
❣ Chile in a Photography ❣
I'd rather be in outer space 🛸
Fai_Ryy
Fieri Frames

titsay

ellievsbear
$LAYYYTER

gracie abrams
Sade Olutola
hello vonnie
macklin celebrini has autism
TMBGareOK. The Official They Might Be Giants tumblr
No title available
Color Me Curious
★
Lint Roller? I Barely Know Her
YOU ARE THE REASON
art blog(derogatory)
Monterey Bay Aquarium
Show & Tell
seen from Venezuela
seen from United States
seen from Japan
seen from Israel
seen from Uruguay
seen from Indonesia

seen from Ukraine
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Argentina
seen from United States

seen from Guatemala
seen from Brazil
seen from Sint Maarten

seen from Iraq
seen from United States
seen from Argentina

seen from Malaysia

seen from Malaysia
@helarotan-blog
Menelisik Isi Kepala
Terkadang saya ingin memiliki kemampuan bisa menelisik isi kepala orang lain hingga ke sela terkecil dan terdalam. Langsung paham apa yang tengah orang lain pikirkan, juga mengerti apa yang dijadikan tujuan.
Dengan pandangan mata kosong seperti itu, apa yang sedang ia rayakan di dalam kepalanya? Apakah kenangan atau penyesalan?
Di saat terkantuk, terbangun, lalu terkantuk lagi, saya yakin ia tak benar terlelap. Lalu apa yang sedang berusaha ia buat tertidur nyenyak di dalam kepalanya? Apakah amarah atau luka?
Ketika tertawa terpingkal-pingkal hingga muka memerah, apakah isi kepalanya sebahagia itu juga? Ataukah ia hanya menyamarkan kesedihan di dalam sana dengan gelak tawa?
Sewaktu ia bersenandung riang, kira-kira apa yang sedang ada di dalam kepalanya? Apakah seceria di luar? Ataukah justru mendung berkabut sendu?
Pada saat ia melemparkan senyum manis ke setiap orang yang berpapasan dengannya, apakah benar isi kepalanya mengintruksikan untuk semurah senyum itu? Ataukah bentuk usaha menutupi pilu saja?
Entahlah. Manusia terlalu pintar merekayasa dalaman dan luaran. Dan saya masih terlalu bodoh untuk mengetahui itu semua.
Mata penasaran tak cuma punya anak-anak
Manusia itu egois sekali, ya---menjadikan masa lalunya untuk menentukan masa depan orang lain. Tapi ya namanya juga pendapat dan suggestion, mau dari mana lagi kalau bukan mengambil dari pengalaman. Eh, tapi kalau pengalamannya seimbang, atau banyak mendengar kisah yang tidak klasik, mestinya bisa lebih netral loh statement yang dihasilkan. Mungkin, masa lalu itu terlalu mencekam buatnya, sehingga lagi-lagi ia tak bisa lepas dari mengait-kaitkannya dengan apa-apa yang ia tentukan. Tidak apalah, kita semua, sedang belajar : )
2.56 a.m. | 20190326 | Aku yang masih kepikiran alasan kenapa bisa terujar seperti itu, yang mungkin aku pernah mengalaminya di sisi yang lain. Solved!
Hal yang paling kusukai dari berdoa adalah, doa bisa melapangkan hatiku. Terkabul atau tidak, setidaknya aku lega Allah selalu ada mendengarku :)
Aji nur afifah
Tak Cukup
Hai, kamu yang menyatakan perasaanmu di saat aku berada di atas.
Di saat karirku cemerlang.
Di saat aku sedang cantik-cantiknya.
Di saat aku membuatmu kagum, entah dari sisi baikku yang muncul tiap kali kita bertemu, entah ide-ide cemerlangku yang ternyata juga menyihirmu, entah aku yang kepergok penuh kehangatan sejauh kamu diam-diam memerhatikanku.
Akankah kamu tetap memertahankan perasaan itu padaku, saat aku sedang kehilangan diriku sendiri? Saat kamu ternyata melihat banyak sekali kurangku? Saat aku sedang jatuh-jatuhnya?
Akankah kamu tetap memertahankan perasaan itu meski rasanya aku saja ingin menyerah dan bersembunyi, atau masuk lorong waktu dan lompat ke masa yang akan datang?
Akankah kamu tetap memertahankan perasaanmu itu…?
Perasaan saja tak cukup untuk memintaku hidup bersamamu. Karena aku tahu, semua sisi burukku belum tentu membuat kamu jatuh cinta setiap hari padaku. Aku sepenuhnya sadar cinta bukan penggerak satu-satunya.
Maka balut semuanya dengan iman dan keteguhan hati…aku tak bakal menjanjikan semua ini mudah, namun aku percaya rahmatNya yang akan menuntun kita terus menjadi versi terbaik kita setiap harinya, atasnama cinta padaNya. Menjalar menjadi pribadi yang patut dicintai dari hari ke hari, karena upaya berbenahnya.
Tak ada yang sempurna, tersisa kita yang tak henti mengusaha.
Mungkin kelak aku melakukan kesalahan-kesalahan, tapi orang beriman lapang hatinya untuk memaafkan.
Mungkin kelak aibku membuatmu terkaget-kaget, tapi yang teguh hatinya bahwa semua makhluk diciptakan dengan cela, akan menerima.
Mungkin kelak aku menghiasi harimu dengan hal-hal bodoh atau menyeretmu ikut serta dalam kegagalanku, tapi orang yang beriman dan teguh hatinya percaya bahwa semua ini sementara. Percaya bahwa Tuhan menilai semua prosesnya. Percaya bahwa masing-masing dari kita akan diuji sesuai kadarnya.
Teguh pula untuk fokus pada jalan keluar tiap masalah, bukan malah merutuki atau menyalahkan satu sama lain.
Kalau itu juga kamu temukan padaku, kalau aku kamu nilai juga sama eratnya memegang iman dan keteguhan hati ini, sepertinya kita cocok jalan bersama :)
Karena jatuh hati saja tak cukup…
5 Pelajaran Hidup dari Kekhilafan Cuitan Bos Bukalapak*
Walau bos Bukalapak, Achmad Zaky, sedang banyak dikritisi karena cuitannya di Twitter– tapi ia punya peran penting di hidup saya. Dibilang nge-fans nggak juga, sih. Tapi ia termasuk sosok yang memantapkan saya jadi pengusaha. Tepatnya, pengusaha media.
Masih ingat ketika saya nyegat beliau di depan Kantin Masjid Salman ITB, minta quote inspiratif untuk dimasukkan di media saya waktu itu. Quote ini yang ia ungkapkan, “Bagi saya, dalam kata risk itu mengandukng rezeki. Jadi dalam risiko yang besar, terhadap rezeki yang besar pula.”
Konsep ‘kegagalan yang terukur’ juga acapkali didengungkan Achmad Zaky. Dalam beberapa talkshow kewirausahaan, Zaky ajari saya buat nggak takut ambil risiko. Jangan takut gagal. “Karena dengan banyak gagal, jadi banyak belajar. Asal kegagalannya terukur untuk dipelajari.” Gitu, katanya.
Jadi, pada Kamis (14/2) malam saat isu cuitan tendensius Achmad Zaky jadi heboh, saya jadi merenung. Saya nggak mau belain Achmad Zaky, dan juga sebaliknya– ngehujat. Tapi, saya coba berpikir, “Apa yang bisa gue pelajari dari isu #UninstallBukalapak ini?”
Dan hasilnya, pertama, saya belajar untuk hati-hati komunikasi di media sosial.
Saya nggak mau spekulasi apa bos Bukalapak ini sengaja mengarahkan 'presiden baru’ pada calon presiden tertentu atau nggak. Hanya, ketika ingin nge-post sesuatu di media sosial, bener-bener cek lagi– apa ini faktanya benar; apa diksi yang saya mau gunakan udah tepat; efek apa yang bakal terjadi jika saya nge-post ini?
Atau, kedua, just go for it, ketika saya udah tahu betul risikonya.
Ingat, taking risk, bisa ada rezeki di dalamnya. Tapi mungkin yang dilakukan Achmad Zaky nggak sengaja. Beda dengan yang dilakukan Nike dengan sengaja menampilkan atlet football Colin Kaepernick sebagai bintang iklan mereka.
Kaepernick kontroversial karena nggak mau berdiri ketika dikumandangkan lagi kebangsaan Amerika Serikat di pertandingan football. Setelah muncul iklan Nike tersebut, ada gerakan #BoycottNike karena pada nggak setuju Kaepernick dijadiin bintang iklan. Eh, tapi malah saham Nike melejit. Rezeki emang, ya.
Iya, ada beberapa momen dalam hidup yang saya harus tempuh, walau berisiko tinggi. Bersetia ngejalanin bisnis yang nggak perempuan-perempuan banget (bukan fashion, hijab, tapi media dan ekosistemnya) itu cukup anti-mainstream.
Ketiga, legowo minta maaf. Terbiasa meminta maaf ketika salah.
Achmad Zaky buru-buru minta maaf ketika isu #UninstallBukalapak ini sudah mencuat. Walau orang bisa aja berpikir, “Yah ini sih buat nyelamatin bisnisnya”. Tapi bagi saya, mau punya bisnis supergede atau bisnisnya jualan bakso keliling– yang namanya orang salah– nggak perlu ragu buat minta maaf.
Rasanya lebih lega ketika saya rendah hati, mengakui kalau saya manusia, rentan bikin salah. Di situ koneksi biasanya muncul, karena diri ini tulus minta maaf.
Keempat, belajar berpikir adil ketika denger seseorang diisukan buruk.
Apapun kecenderungan kita– baik dari pilihan presiden, preferensi minat dan hobi, bahkan pilihan agama– berpikir adil adalah koentji.
Ketika lihat orang yang saya respek (dalam kasus ini Achmad Zaky) diisukan buruk, saya harus bisa adil– apa sih yang kurang tepat dari perilakunya (dalam hal ini pemilihan data dan diksi), dan sebenarnya apa sih kemungkinan maksud baiknya (ingin dunia research and development di Indonesia berkembang).
Begitu pun dengan orang yang berbeda dengan saya. Termasuk agama. Saya ingat kisah rumah seorang Yahudi yang digusur Amir Mesir Amr bin 'Ash karena akan dibikin masjid. Amirul Mukminin Umar bin Khattab pun marah pada Amr bin 'Ash dan memerintahkan agar mengembalikan hak Yahudi tersebut.
Kelima, dari kegagalan, ada banyak pembelajaran. Sama seperti apa yang sering diucap Achmad Zaky.
Jadi ingat pepatah salah satu musisi Kanada, Leonard Cohen, “There’s a crack in everything, that’s how the light gets in.” Dalam tiap kegagalan, ada cahaya hikmah yang terselip di dalamnya.
Kata Zaky, banyak gagal, banyak belajar. Ketika mengalami momen-momen memalukan, justru saya bersyukur, karena (1) Diajari rendah hati; (2) Siap-siap evaluasi untuk diri yang lebih baik. Asal, kegagalannya nggak dijadikan pembenaran terus. Tapi direkap dan dipelajari untuk perbaikan diri.
“Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan-kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5).
*Tulisan saya ini juga ada di kumparan.com. Foto dari Bukalapak.com
Tsah!
I think I like people who are straight up about their probs and I love precious conversations about health, education, career, or future rather than about other people and how they are living. I am already content with everything Allah gave so I don't need to waste my time. Please be my positive buddy :) hehe