"Apakah saat ini aku sedang menunggu atau hanya buang-buang waktu?"
...dan ketika aku mulai mempertanyakan hal tersebut, aku sudah tau jawabannya.

No title available
wallacepolsom

★

roma★
Not today Justin
he wasn't even looking at me and he found me
occasionally subtle
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

JBB: An Artblog!

izzy's playlists!

No title available
Peter Solarz
sheepfilms

Love Begins
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
tumblr dot com
Sweet Seals For You, Always
YOU ARE THE REASON
d e v o n
noise dept.
seen from United States
seen from Netherlands
seen from Italy

seen from Türkiye

seen from Netherlands

seen from Türkiye

seen from United States

seen from United States

seen from Germany

seen from Venezuela

seen from Bangladesh

seen from United States

seen from Netherlands

seen from United Kingdom

seen from Germany

seen from France

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States

seen from Germany
@healim
"Apakah saat ini aku sedang menunggu atau hanya buang-buang waktu?"
...dan ketika aku mulai mempertanyakan hal tersebut, aku sudah tau jawabannya.
The world may think you're the best dad but it wouldn't change the fact that you've failed me even before I was born :)
"Kok bisa ya mereka hidup baik baik aja setelah apa yang mereka lakukan (nyakitin orang)?"
"Kok bisa ya mereka hidup tanpa rasa bersalah?"
"Kok bisa ya ada orang se berengsek itu?
"Kok mereka bisa sih? Kenapa aku nggak?"
바보처럼
Dan lagi kuintip profilmu. Berharap ada sekelebat aku yang kutahu tentu saja mustahil. Tidak mungkin ada aku disana.
Kepercayaanmu
“Menurut kepercayaanku, kita yang dipertemukan sekarang punya cerita di kehidupan lampau yang belum terselesaikan. Kau tau, seperti lingkaran. Siklusnya akan berhenti ketika cerita itu selesai.” Begitu katamu. Aku tertawa, getir.
“Lalu, apakah mungkin di kehidupan selanjutnya kita akan bertemu lagi?”
“Semoga.”
“Tapi itukan kepercayaanmu, bukan kepercayaanku.”
2 tahun lalu, diam diam aku percaya pada keyakinanmu. Aku berharap saat itu ada hal hal yang belum usai. Hingga pada akhirnya kau dan aku akan bertemu kembali di kehidupan selanjutnya yang kau yakini.
Sekarang? Aku tetap percaya, hanya saja aku benar benar berharap apa yang usai benar benar usai. Ending yang tidak menyisakan ruang bagi pembaca untuk mengembangkan asumsi. Lugas. Tegas. Jelas. Tanpa epilog. Karena kalau toh memang keyakinanmu benar, aku tidak mau mengulangi hal yang sama dengan apa yang kulalui saat ini.
Mood
Notice me senpai!
Situasi ini terjadi di tahun 2012 antara bulan September-Desember. Kenapa aku ingat? Karena saat itu rambutmu tidak terlalu pendek (khas potongan paski pasca Agustusan) dan tidak terlalu panjang sampai harus masuk ruang bk. Aku lupa hari apa, yang jelas bukan bukan Hari Jumat, apalagi hari Sabtu karena saat itu kita tidak sedang mengenakan seragam batik ataupun pramuka. Saat itu jam istirahat pertama, koridor depan kelasmu dan juga kelasku tidak begitu ramai karena bel baru berbunyi sekitar 5 menit yang lalu. Sebagian penghuni sekolah sudah berjubel di kantin. Aku berdiri di depan kelasku, berusaha mencari tau apakah temanmu ada dikelas. Well, saat itu entah kenapa aku cukup dekat dengan salah satu teman sekelasmu. Karena tak kunjung menemukan sosok yang kucari, akhirnya aku memutuskan untuk menyebrang ke kelasmu untuk mencari langsung. Baru beberapa langkah, ekor mataku menangkap sosok yang sepertinya kukenal. Refleks aku menoleh dan mendapatimu berjalan sendirian dalam balutan hoodie kelasmu (kau tau pakai jaket saat jam sekolah adalah hal yang ilegal bukan?) yang berwarna navy dengan tali hijau stabilo (kombinasi yang aneh). Langkahku melambat, berusaha memanggilmu tapi hey, siapa namamu? Mengapa aku tidak tau namamu? Bukankah kita satu klub? Tunggu, biarkan aku mengingat ingat. Setauku ada 4 anak laki laki di kelasmu yang ikut klub bahasa. Aku kenal 2 diantaranya karena pernah berbicang singkat sementara yang lain hanya sekedar tau nama. Menurut prediksiku berarti satu diantaranya adalah kamu. Aku terlalu sibuk berfikir hingga tak menyadari bahwa kamu sudah hampir menjauh dan bersiap memasang earphone. Tidak mau kesempatanku lewat begitu saja akhirnya dengan bermodal nekat kuputuskan untuk memanggil satu dari nama yang terlintas di benakku.
"Gatra"
Kau berhenti. Yes, kali ini aku tidak salah sebut nama. Kemudian kau menoleh dengan cara yang menurutku sangat amat tampan. Mungkin bagimu terkesan berlebihan, tapi menurutku saat itu kombinasi antara baju seragam, hoodie, sorot mata, dan senyum sekilasmu membuatku tertegun dan berkata dalam hati " wah, charming".
"Ada apa, Sen?" Kau buka suara dan membuyarkan lamunanku. Fyi: "Sen" alias Senpai adalah sebutan untuk kakak kelas dalam bahasa jepang. Anggota klub sepakat menggunakan kata itu untuk memanggil kakak tingkat agar lidah kami terbiasa menggunakan bahasa Jepang.
"Hmmm... apakah si A ada di kelas?" Tanyaku tanpa basa basi.
"Ada kok, panggil aja" jawabmu singkat. Kuucapkan terimakasih dan kau berlalu begitu saja, melanjutkan perjalananmu yang entah kemana. Toilet? Atau kantin? Ah bukan urusanku. Yang jelas itu adalah kali pertama aku berbicara denganmu. Dan semenjak itu aku mulai "melihatmu". Bukan, bukan karena kau tak kasat mata. Maksudku momen dimana aku mulai menyadari keberadaanmu, di balkon depan kelasmu saat pagi hari, di kantin, di lobby, dan entah dimana lagi. Cukup melihat dari kejauhan. Tidak lebih.
Bulan Januari 2013 takdir kembali menyeret kita berdua ke sebuah situasi yang lucu. Hari itu H-1 festival tahunan klub, ditengah kesibukan mempersiapkan acara kau mulai bertingkah konyol dan membuatku tertawa. Entah karena gurauanmu yang receh atau karena caramu tertawa yang begitu menggemaskan, saat itu aku mulai tertarik untuk mengenalmu lebih dalam. Lalu di sore yang sama aku mendengar bahwa saat itu kau sedang dekat dengan seseorang dari sekolah lain (yang ternyata teman sekelas adik sepupuku, Malang sempit memang!). Seketika itu juga aku mengurungkan niatku. Mundur bos munduurrrrr! Aku sendiri tidak ambil pusing karena saat itupun aku juga sudah punya pacar. Tapi sejak saat itu kau mulai berani menyapaku dan mengirimiku pesan. Tidak ada yang spesial, hanya sekedar basa basi dan obrolan standar tentang sekolah. Obrolan obrolan itulah yang akhirnya membuat kita dekat sebagai "teman cerita", hanya 2 orang yang saling bertukar cerita dan pengalaman. Bahkan kita berdua akan saling mengejek apabila tidak sengaja berpapasan dengan pacar masing masing. Konyol.
Setengah tahun berlalu tanpa ada hal yang berarti, bulan Juli kita kembali dekat. Kudengar kau sudah putus dengan pacarmu dan sedang dekat dengan teman seangkatanmu, sementara aku masih punya pacar. Suatu hari kita sedang berkumpul di rumah salah satu temanku, aku cukup bosan karena ada banyak orang dan kulihat kaupun begitu. Iseng kuajak kau berkeliling. Daerah itu sama sama asing bagi kita namun obrolan yang mengalir membuat kita melupakan segalanya. Belakangan aku tau kau berharap kita menjadi lebih dekat dan sepertinya harapanmu terkabul. Masih di bulan yang sama saat libur sekolah, aku tidak sengaja berpapasan denganmu di jalan. Kau bilang kau sedang menunggu temanmu, aku sendiri sedang dalam perjalanan ke rumah temanku. Saat itu rambutmu botak, iseng iseng aku bertanyabapakah aku boleh menyentuh rambutmu dan kaupun mengiyakan. Sedikit awkward dan aneh, tapi momen itu berkesan bagiku.
17 Agustus di tahun yang sama, rencananya siang itu setelah upacara klub akan mengadakan rapat untuk festival. Karena masih ada waktu cukup lama sebelum rapat dimulai, kau memintaku menemanimu ke suatu tempat. Sepanjang jalan kita banyak bercerita, kali ini tentang hubungan masing masing. Hari itu aku putus dengan pacarku. Seminggu kemudian tiba tiba kau mengirim pesan singkat. Aku lupa detailnya, yang jelas saat itu kau mengajakku untuk tumbuh bersama, sebagai orang yang akan saling melindungi dan selalu ada dalam suka dan duka. Lucu kalau diingat kata kata itu keluar dari mulut anak sma. Aku menangis. Bukan tangisan sedih namun lebih ke arah bersyukur.
Selang beberapa minggu kemudian, setelah kita berdua lepas dari festival dan hal hal lain yang meberatkan akhirnya kau mengajakku berpacaran secara resmi. Awalnya orang orang memandang kita aneh karena aku lebih tua darimu. Tapi kita berdua memilih untuk tidak peduli karena memang tidak peduli. Bagi kami umur, tinggi, dan berat badan hanya angka.
Tak terasa 8 tahun aku mengenalmu, bersama melalui suka dan duka. Kita berdua tumbuh, tidak hanya sebagai pasangan, namun juga menjadi sahabat sekaligus saudara. Ada banyak hal yang yang membuatku sempat ragu, namun akhirnya kau berhasil meyakinkanku lagi, lagi, dan lagi. Well, terimakasih karena sudah masuk ke kehidupanku :)
Aku ragu apakah aku berhasil pulih atau hanya teralihkan sejenak?
Sebab di satu tempat aku mendapati aku tersenyum bak tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang luka kemarin. Namun di tempat lain aku bungkam, membias hati yang perih dengan kedok garis senyum yang membenam.
Arief Aumar Purwanto
Nina bobo
Aku ingin kembali mendengar kau mengeluh saban malam sebab pikiranmu tak bisa tidur, sedangkan matamu ingin. Lalu kau bercerita, lalu kita membuat cerita, lalu kau pamit tidur.
Menikah?
Umurku 23 tahun, well hampir 24 lebih tepatnya. Usia yang masih tergolong muda, masih getol getolnya berencana ini itu, terutama soal karir dan pendidikan. Tapi belakangan undangan kondangan mulai sering berdatangan. Diikuti postingan rangkaian acara pernikahan yang seliweran di beranda sosmedku. Apalagi banyak influencer yang mulai meromantisasi menikah muda.
Jangan tanya berapa kali pertanyaan sekaligus doa "kapan nyusul? Semoga bentar lagi ya" "pacaran berapa lama? Nyicil motor udah dapet 2 tuh, buruan nikah gih" dilontarkan oleh orang orang terdekat. Beberapa masih bisa ditanggapi dengan bercanda "besok, kalo nggak hujan" atau "besok, kalo KUA buka" dan juga "kalo nggak Sabtu ya Minggu, tunggu aja". Sempat sekali dua kali jawaban sinis terlempar begitu saja sebelum akhirnya senyum simpul dan kata "doain aja ya" menjadi andalan untuk memutus perdebatan.
Apa kau tidak ingin menikah?
Tentu saja aku ingin, tapi tidak sekarang. Tidak juga dalam kurun 2-3 tahun mendatang. Saat aku berusia 27 tahun mungkin? Aku memang sengaja tidak memasang target terlalu dini untuk urusan pernikahan. Bukannya apa, aku hanya terlalu lelah kecewa dengan ekspektasiku sendiri. Lagipula ada banyak hal yang harus kupertimbangkan dan kusiapkan sebelum membina komitmen sekali seumur hidup. Mental terutama. Tumbuh di keluarga broken home membawa trauma tersendiri asal kau tau.
Selain itu masih ada dendam dendam kecil yang meletup dan belum sepenuhnya hilang. Kurasa aku masih perlu banyak belajar menguasai diri dan berdamai masa lalu.
Jujur saja aku orangnya keras kepala dan kekanak kanakan. Aku masih belum memiliki rasa tanggung jawab yang baik, terutama pada diriku sendiri. Coba bayangkan bagaimana bisa aku mengurus suamiku nanti jika mengurus diriku saja aku tidak bisa? Well, meskipun bisa saja aku menikahi pria yang mau menerimaku apa adanya tapi menurutku pribadi "love is about giving more and more" kita tidak bisa hanya menjadi penerima. Ini soal bagaimana kita saling merawat pasangan kita masing masing dalam jangka waktu yang lama. Tak hanya itu, masih banyak hal yang harus diperbaiki hingga suatu hari nanti aku benar benar merasa pantas bersanding dengan suamiku.
Kapan nikah? Nanti ya, tunggu anak kecil ini dewasa dulu :)
Manusia adalah makhluk paling rumit di muka Bumi. Sebagian dari mereka akan memilih tersenyum untuk menutupi sesuatu, entah itu sedih, marah, kecewa, dan bahkan terluka. Kemudian mengirimkan kode agar penghuni semesta bertanya "apa kau baik baik saja?" "apa yang terjadi?". Kemudian sebagian kecil akan tergerak untuk bercerita, sementara sebagian yang lain menjawab "tidak apa apa" atau memilih bungkam untuk kemudian ditanya kembali. Lalu apa esensinya? Kalau toh pada akhirnya kita tetap harus jujur akan perasaan sendiri? Bukankah lebih mudah jika kita semua mau menyederhanakan sikap dan mulai terbuka? Marah ketika memang marah, menangis ketika memang sedih, dan tertawa ketika memang bahagia. Memang bukan langkah yang mudah bagi sebagian orang. Apalagi kita hidup di masa dimana orang mudah sekali tersinggung tanpa sebab yang jelas. Tapi setidaknya belajarlah jujur dengan isi hatimu sendiri. Perasaanmu bukanlah aib. Perasaanmu bukan bangkai yang harus dikubur dalam dalam. Jadi tolong berhentilah menjadi rumit manusia!
Fakta bahwa kata maaf tidak dapat mengembalikan masa kecilku, membuatku muak.
Ran out of conditioner and I'm turning into Hagrid
Terimakasih sudah mampir dalam mimpiku semalam. Ternyata kau masih semenyebalkan kali terakhir kita bertemu. Tapi tak masalah, setidaknya rasa penasaranku telah terobati :)
Peka.
Kita sepakat menjadi sepasang yang serupa. Tanpa harus sama, tanpa harus menekan dan memaksa. Membebaskan diri dari keluhan. Selamat saling menahan diri, selamat saling menewaskan ego yang kerap memaki.
Kita sudah sangat jauh dari jejak pertama, tak usah mengkhawatirkan hujan akan lekas-lekas menghapusnya, tetap jaga langkahmu, topang tubuhmu, teruslah menggenggam pada tangan yang sama. Tak usah menoleh, tak usah berbalik, tak ada siapa-siapa, hanya manusia ini yang ada di sampingmu.
Tenang, kita tak menjauhi masa lalu, kita hanya sedang mendekat pada kenangan yang baru. Siapkan senyum bahagia dan tawamu, siapkan perasaanmu di hal-hal lucu.
Tak perlu tergesa-gesa, tujuan kita sama. Setidaknya kita saling mengupayakan, tak ada lagi rasa sakit, tak ada lagi kecewa, tak ada lagi salah arah. Tuhan tau, kamu pantas bahagia, bersamaku.
@badutcerdas — 17 Januari, 2020