Alam sebagai kertas kosong yang di isi dengan titik garis bidang dirangkai membentuk massa, sistem, dan pola hidup. Ego liar manusia yang seakan bertindak sebagai pencipta, yang padahal hanya perangkai. #egoliar
YOU ARE THE REASON

blake kathryn

No title available
Xuebing Du

Discoholic đȘ©

PR's Tumblrdome
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

JVL

Kaledo Art

romaâ
Lint Roller? I Barely Know Her

izzy's playlists!
No title available
$LAYYYTER
RMH
Keni
hello vonnie
Mike Driver

Love Begins

pixel skylines
seen from United States

seen from United States
seen from Germany
seen from Hungary

seen from United States
seen from Canada

seen from TĂŒrkiye

seen from Malaysia

seen from United Kingdom

seen from Brazil
seen from Costa Rica

seen from Costa Rica
seen from Costa Rica
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from TĂŒrkiye
seen from United States
@grandnm
Alam sebagai kertas kosong yang di isi dengan titik garis bidang dirangkai membentuk massa, sistem, dan pola hidup. Ego liar manusia yang seakan bertindak sebagai pencipta, yang padahal hanya perangkai. #egoliar
(via A Glass House Inside A Slanted Steel Frame in Jakarta)
Rumah Miring by Budi Pradono! One of Indonesian Architect that Iâll always respect the most. I canât be more proud :)
#banggaarsitekturIndonesia
bearth-deplazes.ch
arsitektur; arsitek 3 bulanan dan arsitek 4,5 tahunan
Iklan ini beredar cukup marak beredar dalam kalangan arsitektur. Banyak arsitek maupun mahasiswanya yang mengurut dada, masa kuliah studio bertahun-tahun disamakan les komputer tiga bulan?  Saking dirasa melukai harga diri para arsitek konvensional hasil cetakan pendidikan tinggi, asosiasi profesi arsitek terbesar dalam negeri pun melayangkan keberatan secara resmi. Pada banyak foto surat yang beredar, iklan ini dianggap âmenyesatkan dan melecehkanâ, karena untuk menjadi arsitek seseorang harus âmenempuh pendidikan arsitektur minimal 4,5 tahun dan proses Pendidikan Profesi Arsitek (PP Ar) selama 2 tahunâ.
Dua pihak tersebut, pengiklan dan asosiasi, saling mengklaim siapa yang berhak dan bisa menjadi âarsitekâ. Frasa arsitek pada iklan kursus tampaknya mengacu pada seseorang yang melakukan pekerjaan desain di luar sistem birokrasi, di mana kadang orang ini kadang tidak memiliki ijazah bahkan pendidikan formal arsitektur. Sementara kata arsitek dalam surat teguran pihak asosiasi profesi yang meresponnya merujuk pada profesi arsitek kebanyakan, yang bekerja pada biro arsitektur/konsultan di mana pekerjaannya berada di ranah birokrasi. Jika ini adalah tentang siapa yang berhak menyandang frasa âarsitekâ, RUU Arsitek, yang rencananya hendak disahkan tahun ini, dengan jelas menegaskan bahwa pada Bab I, Pasal I, ayat 3; Arsitek adalah seseorang yang telah memiliki Surat Tanda Registrasi Arsitek.
Dalam ranah birokrasi, menjadi âarsitekâ bukanlah tentang tiga bulan atau empat setengah tahun, tapi uji kompetensi yang berujung pada lisensi. Pendidikan Profesi Arsitektur, yang merupakan lanjutan dari pendidikan arsitektur di universitas, memang menghasilkan individu dengan gelar arsitek resmi. Tapi nyatanya pendidikan lanjutan ini pun tak selalu ditempuh oleh pekerja arsitektur kebanyakan, termasuk pihak yang mengurut dada di awal tadi. Kebanyakan, termasuk saya, lulus S1 Teknik Arsitektur, bekerja, lalu mendapat gelar âarsitekâ secara resmi melalui sertifikasi keahlian. Intinya, biar kuliah berapa tahun sekalipun, kalau tak punya sertifikat bukan arsitek juga namanya.
Lalu sebenarnya apa sih, yang dikhawatirkan dari keberhakan menyandang gelar arsitek ini? Pangsa pasar yang menyempit dengan kehadiran arsitek tiga bulanan? Lalu bagaimana dengan banyaknya gambar desain sampai DED lengkap gratisan yang berhamburan di internet? Apakah ini tentang kecemasan pada penurunan kualitas desain akibat minimnya pengetahuan? Berapa banyak sih, lulusan arsitektur yang merasa banyak bingung dalam berpraktik karena minim pengalaman di lapangan? Bicara kualitas, bagaimana dengan megadesain arsitektur stadium Mané Garrincha, yang setelah FIFA usai menjadi lahan parkir? Oh, apakah kualitas arsitektur hanya berhenti pada hasil desain tanpa keberlanjutannya? Dibandingkan dengan gambar rumah gratis dari internet yang dicontek arsitek tiga bulanan, mana yang kebih banyak kesia-siaannya?
By the way, Tadao Ando, arsitek bintang yang begitu banyak dipuja itu bukanlah seorang lulusan pendidikan formal arsitektur. Setelah berhenti jadi petinju, Ando justru mengambil kursus interior dan, ehm, kursus menggambar di malam hari.
Iya mba, sepemikiran.
Kata KBBI, âarsitek/ar·si·tek/ /arsitĂ©k/ n 1 ahli dalam merancang dan menggambar bangunan, jembatan, dan sebagainya, biasanya sekaligus sebagai penyelia konstruksinya; 2 ki perencana (pencipta suatu paham, negara, dan sebagainya)â.Â
Merujuk dari sana, menurut saya, seorang tukang, yang notabene gak menempuh jalur S1 Arsitektur pun, mungkin bisa dibilang arsitek. Memang bukan soal berapa lama dia sekolah, akhirnya yang menentukan seberapa efektif dalam menyelesaikan masalah. Dan mungkin hal ini bukan di profesi Arsitek aja, profesi yang lain juga banyak mba.Â
Calm.
Saya (Manusia)
Mungkin sekarang yang makin kelihatan sakit pikiran. Bentuk kemunculannya adalah makin banyak bersikap skeptis dan apatis terhadap apa saja, sementara muncul pada lapisan lain yang justru menghadapi keadaan dengan ekstrem dan ingin radikal.
Mungkin ini resiko yang normal pada jaman ini, entah kenapa mungkin karena kultur kita yang sangat kuat perwatakannya kurang memberikan peluang watak-watak lain, yang memanjakan mental, menyepikan militansi, dan merengkuh hati. Mungkin terlalu mencetak dan mengarahkan pikiran. Yang pada akhirnya kurang bisa disaring secara bijak dengan pola sekarang yang lebih bebas. Dan akhirnya muncul hal-hal yang disampaikan di awal.
Yah setidaknya sedang bersemangat untuk berbuat dengan berkata, walaupun tau kalau tidak semuanya berkata itu berbuat. Entah buat siapa yang dirasa perlu dibela, walaupun cuma pengangguran. ha-ha saya (manusia).
Mars Pathfinder & Sojourner Rover (360 View) Explained
Thanks to new technology, we can take a 360-degree tour of the 1997 Pathfinder mission landing site, including Sojourner, the first Mars rover. Check out this interactive YouTube panorama, and thenâŠ
âŠkeep scrolling to find out more about each point of interest, how the Pathfinder mission compares to âThe Martianâ and NASAâs real Journey to Mars.
Yogi
âYogiâ is a meter-size rock about 5 meters northwest of the Mars Pathfinder lander and the second rock visited by the Sojourner Roverâs alpha proton X-ray spectrometer (APXS) instrument. This mosaic shows super resolution techniques applied to help to address questions about the texture of this rock and what it might tell us about how it came to be.
Twin Peaks
The Twin Peaks are modest-size hills to the southwest of the Mars Pathfinder landing site. They were discovered on the first panoramas taken by the IMP camera on the July 4, 1997, and subsequently identified in Viking Orbiter images taken over 20 years ago. Theyâre about 30-35 meters tall.
Barnacle Bill
âBarnacle Billâ is a small rock immediately west-northwest of the Mars Pathfinder lander and was the first rock visited by the Sojourner Roverâs alpha proton X-ray spectrometer (APXS) instrument. If you have some old-school red-cyan glasses, put them on and see this pic in eye-popping 3-D.
Rock Garden
The Rock Garden is a cluster of large, angular rocks tilted in a downstream direction from ancient floods on Mars. The rocky surface is comprised of materials washed down from the highlands and deposited in this ancient outflow channel.
MOAR INFO
Pathfinder Lander & Sojourner RoverÂ
Mission Facts [PDF]
Science Results
Rock & Soil Types
This vista was stitched together from many images taken in 1997 by Pathfinder.
Pathfinder and Sojourner figure into Mark Watneyâs quest for survival on the Red Planet in the book and movie, âThe Martian.â See JPLâs role in making âThe Martianâ a reality: http://go.nasa.gov/1McRrXw and discover nine real NASA technologies depicted in âThe Martianâ: http://go.nasa.gov/1QiyUiC.
So what about the real-life âJourney to Marsâ? NASA is developing the capabilities needed to send humans to Mars in the 2030s. Discover more at http://nasa.gov/journeytomars and donât forget to visit me when you make it to the Red Planet. Until then, stay curious and Iâll see you online.
Jalak
Para burung sering dibuat pusing dengan ulah Raja mereka, si Elang. Kali ini karena keputusannya dalam pembagian wilayah makanan. Hanya beberapa burung yang diuntungkan. Seperti burung Beo yang pandai bicara, dan pintar merayu Sang Raja.
Burung Jalak berada di pinggiran yang paling kasihan. Lahan makanannya yang banyak buah-buahan diakuisisi oleh Beo atas perintah Elang. Memang Elang, seenaknya meletakkan burung pinggiran itu di hamparan rumput berlumpur. Dan si Beo senang-senang saja jadi pemenang, tanpa peduli keadaan si Jalak.
Beberapa Jalak yang pindah lahan, di anggap menjadi burung yang baik, karena telah âpatuhâ peraturan. Sedangkan yang bertahan pun akhirnya dianggap âmelanggarâ peraturan. Masalahnya adalah keadilan. Peraturan (perintah Raja) sudah dianggap menjadi juru adil dalam pembagian, tak peduli beneran adil apa tidak.
Yah andaikan saja, derap pembagian wilayah âmakanâ tak sedemikian progresif sehingga terkadang kurang memikirkan bagaimana memburungkan burung, sampai formula keadilannya terjebak untuk sepihak saja. Andai saja pembagian tersebut diputuskan dalam suatu forum yang sejalar-selangit antara elang dan rakyatnya.
Si Jalak pun rasanya seperti diusir dari meja makannya sendiri. Mereka mau apa(?) mereka tidak punya kekuatan melawan elang yang perkasa dan Beo yang pandai bicara. Akhirnya, mereka nikmati saja makanan seadanya di punuk kerbau, sang penyelamat perut mereka.
Kita (manusia) dari dulu selalu berjuang, berjuang meningkatkan kualitas diri atau berjuang menghalangi perjuangan orang lain. Dan akhirnya dendam.
lingkaran setan
Manusia mengambil jatah pekerjaan Setan. Setan pun tak tinggal diam. Lapangan pekerjaan dalam ranah âkejahatanâ mulai di ambil alih manusia. Menjadi manusia yang baik, itung-itung buka lapangan pekerjaan buat setan biar bisa goda terus manusia, bisa nambah pahala buat kita. Wallahualam
Cerpen keren -- suwun jek @zakkydzulfikar
Theater designed by Asier Bilbo from the Noun Project
The Real Cost of Pessimism
Having a negative mindset can not only reduce your creative thinking, but the creativity of others you work with. When you have a negative experience, it interferes with your ability to recognize a good idea, because you are hesitant to try again. Neil Wadhwa on FreshGigs explains:
Pessimism is an overall negative mindset in which youâre reluctant to build upon your creative ideas. Your creative pursuits may not have been successful in the past, and you assume they wonât be successful moving forward. Not only does it stifle your creativity, but along the way you also start to undermine the ideas of others.
Instead of cutting ideas short with pessimism, try building on them with positive language. The word âbutâ is usually followed by an objection, so try changing it to âand.â For example, âthe design looks great, and it would be more effective if we change the color.â You can also change your mindset by building on what went right in past experiences.
by Stephanie Kaptein
Persepsi yang dibentuk karena pandangan mayoritas lingkungan sekitar atas setiap hal(?). Bukan kita yang menentukan, benar atau tidak, penting atau tidaknya. Namun, lingkungan yang menentukan, cuman ikut pandangan umum. Kalau sebuah persepsi didasari oleh perantara, tanpa tau sendiri mana yang nyata. Hiks! (at RS Siloam)
Sepertinya terlihat bebas, namun terhalangi yang menuntut. Hanya kurang bergaul, kurang mau "turun", tempat dimana akan paham bahwa masyarakat cukup punya toleran. Merdeka itu gak gampang. Yang bebas tetap punya beban, walau tak tampak. -- cikiciw
Katanya mau menguatkan, nyatanya melemahkan. Karena kepentingan pribadi selalu diatas kepentingan banyak, jadi asal alasan ambil sikap. Apalagi yang mau dibantah?kalau memang melemahkan. Dimintai konsekuensi sebagai lembaga negara untuk siap disadap apabila dicurigai bermain saja tidak mau, malah minta ke menlu diberikan paspor hitam agar menjadi wakil kenegaraan saat berkunjung ke luar negeri (agar lebih dilayani di luar negeri). Nyatanya, partai rakyat yang mengaku sebagai wakil rakyat, 8 dari 10 tidak suka kalau "bermain"nya diganggu dengan penyadapan. Mungkin takut, kalau waktu si wakil lagi main petak umpet sama istri malah ketawan. Sembunyi di kabut aja, yang sukanya mengkaburkan. Biar kabur dan ilang sekalian.
Tuhan itu demokratis! Dia tidak mendikte, tetapi memberi pilihan, dengan konsekuensinya. Manusia diberi petunjuk dan akal, dan kita sendirilah yang memutuskan dengan mengikuti akal kita. Karena keimanan seseorang harus didasari pada kemerdekaan memilih yang diberikan Tuhan khusus pada manusia. Dikutip dari buku yang dikasih @marisasugangga , berjudul "Muslim kok Nyebelin" yang ditulis oleh Satria Dharma.
Jakarta sang Ibu
Lomba-lomba jadi pemimpin Jakarta. Tiap partai memajukan jagoannya buat adu sakti pimpin Jakarta. Heran kenapa selalu Jakarta. Katanya yang merasa pakar sih, karena Jakarta sebagai Ibu dari Negara dan sebagai miniatur dari sebuah Negara namanya Indonesia. Iya emang, ada sumber yang menyebutkan juga kalau perputaran uang di Indonesia 85% nya di Jakarta.
Masih 2017 memang Pilkada DKI Jakarta, tapi sudah banyak saja yang siap-siap berlaga. Jakarta memang strategis dan prestisius, gak kaget jadi banyak orang yang tergiur jadi âpemimpinâ Jakarta. Nama-nama seperti bapak Ridwan Kamil dan Ibu Tri Rismaharini juga di gadang-gadang untuk maju Pilkada DKI Jakarta melawan Koh Ahok.
Oke, selanjutnya ini pikiran jelek saya. Pak Ridwan Kamil dan Ibu Tri Rismaharini adalah dua sosok walikota di Bandung dan Surabaya, yang sampai saat ini sepak terjangnya tergolong sukses dalam memimpin kotanya, yang kemudian akan di âadu jotosâ-kan dalam Pilkada DKI. Yah mungkin ini cara orang-orang dibalik layar, mereka-mereka yang sudah punya nama dan sukses dalam memimpin kota, di tarik ke Jakarta yang notabene merupakan tempat perputaran uang terbesar di Indonesia. Paham maksudnya? Iya ini mungkin ulah orang-orang partai yang menginginkan pengelolaan uang âituâ dengan orang yang di usungnya, kan jadi enak kongkalikongnya. Mau gimana pun, di Indonesia untuk menjadi pemimpin, Walikota, Gubernur, Presiden, yaa kendaraannya partai politik. Ada yang bilang, ada calon independen tapi tetap saja ada kerja sama sama partai walaupun âsedikitâ.
Partai politik macam-macam memang suka kadang memanfaatkan nama-nama tenar, untuk jadi pemenang. Padahal, kalau mereka berpikir âIndonesiaâ, masih banyak kota-kota yang membutuhkan pemimpin baik. Kenapa tidak di sebar saja, biar semakin banyak kota-kota yang menjadi lebih baik. Kenapa harus di pusatkan di Jakarta, semua pemimpin yang punya popularitas, konsep baik, cara kerja apik ditarik ke Jakarta. Jakarta emang Ibu dari semua kota di Indonesia, tapi seorang Ibu juga kadang perlu belajar dari anaknya. Apa Ibunya akan iri kalau anaknya jadi jauh lebih baik?Saya kira kalau memang Ibu yang baik pasti akan senang melihat anaknya berkembang jauh lebih baik dari Ibunya.
Sekali lagi, ini pikiran jelek saya, gausah digubris. Toh saya juga bukan orang Jakarta. Oke? Bye.