Oh...Hi! 👋
Akhir tahun 2023 telah menjadi penanda penting dalam segmentasi hidupku. Ya! Aku menikah dengan temanku. Teman dekatku, teman zoomku, teman diskusiku, teman surveiku, teman kerjaku, teman kantorku, dan bentuk pertemanan-pertemanan lain yang sudah kami jalani selama 10 tahun sejak kami mengetahui nama satu sama lain. Dan kini dia telah menjadi teman hidupku. Selamanya, sampai surga. Amiiin.
Sejujurnya aku bingung hendak memulai cerita ini dari mana. Hhe. Tapi mari mulai merajut cerita-cerita seru di perjalanan panjang ini dalam tajuk #AdeganRumahTangga.
Tunggu! Tunggu!
Rumah tangga?
Iya. Rumah tangga. Dua kata itu yang terngiang-ngiang di kepalaku. Meskipun aku sadar dan siap untuk menikah dan berkeluarga, aku masih merasa agak linglung dengan kata "rumah tangga". Aku berumah tangga? Anak kecil yang kapan hari nangis sendiri di kosan gara-gara revisian skripsinya ga dibalikin sebulan sama dosennya itu mau berumah tangga? Anak perempuan yang sering jajan es krim dan gelato itu mau berumah tangga? Anak perempuan yang lebih suka masakan ibunya dibandingkan masakannya sendiri itu mau berumah tangga?
Iya. Seconcern itu aku dengan kata rumah tangga. Kenapa ya namanya "rumah tangga"? Apakah itu simbol ketika kita menikah dan berkeluarga maka kita akan berjalan bersama menapaki tangga secara beriringan untuk mencapai tujuan di atas bersama? atau ini adalah representasi akan banyaknya anak tangga yang harus kita tapaki satu persatu dengan berbagai cerita di masing-masingnya? Lalu apakah tangganya akan berbentuk lurus langsung menuju ke atas? ataukan berbelok melengkung seperti yang seringkali nampak di rumah mewah yang dipakai syuting sinetron itu?
hmm... aku tak tahu pasti. Yang aku tahu pasti adalah akan ada banyak cerita menarik dalam perjalanan kami nanti menjadi keluarga dan membangun "rumah tangga".
Oh wait! "membangun" rumah tangga. Aku baru menyadari sesuatu. Membangun adalah kata aktif. Artinya "rumah tangga" juga memerlukan peran aktif dari orang-orang yang memilikinya, juga perlu dibangun secara aktif bersama-sama. Semoga kita bisa menjadi partner yang baik yang bisa sama-sama saling berdiri kokoh untuk menjadi pondasi yang bisa saling diandalkan bagi rumah tangga kami.
Tulisan ini menjadi pengingatku kalau sebagai perempuan dan istri, aku juga memiliki peran dan aku harus berperan. Meskipun terkadang aku masih belajar dan perlu meraba peran seperti apa yang ideal dan tepat untuk bangunan rumah tangga kami, aku mau mengupayakannya. Meskipun mungkin tidak mudah dan ada "worry"nya, gapapa. Challenging the self will always worth, right?
Kalau kata doi "aku nggak tau pasti perjalanan kita nanti akan seperti apa, tapi aku yakin pasti seru!"
Mari tumbuh dalam cerita-cerita seru bersama!









