Good Faith
Subuh ini gue baca Qur'an sampai pada ayat:
huwalladzî anzalas-sakînata fî qulûbil-mu'minîna liyazdâdû îmânam ma‘a îmânihim
Dan surprisingly ketika gue dewasa, perspektif tentang ayat ini jadi berbeda. Ayat keempat surat Al Fath turun dengan latar perjanjian hudaibiyah. Di momen itu, Rasulullah SAW membuat keputusan besar yang memicu banyak pertanyaan. Kita manusia modern yang tau akhir dari perjanjian hudaibiyah bisa bilang "Oh, make sense". Tapi para sahabat pada masa itu?
Umar bin Khattab R.A sampai bertanya:
"Bukankah engkau Rasulullah?"
Dengan kompleksnya peristiwa politik pada masa itu, perang tidak sampai pecah lagi. Lalu turun ayat:
Dialah yang menurunkan sakinah ke dalam hati para mukmin.
Nah gara-gara ayat ini, lepas shalat subuh, gue jadi mengulik lagi definisi "sakinah". Karena selama ini tuh sakinah banyak digunakan dalam konteks rumah tangga. Bagaimana dengan konteks bisnis atau organisasi?
Temen-temen yang berbisnis dan berpartner sama orang lain pasti ngerasain juga pahit manis berkonflik dalam bisnis. Gue sendiri waktu mulai berbisnis dan berpartner sama orang juga mikir buat nyari partner yang enak buat diajak konflik. Waktu kecil, gue ngebayangin bahwa konflik itu artinya "drama" yang makjang banget. Bertengkar sama temen karena sama-sama egois.
Sementara saat berbisnis, konflik lebih sering muncul karena kita nemu pembelajaran baru dari realita. Entah projek overscope, produk ga diresponse pasar seperti yang kita estimasikan, konflik karena budget di finance nggak mencukupi. Setiap orang membawa kebutuhan yang sama-sama valid. Sebelum mencari titik temu, kebutuhan itu memang perlu disuarakan dan dipahami. Karena kalo nggak dibahas, bisa jadi debt di belakang.
Nah karena bisnis itu cukup kompleks, gue juga jadi paham bahwa konflik itu ga selalu berakhir "win win". Kadang zero sum atau mungkin paling buruk adalah tragic dilemma. Setiap keputusan punya trade-off masing-masing dan kerapkali ga ada pihak yang merasa lega wkwk. Bagaimana bisa begitu? Ya begitu realita.
Maka waktu baca ayat tentang hudaibiyah ini:
Allah yang menurunkan sakinah.
Gue jadi berdoa semoga Allah juga menurunkan sakinah ke gue dan orang-orang di sekitar gue. Ketenangan yang sampai level:
"Aku bersyukur menghadapi segala konflik bareng kamu dan bertumbuh dari itu".
Gue tuh pernah berkonflik sama orang yang regulasi emosinya nggak stabil dan very drained. Masalah yang ada makin blur dan sampai lama banget nggak nemu solusi. Dari situ gue jadi sadar, mungkin memilih partner bisnis bukan hanya soal mencari orang yang satu visi atau kompeten.
Tapi juga mencari orang yang memiliki good faith dalam konflik.
Orang yang tidak hanya mendengarkan untuk sekadar menurunkan tensi atau mengakhiri perdebatan. Melainkan mau bersama-sama mencari akar masalah, berani mempertanyakan asumsi, memahami constraint yang sebenarnya, menerima trade-off jika memang ada, dan pelan-pelan mencari solusi meskipun tidak instan.
Mungkin di situlah sakinah dalam sebuah kemitraan mulai tumbuh. Bukan karena kita selalu sepakat atau selalu mendapatkan hasil yang kita inginkan, tetapi karena kita percaya bahwa di tengah konflik pun, kita sama-sama sedang mencari kebenaran, bukan sekadar memenangkan argumen.
Cultivating Good Faith
Semakin gue menjalani bisnis, organisasi, dan memimpin tim, semakin gue sadar bahwa sakinah bukan sesuatu yang bisa kita ciptakan sendiri. Allah-lah yang menurunkan sakinah.
Namun sebagai manusia, mungkin kita tetap punya ikhtiar untuk membangun lingkungan yang memudahkan sakinah itu tumbuh. Bukan dengan menghilangkan konflik, tetapi dengan menjaga adab ketika konflik terjadi.
Karena konflik sendiri bukan sesuatu yang buruk. Konflik sering kali muncul justru ketika kita sedang berhadapan dengan realitas. Ada kebutuhan yang bertabrakan. Ada informasi baru yang membantah asumsi kita. Ada keterbatasan sumber daya yang memaksa kita memilih. Ada trade-off yang tidak bisa dihindari.
Kalau semua orang benar-benar peduli pada tujuan yang sama, konflik justru hampir tidak mungkin dihindari. Yang menentukan bukan ada atau tidaknya konflik, melainkan bagaimana kita menjalaninya.
Buat gue pribadi, good faith bukan berarti selalu sepakat, selalu mengalah, atau selalu berprasangka baik bahwa semua orang pasti benar. Good faith adalah komitmen untuk sama-sama mencari kebenaran dari realitas, meskipun hasil akhirnya belum tentu memuaskan semua pihak. Dan menurut gue, komitmen seperti itu perlu terus dilatih.
Lantas apa saja yang perlu kita latih untuk mengusahakan sakinah itu?
1. Disiplin membedakan asumsi dengan fakta.
Banyak konflik menjadi panjang bukan karena masalahnya rumit, tetapi karena asumsi diperlakukan sebagai fakta.
Misalnya:
"Tim pasti menolak."
"Pasar pasti tidak suka."
"Dia pasti punya niat buruk."
Padahal semua itu mungkin belum pernah diuji. Semakin besar organisasi, semakin banyak keputusan yang dibuat berdasarkan interpretasi. Karena itu, menurut gue salah satu bentuk good faith adalah kerendahan hati untuk bertanya,
"Apa yang benar-benar kita ketahui?"
"Apa yang masih dugaan?"
Disiplin membedakan keduanya membuat diskusi menjadi lebih jernih. Kita berdebat tentang realitas, bukan tentang imajinasi masing-masing.
2. Ingat bahwa solusi adalah model, bukan realitas.
Sebagai engineer, designer, maupun entrepreneur, kita terbiasa membuat solusi. Tapi semakin lama gue belajar, semakin sadar bahwa solusi yang kita buat hanyalah model tentang bagaimana dunia bekerja.
Realitas tidak punya kewajiban mengikuti model kita. Karena itu, ketika sebuah solusi ternyata gagal, bukan berarti orangnya gagal. Bisa jadi modelnya memang belum cukup baik.
Kesadaran ini membantu kita lebih mudah menerima feedback, mengubah arah, bahkan mengakui bahwa keputusan sebelumnya kurang tepat tanpa merasa harga diri ikut runtuh. Yang kita pertahankan bukan ego terhadap solusi, tetapi komitmen untuk terus mendekati realitas apa adanya.
3. De-eskalasi penting, tetapi bukan tujuan akhirnya.
Kadang konflik selesai hanya karena semua orang sudah capek. Nada bicara mulai pelan, pertemuan diakhiri, semua mengangguk, tetapi akar masalahnya masih utuh.
Menurut gue, de-eskalasi memang penting. Orang yang sedang sangat emosional sulit berpikir jernih. Namun setelah tensi turun, pekerjaan berikutnya justru dimulai.
Kita perlu mencari tahu tentang apa masalah sebenarnya? Apa kebutuhan setiap pihak? Constraint mana yang nyata? Constraint mana yang sebenarnya masih asumsi? Trade-off apa yang sedang kita hadapi?
Kalau pertanyaan-pertanyaan ini tidak pernah dibahas, konflik hanya berubah bentuk. Hari ini terlihat selesai, beberapa bulan kemudian muncul lagi dengan wajah yang berbeda.
4. Jaga komitmen dan narasi setelah konflik selesai.
Ini bagian yang belakangan paling menarik buat gue. Tidak semua konflik akan menghasilkan win-win. Kadang hasilnya zero-sum. Kadang bahkan tragic dilemma, ketika setiap pilihan tetap mengandung pengorbanan. Di momen seperti ini, kita mudah sekali merasionalisasi.
"Ya memang begitulah organisasi."
"Ya memang bisnis."
"Ya memang manusia."
Menurut gue, narasi seperti ini berbahaya kalau dipakai untuk menutup ruang belajar. Lebih baik kita berkata,
"Dengan informasi dan keterbatasan yang kita miliki saat itu, inilah keputusan yang kita ambil."
Kalimat itu mengakui realitas tanpa menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak bisa kita ubah di kemudian hari. Masih ada ruang untuk bertanya,
"Apa yang perlu berubah supaya di masa depan kita bisa menghasilkan outcome yang lebih baik?"
Good faith bukan berarti semua keputusan pasti benar. Good faith adalah tetap menjaga komitmen untuk belajar, bahkan ketika outcome-nya tidak memuaskan semua pihak.
5. Jaga hak setiap manusia, termasuk dirimu sendiri.
Ini pelajaran yang cukup lama gue pahami. Dulu gue mengira menjadi orang yang baik berarti lebih sering mengalah. Ternyata tidak sesederhana itu.
Dalam konflik, setiap orang membawa kebutuhan, batas, dan tanggung jawabnya masing-masing. Kebutuhan orang lain perlu didengar. Tetapi kebutuhan kita sendiri juga layak disuarakan. Hak orang lain perlu dihormati. Tetapi hak kita sendiri juga tidak boleh diabaikan.
Karena ketika salah satu pihak terus-menerus mengorbankan dirinya demi menghindari konflik, yang lahir bukan sakinah. Yang lahir adalah kelelahan, resentment, dan utang emosional yang suatu saat akan muncul kembali. Menurut gue, good faith justru mengajak kita menghormati martabat semua pihak secara bersamaan.
6. Jika kamu menjadi pengambil keputusan, bermohonlah ampun dan hidayah kepada Allah.
Ada satu ketakutan yang menurut gue mungkin diam-diam dimiliki banyak pengambil keputusan. Bukan takut dikritik. Bukan takut dianggap gagal. Melainkan suatu hari, bertahun-tahun kemudian, menyadari,
"Ternyata dulu aku salah."
Ternyata ada keputusan yang melukai orang lain. Ternyata ada kebutuhan yang luput kita pahami. Ternyata ada bias yang baru terlihat setelah waktu berlalu.
Di momen seperti itu, menurut gue seorang pemimpin tidak boleh bersembunyi di balik kalimat, "Ya, dulu memang kondisinya begitu."
Kalau memang ada yang bisa diperbaiki, maka perbaikilah. Kalau memang ada yang perlu dimintai maaf, maka mintalah maaf. Kalau ada sistem yang perlu diubah agar kesalahan yang sama tidak terulang, maka ubahlah. Karena mengambil tanggung jawab adalah bagian dari amanah seorang pengambil keputusan. Namun pada saat yang sama, kita juga perlu menerima bahwa tidak semua hal bisa kita perbaiki.
Ada keputusan yang konsekuensinya sudah terlanjur terjadi. Ada luka yang tidak bisa hapus begitu saja. Ada bias yang baru kita sadari ketika waktu sudah berlalu. Di titik itulah, setelah membaca Surah Al-Fath ayat 5, gue merasa begitu dihibur.
"...dan Dia menutup kesalahan-kesalahan mereka." (QS. Al-Fath: 5)
Kalau tidak ada konsep ampunan, menurut gue beban menjadi pengambil keputusan akan sangat berat. Karena Islam tidak mengajarkan bahwa seorang mukmin harus selalu benar.
Islam mengajarkan agar kita berikhtiar sebaik mungkin, bertanggung jawab memperbaiki kesalahan sejauh yang kita mampu, lalu terus beristighfar karena kita sadar bahwa sebagai manusia, selalu ada kekeliruan yang lahir dari keterbatasan ilmu, pengalaman, dan cara pandang kita.
Maka ketika menjadi pengambil keputusan, semoga kita diberi keberanian untuk memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki, kerendahan hati untuk meminta maaf ketika memang bersalah, dan keikhlasan untuk memohon ampun kepada Allah atas segala kekurangan yang hanya Dia yang mampu menutupinya.
Karena pada akhirnya, tidak ada pengambil keputusan yang ma'shum. Yang ada hanyalah hamba yang berusaha mengambil keputusan sebaik mungkin, bertanggung jawab atas akibatnya, lalu berharap semoga Allah menerima ikhtiarnya, mengampuni kekeliruannya, dan melimpahkan rahmat kepada setiap hati yang pernah terdampak oleh keputusan tersebut.











