh Kudus mengingatkan kita tentang masalahnya, Ia berkenan menguatkan kita untuk mendengarkan dan bahkan mencari tahu masalah yang sebenarnya daripada bersembunyi di balik kata "Maafkan aku!" Karena Yesus telah memberikan pengampunan yang sempurna bagi kita, kita tidak perlu dikuasai oleh rasa takut untuk menyinggung perasaan orang lain atau menerima kritikan, atau oleh kenyataan bahwa kita terkadang mengecewakan orang lain. Pengampunan-Nya memungkinkan kita untuk menanggapi dengan serius setiap kesedihan yang telah kita timbulkan, daripada menjaga diri kita sendiri dari kritik, atau tampil sempurna untuk menyenangkan orang lain.
Aduh. Saya minta maaf blog ini sangat panjang. Seharusnya saya tidak menyita banyak waktu Anda untuk masalah yang sepele! Anda mungkin lelah membacanya-saya tahu ini adalah ide yang buruk. Aku benar-benar minta maaf!
Ups. Mulai lagi deh..
Tapi, sungguh sebuah penghiburan mengetahui bahwa dosa-dosa kita yang paling kecil dan paling halus adalah area di mana Tuhan akan melompat dengan penuh semangat untuk bertindak; saat kita mengundang Dia untuk menumbuhkan kasih dan keberanian di dalam diri kita. Sebagai seseorang yang masih jatuh bangun di dalam hidup, saya dapat bersaksi bahwa Tuhan telah bekerja melalui Roh Kudus di area yang "kecil" ini untuk membuat perbedaan yang besar, membebaskan saya dari rasa takut dari kritik dan kegagalan. Saya tahu bahwa Dia akan dengan senang hati membantu Anda dengan cara ini juga!
[1] Tentu saja, ada alasan lain seseorang dapat meminta maaf secara berlebihan. Seperti korban pelecehan, rasisme, orang yang memiliki latar belakang agama yang sangat otoriter, atau siapa pun yang telah berulang kali ditindas dan dipermalukan; dapat yakin bahwa mereka selalu salah. Di sini, masalah yang mendasarinya adalah dampak dari rasa malu yang membuat pandangan mereka tentang kenyataan hidup melenceng, bukannya kesombongan atau ketakutan yang didasari oleh kecemasan tentang apa yang akan dipikirkan orang lain.