Menuju Renjana, Menuju Diri
Ada saatnya kau harus duduk dengan dirimu sendiri, tanpa kebisingan, tanpa hiruk-pikuk yang menggoda untuk membuatmu lupa. Kau harus menanyakan sesuatu yang sejak lama kau hindari, seperti, "Apa yang benar-benar membuatku hidup?"
Suatu kali, seorang perempuan berkata padaku bahwa renjananya adalah mendengarkan orang sampai mereka merasa cukup didengar. Kedengarannya sederhana, kan? Tapi dia menjelaskan kalau sepanjang hidupnya, dia selalu merasa dunia terlalu bising dengan orang-orang yang ingin berbicara, tapi sedikit yang benar-benar mendengar. Jadi, dia menjadikan dirinya tempat berlabuh bagi mereka yang butuh seseorang untuk memahami, tanpa menghakimi atau buru-buru memberi solusi.
Aku pikir, gila, ya? Semua orang berlomba-lomba menjadi orang yang menarik, yang didengar, yang diingat. Tapi dia memilih menjadi pendengar, bukan karena dia tidak punya suara, tapi karena dia percaya bahwa mendengar bisa menjadi cara paling radikal untuk mencintai manusia.
Itu membuatku berpikir ternyata renjana tidak selalu soal melakukan hal-hal besar atau spektakuler. Kadang, ia hanya tentang melakukan sesuatu dengan sepenuh hati, sekecil apa pun itu.
Dan selagi aku memikirkannya, perempuan itu kembali mengatakan sesuatu seolah mengetahui pikiranku. "Renjanamu mungkin bukan sesuatu yang mencengangkan. Bisa jadi ia hanya cara jemarimu selalu mencari-cari pena saat pikiranmu kusut. Bisa jadi ia ada dalam caramu menyusun kata, cara hatimu selalu bergetar melihat kebaikan kecil di dunia yang sekarat."
"Atau mungkin renjanamu adalah sesuatu yang kau takut akui, karena ia tak menjanjikan kejelasan. Karena ia tak menjamin masa depan yang nyaman. Kau tahu lah, ketika seseorang mencoba mengikuti renjananya, terutama jika itu bukan sesuatu yang umum atau menguntungkan secara materi, dunia bisa merespons dengan skeptisisme. Bisa lewat tekanan sosial, ekspektasi keluarga, atau sekadar bisikan di kepala sendiri yang berkata, "Untuk apa repot-repot? Ini tidak akan membawamu ke mana-mana. Renjana itu sendiri, sering menuntut keberanian yang tak selalu kita punya.""
"Ia juga tidak hadir sebagai wahyu yang seketika memberi jawaban. Ia lebih seperti riak kecil yang terus kembali, seperti sesuatu yang selalu kau lakukan tanpa alasan yang jelas. Ada yang menemukannya dalam momen eureka, ada yang baru menyadarinya setelah bertahun-tahun berjalan tanpa arah yang jelas."
Mungkin itulah mengapa menemukan renjana terasa begitu pelik. Ia bukan jawaban instan yang bisa ditemukan dalam buku panduan hidup, melainkan sesuatu yang harus kau gali sendiri, perlahan-lahan, di antara kebingungan dan keraguan yang kerap datang. Bukan sekadar apa yang kau kuasai, bukan apa yang orang lain katakan cocok untukmu. Bukan juga apa yang menjanjikan kehormatan atau keamanan. Tapi sesuatu yang, jika diambil darimu, kau akan merasa menjadi cangkang kosong yang tak lagi punya alasan untuk ada.
Mungkin kau belum menemukannya. Atau mungkin kau telah bersentuhan dengannya dalam diam, tanpa sadar bahwa itu adalah renjanamu—seperti seseorang yang setiap hari menatap langit, tanpa menyadari bahwa ia telah jatuh cinta pada cakrawala.
Jadi berjalanlah. Coba. Gagal. Ulangi. Dengarkan hatimu, setia pada diri sendiri, bahkan saat dunia memintamu untuk diam dan berusaha membuatku ragu. Sampai suatu hari kau berbisik pada dirimu sendiri, "Ini dia."