Bunda; secara harfiah lebih akrab disebut Ibu merupakan perempuan yang mengandung dan melahirkan (saya). Namun, kenyataannya lebih dari itu, khususnya Bunda saya. Bunda ngga hanya mengorbankan waktunya, tetapi jiwa dan raganya juga. Jiwanya digunakan untuk memberikan kasih sayang, perhatian, dan mendoakan. Raganya memberikan pelukan, pikiran, dan rasa nyaman. Secara kodratnya, perempuan memang diciptakan lebih mengandalkan perasaan karena indera itu yang jadi kelebihan. Perempuan disukai karena kelemahlembutannya. Bunda saya mencerminkan itu semua. Dari kecil saya diperlihatkan bagaimana kekuatan seorang ibu. Ia tak pernah mengeluh meski harus bekerja, merawat anak dan suaminya, juga mengelola rumah tangga. Makin dewasa, saya baru lihat ibu menangis di dalam doanya. Itu yang juga membentuk kepribadian saya. Entah kenapa, saya merasa malu menangis di depan banyak orang. Menurut Ibu, yang memegang hati manusia itu penciptaNya, maka berharaplah pada penciptaNya. Alhasil sampai sekarang saya selalu berusaha untuk tidak memperlihatkan kesedihan di depan orang banyak. Ibu juga yang mengajarkan saya kegigihan berjuang. Hasilnya, saya malu untuk mengeluh karena yang saya hadapi belum apa-apa. Ibu yang mengajarkan saya ilmu agama sejak umur tiga tahun. Jadi, dasar-dasar ilmu itu kini mulai tumbuh. Namun, bukan berarti Ayah tidak berperan dalam hidup saya. Beliau memiliki peran yang amat penting juga. Nasehat yang selalu saya ingat sampai saat ini, "Jadilah perempuan tangguh, tetapi juga anggun dan lemah lembut". Terima kasih, Bunda. Maaf aku belum bisa membuat Ayah dan Bunda bangga. Sehat selalu, ya. . . - Tertanda, anak sulungmu . . . . (Tangerang, 5 Mei 2016)









