Saat Harus Kembali Menanti
Sekitar dua Minggu, aku tak bertemu dengannya. Karena selama dua Minggu Dia harus beristirahat di rumah dikarenakan baru saja kembali di kuret. Dia kehilangan calon buah hati untuk ke dua kalinya. Siang itu, kami janjian untuk bertemu disebuah musola di tempat kerja kami. Aku kabarkan padanya bahwa aku telah sampai duluan.
Tak lebih dari lima menit terdengar langkah kaki menapaki tangga menuju ketempat ku berada. Lita, dia salah satu orang ada dalam deretan orang-orang yang menjadi support system untuk ku. Dia, kakak kelas satu tingkat diatas ku saat kuliah dulu.
Siang itu, aku melihat sosok Lita yang seperti biasanya. Seperti yang tak ada sedih dihatinya. Dia pun duduk di samping ku.
Aku : maafkan aku tak bisa menengokmu.
Mungkin Kita memaklumi karena kesibukan ku menemani si kecil kalau di rumah di tambah dengan keadaan pandemi seperti sekarang.
Aku : sudah tidak terasa sakit lagi?.
Lita agak mengernyitkan dahi : Kadang masih terasa linu.
Aku : wajar ko, aku dulu pun begitu. Saat dapet haid pertama setelah kuret aku juga dismenor yang tak seperti biasanya.
Aku: iya...tapi hanya di hari pertama saja.
Lita : aku sedih sekali rasanya
Aku : bersabar yaaaa... Jangan pernah berhenti berdoa.
Lita : Aku takut ga bisa punya keturunan.
Aku : Kenapa bicara seperti itu? Sangat mudah bagi Alloh untuk memberi keturunan sebanyak apapun yang kamu mau.
Lita terdiam sejenak. Dipalingkan wajahnya kearah pintu. Terdengar dia menghela nafas panjang.
Aku pun tertunduk. Pernah merasakan kehilangan yang sama, aku seperti merasakan lagi perih itu. Saat aku mengalami hal itu, aku hanya bisa menangis di setiap malam.
Aku : Kamu harus betul betul sehatkan dulu diri mu. Nanti insya Allah, Alloh amanahi buah hati untuk mu.
Lita tak menjawab apa-apa. Mungkin hatinya masih perih.
Lita : Aku harus kembali menunggu.
Aku : Alloh pasti akan ngasih di waktu yang tepat.
Lita : Sakit hati rasanya saat ditanya sudah punya momongan atau belum. Dan sekarang aku harus kembali kehilangan. Harus kembali menunggu.
Aku : Sabar. Alloh akan jawab semua penantian mu.
Seketika kami terdiam. Aku tidak tahu lagi seperti apa ucapan yang tepat untuk menenangkannya.
Lita : Apakabar anak mu? Apa hasil dari dokter tempo hari?
Aku : Aku dan anak ku harus minum obat setiap hari.
Lita : Astaghfirullah.. Hmmm....kasian masih bayi harus minum obat terus.
Seketika aku merasakan kembali sedih seperti saat mendengar perkataan dokter mengenai diagnosa anak ku.
Aku : Mau bagaimana lagi? Aku harus terima.
Ungkap ku meski sebenarnya masih ada sesak dihati.
Lita : Seandainya waktu itu mereka mau menerima penjelasan mu, mungkin anak mu tak akan tertular.
Aku : sudahlah. Jangan ungkit lagi.
Mataku serasa panas mendengar perkataan Lita. Lita tak berani lagi melanjutkan perkataannya.
Lita : Kamu yang sabar. Kamu juga harus sehat. Semangat.
Lita : Banyak makan. Lihat badan mu kurus. Jangan terlalu mencemaskan segala hal.
Aku mengangguk lagi. Berat sekali memang dengan episode kali ini.
Lita : Kita sama sama sedang di uji. Kehidupan pasca menikah yang ternyata tidak mudah ya. Aku rasakan seperti mendapatkan jalan buntu.
Aku : Mungkin Alloh inginkan kita naik kelas. Makanya kita di uji seperti ini. Semoga menjadi penghapus dosa kita.
Lita : Tapi ada juga yang senang senang aja pasca menikah.
Aku : Banyak uang banyak anak juga sama sama ujian. Mungkin inilah ujian yang pas untuk kita.
Aku : iya. Cape... Tapi harus kita bisa apa. Selain harus menerima. Pasti semua ini baik menurut Alloh. Semoga kita lulus ujian.
Lita : Menurut mu apa yang harus kita lakukan agar kita betul betul bisa menerima?
Aku : Sadar bahwa kita ciptaan Alloh, hamba Nya dan hanya Alloh yang kuasa menentukan segalanya untuk kita. Mungkin saat ini beristighfar yang banyak dan dalam akan menjadi penentram jiwa kita. Saat ini mungkin kamu lelah meski untuk sekedar membuat fisikmu betul betul pulih. Aku pun demikian. Sebaiknya kita memilih untuk ambil jeda, dengan beristighfar. Kita telaah lagi mungkin ada yang tidak Alloh suka dalam keseharian kita. Kita rasakan betul betul cape dan sakit ini. Kita pasrahkan lagi aja pada Nya. Jika belum berhasil. Kita ulangi lagi dan lagi...sampai betul betul ringan hati ini. Setelah dirasa cukup memberikan jeda pada diri sendiri, maka kita coba menjalani hari-hari kita dengan terus berdoa dan berikhtiar sebaik yang kita mampu.
Aku : Aku bersyukur masih bisa bertemu dengan mu, aku bersyukur kamu masih mau mengingatkan ku untuk makan banyak. Terimakasih masih memberikan aku semangat. Jika aku ada diposisi mu mungkin aku tak sanggup untuk bertemu dengan siapapun. Seperti yang aku lakukan saat aku mengalami hal seperti mu dulu. Dikamar seharian, dan menangis sepanjang malam. Terimakasih kamu masih mau berbagi cerita dengan ku. Semoga yang kamu lakukan ini Alloh pahalai. Aku senang bisa bercerita dengan mu. Meski aku sadar aku hanya bisa ungkapan kebahagiaan ku ini dengan cara yang sangat sederhana. Jangan pernah merasa ingin berhenti, aku butuh teman untuk sama sama berjuang, saling menguatkan dan mengingatkan dalam ibadah terpanjang ini.
Lita tak lagi mengernyitkan dahi, semoga hatinya sedikit lebih lega. Kami tak bisa lebih lama lagi mengobrol. Ada sekitar lima menit untuk kami kembali ke tempat kami bekerja. Kami pun mengakhiri pertemuan kami siang itu.