Apabila dilihat dari pertumbuhan ekonomi anggota - anggotanya, pertumbuhan dari EZ sangat ditopang oleh pertumbuhan dari Jerman. Secara nominal, perekonomian Jerman dan Prancis menyumbang 51% perekonomian EZ. Namun hanya perekonomian Jerman yang menunjukkan pertumbuhan sementara perekonomian Prancis cenderung stagnan. Dari kawasan periferal, perekonomian Yunani terus menunjukkan pemulihan yang berkelanjutan sementara Portugal sedikit mengalami perlambatan pada Q1 2014. Spanyol, Italia, dan Irlandia masih berjuang untuk mengatasi perlambatan pertumbuhan.
Risiko kawasan EZ ke depannya adalah proses pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Dengan hanya mengandalkan Jerman sebagai motor, maka cukup sulit untuk menopang keseluruhan kawasan dengan permasalahan domestik yang berbeda - beda khususnya dari sisi kebijakan moneter. Terlebih Prancis, negara terkuat kedua, saat ini juga sedang berjuang supaya tidak bernasib sama dengan negara di kawasan periferal. Bank Sentral Eropa (ECB) saat ini tengah mengupayakan berbagai kebijakan moneter longgar (dengan menurunkan suku bunga acuannya ke level 0 - 0.15%) dan sedang mempertimbangkan program QE tahun depan.
Update sebelumnya: disini dan disini
--------
Appendix. Perekonomian EZ bercirikan persemakmuran dimana peran pemerintah untuk membiayai kebutuhan sosial (seperti tunjangan kesehatan, pendidikan, dan sosial lainnya) cukup tinggi. Pertumbuhan ekonomi lebih ditopang oleh konsumsi dalam negeri dan pertumbuhan investasi. Sementara sisi perdagangan (ekspor - impor) tidak terlalu signifikan berkontribusi.
Ke depannya perekonomian dunia tampaknya kembali akan ditopang oleh pertumbuhan dari US dan Eropa seiring dengan melambatnya perekonomian Jepang, China, dan negara berkembang secara umum.
*data hingga April 2014
---
Notes: The Purchasing Managers’ Index™ (PMI™) is a composite index based on five of the individual indexes with the following weights: New Orders - 0.3, Output - 0.25, Employment - 0.2, Suppliers’ Delivery Times - 0.15, Stock of Items Purchased - 0.1, with the Delivery Times index inverted so that it moves in a comparable direction.
Pada tanggal 20 Mei, pemerintah mengajukan revisi RAPBN-P 2014 ke DPR dengan beberapa perubahan asumsi makroekonomi sbb:
Pertumbuhan ekonomi diturunkan dari 6% ke 5.5%
Tingkat inflasi dari 5.5% ke 5.3%.
Nilai tukar Rupiah dari Rp 10,500/USD ke Rp 11,700.
Lifting minyak dari 870 ribu barel/hari menjadi 818 ribu barel/hari.
Namun defisit yang lebih besar ini tetap membuat pemerintah harus memangkas beberap pos anggaran, karena apabila tidak dilakukan budget deficit dapat mencapai 3.3 – 3.5% of GDP yang mana hal tersebut akan melanggar UU yang mensyaratkan maksimum defisit sebesar 3% dari GDP.
Pemotongan anggaran ini perlu dilakukan karena pos anggaran subsidi listrik dan BBM diekspektasikan meningkat masing – masing sebesar 35.3% dan 50%. Dengan kata lain, total subsidi energi meningkat dari Rp 281.2T menjadi Rp 392.1T. Di sisi lain pemerintah menurunkan target pendapatan pajak dari Rp 1,667T menjadi Rp 1,598T.
Pemotongan anggaran terbesar terjadi pada kementerian PU, pertahanan, dan transportasi dengan rincian:
Dampaknya:
Perlambatan pertumbuhan ekonomi ke depannya karena dari sisi pengeluaran pemerintah dan investasi akan berkurang walau secara relatif tidak terlalu besar dengan kisaran 0.1 – 0.2%.
Pasar obligasi akan mengalami tekanan karena pemerintah masih harus meningkatkan target penjualan obligasi sebesar Rp 65 – 75T (membuat yield tetap tinggi sehingga harga turun).
Pada pasar saham, dalam jangka pendek pemotongan anggaran dapat menjadi sentimen negatif bagi sektor terkait seperti infrastruktur dan semen.
Pada tahun 2014 ini ada fenomena menarik bagi industri media, yaitu: Pemilu dan Piala Dunia. Event pemilu menjadi menarik karena peta industri media di Indonesia yang cenderung bersifat oligopoli dimiliki oleh para pengusaha yang tahun ini turut terjun ke dalam kancah Pemilu.
Selain alasan tadi, FMCG companies juga mendapat keuntungan terselubung dari aktivitas kampanye yang umum membagi-bagikan sembako, makanan, hingga uang. Akibatnya para perusahaan tersebut tidak perlu melakukan susah payah beriklan untuk meningkatkan penjualannya sehingga perusahaan akan cenderung mengalihkan dana iklannya pasca pemilu. Hal ini berdampak negatif terhadap pendapatan stasiun TV pada semester pertama tahun ini karena adanya pengurangan frekuensi tayangan iklan dari FMCG companies.
Event Piala Dunia tahun ini juga cukup unik karena berbarengan dengan bulan Puasa. Sehingga ada persaingan audience share antara program Piala Dunia dan acara Ramadhan (yang mana keduanya berbagi waktu prime time saat sahur).
Persaingan Audience Share
Berdasarkan data tahun 2013, rata - rata audience share masih dikuasai oleh RCTI sebesar 17.7 dan SCTV sebesar 16.5. Posisi ketiga, keempat, dan kelima ditempati oleh Trans TV, Trans 7 dan MNC TV. Secara umum persaingan untuk audience share sejak dulu diperebutkan oleh RCTI dan SCTV. Kejadian menarik terjadi pada Q4 2013 dimana Trans TV berhasil mendobrak perolehan audience share melalui tayangan variety show-nya Yuk Kita Smile. Data per akhir Q1 2014 menunjukkan audience share Trans TV meningkat menjadi 15.1 sementara pertarungan audience share dimenangkan oleh SCTV dengan share 15.6 vs RCTI 14.8.
Dalam industri media (TV) perolehan audience share menjadi krusial karena akan menjadi faktor penentu seorang pengiklan menganggarkan biaya iklannya. Perusahaan yang menghasilkan audience share tinggi memiliki probabilitas tinggi untuk mendapatkan spot iklan lebih banyak sehingga pendapatannya pun akan meningkat. Namun untuk menghasilkan audience share ini sangat tergantung dari kepiawaian stasiun TV menciptakan program - program menarik yang disukai masyarakat. Para pembuat program juga dituntut kreatifitasnya dalam menangkap perilaku masyarakat serta tren apa saja yang sedang digemari saat ini.
Lalu bagaimana dengan tren pendapatan dari perusahaan media tersebut?
Sekitar 90% anggaran belanja iklan dihabiskan pada media TV, dan sebagian besar pengiklan merupakan FMCG companies. Dengan menggunakan data rata - rata UNVR, INDF, ICBP, MYOR, dan KLBF, pertumbuhan nilai belanja iklan setiap tahunnya meningkat sebesar 15%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pendapatan dari perusahaan media berbanding lurus dengan nilai anggaran belanja iklan ini. Namun yang perlu diperhatikan adalah apakah kenaikan dari belanja iklan tersebut merupakan akibat penyesuaian harga (Ad Rate) dari media TV atau karena ada penambahan jumlah/kuantitas/frekuensi tayangan iklan?
Pada umumnya FMCG companies menganggarkan biaya iklan berdasarkan persentase terhadap penjualan (Ad Expense/Sales Ratio). Hal ini akan menjadi bersifat relatif untuk ditafsirkan. Misal ketika pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan mengalami perlambatan, maka tingkat konsumsi masyarakat akan cenderung berkurang. Hal ini lebih lanjut akan menurunkan tingkat penjualan perusahaan. Seandainya perusahaan tersebut mempertahankan rasio belanja iklan terhadap penjualannya, maka dengan ekspektasi penurunan angka penjualan maka nilai belanja iklan yang akan dianggarkan pun akan berkurang secara nominal. Dan tentu berkurangnya anggaran iklan akan menurunkan pendapatan dari media companies. Sebaliknya, apabila perusahaan meningkatkan rasio belanja iklannya (misal 15%) maka apakah pendapatan dari media companies juga akan meningkat 15%? Belum tentu, karena bisa saja kenaikan rasio belanja iklan tersebut hanya untuk mengkompensasi kenaikan harga tayang iklan (Ad Rate) yang naik 15% juga sehingga dampak pertumbuhan pendapatan media companies akan stagnan.
Jika pendapatan media companies cukup dipengaruhi oleh kondisi eksternal (pertumbuhan ekonomi), maka untuk meningkatkan atau mempertahankan pertumbuhan pendapatan, perusahaan harus berjuang memperebutkan audience share. Strategi yang dilakukan antara lain melalui pengembangan program secara in-house. Strategi ini memiliki kelebihan berupa penghematan biaya produksi serta konten yang lebih bisa di-customized untuk menangkap tren pasar. Namun apakah perusahaan media dapat menghasilkan pertumbuhan operasi dan laba bersih yang baik saat terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi?
Rupanya pertumbuhan profitabilitas perusahaan media juga cenderung mengikuti perlambatan dari pendapatan. Yang dapat dilakukan perusahaan menghadapi kondisi komponen biaya yang cenderung terus meningkat setiap tahunnya (seperti kenaikan UMR, listrik, dan BBM) adalah melalui efisiensi. Pengembangan program in-house adalah salah satu cara untuk mempertahankan margin perusahaan.
Kesimpulan: Untuk meningkatkan pendapatan dan keuntungan, perusahaan media harus bersaing memperebutkan audience share melalui pembuatan program - program yang menarik minat masyarakat.
Dalam laporan perekonomian Indonesia yang dirilis oleh Bank Indonesia, tahun 2013 menandakan pergeseran tiga pola siklus dunia:
1. Global Growth Cycle
Jika sebelumnya perekonomian dunia ditopang oleh pertumbuhan ekonomi negara - negara maju (DM), maka pada awal tahun 2000-an pertumbuhan ekonomi negara - negara berkembang (EM) mulai memiliki andil terhadap perekonomian dunia.
Namun pasca krisis global 2008, pertumbuhan ekonomi dunia (baik negara maju atau berkembang) mengalami perlambatan. Hingga pada tahun 2013, pertumbuhan ekonomi negara maju mulai kembali bangkit dengan bantuan berbagai stimulus moneter dan fiskal dari pemerintah sementara perekonomian negara berkembang masih berada dalam tren perlambatan.
Perlambatan yang terjadi pada perekonomian berkembang lebih disebabkan oleh faktor struktural masing - masing negara. Misalnya perekonomian China yang kini sedang berusaha untuk menggeser mesin pertumbuhan dari yang mengandalkan investasi menuju konsumsi domestik masyarakat. Sementara perekonomian India harus mengatasi tingkat inflasi yang tinggi serta defisit neraca berjalannya.
2. Global Commodity Cycle
Perlambatan ekonomi negara berkembang lebih lanjut berdampak negatif terhadap pergerakan harga komoditas. Selama ini permintaan komoditas yang tinggi (seperti batu bara, kelapa sawit, timah, nikel, dan lain-lain) dari China dan India sebagai dampak pesatnya pertumbuhan ekonomi telah menaikkan harga komoditas. Kini dengan permintaan yang melambat maka harga komoditas juga turut melemah.
sumber: world bank
3. Global Financial Cycle
Wacana untuk melakukan tapering off program QE dari The Fed telah menimbulkan spekulasi terkait kenaikan tingkat suku bunga di AS. Momentum pemulihan ekonomi serta spekulasi tapering off ini membuat aliran modal asing kembali menuju negara maju.
sumber: world bank
Perubahan pada pola siklus dunia ini patut dicermati untuk membaca pergerakan arah perekonomian ke depannya. Setidaknya dari ketiga pola di atas terlihat bahwa perekonomian negara berkembang sedang mengalami cooling down setelah periode pertumbuhan yang tinggi. Akibatnya permintaan pada pasar komoditas berkurang sehingga cenderung menurunkan harga komoditas. Kecuali ada kejadian tertentu yang mengurangi supply/pasokan komoditas seperti cuaca ekstrim dan pembatasan ekspor mineral, maka harga komoditas dapat bergerak naik. Namun secara struktural, harga komoditas berada pada jalur yang sama dengan arah perekonomian negara berkembang.
Di lain pihak, perekomomian negara maju kini sedang berusaha bangkit dari titik terendahnya. Keberlangsungan momentum pemulihan ekonomi ini pada akhirnya akan dapat menopang perekonomian negara berkembang. Meningkatnya pendapatan pada negara maju akan meningkatkan permintaan pada negara berkembang sehingga roda pertumbuhan ekonomi dapat kembali berputar.
Kesimpulan: perekonomian dunia kini kembali mengandalkan negara maju sebagai motor pertumbuhan sehingga membuat investor mengalihkan dananya dari negara berkembang ke negara maju.
Menanggapi tantangan tersebut di atas yang berimplikasi pada kenaikan biaya produksi dan operasi, perusahaan masih dapat menaikkan harga jual ditopang daya tahan konsumsi masyarakat. Akan tetapi besaran kenaikan biaya masih lebih besar dari penyesuaian harga sehingga margin keuntungan mengalami penurunan.
Prospek ke depan
Tahun 2014, tantangan makro relatif mulai mereda. Kenaikan UMR sudah diatur pemerintah (sekitar 15%), tingkat inflasi yang melambat, nilai tukar rupiah yang stabil, serta potensi kenaikan suku bunga dan BBM yang kecil. Dengan meredanya tekanan dari sisi biaya, tingkat daya beli dan permintaan konsumen yang masih kuat membuat retailer akan menghadapi kondisi yang lebih baik. Hal ini terlihat dari profitabilitas yang membaik pada Q4 2013 dan diperkirakan akan lebih baik lagi pada Q1 - Q2 2014.
Kenaikan harga komoditas ini akan berdampak negatif bagi perusahaan - perusahaan sektor konsumer (consumer staples). Hal ini dikarenakan komposisi bahan baku (umumnya komoditas pertanian seperti gandum) menyumbang persentase terbesar dalam COGS.
Karena perusahaan - perusahaan ini memiliki persediaan bahan baku, maka dampak kenaikan harga komoditas baru terasa dalam rentang waktu 6 - 12 bulan ke depan. Jika dilihat secara historis, harga komoditas kembali meningkat tajam pada tahun 2010 - 2011. pada rentang periode tersebut, pertumbuhan operating income dan net income consumer staples mengalami penurunan signifikan. Walau harga komoditas kembali turun pada tahun 2012, namun secara nominal angka tersebut masih cukup tinggi dibanding titik terendahnya di tahun 2009, dan bahkan berada di atas level tahun 2008 (titik tertinggi sebelum kejatuhan harga komoditas).
Agriculture Commodity Price Index:
Beberapa lembaga keuangan seperti World Bank dan IMF memperkirakan harga komoditas masih akan mengalami pelemahan pada tahun ini namun dengan catatan apabila tidak ada hal signifikan yang terjadi seperti cuaca ekstrim atau ketegangan geopolitik. Melihat kondisi saat ini, risiko untuk terjadinya peningkatan harga komoditas cukup tinggi dalam jangka pendek. Sehingga hal ini dapat menjadi faktor negatif bagi profitabilitas consumer staples di tengah kondisi persaingan yang semakin ketat.
Dilihat dari kondisi makro ekonomi, industri properti di Indonesia untuk tahun ini diperkirakan masih akan menghadapi tantangan perlambatan yang berawal dari pertengahan tahun lalu. Kenaikan BI Rate disusul oleh kenaikan suku bunga kredit dan berbagai kebijakan makro prudensial BI seperti kenaikan LTV Ratio dan Mortgage Disbursement Policy, telah membuat pasar properti dalam negeri menahan laju pertumbuhannya untuk sementara waktu. Ditambah dengan adanya pemilu tahun ini, beberapa developer cenderung wait and see serta menunda peluncuran beberapa produknya pada semester kedua. Para developer juga cenderung menurunkan pertumbuhan target marketing sales-nya tahun ini dibandingkan tahun lalu.
Harga saham sektor properti pada tahun lalu sempat mencatat kenaikan hingga 73% dalam periode Jan - May 2013. Namun seiring dengan perkembangan perekonomian global dan dalam negeri, gain yang tinggi tersebut akhirnya terpangkas hingga tersisa 3% pada akhir tahun 2013. Tetapi kinerja tersebut masih lebih baik dibandingkan IHSG yang mencatat penurunan 1%.
Tahun ini pun saham sektor properti berkinerja cukup baik dan berada di atas IHSG. Hingga akhir Februari, sektor properti mencatat kenaikan hingga 16% vs IHSG yang sebesar 8%. Sekilas kondisi ini serupa dengan pergerakan pada tahun lalu dimana kinerja sektor properti memimpin dibandingkan sektor - sektor lainnya. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa di tengah kondisi makro ekonomi yang kurang mendukung, saham sektor properti justru mencatat kinerja yang terbaik?
Valuasi Saham
Saham - saham sektor properti dinilai dengan menggunakan metode RNAV (revalued net asset value) yang pada intinya nilai saham diukur berdasarkan nilai harga pasar aset - aset properti yang dimiliki dibagi dengan jumlah saham beredar. Dari nilai ini para analis umumnya menerapkan discount untuk mendapatkan harga wajar saham.
Dilihat dari discount to NAV ini, saham sektor properti mulai mengalami booming pada tahun 2011 - 2012 dan puncaknya pada pertengahan tahun 2013. Pada tahun 2010, rata - rata discount to NAV untuk properti residensial sebesar 83% dan rata - rata discount to NAV untuk properti industrial sebesar 93%. Nilai diskon ini terus turun hingga mencapai level terendah pada H1 2013 sebesar 50% untuk residensial dan 45% untuk industrial. Ketika kondisi makro ekonomi berbalik arah dan saham - saham properti mulai mengalami koreksi, pada akhir tahun nilai diskon kembali berbalik mencapai 68% baik untuk residensial dan industrial. Pada saat ini saham - saham sektor properti cenderung undervalued dan menjadi relatif murah. Karena itu pada bulan Januari - Februari 2014 saham - saham sektor properti kembali diminati oleh investor dan hingga akhir Februari 2014, nilai diskon turun mencapai kisaran 62%.
Prospek Ke Depan
Dengan melihat metode valuasi saham di atas, menilai harga wajar saham properti cenderung bersifat subjektif karena ada faktor discount. Dengan data historis dua - tiga tahun terakhir, dapat disimpulkan bahwa ketika tingkat optimisme sangat tinggi (antara lain didukung kondisi makro ekonomi dalam negeri), maka rata - rata tingkat diskon dapat mencapai 50%.
Melihat kondisi makro ekonomi saat ini yang kurang kondusif bagi fundamental sektor properti, maka untuk mencapai tingkat diskon 50% terlihat sulit. Skenario terbaik adalah dengan menetapkan diskon sebesar rata - rata diskon pada tahun 2013 yaitu sekitar 56%. Sementara skenario terburuk adalah tingkat diskon berada pada level tahun 2012 yaitu sebesar 70% atau setara dengan level pada akhir tahun 2013. Dengan menggunakan harga penutupan pada akhir Februari 2014, maka masih ada potensi kenaikan harga saham sektor properti rata - rata sebesar 12 - 15% untuk skenario terbaik.
IHSG terus melanjutkan penguatannya hingga paruh pertama tahun 2013. Saat wacana untuk mengurangi secara bertahap kebijakan QE (tapering) bergulir, aliran modal asing berbondong - bondong keluar dari Indonesia dan negara berkembang lainnya. Sepanjang tahun 2013 dana asing yang keluar mencapai USD 1.8 miliar, atau lebih besar dari jumlah yang masuk selama tahun 2012. Hal ini membuat nilai tukar Rupiah terdepresiasi dari Rp 9,700/USD ke Rp 12,000/USD atau melemah lebih dari 20%. IHSG turun dari posisi tertinggi pada level 5,200 menuju 4,274 di akhir tahun.
Pada paruh kedua tahun 2013, atau sejak wacana tapering muncul, pergerakan IHSG yang sebelumnya bergerak seirama dengan pergerakan Indeks Dow Jones (DJI) kini seolah berlawanan. Proses decoupling ini terjadi karena adanya perpindahan aliran modal dari EM kembali menuju DM. Namun pada awal tahun 2014 aliran modal asing kembali memasuki Indonesia dan hingga Februari 2014 nilainya telah mencapai USD 790 miliar. Kenapa hal ini terjadi?
Dalam jangka pendek setidaknya ada dua alasan masuknya kembali modal asing ke Indonesia. Pertama adalah data - data makroekonomi AS yang bersifat mixed. Proses pemulihan ekonomi AS yang belum solid membawa kekhawatiran bagi investor sehingga mereka cenderung mencari alternatif investasi yang lebih menarik. Hal ini berlanjut ke alasan kedua yaitu perbaikan fundamental ekonomi Indonesia. Pada akhir tahun 2012 perekonomian Indonesia terindikasi mengalami defisit neraca berjalan (CAD) dan puncaknya pada kuartal kedua 2013 dimana CAD mencapai -4.5% dari PDB. Ini pun menjadi alasan lain kenapa modal asing bergerak keluar dari Indonesia pada tahun 2013. Namun serangkaian upaya pemerintah berhasil memperbaiki keadaan tersebut dan pada Q4 2013 CAD turun ke level -2.1% dari PDB. Nilai tukar Rupiah pun berangsur menguat dan stabil pada kisaran Rp 11,500/USD.
Kesimpulan
Ke depannya pergerakan dari pasar keuangan ini masih akan ditentukan oleh pergerakan aliran modal asing. Tentunya modal asing ini akan melihat dinamika ekonomi global dan perkembangan fundamental perekonomian Indonesia.
Jika dilihat posisi masing - masing emiten dalam supply chain industri poultry, maka JPFA merupakan satu - satunya perusahaan yang fokus pada bagian hulu / upstream dari industri. JPFA memiliki tujuh bidang usaha yang berkaitan dengan komoditas livestock: mulai dari penyediaan pakan ternak, ayam pedaging (broiler), budidaya perairan, DOC, peternakan sapi, hingga perdagangan daging sapi dan ayam potong.
Sementara untuk CPIN dan MAIN, keduanya selain masuk pada bagian hulu (walau terbatas pada kategori unggas) juga memiliki lini bisnis hilir / downstream berupa penjualan processed food (seperti chicken nugget). CPIN memiliki brand Fiesta sedangkan MAIN baru launching pada akhir 2013 dengan brand Sunny Gold.
Profitabilitas
Walaupun ketiga emiten mengandalkan pakan ternak sebagai porsi terbesar penjualan, namun ketiganya memiliki tingkat keuntungan yang berbeda. Operating margin pakan ternak terbesar dihasilkan oleh CPIN yang mencapai rata - rata 18%, diikuti oleh JPFA 15% dan MAIN 13%. Secara umum, baik dari sisi gross profit margin (GPM) atau operating margin (OPM), CPIN menghasilkan tingkat keuntungan yang paling tinggi diikuti MAIN kemudian JPFA. Perbedaan profitabilitas antar ketiga emiten dipengaruhi oleh bauran kegiatan bisnis yang dijalankan. Sebagai contoh, CPIN memiliki profitabilitas yang tinggi karena lini bisnis Processed Food menghasilkan OPM yang sama tingginya dengan lini bisnis Pakan Ternak. Hal ini yang menyebabkan MAIN tertarik untuk memasuki lini bisnis yang sama. Lini bisnis DOC juga cukup menghasilkan OPM yang tinggi sehingga menguntungkan CPIN dan MAIN yang mana kontribusi pendapatan terbesar kedua berasal dari lini bisnis tersebut.
Berbeda dengan JPFA yang mana lini usaha yang dijalankan sebagian besar menghasilkan OPM yang relatif rendah. Sehingga hal ini yang membuat tingkat profitabilitas perusahaan secara umum berada pada peringkat paling bawah dibanding dua perusahaan lainnya.
Harga Komoditas
Untuk memproduksi pakan ternak, dua bahan baku utama yang digunakan adalah jagung dan bungkil kedelai. Bahan baku rata - rata menyumbang 85% COGS sehingga margin ketiga emiten tergantung dari volatilitas kedua harga komoditas tersebut. Dalam dua tahun terakhir harga jagung cenderung bergerak turun dan kini hampir mencapai tingkat harga pada tahun 2010. Sementara harga bungkil kedelai relatif bertahan dalam tingkat yang cukup tinggi dalam dua tahun terakhir ini.
Untuk DOC dan Broiler, harga jual di pasar memiliki pola musiman. Harga DOC dan Broiler cenderung bergerak meningkat pada kuartal pertama dan mencapai puncak pada bulan Maret sebelum akhirnya kembali melemah pada bulan April. Harga mencapai puncak pada bulan Juni - Agustus didorong permintaan saat Lebaran. Pada kuartal keempat harga cenderung kembali turun hingga akhir tahun.
Catatan: harga Desember 2013 belum keluar sehingga menggunakan harga bulan sebelumnya.
Rasio Keuangan dan pertumbuhan
Dilihat dari sisi pertumbuhan penjualan, MAIN memiliki profil pertumbuhan yang paling tinggi sejak tiga tahun terakhir ditopang oleh ekspansi kapasitas produksi perusahaan. Namun per Q3 2013, tingkat pertumbuhan ketiga perusahaan cenderung seirama yang menandakan ekspansi dari MAIN sudah tidak terlalu agresif, sementara CPIN relatif sudah established sebagai market leader. Yang menarik adalah JPFA dimana tingkat pertumbuhan meningkat pada Q3 2013 yang disebabkan oleh peralihan fokus usaha pada bidang hulu.
Kegiatan ekspansi juga tercermin dari rasio gearing (Debt to Equity Ratio / DER) emiten. Pada tahun 2011 MAIN memiliki rasio gearing tertinggi seiring dengan puncak kegiatan ekspansi perusahaan. Ketika ekspansi melambat maka perusahaan mulai dapat mengurangi rasio gearing-nya pada tahun - tahun berikut dan per Q3 2013 rasio gearing MAIN membaik dibawah satu kali. Hal sebaliknya terjadi pada JPFA, dimana ekspansi untuk menopang pertumbuhan pada 2013 diikuti oleh peningkatan utang. Per Q3 2013, rasio gearing JPFA mencapai 1.2x. Sementara CPIN yang relatif sudah mapan memiliki rasio gearing paling rendah.
Melihat pola pertumbuhan dan rasio gearing ini, untuk ke depanya MAIN memiliki ruang untuk menggenjot pertumbuhan melalui penambahan utang sementara JPFA tampaknya akan sulit mempertahankan pertumbuhannya melalui leverage.
Risiko
Dilihat dari nature bisnisnya, industri poultry memiliki eksposur yang cukup tinggi terhadap volatilitas harga komoditas dunia dan lebih lanjut cukup sensitif terhadap kondisi nilai tukar Rupiah. Risiko ini bertambah besar karena ketiga emiten memiliki porsi utang dalam USD yang cukup signifikan. Risiko utama lainnya adalah terkait isu flu burung yang dapat menurunkan tingkat permintaan konsumen.
Saat ini terdapat beberapa tantangan bagi perdagangan internasional:
Pasca krisis 2008, beberapa negara semakin memperketat trade barriers atau membuat peraturan yang semakin berlapis. Hal ini terkait kebijakan proteksionisme untuk masing – masing negara yang bertujuan melindungi industri dalam negeri (dan untuk menopang pertumbuhan). Kekhawatiran akan currency war juga turut membuat negara cenderung inward looking (protektif).
Semakin banyaknya peraturan – peraturan non-tarif yang membatasi akses pasar. Kebijakan ini bertujuan untuk mengurangi defisit neraca perdagangan beberapa negara.
Permintaan akan bisnis/produk yang ramah lingkungan juga meningkat.
Tingkat daya saing (separuh dari ekspor Indonesia berupa bahan mentah/komoditas).
Ketersediaan tenaga kerja.
Implementasi regulasi yang mendukung/memberikan insentif untuk substitusi impor (mendukung transfer of knowledge).
Per Januari 2014, pemerintah resmi mensahkan program JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) dengan mentransformasi Jamkesmas, Jamkesda, Askes, Jamsostek, dan Asabri. menjadi BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial).
Alur pelayanan JKN menggunakan pola rujukan berjenjang: layanan primer, sekunder, dan tersier.
Pembiayaan pengobatan akan menggunakan sistem paket Indonesia-Case Based Groups (INA-CBG's). Melalui sistem tersebut, pasien dibebaskan dari tanggungan biaya pengobatan dari RS (ditanggung oleh BPJS). Obat merupakan salah satu komponen INA-CBG's, sehingga permintaan obat generik akan meningkat. Cakupan obat publik yang dibeli pemerintah saat ini baru menjangkau 95 juta orang, sisanya masyarakat membayar sendiri. Dengan berlakunya BPJS maka kebutuhan obat publik tersebut akan meningkat hingga 240 juta orang (atau meningkat 2.5 - 3x lipat).
Dalam sistem INA-CBG's, pemerintah hanya membayar sesuai paket pelayanan yang telah ditentukan sedangkan apabila ada selisih ditanggung dokter. Hal ini dikhawatirkan dapat membuat pihak RS dan dokter mengalami kerugian. Tarif premi di Jakarta sebesar Rp 23 ribu, dan tarif nasional sebesar Rp 19 ribu.
Kapitasi
Kapitasi adalah metode pembayaran untuk jasa pelayanan kesehatan dimana pemberi pelayanan kesehatan (doker atau RS) menerima sejumlah tetap penghasilan per peserta, per periode waktu tertentu (biasanya bulan), dan untuk pelayanan yang telah ditentukan per periode waktu tertentu (biasanya bulan). Melalui JKN, pemerintah akan membayar biaya kapitasi sebesar perkalian jumlah anggota dengan biaya/unit tertentu.
Tarif kapitasi dihitung berdasarkan jumlah peserta terdaftar tanpa memperhitungkan jenis dan jumlah pelayanan kesehatan yang diberikan. Tarif ini terdiri:
Perbedaan didasarkan atas kelengkapan fasilitas dan kapasitas pasien pada tiap layanan kesehatan.
Pendapatan dokter layanan primer akan bergantung pada sisa biaya kapitasi. Semakin sedikit masyarakat yang sakit maka pendapatan dokter akan menjadi lebih besar. Pemerintah juga setuju untuk memberikan remunerasi/insentif Rp 2 - 3 juta per bulan.
Melalui JKN, dokter diharuskan melakukan aksi promotif dan preventif (turun ke masyarakat). Hal ini dikhawatirkan oleh kalangan dokter dapat menimbulkan biaya lebih.
Jika dilihat hubungan antara JAKCONS Index dengan RSI, keduanya terlihat bergerak bersamaan hingga terjadi decoupling pada Q4 2013. Salah satu alasan terjadinya decoupling tersebut adalah adanya kekhawatiran terkait melemahnya purchasing power masyarakat pasca kenaikan harga BBM bersubsidi, naiknya tingkat inflasi, serta pelemahan nilai tukar rupiah. Namun apakah penyesuaian harga jual yang tercermin pada kenaikan RSI mampu mengkompensasi profitabilitas sektor konsumer di tengah kekhawatiran demand slowdown?
Dengan melihat current income index (indeks yang menggambarkan persepsi pendapatan rumah tangga) yang kembali meningkat pada akhir 2013, dapat menjadi indikasi apabila purchasing power masih akan dapat bertahan. Efek pemilu diharapkan akan turut menopang purchasing power tersebut sehingga hal ini dapat menjadi katalis positif bagi sektor konsumer.
Sektor properti sendiri terlihat bergerak beriringan dengan arah pertumbuhan M2, dan bergerak berlawanan dengan tingkat inflasi dan yield obligasi pemerintah 10 tahun. Sektor properti sempat mengalami overshoot pada semester pertama tahun 2013 disaat pertumbuhan M2 terus melambat dan tingkat inflasi dan yield obligasi perlahan meningkat. Namun kondisi tersebut tak bertahan lama karena tingkat inflasi dan suku bunga terus bergerak meningkat disamping kebijakan BI yang turut memperketat sektor properti.
Secara fundamental perusahaan, tingkat pertumbuhan penjualan perusahaan properti* terlihat mengalami perlambatan memasuki kuartal kedua 2013. Dan hal ini terlihat bergerak bersamaan dengan indeks harga penjualan rumah (IHPR) BI yang melambat pada Q2 2013. Namun IHPR kembali meningkat pada Q3 untuk menyesuaikan kenaikan harga bahan bangunan dan upah pekerja. Survey BI memperkirakan IHPR masih akan naik pada Q4.
Kesimpulan
Dengan kondisi Demand yang relatif melambat akibat tingginya suku bunga dan tingkat inflasi, maka kenaikan IHPR diperkirakan tidak akan banyak membantu pemulihan pertumbuhan penjualan perusahaan properti. Ke depannya yang akan menjadi katalis positif bagi sektor properti adalah ketika tingkat inflasi dan suku bunga kembali turun sehingga membantu menciptakan likuiditas dan Demand.
*Rata - rata dari penjualan: BSDE, LPKR, PWON, CTRA, SMRA, ASRI, dan MDLN
Pergerakan sektor konsumer di pasar keuangan terlihat mendahului angka CCI. Sektor konsumer yang diwakili oleh JAKCONS Index telah mengalami penurunan sejak bulan Juni 2013 hingga akhir tahun 2013. Namun apabila melihat pergerakan Moving Average (MA) dari CCI dengan JAKCONS Index, keduanya terlihat bergerak bersamaan. Dengan kenaikan CCI yang cukup kuat dalam tiga bulan terakhir, pergerakan dari MA CCI diperkirakan akan terus meningkat. Maka hal ini diharapkan akan menjadi katalis positif bagi penguatan JAKCONS Index ke depannya.
Beberapa risiko untuk sektor konsumer ke depannya antara lain: kenaikan biaya hidup (kenaikan harga LPG, listrik, serta potensi kenaikan harga pangan), kenaikan tingkat inflasi, dan kenaikan tingkat suku bunga. Tetapi dengan adanya Pemilu diharapkan dapat mengimbangi sisi negatif tersebut terlebih apabila terdapat kandidat kuat presiden yang disukai masyarakat.
Kesimpulan
Dalam jangka pendek, risiko politik dan faktor likuiditas global akan lebih mempengaruhi kondisi pasar modal Indonesia termasuk sektor konsumer.
Arah pergerakan dari pasar modal (pasar saham dan obligasi) dapat dikaitkan dengan pergerakan pasar lainnya, dalam hal ini pasar mata uang dan pasar komoditas. Secara umum pergerakan dari setiap pasar di industri keuangan akan memiliki dampak /hubungan satu sama lainnya.
Pre-Crisis Relationship
Pergerakan antar pasar ini terlihat cukup jelas pada awal tahun 2000-an hingga krisis global tahun 2008. dari perspektif kondisi pasar di AS, pelemahan nilai mata uang USD relatif terhadap mata uang negara - negara lain telah menyebabkan harga komoditas meningkat. Pada periode yang sama, yield obligasi pemerintah 10 tahun bergerak pada rentang 3 - 6%. Pasar saham pun merespon positif pasca pecahnya gelembung dotcom di awal tahun 2000.
Krisis Subprime Mortgage yang menjelma menjadi krisis keuangan global, membuat nilai USD menguat dan menjatuhkan harga komoditas dari titik puncaknya di tahun 2008. Yield obligasi kemudian mengalami penurunan seiring preferensi investor untuk berinvestasi pada aset yang berisiko rendah (risk averse). Di sisi lain pasar saham mengalami kejatuhan hingga akhir tahun 2008.
Post-Crisis Relationship
Pasca krisis 2008, hubungan pergerakan antar pasar menjadi berubah karena dinamika perekonomian global juga menghadapi perubahan. Perubahan besar antara lain intervensi pemerintah terhadap perekonomian melalui kebijakan fiskal ketat dan moneter ekspansif dalam menghadapi krisis keuangan. Bank Sentral AS mengeluarkan kebijakan QE dalam menghadapi krisis tersebut. Dampak dari kebijakan QE ini adalah menurunkan yield obligasi. Di sisi lain, suku bunga ditetapkan pada tingkat terendahnya di kisaran 0 - 0.25%. Akibatnya dari tahun 2009 - 2013, yield obligasi pemerintah 10 tahun cenderung bergerak turun. Efek QE kepada pasar saham adalah berupa peningkatan rasa percaya diri investor terhadap upaya pemerintah menanggulangi krisis. Akibatnya optimisme pasar membuat harga saham terus bergerak meningkat.
Mata uang USD yang telah bergerak menguat sejak tahun 2011 telah menurunkan harga komoditas. Namun dampak QE membuat yield obligasi terus menurun dan pasar saham meningkat.Hingga menjelang akhir tahun 2013, dinamika pergerakan antar pasar kembali mengalami perubahan. Kali ini perubahan datang dari antisipasi pengurangan secara bertahap program QE The Fed yang telah berlangsung selama ini. Program QE pun menghadapi risiko untuk dihentikan apabila perekonomian AS dianggap telah pulih sempurna. Nilai USD mulai terlihat bergerak melemah menjelang akhir 2013 namun harga komoditas terlihat masih belum menunjukkan peningkatan. Antisipasi berhenti/berkurangnya kebijakan moneter ekspansif, membuat ekspektasi tingkat suku bunga dan inflasi yang lebih tinggi di masa depan. Akibatnya yield obligasi kembali bergerak meningkat dan harga saham terus melanjutkan penguatan.
Ke depannya harga komoditas akan lebih dipengaruhi prospek pemulihan ekonomi global. Apabila perekonomian dunia dan AS kembali mengalami resesi, maka nilai USD diperkirakan akan kembali menguat (persepsi safe haven atas aset USD) sehingga harga komoditas akan turun lebih dalam. Akibatnya perekonomian akan berada dalam keadaan deflationary. Namun yield obligasi tidak akan turun dan sebaliknya bergerak naik menuju tingkat pre-QE dan tingkat suku bunga juga akan menuju tingkat normal pre-QE. Kenaikan yield akan menurunkan harga obligasi dan pada akhirnya akan membuat kejatuhan pada pasar saham. Skenario lainnya adalah proses pemulihan ekonomi berlangsung berkesinambungan sehingga harga komoditas kembali mendapat momentum serta tingkat inflasi dan suku bunga akan bergerak meningkat bersamaan. Kenaikan yield obligasi menuju level pre-QE tidak akan membuat pasar saham turun bahkan sebaliknya pasar saham akan menguat seiring ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang lebih ke depan.
Namun jika dicermati pada pertengahan 2011 hingga awal 2013, pergerakan IHSG mulai berlawanan dengan pergerakan harga komoditas. IHSG terus mengalami kenaikan di tengah koreksinya harga komoditas sebelum akhirnya IHSG mengalami koreksi cukup tajam pada pertengahan tahun 2013.
Komposisi sektor berbasis komoditas (Pertambangan dan Pertanian) pada IHSG mengalami peningkatan cukup signifikan sejak tahun 2002 yang sebesar 4.26% menjadi 29.45% pada puncaknya di tahun 2008. Hal ini didorong oleh boomingnya harga komoditas pada periode tersebut.
Krisis global 2008 membuat harga komoditas mengalami koreksi sehingga komposisi sektor komoditas pada IHSG turun pasca 2008. Walaupun harga komoditas mengalami rebound pada tahun 2009, namun investor tidak merespon positif dan terlihat dari komposisi sektor komoditas yang terus mengalami penurunan hingga tahun 2013. Ada beberapa faktor yang menyebabkan harga komoditas kembali mengalami koreksi pada tahun 2011 antara lain adalah prospek pemulihan ekonomi global (AS dan Eropa) yang berlangsung lambat.
Seiring dengan sentimen negatif terhadap sektor komoditas, maka investor mulai mengalihkan perhatiannya ke sektor lain, khususnya sektor perdagangan dan properti.
Kedua sektor tersebut mengalami peningkatan komposisi dari tahun 2009 yang sebesar 10% ke 20% pada tahun 2013. Hal ini antara lain menjelaskan kenaikan yang terjadi pada IHSG di periode 2012 - 2013 ketika harga komoditas sedang mengalami koreksi. Namun demikian, kenaikan pada IHSG tidak berlangsung lama dan kembali koreksi pada pertengahan 2013 bersamaan dengan koreksi pada harga komoditas.
Pergerakan harga komoditas ini juga memiliki korelasi yang positif dengan pertumbuhan PDB Indonesia. Sejak tahun 2000 - 2013, korelasi keduanya sebesar 0.68. Hal ini terjadi karena rata - rata komposisi ekspor terhadap PDB untuk periode yang sama mencapai 31%. Sedangkan komposisi ekspor berbasis komoditas (Pertambangan dan Pertanian), sejak tahun 2005 - 2013 rata - rata sebesar 34% terhadap total ekspor barang.
Kesimpulan
Korelasi positif antara komoditas dan pertumbuhan ekonomi membuat sektor komoditas pada pasar keuangan (IHSG) dinilai mewakili fundamental perekonomian dalam negeri. Hal ini diperkirakan menjadi alasan terkoreksinya kembali IHSG beriringan dengan melemahnya harga komoditas. Selama Indonesia masih mengandalkan komoditas dalam keranjang ekspornya, maka di tengah tren melemahnya harga komoditas membuat potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia terhambat. Dan ini akan menjadi sentimen negatif bagi pergerakan IHSG yang cenderung bergerak mengantisipasi pertumbuhan ekonomi mendatang.