Rahasia Tuhan Siapa Yang Tahu?
Akhirnya, kedua kaki ini telah sampai di Melbourne. Dengan sebuah nafas panjang, ku yakinkan diri ini untuk mencoba sebuah peruntungan baru. Memulai segalanya dari nol. Karir ataupun pendidikan yang sudah kuidamkan semenjak lama, harus ku singkirkan sejenak. Ku yakin, rencana Tuhan jauh lebih baik dibandingkan rencanaku sebagai seorang hamba yang kecil. Dan ternyata, ini benar bukan?
Selepas lulus dari sebuah kampus negeri di bilangan Depok, aku mantapkan diri ini untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi di sebuah negara yang sudah kuidam-idamkan semenjak lama, Inggris. Selama tiga bulan lebih, aku melakukan persiapkan dengan pergi merantau ke sebuah kampung yang dimana ada nama negara idamanku, “Kampung Inggris.” Namun, Tuhan memberiku sebuah kegagalan dipercobaan pertamaku. Pada waktu itu, aku berfikir untuk menyudahi saja mimpiku. Kukubur dulu dan akan kugali gali pada saat yang lebih tepat. Janjiku, pada diri sendiri.
Selanjutnya, aku pun bekerja di sebuah Kementrian yang didalamnya terdapat sebuah lembaga yang menyediakan beasiswa pendidikan tinggi lanjutan bagi anak terbaik negeri. Lembaga ini sangat dikenal di kalangan pelajar Indonesia tentunya, bahkan dapat dikatakan sebagai lembaga pemberi beasiswa yang paling dikenal di Indonesia saat ini. Pekerjaanku selama kurang dari satu tahun disana berjalan dengan sangat lancar dan baik. Aku diberikan sebuah tugas yang membuatku terbiasa bertemu dengan tokoh nasional dengan reputasi baik, terlebih riwayat pendidikannya. Selain itu, para awardee yang setiap minggunya berganti juga tak kalah hebatnya, karena kepada merekalah Indonesia berinvestasi sangat besar, bukan?
Ditengah nyamannya bekerja, aku pun tersadar dengan sebuah surel yang masuk mengingatkanku pada jadwal wawancara visa bekerja dan berlibur Australia, atau yang biasa disebut WHV (Working and Holiday Visa). Selepas wawancara dan tes kesehatan, aku pun kembali mendapatkan surel bahwa sudah diterimanya visaku. Dengan kegundahan karena akan melepas pekerjaan yang sudah kunikmati, aku memutuskan untuk siap bertualang ke Australia.
Bersamaan dengan Tante Emil yang merupakan teman baik ibuku yang ingin menjenguk anaknya di Melbourne, aku pergi pada pertengahan Maret 2016 menuju kota dengan julukan “The Most Liveable City in the World” ini. Selama hampir satu bulan lamanya, aku mencari pekerjaan di Melbourne. Ini merupakan saat-saat tersulit selama berada di Australia. Aku merasakan bagaimana tidak mudahnya mencari pekerjaan disini, pintu demi pintu restoran, toko, maupun swalayan aku hampiri untuk sekadar memberikan curriculum vitae-ku. Sudah banyak pula surel yang aku kirimi untuk melamar pekerjaan. Ada beberapa balasan dari surel yang menyatakan penolakan, pemberian jadwal interview, namun sebagian besar tidak ada respon sama sekali. Aku sangat gundah, aku sangat teramat gundah.
Australia, sebagai salah satu negara dengan biaya hidup tertinggi di dunia, tentunya akan sangat membutuhkan banyak uang untuk dapat bertahan hidup. Aku pada saat itu tinggal bersama anaknya Tante Emil di sebuah house sharing bersama dengan dua temannya dari Nepal. Mereka sangat baik kepadaku dengan memberikan penginapan gratis selama hampir satu bulan tinggal disana, bahkan juga memberikan makanan kepadaku. Mereka bertiga merupakan mahasiswa yang juga bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup selama disini. Aku merasa sangat tidak nyaman untuk terus bersama mereka, aku harus segera mendapatkan pekerjaan. Sesegera mungkin.
Ada salah satu email yang menerimaku untuk bekerja sebagai kitchenhand di sebuah restoran China, namun aku merasa sedikit kurang nyaman dengan isi email yang menanyakan apakah aku mau bekerja dengan restoran yang menyajikan babi. Aku menyadari bahwa di negara dengan minoritas muslim seperti Australia ini akan sangat sulit sekali mencari pekerjaan yang moslem friendly. Aku termenung, bingung harus berbuat apa. Walaupun beberapa orang menyarankanku untuk mengambil saja pekerjaan tersebut dan tetap mencari pekerjaan lainnya, aku putuskan untuk tidak mengambilnya. Aku tidak ingin pekerjaan yang tidak berkah dan dan bertentangan dengan agama yang kuyakini.
Salah satu usaha yang aku lalu adalah mencari pekerjaan di tempat lain, tidak hanya di Melbourne, termasuk state lainnya. Aku terpikir untuk pergi ke Perth yang dimana ada tanteku yang menyatakan akan menyediakan kamar untukku, ke Darwin dimana ada temanku yang mengenalkanku akan WHV yang banyak membantuku selama proses WHV bahkan hingga saat ini, dan juga Sydney sebagai salah satu kota terramai di Australia. Aku terus berikhtiar, aku yakin Allah selalu bersama hamba-Nya.
Allah terlalu hebat dari apa yang bisa kita bayangkan. Aku sangat bersyukur bahwa aku akhirnya mendapatkan interview pekerjaan di dua buah agen housekeeping dan sebuah restoran Jepang yang keduanya berada di Sydney. Aku yakin, setidaknya ketiga calon pekerjaanku ini memiliki peluang yang cukup besar. Aku pun membeli tiket kereta dari Melbourne menuju Sydney pada hari Senin, 4 April 2016. Satu hari sebelum keberangakatanku, pada waktu solat ashar, aku berdoa kepada Allah semoga terus membimbingku dan menunjukkan jalan yang terbaik yang harus aku lalui selama disini. Tepat pada waktu itu, aku mendapatkan kabar dari Tante Yela yang merupakan adik dari Tante Emil yang sudah menjadi Permanent Resident di Melbourne, bahwa ada sebuah pekerjaan di Warrnambool.
Sebelumnya, aku juga sudah mendaftar untuk bekerja di pabrik daging halal ekport di Warrnambool melalui seorang agen yang kudapat dari temanku sesama WHV Indonesia yang sudah terlebih dahulu bekerja disana. Namun agen tersebut menyatakan bahwa tunggu 2-3 minggu karena sedang banyak orang yang mendaftar pekerjaan. Maka, kuurungkan saja niatku untuk bekerja disana. Namun Tante Yela melalui kenalannya disana mengatakan bahwa ada lowongan pekerjaan di pabrik yang sama namun melalui agen yang berbeda. Kutanyakan kepada temanku yang sudah disana bukanlah besarnya gaji, namun apakah ada waktu solat yang diberikan karena aku tahu waktu kerja di pabrik sangatlah padat. Dia menyatakan tidak tahu, namun ada sebuah masjid perusahaan yang biasa digunakan bagi muslim. Mendengarnya saja aku merasa sangat lega. There will be something bigger and better coming, I believe it.
Keesekoan harinya, aku langsung memberi tiket menuju Warrnambool untuk hari Selasa, 17 April 2016. Warrnambool merupakan salah satu kota Victoria yang berada sekitar 300km dari Melbourne. Sebagai country side, sangat sulit mendapatkan penginapan di Warrnambool. Namun berkat bantuan Tante Yela lagi, aku mendapatkan kontak sebuah keluarga Indonesia muslim yang tinggal di Warrnambool yang akan menjadi land lord-ku.
Selepas sampai di Warrnambool, aku dijemput oleh Tante Heni, yang merupakan teman sekolah Tante Emil dulu ketika di Indonesia, aku langsung diantar di pabrik daging tersebut. Aku bertemu dengan Pak Khairul, orang Indonesia yang akan menjadi land lord-ku yang juga bekerja di pabrik daging tersebut. Kami sempat berbicara sebentar dan aku langsung diketemukan dengan agen untuk mengurus pendaftaran bekerja. Selama satu minggu, terdapat beberapa tes sebelum bekerja, yaitu tes tertulis dan tes kesehatan yang terdiri dari tes kulit, telinga, dan Q-Fever. Apabila semua tes telah usai, maka kita akan ditempatkan di waiting room untuk menunggu pos mana yang membutuhkan pekerja baru. Jadwal menunggu ini bisa berbeda-beda, bisa satu hari, dua hari, satu minggu, dua minggu, satu bulan, atau bahkan lebih.
Pada pelaksaan tes kulit, saya ditanya oleh salah satu orang disana yang saya kira merupakan dokter, dari mana aku berasal dan agama apa yang kuanut. Aku jawab bahwa aku orang Indonesia yang juga seorang muslim. Selepas itu, aku kembali mengantri untuk tes telinga, namun orang yang menanyakan padaku tadi yang ternyata merupakan salah seorang manajer perusahaan disana, kembali menemuiku dengan seorang pria yang tidak terlihat seperti orang Australia, namun seperti India. Dia menyatakan bahwa aku harus disegerakan untuk tes telinga dan setelah itu ditunggu untuk masuk ke sebuah ruangan yang bertuliskan “Halal Meat Supervisor.” Selepas tes telinga, aku masuk ke ruangan tersebut dan ditanyakan oleh orang berparas India tersebut yang merupakan Moslem Supervisor disana, mengenai solat, Al-Qur’an, dan beberapa pertanyaan dasar agama islam. Dia menanyakan kepadaku apakah tertarik untuk menjadi moslem slaughter man atau penyembelih muslim. Dia menerangkan bahwa pekerjaan ini harus seorang muslim dengan pengetahuan muslim yang baik, tidak melakukan hal yang dilarang agama yang mendapatkan spesial perlakuan dari perusahaan dengan diberikan waktu solat, dan dapat diberikan sponsor dari perusahaan sebagai PR. Dengan senang hati dan sumringah, saya menyatakan bersedia.
Selama berkerja di perusahaan yang bernama The Midfield Group ini, aku diajarkan dari dasar bagaimana caranya menyembeli dengan benar dan cepat. Kenapa harus dengan cepat? Karena dalam satu menit, harus menyembeli sebanyak 7 – 10 ekor kambing atau 1 – 2 sapi dengan satu kali potongan. Terdapat empat chains pemotongan, dua untuk small stock yang terdiri dari lamb, mutton, dan small chalf dan dua lagi untuk cow dan bull. Di setiap chain, terdapat dua orang yang menjadi moslem slaughter man untuk 5000 - 7000 small stock dan 700 – 1000 cow dan bull setiap harinya. Kami para slaughter men mendapatkan giliran 30 menit memotong dan 30 menit mengasah pisau sekaligus cek kehalalan hewan potongan. Selain itu, aku pun belajar bagaimana cara mengasah yang sesuai agar dapat menghasilkan pisau yang sangat teramat tajam. Selain itu, aku juga diajarkan bagaimana menjaga kehalalan kambing dan sapi sebelum dipasarkan. Salah satunya adalah apabila terdapat sapi yang mati sebelum disembeli dahulu, maka harus ditempelkan label “Non Halal” dan terus dipantau oleh moslem slaughter man pada semua proses produksi.
Hal yang menurutku sangat tidak terhingga adalah, kami diberikan waktu untuk tetap beribadah ketika bekerja. Seperti setiap pagi yang dimulai sebelum berkumandangnya adzan shubuh, maka satu orang bekerja dan satu orang bersiap solat dan setelah orang pertama solat subuh, maka orang kedua pun bergantian solat shubuh. Namun, keduanya tetap dihitung waktu penuh dalam bekerja. Begitupun ketika solat dzuhur. Bahkan, ketika pelaksanaan solat Jumat yang membutuhkan waktu sekitar satu jam, salah satu Moslem Slaughter man dari setiap chain mendapatkan waktu solat dan ini bergiliran setiap minggunya.
Aku merasa sangat bersyukur dapat bekerja disini. Salah satu kenikmatan untuk tetap beribadah adalah ketika bulan Ramadlan. Kami para Moslem slaughter men terbiasa untuk mengaji ketika smoko time atau waktu istirahat pada saat bekerja. Dimalam harinya, kami melaksanakan solat tarawih berjamaah dan beberapa kami berbuka puasa bersama pula. Pada saat perayaan lebaran lalu, walaupun tidak diberikan hari libur, karena bukan termasuk hari libur nasional di Australia, proses produksi di semua chain diberikan waktu istirahat selama satu jam untuk memberikan waktu bagi para muslim untuk solat ‘ied. Ternyata, muslim yang bekerja tidak hanya bekerja sebagai moslem slaughter man, namun juga bagian lainnya. Masjid sebagai tempat dimana kami biasa solat yang juga menjadi Islamic Center of Warrnambool yang merupakan sebuah working space yang diberikan dari pihak perusahaan. Alhamdulillah ‘ala kulli haal.
Australia, sebagai negara minoritas muslim, bukanlah hal yang mudah untuk bagi muslim untuk tetap hidup berdampingan namun bisa tetap beribadah dengan baik. Namun, satu hal yang akan terus kuyakini bahwa Allah selalu bersama hamba-hamba-Nya, termasuk aku. Perjalananku selama beberapa bulan di Australia ini menjadi salah satu perjalanan yang membuka mataku lebih lebar akan kuasa-Nya. Dahulu, langkah kaki yang kian terasa berat, senyuman yang kian memudar, dan air mata yang kian banyak menetes, semua hilang disetiap doa yang dicurahkan. Kita ialah makhluk yang terlalu resah ditengah rahasia Tuhan yang begitu dahsyat. Bahkan, apakah kamu tahu, bahwa kini aku tidak lagi di Warrnambool?
Darwin, 12 Agustus 2016 pukul 01.01am