Lahir dari keluarga yang tidak utuh, membuatku kebingungan.
Aku tidak mahir berkomunikasi dengan baik, sebab sejak kecil aku terbiasa sendiri.
Aku di paksa mandiri oleh keadaan, dan tentu saja itu membuatku terluka.
Aku tidak pernah menyalahkan takdir, mungkin saja keputusan mereka adalah takdir terbaik yang mereka pilih.
Meskipun melahirkan luka cacat sana sini untukku yang tak terlihat oleh mata.
Aku tidak ingin mengakuinya, takut jika mereka akan menyalahkan diri sendiri sebab meninggalkan luka batin pada anak kecil ini.
Aku sadar, aku tumbuh besar namun aku kehilangan arah.
Aku tidak punya rumah untuk pulang, tempat untuk berbagi segala hal yang kutemui di luar sana.
Aku meraba-raba dunia, sendirian.
Ku kira aku menikmati kebebasan, nyatanya aku sedang mencari pelarian atas segala luka.
Setengah utuh yang ku cari, malah membuatku jauh dari arah pulang.
Saat beranjak dewasa, aku hancur segala sisi.
Namun, pada hancur kesekian itu mengajarkan aku apa makna hidup.
Menyesal? Sesekali, aku akan menyesali hidupku yang dulu, menangis sebentar lalu bersyukur.
Kerasnya hidup, membuatku tahu cara dunia bekerja meskipun dengan luka tentu saja.
Hidup sendirian, membuatku ketakutan.
Hingga saat aku dewasa, aku terus mencari obat. Obat yang membuatku tidak merasa sepi.
Aku kecanduan, hingga aku sadar ini tidak sehat.
Aku terus menumpuk luka, sampai akhirnya aku babak belur.
Aku terus mempertanyakan diri.
Apakah aku layak? Apakah aku berharga? Apakah jika aku berkata “tidak” aku akan dijauhi dan sendirian lagi?”
Aku terus mencari validasi.
Selalu mencari dan mencari.
Tanpa sadar aku terjatuh di luka yang sama meskipun dengan obat yang berbeda.
Mengulang pola yang sama berkali-kali.
Tidak pernah ada kata cukup.
Sebab aku baru menyadari, seharusnya kata “cukup” berhenti di aku bukan di diri orang lain.
Aku seharusnya mencintai diriku sendiri.
Aku menyakiti diriku sendiri dengan luka yang terus menerus aku rawat di kepala. Yang seharusnya, tidak perlu sebegitunya.
Aku harusnya berdamai dengan diriku sendiri, bangkit dari segala luka masalaluku. Belajar sembuh.
Karna, Ayu yang dulu sudah menjadi versi terbaiknya hari ini.
Ayu dari masalalu sudah lama pergi. Hanya ada Ayu yang baru. Ayu yang kuat, tegar, dan mampu berdiri di kakinya sendiri.
Kepada Ayu kecil, kamu aman sekarang. Kamu tidak perlu khawatir lagi. Kamu bisa tenang dan bermain dengan riang.
Tidak ada lagi yang bisa menyakitimu, kini kamu bisa damai dan bahagia.