Untuk Calon Imamku
Aku manusia yang punya banyak tekanan. Kadang emosiku berubah dengan cepat. Aku mencoba, selalu mencoba untuk tidak menuntut terlalu jauh, terlalu banyak. Toh aku memang belum menjadi siapa-siapa untuk hidupmu. Utamakanlah orang tuamu terlebih dahulu. Aku masih bisa sendiri untuk sekadar menjaga pola makan, bahkan untuk pergi ke undangan.
Jangan khawatir bahwa memiliki pasangan sepertiku akan teramat merepotkanmu. Bisa aku yakinkan bahwa tinggal di gubukpun aku rela, asal kita sama-sama bisa menjaga Allah, menjaga untuk setia dan saling mengerti.
Hidup memang berakit ke hulu, bukan hanya berenang-renang. Asal kamu percaya bahwa Allah selalu memberi berkah-Nya bagi yang percaya. Aku hanya butuh manusia yang dapat menguatkan, yang tak lelah untuk membuatku tersenyum. Meski kamu tak tahu apa yang sedang terjadi padaku, kamu tak perlu tahu terlalu banyak tentangku, sebab kamu akan menemukan sisi-sisiku yang memuakkan.
Kamu tak tahu seberapa banyak sedihku yang kusimpan. Jadi, cukuplah di sini. Di sini bersamaku. Dengan lelah yang akan kita luruh bersama-sama.











