Malam ini, keheningan mulai merasuki jiwa yang mendamba pertemuan. Tapi di kepala, riuh kian meronta dipantik kerinduan.
Kenapa rindu enggan pergi, meski kantuk menagih untuk sudahi semua ini? Atau mungkin akan bersua dalam mimpi?
Namun nyatanya, hadir tidaknya ia dalam lelap, rinduku tak kunjung lenyap. Dan di antara kemungkinan yang kuharap, semoga tetap ada keyakinan yang tertancap.
Realita memang kadang tak semulus yang direncana, ibarat mendung menyapa cerahnya langit tanpa praduga. Angin beserta rintik hujan pun siap membasahi setiap apa yang diterpa.
Begitulah sapaan ujian pada kehidupan; menyambangi tanpa diundang, membawa serta kecemasan dan ketakutan.
Namun percayalah; badai pasti berlalu. Tapi tak ada jaminan ia tidak akan kembali lagi bertamu, bahkan badai berikutnya mungkin akan lebih dahsyat menyapu. Menghempas segala yang ditemu, meratakan segala yang rapuh.
Yang pasti, ada jaminan dari Tuhan bahwa badai tak akan pernah datang selagi kita tak mampu. Selama ujian hadir di kehidupan kita, artinya kitalah yang dipercaya tuhan untuk melaluinya.
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya ... ." (QS. Al-Baqarah: 286)
Di keramaian, mungkin kita terlihat kuat dan bahagia dengan senyuman yang bangga kita sunggingkan. Namun di balik senyum yang tersungging, ada tangis yang malu menyingsing. Ketika keramaian mulai memudar dan sunyi menyelimuti ruang hati, saat itulah kita berteman dengan kelemahan diri. Ingin meluapkan isi batin, tapi ego enggan memberi izin.
Ada waktu di mana kita juga membutuhkan sosok yang menguatkan di kala jiwa dilemahkan kenyataan. Mengusap peluh dari sekian lelah yang kita paksakan. Menjadi tumpuan kuat saat langkah mulai gemetar, menyuguhkan pundak untuk bersandar.
Yang menggenggam erat jemari; meneguhkan hati sembari membisikkan, “Kamu pasti sanggup melalui.” Yang menjadi pengingat bahwa hidup bukan soal siapa yang menang siapa yang kalah, tapi lebih dari itu; menghargai proses dan mengapresiasi pencapaian.
Mereka laksana mercusuar di tengah gelap samudera, membantu kita menavigasikan bahtera kehidupan yang tak pasti dan penuh tanda tanya. Sebentuk anugerah yang kita temui di tengah terang redupnya hidup. Mereka adalah bukti bahwa cinta, persahabatan, dan dukungan menjadi pelipur lara yang paling mujarab.
Ketika hidup mulai dirasa berat untuk dijalani dan berbagai masalah seakan rajin menyambangi, cobalah sejenak membuka kembali lembar catatan karunia yang pernah dinikmati, mengingat kembali berapa banyak nikmat yang sudah diberi, juga menyadari bahwa sampai detik ini, takdir baik masih menyertai.
Hal itu akan meneduhkan resah, melerai gundah. Ternyata, segala pelik permasalahan yang tengah kita rasakan, tak sebanding dengan rahmat yang tak pernah putus Tuhan berikan.
Dan betapa mengambil jeda untuk sejenak bercengkrama dengan nurani, mampu menenteramkan diri. Menjaga akal agar tak “keblabasan” mengartikan sebuah takdir, dan mencegah kaki untuk melangkah menuju hal-hal yang akan timbul penyesalan di akhir.
"...Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah ...." (QS. Az-Zumar: 53).
Di sela-sela rutinitas yang tak berujung, ada bayangan gelap yang selalu siap mengepung. Adalah lelah; datang dari hiruk-pikuk dunia yang terus melaju tanpa henti. Dalam kepenatan yang menghampiri, ada kelelahan yang terukir dalam ruang-ruang sunyi, membebani bahu dan pikiran dengan beban yang kadang terasa tak tertahankan lagi.
Coba kita melihatnya dari lain sisi dengan belajar menerima bahwa lelah adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan. Ia sebentuk cermin dari perjuangan dan pengorbanan yang telah kita kerahkan. Ia merupakan saksi dari kegigihan dan ketabahan, manifestasi dari kekuatan dan keteguhan. Lelah juga mengajarkan kita untuk menghargai momen istirahat dengan memperlambat langkah, lalu merenung dalam ketenangan agar semangat kembali merekah.
Semoga, Dalam tiap lelah yang terkadang menggoda untuk menyerah, terpendam pula kekuatan untuk terus melangkah.
Terkadang, hidup memang menyuguhkan ragam ujian yang tak adil dalam persepsi kita. Namun nyatanya, kita hanya terlalu naif dengan mengeluhkannya. Atau mungkin kita terlambat sadar bahwa di balik itu semua ada sepercik hikmah yang belum kita pantik, ada potensi yang belum kita eksplorasi, ada secercah harapan yang belum kita singkap.
Ketika muncul tanya dalam diri, “Mengapa harus kita yang menghadapi semua ini?” Cobalah timpali dengan pertanyaan, “Apa yang bisa kita pelajari dari semua ini?” Barang kali semoga dalam masa pencarian itu, kita menemukan hikmah yang tak terduga; seperti oase di tandusnya sahara.
Sering kali kita begitu takut dengan kepergian. Padahal, nyatanya yang kita takutkan adalah tentang kekhawatiran atas ketidaksanggupan merelakan seseorang dan ketidakcakapan kita menyikapi kekosongan atas kepergiannya.
Karena biar bagaimanapun, selalu ada ruang kosong yang tidak bisa diisi oleh siapa pun setelah ditinggal pemiliknya, meskipun akan datang sekian nama baru untuk menggantikannya. Ruang itu akan selalu bersama dengan kenangannya.
Dalam kehidupan ini, sudah berapa kali kita menelan kekecewaan karena kegagalan? Mengerutkan senyuman menjelma getir kepiluan. Padahal, segenap upaya sudah di ambang maksimalnya, segala perencanaan sudah rapi di awalnya, pun berbagai pertimbangan sudah matang untuk sekian kemungkinan. Namun nyatanya, diri ini masih berat untuk sebuah penerimaan.
Sudah berapa sering kita dirundung penyesalan tersebab melewatkan banyak kesempatan? Mengambinghitamkan diri sendiri; meratapi setiap momen-momen krusial dalam hidup yang begitu saja terlewati. Bahkan, menghakimi keadaan sebagai satu-satunya yang pantas disalahkan.
Demikianlah serba-serbi kehidupan. Dan pada saat semua berada di titik terendah dalam hidupnya, kapan pun Allah selalu menyertai hambanya. Allah akan menambal hati yang patah untuk kembali utuh, mengobati jiwa yang pilu untuk kembali sembuh.
Mungkin kita mengira; kita tahu segalanya tentang apa yang terbaik untuk diri kita, tapi kenyataannya kita tak pernah tahu apa-apa. Dia-lah yang paling tahu apa yang terbaik untuk makhluk-Nya, termasuk kita. Serupa lentera, petunjuk-Nya menerangi gelapnya pandangan kita melihat kebenaran. Bagaikan rasi bintang, petunjuk-Nya mengarahkan kita pada satu pemahaman bahwa segala yang buruk di mata kita, ada beribu hikmah di baliknya.
Jika direnungi lebih dalam, tidak ada jalan yang dapat menyadarkan kita bahwa kita hanya seorang hamba yang pasti akan pulang dan kembali, kecuali dengan ujian berat yang sukar diarungi. Karena dengan ujianlah, selangkah kita menjauh daripada cinta terhadap dunia. Ketika rasa cinta kepada dunia bersemi di dalam hati, akan membuahkan ketakutan untuk menghadapi mati. Cinta terhadap sesuatu berbanding lurus dengan takut kehilangan sesuatu tersebut.
Di titik inilah kita menyadari; dunia tak akan pernah kita dekap sepenuhnya dan kita rengkuh seutuhnya. Selama ini kita hanya mengejar fatamorgana belaka, dan hanya menyia-nyiakan rasa lelah untuk sesuatu yang fana.
Semoga Allah selalu membimbing kita mengarungi kehidupan dengan segala lika-likunya.
---
Solo, 13 Maret 2023
Kita tidak pernah tahu ke mana arah takdir kita berlabu. Tapi satu hal yang harus kita teguhkan dalam hati bahwa takdir serupa bayang-bayang yang tak pernah luput dari pijakannya. Alur cerita hidup pun sudah terajut rapi, tinggal bagaimana kita menyikapi.
Hamparan hari esok memang masih berkabutkan misteri, tak perlu menyibaknya dengan ketakutan dan kekhawatiran sebelum menjalani. Sebab, apabila kita terus menerka apa yang akan terjadi di kemudian hari, yang ada hanya kecemasan dan kegelisahan menyelimuti diri. Dan ingat, tidak ada yang lebih melelahkan ketimbang lari dari kegaduhan pikiran kita sendiri.
Islam datang mengajarkan arti sebuah ketenangan dari kerahasiaan takdir; melapangkan hati dari setumpuk ketetapan yang tak sesuai keinginan, juga melapangkan syukur atas segala keputusan yang selaras kemauan. Karena dalam kehidupan, selalu ada dua kemungkinan; kegembiraan yang Memanifestasikan senyuman atau muram tersungkur dalam kesedihan. Setiap dari kita memiliki jalur takdir untuk dilalui, bukan dihindari.
Takdir ialah pertautan antara kehendak Sang Kuasa dan ikhtiar seorang hamba. Makin dalam pemahamannya perihal takdir, makin teguh ia menghadapi kehidupan hingga akhir. Meyakini sepenuhnya bahwa segala bentuk ketetapan, adalah sebaik-baik pemberian, sekalipun di mata manusia berwujudkan keburukan. Maka kedepankan rasa percaya dan berbaik sangka kepada Sang Maha; bahwa Dia tak pernah salah, apalagi menzalimi hamba. Karena kepercayaan dan keyakinan sepenuh hati merupakan kunci dari ketenangan nurani.
Perkataan Rasulullah ini mungkin bisa menjadi refleksi dari kegamangan hati tentang bagaimana sebaiknya menyikapi suratan ilahi,
“Sangat menakjubkan bagi orang mukmin. Sungguh, seluruh urusannya itu baik baginya, dan hal itu tidak akan terjadi, kecuali bagi seorang yang beriman. Apabila mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Apabila ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu juga baik baginya." (HR Muslim).
Sering kali kita lupa, kita hanya sanggup merencana tanpa sanggup memastikannya terlaksana. Sekuat apa pun kita mengupayakan keberhasilan, namun jika akhirnya tak sesuai dengan apa yang diharapkan, tak ada daya bagi kita selain penerimaan. Sekeras apa pun kita menyandingkan dua hati untuk saling bertautan, namun jika nyatanya tetap saling berlawanan, tak ada cara bagi kita selain melepaskan dan mengikhlaskan.
Sebegitu kuatnya takdir memainkan perannya.
Kita pun menyadari bahwa seberat apa pun ujian, ada untuk kita beribu kemudahan. Toh, Tuhan tak pernah memberi beban diluar kemampuan. Dan perihal ketetapan, Dia tak akan salah dalam mengalamatkan tujuan, bukan?
Namun anehnya, rasa kecewa yang kita rasa lebih mendominasi daripada penerimaan yang seharusnya kita buka selebar-lebarnya.
Itulah kita, yang kadang alpa menyikapi sesuatu kepastiaan penuh kerahasiaan. Sesuatu yang olehnya, apa pun akan mengikuti tanpa sanggup menjauh pergi. Sebuah ketetapan yang tepat sasaran.
Izinkan malam nanti kusambangi teras hatimu demi memanjakan rindu dengan sebatas temu. Bercengkrama dengan seduhan manis senyummu sebagai refleksi terbaik untuk sekian penat seharian penuh.
Jika pun tidak, izinkan aku menghadirkan sosokmu untuk sekian waktu dalam lelapku.
Sesering apa pun cemas menghampirimu, datang membawa setumpuk rasa kurang disertai rasa tak mampu. Yakinlah, masih banyak hati yang penuh dengan penerimaan, menyambutmu dengan uluran tangan, mendampingimu di setiap fase perjuangan, dan memberimu dukungan paling tulus di sepanjang jalan juangmu yang tak akan mulus.
Seberapa kali pun rasa sesal menghantuimu, menarik langkahmu untuk kembali bercengkrama dengan masa lalu, meresapi sisa-sisa kesalahanmu yang sudah mulai usang nan berdebu, kemudian menjadikanmu enggan bangkit untuk maju. Hiraukan dia!
Tetaplah fokus dalam usahamu untuk memperbaiki diri. Menambal kekurangan-kekurangan untuk dibenahi, menggalih pontensi yang selama ini tersembunyi, dan memaksimalkan kesempatan lebih baik lagi.
Dibalik sebuah pertemuan dan perpisahan yang memberi banyak arti untuk direnungi dan pelajaran penting untuk di eja kemudian dimaknai. Dari yang saling asing hingga yang kemanapun harus saling beriring, sampai akhirnya harus dipisahakan dengan membawa kenang masing-masing. Entah kenangan itu tetap terpatri sampai akhir masa, atau kemudian dengan mudahnya terlupa sebab ada pertemuan baru menyapa.
Pernah saling membasuh lara dari lelahnya melangkah, berbagi tawa canda agar rundung duka luka sedikit meredah. Pada akhirnya, hanya sekedar saling sapa pun harus ada pertimbangan untuk mengawali, menjadi yang paling sungkan untuk sebatas saling mengabari.
Bijak-bijaklah dalam menyikapi sebuah pertemuan juga perpisahan, karena nyatanya, temu dan pisah adalah dua sisi yang berlawanan, namun saling berkaitan dan beriringan.
Keduanya mengajarkan kita untuk memberi sambutan terbaik untuk setiap kedatangan, memberi porsi terbaik untuk setiap kebersamaan, dan memberi kesan terbaik untuk setiap kepergian.
Satu wajah itu mengingatkanku akan masa yang telah berlalu. Aku tak pernah menyimpan dan memiliki satu potret wajahnya, tetapi kilasan wajahnya membawaku pada berjuta ingatan yang dahulu pernah kami rangkai bersama.
Kepergiannya tidak hanya meninggalkan luka yang sulit kusembuhkan, tetapi juga penyesalan yang begitu mendalam. Karena, aku tak akan pernah bisa melihat dirinya lagi.
@hardkryptoniteheart
~~~
Pada seraut wajah di kelas satu:
Matamu yang sayu dan penuh rahasia itu tak dapat ku mengerti, hingga perpisahan membuka tabir yang kau tutupi.
Betapa dulu, matamu yang sering tertunduk dan sering sekali nampak kosong itu menyimpan banyak luka masa lalu.
Betapa dulu, gerak langkahmu yang ragu-ragu ku kira sekadar karena perasaan malu, ternyata lebih jauh dari itu, ada sesuatu yang belum selesai dalam dirimu.
Betapa bodoh aku, yang tak mampu membacamu melalui rabun mataku, melalui kacamataku..
Maafkan aku..
Maaf karena tanda darimu tak dapat ku lihat dengan jernih,
sebab ketika itu, diriku sedang bergejolak dan memelihara api. Api ketakutan, api kemarahan, api keputusasaan.
Lalu, bagaimana bisa api menyembuhkan pedih?
Malah menambah luka, jadi jangan sampai itu terjadi..
Yang lebih kau butuhkan ternyata obat, obat yang merupa telinga, mata, dan tangan,
telinga yang siap mewadahi, mata yang tulus mengerti, serta tangan yang tak pernah melepas apalagi pergi.
Dan pada kehidupan yang telah memisahkan kita demi masa depan, ku doakan dirimu sudah pulih.
Jangan lagi menyimpan luka sendiri.
Jangan biarkan semakin menganga.
Jangan takut untuk bercerita.
Jangan pendam dan hadapi semuanya sendiri.
Sebab akan selalu ada manusia-manusia berhati putih yang tulus memahami, bukan menghakimi.
Semoga kamu sehat di sana..
Salam hangat dari teman sebangkumu di kelas satu.
@mostlyaboutme
~~~
Engkau dalam dada
Micro SD satu Terabita
Dengan kereta Jawa
Terhapus semua
Kecuali dalam nota
Di sana nanti dibuka
@barakelana
~~~
Dahan melati Liar memutuskan untuk tumbuh! Merambat! Rimbun.
Di sebuah sudut dekat pintu masuk pabrik pengolahan ikan....
Setiap hari ia menyaksikan puluhan orang pekerja lalu lalang didepan-nya sesekali mencoba menghirup aroma-nya, Ada pula yang memetik lantas menyimpan Bunga serta kuncup-nya.
Mungkin hanya untuk sepersekian milidetik, namun toh! si Melati Liar telah membagikan aroma kedamaian nan ketenangan bagi para pekerja itu tanpa terkecuali.
Lantas, apa dia harus peduli, jika masih ada saja manusia-manusia setengah dewa yang menganggapnya sekedar bagian dari ilalang-ilalang yang tumbuh liar.
@lucifermorningstark
~~~
Aku bingung hendak menuliskan apa,
Yang aku tahu; kamu sudah hilang, namun kenangannya tetap menetap—bisa hadir di waktu tertentu tanpa aba-aba dan rencana, terasa masih nyata di depan mata padahal jelas hanya sekilas memori yang terekam di kepala. Herannya, aku justru menikmatinya.
@langitawaan
~~~
Dulu, aku memang tidak begitu mengenal wajahmu.
Yang kutahu, kala itu mata kita saling bertemu.
Meski tanpa suara—intuisi kita selalu menyala.
Tidak ada rekam jejak yang nyata, selain mata dan senyum kita yang berkeliaran di beranda menengah pertama.
Kini, saat aku benar-benar mengenal wajahmu meski dalam ruang berlatar kata—berjuta ingatan justru kembali bekejaran di dalam kepala.
Saling berebut perihal mana yang mau ditampilkan pertama.
Saling berebut menghitung waktu yang terlewat begitu lama.
Seperti tak masuk logika, tapi begitulah cara takdir-Nya bekerja.
@aksara-rasa
~~~
Dirinya telah pergi, tentangnya telah berlalu jauh, keadaan telah banyak berubah.....tapi kenangannya masih tinggal.
Sebagai bayangan yang memecah diri lebih dari seribu wajah ketakutan juga kesakitan.
@kkiakia
~~~
Kamu simpulkan senyum itu terkembang di wajah kecewamu, ketika kau biarkan aku pergi yang padahal bukan itu yang ku mau.
Kamu masih seperti yang dulu, seperti kunang-kunang yang menggantung di langit anganku.
@rasyiddinalhafidz
~~~
Apa yang harus aku lupakan? Namamu? Wajahmu? Senyummu? Alamat rumahmu? Tanggal lahirmu? Jaket kesayanganmu? Nomor ponselmu? Warna bulu kucingmu? Atau kebaikan-kebaikanmu yang terus bertumbuh setiap hari?
Andai dunia mengerti yang sebenarnya. Bukan aku yang terlalu menyimpanmu di dalam sukma. Kamu lah yang tidak konsisten dengan kata-kata yang keluar; memintaku untuk lupa, namun malah mengikat ragaku dengan kenangan yang membunuhku perlahan.
@dastraayu
~~~
Aku pernah mengira raimu akan indah pada waktunya. Sebagai mentari yang pertama menyapa, atau rembulan yang mengantar ku tidur. Kini yang tersisa hanya ingatan yang tak mungkin ku tulis. Dan pada akhirnya wajahmu tetaplah indah, begitu taat menyambut fajar. Aku hanya meleset sedikit, pernah mengira wajah itu akan terbit di sisiku.
@tisnawahyu
~~~
Nampak aku sedikit bosan jika selalu membahas cinta yg berbalut rindu
Bila harus di gambarkan seperti sedang berputar-putar dalam pikiran, membentuk barisan rapih yg dimana ia sudah siap untuk memborbardir isi kepalaku 1x24 jam.
Sedang didalamnya seperti membuat ranjau dari saraf-saraf otak yg jika sekali mengingatnya akan menyebabkan ledakan emosi tak terbendung dan asapnya membentuk satu gambaran jelas sosoknya di depan mataku.
Jujur itu membuatku sakit kepala berkali-kali lipat.
@teguhherla
~~~
Tidakkah engkau melihat kala gelap malam yang mulai memeluk bumi?
Apakah engkau pernah memperhatikan bagaimana rembulan yang memberikan sedikit sinarnya kala bumi sedang gelap gulita?
Apakah pernah engkau melihat bagaimana tiap rintik hujan yang dengan tabahnya turun ke bumi?
Ia selalu tabah menebar kesejukkannya walau sebagaian orang tak terlalu menyukainya.
Apakah kamu tahu bagaimana cinta membentuk hal hal sederhana seperti diatas tadi?
Hal hal itu terjadi seperti kala aku menatap wajahmu dibawah sinar rembulan.
Sehangat pelukanmu dibawah guyuran rinai hujan.
Karena bagiku cinta hadir dalam bentuk kesederhanaan.
Sama halnya seperti kenangan sesederhana itu hadir dalam rona cerah yang terlukis indah wajahmu.
@kevinsetyawan
~~~
Mengapa?
Sering kali wajahmu berkeliaran dalam bayangan.
Satu hal yang mengganggu namun begitu mengasikkan.
Terlalu damai untuk sebuah kepergian.
Terlalu manis untuk sebuah kehilangan.
Bukankah sudah berlalu masa saat kau ucap kata perpisahan?
Saat terakhir kali wajahmu kau palingkan,
Di saat itulah aku mulai memupuk kerelaan.
Mengais butir demi butir keikhlasan.
Tidak bisakah kau membiarkan diriku menikmati ketenangan tanpa ada bayangmu diingatan? @hafidhulhaqq
Jika tidur lebih bisa membuatku bertemu denganmu, ingin rasanya aku tidur dan tak perlu bangun. Bagaimana tidak, engkau selalu saja hadir di mimpi-mimpi bunga tidurku.
Dimana di mimpi itu aku bisa memilikimu sepenuhnya dan seutuhnya, tidak seperti di dunia nyata. Maka dari itu aku lebih senang tidur agar bisa sering jumpa denganmu.
Mungkin saja, ini adalah konsekuensi dari rindu yang bertumpuk-tumpuk terhadapmu. Rindu yang membukit bahkan sampai menjadi gunung. Hingga akhirnya saat pagi buta kau pun menyisakan tanda tanya yang mendung.
Namun, aku senang bertemu denganmu di alam mimpi, karena disana kau tak berubah sedikitpun, bahkan tidak sama sekali.
@by-u
~~~
Kau adalah teman.
Bukan tambatan.
Maka, sudah sebaiknya saling mengubur.
Setiap rasa, sekalipun hanya sebatas dalam bunga tidur.
@jennairaa
~~~
Aku sedang menunggu kembalinya bunga tidur yang sama
Setelah satu bunga tidur mengantarkanku pada
pertemuan denganmu,
Pertemuan singkat, langit yang gelap, dan rumahmu yang jauh itu sebagai latar tempat.
Masih kuingat sambutan hangat dari ibu dan adikmu.
Meski mimpi, yang ini terlalu indah untuk tidak diamini.
Dan kau tahu pasti, saat terbangun dengan kebingungan, yang kudapati hanya kehampaan,
juga sedikit sisa harapan yang tak pernah hilang,
"Semoga suatu saat benar-benar menjadi nyata dan terbentuk cerita penuh makna.
Cerita yang tak habis dimakan usia, cerita tentang dua keluarga yang menyatukan adat berbeda. Ah sungguh indah."
@hujandesember
~~~
Pada akhirnya tentu saja aku akan menjadikan-mu satu-satunya rumah, agar selalu ada tujuan bagi setiap perayaan terangku serta tempat berlabuh di lelahku....
Namun saat ini Dalam sebuah pengelanaan cukuplah hadir-mu saja Yang kuinginkan senantiasa dalam Bunga tidur bagi setiap malamku.... @lucifermorningstark
~~~
Kamu adalah satu dari jutaan hal terindah dalam hidupku.
Yang memberikan rona cerah dengan semburat yang berbeda.
Kamu adalah kesan terindah yang selalu tersirat di setiap pesannya.
Hidup terus berlanjut walau memilikimu terlalu mustahil bagiku.
Karena ada beberapa sekat yang begitu nyata membuat kita sulit bersatu.
Ohh tak mengapa karena aku sudah dimilki olehmu walau hanya sekedar di bunga tidurku di tiap tiap malamnya.
Mimpi adalah bunga tidur tapi hidup bersamamu adalah suatu mimpi yang aku ingin jadikan nyata dalam hidupku. @kevinsetyawan
~~~
Seringnya kalo lagi mikirin kamu, wujudmu berkeliaran sampai jadi bunga tidurku.
Nggak peduli ilerku kemana-mana, atau suara ngorokku yang mengganggu sekitar. Selama itu tentangmu, aku tidak keberatan walau tingkahku berantakan.
Aaahh, bucinku sekacau ini.
Jadi tidak sabar untuk segera bangun dari mimpiku, biar aku bisa gantian mendengar suara ngorokmu atau mengambil potretmu ketika tidurmu sedang tenang.
—sayangnya, kamu hanya angan-angan.
@worldofneptune
~~~
Dari nyata menjadi mimpi, dari mimpi menjadi nyata.
Seringkali tiba dini hari pukul tiga.
Sangat sulit rasanya membedakan nyata dengan bunga tidur berselimut awan.
Kalau saja ada kesempatan perihal menyuarakan mana yang nyata dan mana bunga tidur belaka,
Meski sangat mustahil menjadi sungguhan sekalipun memilih satu diantara keduanya,
Sewindu tanpa hadirmu—biarlah jadi bunga tidur terburuk yang berhasil kulalui meski dengan kesadaran sepenuh hati.
Hingga dari empat sebelas ke empat sebelas pada tahun berbeda,
Kamu benar-benar nyata adanya,
Bukan sekadar hidup di negeri awan berhiaskan bunga tidur sepanjang malam kala kedua mataku benar-benar terpejam.
Biarlah pergimu menjadi bagian dari bunga tidurku.
Sedangkan hadirmu menjadi bagian nyata tanpa sia-sia belaka.
@aksara-rasa
~~~
Namanya bunga, bunga surga dalam rencana. Namun kini telah tidur selamanya. Sebab batas usia yang berbeda. Kini, jadilah engkau bunga, bunga tidurku hingga jumpa kita disana. @barakelana
~~~
Apa bedanya mimpi sama kamu? Kalau mimpi itu bunga tidur, kalau kamu itu bunga di hatiku :p @zulzone
~~~
Tanpa merasa takut, lelah atau bosan. malam ini aku akan melakukannya lagi seperti biasa.
Semoga malam ini aku dapat bermimpi indah dalam suasana tidur yang nyenyak lalu terbangun esok pagi sementara para bidadari cantik menari dan berputar menjelma bunga tidur yang akan meneruskan pekerjaanku malam ini sampai selesai. @rasyiddinalhafidz
~~~
Dongeng pengantar tidur
Mimpi tidak lagi jadi bunga setelah sekian lama aku berduka
Ketika sedang dilanda rindu, aku selalu kebingungan
Sebab tidak ada cara untuk kita bisa bertemu
Bahkan saat aku berkhayal pun itu tak lantas membuatmu hadir dalam bentuk wujud yang nyata
Itu teramat sangat menyakitkan
Aku selalu dihantui perasaan bersalah setiap kali aku mengingatmu
Dengan ungkapan yang mana andai aku meninggalkan urusanku saat itu demi kamu, mungkin akan berbeda cerita
Tapi aku salah jika berpikir seperti itu, sebab kata andai dan mungkin adalah kata sambung menuju kalimat penyesalan
Jika seperti itu sama saja aku menyangkal kehendak tuhanku
Sungguh serbuan rindu yang tak tersampaikan ini sangat menyiksaku
Selalu membuat getaran yg memilukan
Dimana seharusnya aku sudah mengikhlaskan kamu pergi, tapi disatu sisi masih ingin kamu ada memelukku mesra
Sudah berjalan 8 musim, yang dimana setiap bulan aku selalu berkunjung membawa bunga-bungamu yg kumantrai doa selamat tidur dalam damai
Sekarang mungkin aku akan jarang memberimu kabar, manisku...
Tapi bukan untuk berhenti, hanya saja akan kulakukan secara diam-diam lewat cara yang lebih rahasia dan berbeda
Aku ingin menempuh hidup yang baru bersama yang lain
Bukan untuk melupakanmu, tapi justru agar aku bisa mengingatmu lebih tenang
Maka tenanglah kamu dalam buaian-Nya, demiku dan demimu
Sebab istilah bunga tidur yang baru ku dengar merupakan ungkapan lain dari pengalamanku selama ini
Dan bersyukurlah aku menggangap itu menjadi sebuah dongeng pengantar tidur
Sebelum akhirnya harum bunganya membuat haru dalam dekapan kerinduan
Selamanya....
@teguhherla
~~~
Tidak dihadirkannya anganmu dalam lelap meski inginmu yang teramat. Semesta tak kan tega, mengizinkanmu memilikinya agar hatimu berbunga sementara, lalu mendapatimu kembali dengan sadar dan kecewa.
Kepada bunga-bunga yang tak ingin untuk dipeluk. Ucapkan selamat jalan dan selamat malam, selamat sampai tujuan, selamat mekar di mimpi orang. @tisnawahyu
~~~
Satu-satunya hal dalam hidup yang ku harap hanyalah bunga tidur adalah kepulanganmu menghadap-Nya.
Sebab tumbuh menjadi bunga tanpa pendampinganmu di sisi adalah hal terberat yang masih terus ku latih setiap hari. @langitawaan
~~~
Tiba-tiba kau hadir di mimpiku, menjelma sosok paling aku tunggu, dari sekian jarak masa yang menimbulkan rindu.
Disana, kau bercengkrama hangat dengan bayangku, bersama menghabiskan waktu hingga penghujung temu.
Di saat ku tersadar dan semua telah berlalu, senyumku masih terukir rapih di wajahku, masih membekas kuat di ingatan tentang wajah teduhmu kala itu.
Pagi pun menyapaku dan mengingatkanku, bahwa semua itu hanya bunga tidur di malam-malamku. Namun, besar harapku bunga itu mekar seiring doa yang ku haturkan kepada-MU.
Duuh aku terlalu halu wkwkwkw @hafidhulhaqq
~~~
Semenjak kamu pergi, aku terbiasa tidur lebih awal. Tidak ada lagi alasan bertahan sampai tengah malam, apalagi menjadi pendengar cerita yang ditemani suara jangkrik di kebun belakang rumah.
Semenjak kamu pergi, aku terbiasa tidur lebih awal. Karena dengan begitu kita dapat bersua merayakan rindu yang terkubur, meski terhenti azan subuh berkumandang.
Semenjak kamu pergi, banyak yang berubah, termasuk bunga tidurku yang terkadang menyesakkan. Kamu memang begitu, sebatas halusinasi yang mustahil menjadi nyata. @dastraayu
~~~
Kamu menjelma menjadi sosok nyata dalam bunga tidurku. Dan, jika di sana aku dapat memiliki dirimu seutuhnya, maka aku ingin terus tinggal di sana.
Namun, aku tahu. Kenyataan selalu tak seindah apa yang ada dalam mimpiku.
Ruang Kelas Baru, 26 Februari 2022.
Ketahuilah! Sekumpulan rindu yang kutabung kelak akan kualamatkan ke rumahmu. Tak peduli jika kamu tidak pernah menjadi seseorang yang akan aku miliki nantinya. Karena, aku tulus menyayangimu. @hardkryptoniteheart
~~~
Ku kira ini semua nyata tapi ternyata hanya bunga tidur semata. Kupikir selepasnya aku akan baik-baik saja, tapi ternyata dalam kegelapan aku justru menangisi ketidak hadiran sosoknya.
"Aku juga, padamu. " Ucapku membalas ucapan rindumu ~seolah kau masih ada di depan mataku.
Beberapa rindu memang baiknya hanya untuk disimpan, tidak untuk disampaikan. Begitu juga mimpi, beberapa diantaranya memang baiknya hadir tanpa arti. Cukup menjadi bunga tidur penghias malam-malam sunyi. @bukanrumah
Biarlah takdir yang mengupaya, biarlah takdir menentukan alurnya. Di mana pun muaranya berada, entah berujung indah ataupun duka, itu tetap yang terbaik untuk diterima. kendati diri merasa luka.
Tetaplah berprasangka baik untuk setiap titian Sang kuasa. Bila sedikit saja direnungkan, betapa banyak hikmah untuk pembelajaran. Selalu ada hal baik untuk dimaknai, meski berasal dari duka lara yang kita temui.
Kita terlalu banyak berorientasi tinggi, namun payah untuk siap menerima apa yang diberi. Soal hati, manusia memang selalu ingin yang terbaik menurutnya, tapi Sang kuasa lebih tau yang terbaik melalui ketetapan-Nya.
Aku masih di sini, bertemankan sunyi, bercengkrama dengan diriku sendiri. Menyusuri jengkal demi jengkal lubuk hati yang tengah menyesuaikan kondisi, kemudian mencoba berdamai dengan realita meskipun sukar untuk terealisasi.
Aku masih di sini, mencoba mendekap rasa ikhlas, mengikatnya sekuat tenaga agar tak lepas, bergelut dengan ego yang mencoba menghempas. Sesekali cengkeraman melemah, tapi bukan berarti dapat terlepas dengan mudah. Selalu ingat dengan janji-Nya bahwa dibalik murung duka akan terbit senyum yang merekah.
Aku masih di sini, menengadahkan tangan berharap terijabah, dari sekian doa yang terlantun penuh pasrah. Menggantungkan segalanya hanya pada-Nya, dengan yakin setiap ketetapan-Nya adalah terbaik untuk diterima.