Sudah bukan cemburu lagi.
Tapi malu.
Malu.
Alisa U Zemlji Chuda
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

if i look back, i am lost

No title available
Sade Olutola
No title available

❣ Chile in a Photography ❣
$LAYYYTER

tannertan36
Misplaced Lens Cap

ellievsbear

No title available

No title available
ojovivo
NASA

pixel skylines

Kiana Khansmith
h
Monterey Bay Aquarium

seen from Malaysia

seen from United States
seen from Italy
seen from Poland

seen from Canada

seen from Australia

seen from Israel
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Malaysia
seen from Australia
seen from Türkiye

seen from United States

seen from Singapore

seen from South Korea

seen from Germany
seen from France

seen from Singapore

seen from Australia
@gloomygerutu
Sudah bukan cemburu lagi.
Tapi malu.
Malu.
Hal yang paling aku takutin terjadi hari ini. Nangis pun sudah gak bisa. Marah? Buat apa. Percuma.
Gak terhitung rasanya.
Baru aja tanggal 18 Maret 2025 aku bahas. Makin ke sini malah semakin mesra. Aku bisa apa.
Kalian para laki-laki yang masih haus sama cewek seksi, apa kalian sadar kalau kelakuan kalian yang sangat menjijikkan itu bikin pasangan kalian insecure?
Luar biasa insecure. Sampai benci, jijik, dan gak kenal sama diri sendiri.
Pasti gak bakal sadar sih.
Pokoknya nafsu kalian terpuaskan kan? Keren.
Aku muak.
Tiap buka explore instagram, sering ada foto cewek seksi dengan baju seadanya. Dadanya kelihatan menonjol dan terbuka separuh. Dan ternyata apa, ada namamu terlihat jelas di situ. Kamu like foto itu.
Mukaku panas. Malunya luar biasa. Cemburu? Enggak. Aku malu.
Kalau sampai orang lain yang lihat, mau ditaruh mana mukaku?
Gak akan aku posting bucin-bucin lagi. Badut banget emang aku ini.
Kalau aja bukan aku yang hapus 1 foto di archive feed instagrammu waktu itu, di pernikahan kita yang sudah 3 tahun, mungkin sampai sekarang masih tersimpan rapi fotonya di sana.
Oh, dan draft email juga. :)
Kalau aja bukan aku yang non-aktifkan notif update postingan dari dia di instagrammu waktu itu, mungkin bakal masih ada notifikasi di HPmu setiap dia posting sesuatu di akunnya.
Di feeds instagramnya juga masih ada hasil karya tanganmu yang lucu, tanda cintamu ke dia, pun fotonya sama adik perempuanmu waktu masih kecil.
Videomu sama dia di pantai, bercanda saling cipratin air laut. Masih ingat jelas sedetail itu di kepalaku.
Padahal pantai satu-satunya tempatku pulang, tapi bisa sesakit ini ya?
Aku suka pergi ke Malang.
Tapi bisa tolong, jangan ajak aku ke tempat yang kalian sering datangi dulu?
Malang kota bersejarah banget buat kalian berdua.
Sering baca kalimat, "Laki-laki itu mayoritas cintanya habis di orang lama, sisanya cuma melanjutkan hidup."
Apa benar ya?
Setelah baca-baca tumblrmu dulu, aku sempat termenung lama....kok kayaknya benar kata orang. Kamu sebegitu cintanya sama dia. Stuck sama dia, meskipun nyoba sama orang baru, akhirnya balik lagi ke dia.
Jadi, apa benar ya?
Mencoba untuk mengisi Tumblr lagi, dengan kata dan diksi yang sudah habis dicuri lelah dan waktu.
Dengan manis gula-gula yang tersisa, dari pasar malam yang sudah reot di dalam kepala.
Dengan sisa wangi masa lalu yang lugu, dan tergilas deru usia.
Apa aku harus belajar untuk menerima? Harusnya iya. Sudah tau konsekuensinya apa.
Butuh waktu berapa lama harus ngerasain sakit ini, sedangkan pihak sana menganggap kalau semua yang dilakukan itu hal yang biasa aja? Selamanya mungkin.
Ya Tuhan, gimana caranya biar bisa sekuat ibu. Aku gak sanggup.
Cara menunda untuk kecewa.
Rusak untuk kesekiankalinya karena, "Kalau aku kasih tau dia pasti marah, jadi mending gak usah sekalian."
Kemudian petir menyambar. Karena pasti ketahuan dengan sendirinya atau malah tau dari orang lain.
Nyeri banget. Sakit banget. Demi Allah.
Harus menunggu berapa lama lagi sampai pusaran mesin cuci ini berhenti? Tolong aku.
Tolong keluarkan aku. Paru-paruku sudah gemuk sudah penuh karena busa detergen.
Aku masih belum tau ini air pencucian atau malah justru bikin aku keracunan. Tolong aku.
Beberapa jam lagi fajar datang, menggelengkan kepala, dan mendengus bosan karena melihatku lagi dan lagi. Aku masih di sini dengan pandangan lelah dan kosong. Isi kepalaku pun masih menolak untuk terlelap.
Entah apa yang salah denganku. Hanya saja isi kepala yang tidak mau berhenti bersuara.
Apa kamu pernah merasakannya?
Mencoba memejam, tapi isi kepala malah saling baku hantam.
Semua yang kupendam satu per satu meledak. Beberapa pecah menjadi tangis. Yang lainnya? Membuatku terjebak sampai aku tak bisa bergerak. Bergeruduk menyerang tubuhku yang ingin rehat, setelah seharian digulung penat.
Coba beritahu aku, bagaimana cara meninabobokkan nalar? Sedangkan riuh suara, begitu banyak, berlomba untuk berkoar.
Ada bayangan yang tak pernah lepas, dan terlampau membekas. Seolah dia mencekik saraf-sarafmu, dan menguasai seluruh inderamu.
Mau sampai kapan kamu menyimpan gulungan pita disket berisikan potretnya?
Aku. Masih bisa melihat gurat wajahnya di matamu. Mendengar kamu menyebut namanya di tengah lelapmu. Mencium aromanya di setiap pakaianmu.
Tanganmu memang memelukku, kedua matamu menatapku, tapi entah pikiranmu.
Coba beritahu aku, di mana kamu letakkan gembok hatimu itu?
Sayang, aku bukan tempat untuk mengalamatkan kenangan.
Apakah tak ada sudut nyaman di rumah yang telah aku sediakan?
Tolong. Tolong sudahi memutar kenangan ketika kita sudah berikatan.
Jadi ibu rumah tangga berpenghasilan dan jadi seorang ibu, itu cita-citaku nomer satu, bahkan sejak sekolah dulu.
1. Jadi ibu rumah tangga? Sudah.
2. Berpenghasilan? Belum. Belum kerja lagi. Belum tau bakal kerja lagi atau usaha sendiri. Masih proses recovery.
3. Jadi ibu? ...belum.
Sekarang kalau dihitung, sudah jalan bulan kelima aku jadi istri orang.
Namanya juga hidup di budaya ini, nikah baru dua bulan aja sudah disudutin pertanyaan mengenai anak. Iya, tau kok.
Waktu itu, bulan Maret, satu bulan menikah, oh mens. Ok, masih sebulan kok. Sedih sih, dikit.
Bulan April. Sudah 3 hari telat, kok belum mens? Eh siangnya mens. Ok, belum rejekinya. Sedih, sempet nangis juga.
Akhir April perut kanan bawah nyeri banget, kemeng. Setelah ke dokter, ternyata di ginjal kanan ada batu. Berobat yuk, semangat.
Bulan Mei, perut masih kerasa sakit. Dapat omongan kalau sakit perutnya itu bisa jadi tanda-tanda hamil. Ditambah lagi telat mens seminggu. Ya Allah, apa iya?
Beli test pack. Pertama hasilnya negatif. Dibuang langsung.
Besoknya nyoba lagi. Tetep satu garis. Sampai dicelup-celupin lagi, ditungguin lama, dilihatin terus, tetep gak ada perubahan.
Nangis. Mlungker. Sorenya mens. Hehe. Ya Allah, aku lagi diuji ya ini?
Bulan Juni, tepat waktu mensnya. Ok. Sudah sekian banyak omongan orang, saudara-saudara pun, "Belum isi?" "Sudah hamil?" "Jangan ditunda-tunda." dan lain sebagainya, yang intinya sama. Masih nangis juga tiap hari pertama mens.
Bulan Juli, perut masih belum ada perubahan, masih berobat jalan. Khawatir kok masih sakit, hasil USG sebulan yang lalu juga masih ngganjel. Tes urine dan disuruh USG ulang bulan depan untuk memastikan. Dan ada kemungkinan masalah di area reproduksi. Kemungkinan. Sampai nekat ke obgyn. Tapi masih ngegantung semua. Di sisi lain berharap juga kalau anakku datang bulan ini. Tapi. Drop. Iya, tau kok. Masih diuji sama Allah. Tapi manusia apa yang bisa sekuat ini?
Kalau ada masalah semacam ini, entah kenapa cenderung yang salah dan merasa bersalah itu pihak perempuan. Coba jelasin sini.
Iya, aku masih dalam keadaan down, sensitif, emosional. Berlebihan ta? Coba jelasin sini.
For My Future Kiddo
Hai, nak.
Terimakasih ya sudah ngajarin bibu buat lebih sabar lagi.
Gpp, bibu nggak maksa kamu untuk datang sesegera mungkin. Maafin bibu ya. Nanti langsung datang aja kalau sudah diijinin Tuhan buat menuh-menuhin perut jidut bibu ya, nak.
I love you.
Aku ini bukan perempuan pertama yang jatuh hati dengan sikap hangat-berselimutkan-dingin itu.
Apalagi yang kemudian tercekat saat ketahuan sedang menatap lekat-lekat setiap garis dari wajahmu. "Kamu lagi mikir apa sih?", tanyaku dalam hati.
Dijawab dengan senyum tipis dan dibalas, "Kenapa?", seketika aku memalingkan pandangan dan merasakan pipi sampai telingaku yang mulai memanas. Aku malu.
Tapi untung saja ya, jantungku tidak loncat dari tempatnya karena berjingkat-jingkat kegirangan. Entah ini apa.
Tapi aku merasa diberkati ketika kamu menemukanku yang sedang berdiri di ujung rooftop karena ingin mengakhiri hidup di dunia. Diam dan uluran tangan itu memberikan isyarat kalau aku masih harus bertahan. Heran.
Aku bertanya lagi, "Kamu yang suka hipnotis-hipnotis di acara TV itu ya?"
Terima kasih untuk tetap gigih menunjukkan usaha dan mengubah rasa risih menjadi cinta kasih. Terima kasih untuk tetap di sini, meski laci kesabaranmu sudah kuobrak-abrik. Terima kasih untuk kesediaan membuka tangan lebar lalu mendekap dan mengajakku untuk dealing with our scars, memaafkan diri di masa lampau.
-- Bismillah ya. Adek sayang mas.
How did I survive this far? After everything that happened. Wow...