november kali ini, november paling aneh dalam hidupku (2)
seolah-olah, tiba-tiba, di november ini ada banyak hal yang terjadi. lebih banyak dari november-november lainnya.
satu: aku batal nonton banda neira di tubaba art festival. festival yang selalu aku datangi bersama bapak tiap tahunnya. cuma bapak yang paham se excited apa aku soal hal ini.
dua: bangku dingin rumah sakit jadi saksi aku menyiapkan jokes lucu buat teman-temanku untuk hari kematianku. mati lebih dulu dari sesiapa pun adalah cita-citaku.
empat: cita-citaku tidak tercapai, bapak pergi lebih dulu.
dua belas: itu hari pertama aku mengantar ibuk pergi bekerja setelah tidak masuk sekian lama. aku berkendara melewati jalanan di hari itu dengan perasaan paling aneh, perasaan yang tidak pernah ada sebelumnya. rasanya aku ingin bercerita ke bapak bahwa hari itu ada tempat jus baru di sana, bahwa ban motorku bocor, bahwa aku melamun di jalan sampai tersasar lupa arah, dan bahwa ternyata hari itu adalah hari ayah.
tiga belas: pagi-pagi aku ditelepon rumah sakit. baru kusadari hari itu mestinya aku ada di rumah sakit mengurus administrasi endoskopi. tetapi yang kulakukan hari itu adalah ke kantor mpp mengurus akta mati.
lima belas: aku udah pernah bilang ke bapak dari bulan juli kalau teman-temanku wisuda di november nanti pokoknya aku mau dateng. bayanganku adalah aku bakal minta dianter bapak untuk berangkat dan pulang dari ngebis. selama ada bapak aku nggak pernah khawatir soal jemputan. mau malem-malem juga pasti dijabanin ke kampung tua. tapi kali ini, untuk pertama kalinya, aku risau soal jemputan.
tapi alhamdulillah semuanya berakhir aman terkendali. aku bisa datang wisuda dan melepas kangen sama temen-temen. aku bahkan sempat bikin gift buat teman-temanku tersayang. aku bisa ketawa, berpelukan, dan merayakan kebahagiaan.
dulu sempet bilang ke bapak kalo aku sedih tipis karna aku wisuda duluan di bulan juli. soalnya wisuda november tuh riuh terpusat, paling ramai, paling meriah, dan banyak barengannya. kayak, seru ga sih merayakan wisuda ramai-ramai gitu. tapi ternyata, aku dapet target percepatan dan wisuda di bulan juli tuh udah rencana Allah yang maha baik. Allah baik banget kasih aku kesempatan wisuda didampingi ibuk bapak. Allah baik banget kasih aku kesempatan bisa ngajak ibuk bapak maju ke depan buat nerima penghargaan anaknya jadi wisudawan terbaik tiga. Allah baik banget kasih kesempatan aku pidato di acara wisuda yang salah satunya untuk ngucapin terima kasih sebesar-besarnya ke ibuk bapak di hadapan ibu bapak langsung beserta seluruh manusia di tenda wisuda. Allah maha baik ya pak.
delapan belas: biasanya tanggal delapan belas begini bapak bakal datengin acara milad di suatu tempat sembari full update full spam foto/video ke grup keluarga. tapi tanggal delapan belas hari itu beda. bapak nggak mendatangi acara apa pun. tapi hari itu tiba-tiba bapak dapat piagam penghargaan. piagam yang nggak bisa bapak ambil sendiri. piagam yang penyerahannya diiringi pidato sembari terisak oleh pak tohari. piagam yang membuat aku terhibur mengetahui bapak disayang banyak orang. piagam yang menuliskan "alm" di ujung nama bapak.
dua puluh dua: umurku dua puluh tiga, pengangguran, dan yatim. di dua puluh dua november kali ini dan seterusnya tidak akan ada lagi pesan singkat ulang tahun beserta transferan untuk beli eskrim dari bapak.
dua puluh lima: eh kalau ada orang yang tiba-tiba minta dibikinin desain logo dan bayar itu artinya aku bukan pengangguran ga sih? am i getting my first job???
ah iyaa, dua lima november juga hari guru. biasanya bapak update di grup wa soal bingkisan-bingkisan dari anak-anak muridnya. hari itu aku hanya bisa memandangi buket mini hari guru milik bapak tahun lalu yang masih tergeletak di atas lemari.
tiga puluh: aku dah lama banget ngga ikut acara-acara muhammadiyah. tapi hari ini aku, ibuk, dan rombongan berangkat milad muhammadiyah ke metro. yang mengisi adalah pak abdul mukti. salah satu orang favorit bapak. itu alasan ibuk pengen banget datang ke acara ini meski jauh-jauh ke metro. kata ibuk, bukannya sedih, ibuk justru semangat kalo datengin acara muhammadiyah soalnya inget semangatnya bapak. dan bener aja, di sana ibuk bisa temu kangen sama temen-temen aisyiyahnya.
sepanjang perjalanan dari metro, aku bisa membayangkan misal berangkat sama bapak, apa aja yang bakal diobrolin, siapa aja yang bakal ditemuin, tempat mana aja yang dikunjungin. seolah semuanya masih akan terjadi. seolah rutinitas bapak tidak berakhir di sini.